
Langkah Arsen yang mendadak berhenti sontak menimbulkan tanda tanya bagi Laura.
"Sayang ada apa? Kamu sedang melihat siapa?" Tanya Laura yang ikut menoleh kemana mata Arsen tertuju.
"Wah, bukankah itu Bella sekretaris mu? Apa lelaki yang bersamanya itu adalah pacarnya?" Tanya Laura lagi.
"Sepertinya begitu, ya sudah ayo kita masuk." Jawab Arsen datar dan bersikap seolah tak perduli.
"Sayang tunggu, bagaimana kalau kita duduk bergabung saja di meja mereka." Ucap Laura sembari menahan tangan Arsen.
"Bergabung bersama mereka?!"
Laura pun tersenyum sembari mengangguk.
"Tidak mau!" Tegas Arsen.
"Ayo lah sayang, bukan kah akan terasa membosankan jika kita hanya makan berdua saja?" Pujuk Laura dengan manja sembari mulai melingkarkan kedua tangannya ke lengan Arsen.
"Tidak Laura, aku tidak mau." Tegas Arsen lagi.
"Sudahlah, ayo!" Namun kali ini nampaknya Laura terus memaksa.
Laura pun langsung saja menarik tangan Arsen untuk membawanya menuju ke meja tempat dimana Rachel dan Antony duduk.
"Hai Bella, selamat malam." Sapa Laura dengan memperlihatkan sikapnya yang nampak begitu ramah.
Rachel pun seketika menoleh ke arah Laura dan Arsen, matanya sontak membulat karena cukup merasa terkejut dengan kehadiran Laura dan Arsen.
"Ha, hai Laura, oh emm maksudku nona Laura." Ucap Rachel sembari tersenyum terpaksa.
Seketika mata Arsen pun mulai mendelik tajam saat menyadari lelaki yang duduk bersama Rachel adalah Antony.
"Antony?! Jadi mereka sudah sedekat ini?" Tanya Arsen dalam hati.
"Wah bukankah anda ini pewaris tunggal dari Starlight Corp?" Tanya Laura yang nampak terkejut.
Antony pun hanya tersenyum dan mengangguk singkat.
__ADS_1
"Arsen Lim, senang bertemu dengan mu lagi. Jadi apa wanita cantik dan ramah ini adalah pacarmu?" Tanya Antony dengan tenang.
Arsen pun tersenyum tipis dan mengangguk singkat.
"Astaga Bella, jadi selama ini kamu berpacaran dengan CEO dari Starlight Corp? Oh ya ampun ini sungguh mengejutkan, bukankah begitu sayang?" Laura pun kembali menggandeng Arsen.
"Apa kalian baru datang?" Tanya Rachel yang seolah mengalihkan topik pembicaraan.
"Iya kami baru saja tiba, tapi sepertinya meja meja disini sudah hampir penuh, jadi apakah boleh kamu bergabung disini?" Tanya Laura dengan wajah sumringah.
Mendengar hal itu membuat Rachel seketika terbatuk.
"Ya tentu saja, mari silahkan duduk. Lebih ramai bukankah akan lebih menyenangkan?" Jawab Antony dengan ramah sembari bangkit dari duduknya dan langsung berpindah tempat duduk ke sisi Rachel.
"Ah baiklah, ayo sayang." Laura dengan semangat pun langsung menarik Arsen untuk duduk.
Dengan rasa terpaksa Arsen pun akhirnya ikut duduk, ia duduk tepat berhadapan dengan Rachel yang kala itu seolah tak ingin menatapnya.
"Sungguh tidak kuduga, ternyata dia memang semudah itu dekat dengan lelaki." Celetuk Arsen yang entah kenapa sedikit merasa marah dan terganggu saat tau jika Rachel makan malam bersama Antony.
Laura dan Arsen telah selesai dalam memilih menu mereka, tak segan pula Laura seolah terus menerus mengorek informasi tentang hubungan Rachel dan Antony.
"Ahh mana mungkin, sekelas tuan muda Antony akan mau makan malam bersama seorang wanita jika statusnya hanya teman. Bukankah begitu tuan muda?" Tanya Laura dengan senyuman manisnya.
Namun lagi-lagi Antony hanya memancarkan senyuman tanpa berkata apapun.
"Sudah lah Laura, berhenti mencari tau tentang urusan orang lain. Terlepas dari pacaran atau tidaknya, itu biarlah menjadi urusan mereka." Ucap Arsen yang sudah merasa sedikit kesal tanpa sebab.
"Emm baiklah sayang, karena kamu yang mengatakannya jadinya aku menurut saja." Laura pun dengan manja mulai menyandarkan kepalanya di pundak Arsen.
Sungguh sebuah pemandangan yang tentunya begitu memuakkan bagi Rachel hingga membuatnya langsung memutarkan bola matanya saat melihat hal itu.
"Dasar wanita tidak tau malu dan tidak tau tempat." Celetuk Rachel dalam hati sembari terus mengunyah makanannya dengan tenang.
Saat itu Laura nampaknya begitu menggunakan kesempatan itu untuk sengaja memanas-manasi Rachel, dia terus saja berlagak sok mesra dengan Arsen untuk melihat bagaimana reaksi Rachel. Namun Rachel yang sejak awal sudah menyadari hal itu pun memilih untuk tetap bersikap tenang dan seolah tak perduli saat Laura terus-terusan mempertontonkan kemesraan di hadapannya.
"Lakukan saja sesuka mu wanita ular, sampai mulutmu berbusa pun aku tidak akan terpancing." Celetuk Rachel dalam hati.
__ADS_1
"Wah wah sepertinya kalian memang pasangan serasi dan harmonis ya, aku jadi merasa iri padamu Arsen Lim." Celetuk Antony.
"Itu benar, kami memang selalu seperti ini walau itu dimanapun. Kami bagaikan dua orang yang takkan bisa terpisahkan oleh jarak dan waktu hehee. Ya kan sayang?" Jawab Laura dengan percaya diri.
Arsen pun lagi-lagi hanya tersenyum tipis tanpa berucap sepatah katapun sembari sesekali matanya melirik ke arah Rachel.
Hingga waktu akhirnya menunjukkan pukul 09.00 malam, akhirnya Arsen yang merasa tak nyaman ada di tempat itu pun akhirnya memilih untuk pamit lebih dulu.
"Kenapa buru-buru sekali? Apa kalian ingin ke suatu tempat terlebih dulu? Hehehe yayaya sebagai laki-laki aku paham Arsen Lim." Ucap Antony.
Arsen pun sontak mendengus sembari tersenyum sinis.
"Sayangnya aku tidak sama dengan lelaki semacam itu." Jawab Arsen datar.
Akhirnya Arsen dan Laura pun pergi, meninggalkan Rachel dan Antony yang masih terduduk di tempat mereka. Saat itu mood Arsen begitu buruk namun ia tak begitu tau pasti apa penyebabnya.
"Kita kemana lagi sayang?" Tanya Laura dengan nada begitu manja sembari memeluk Arsen yang saat itu sedang fokus menyetir.
"Laura jangan begini, aku sedang menyetir."
"Ahh biasanya juga aku begini kamu tidak keberatan."
"Tapi Laura saat ini aku sedang ingin fokus menyetir saja." Jawab Arsen yang terus memasang wajah datarnya.
"Sayang, ini masih jam 09.00, ayo kita pergi ke suatu tempat lagi, emm bagaimana kalau kita ke hotel." Pujuk Laura sembari berbisik.
"Maaf Laura, aku ingin langsung pulang saja, besok aku harus ke kantor pagi-pagi sekali." Jawab Arsen berkilah.
Entah kenapa saat itu Arsen begitu tak berminat ingin pergi kemana pun lagi.
"Huh, kamu yang sekarang benar-benar tidak seru." Keluh Laura.
"Laura, bukankah kamu berjanji tidak akan pernah mengeluh lagi dan akan mengerti keadaanku saat ini?"
"Emmm baiklah, baiklah." Laura pun akhirnya dengan lesu langsung melepaskan pelukannya dan memilih untuk bersandar di kaca jendela mobil.
Arsen pun akhirnya langsung mengantar Laura pulang ke rumahnya, bahkan kali ini Arsen sama sekali tidak turun dari mobil seperti biasanya. Ia langsung saja pamit pulang pada Laura dan melajukan mobilnya begitu Laura turun dari mobil.
__ADS_1
...Bersambung......