
Seketika itu pula banyak wartawan yang bersigap mengabadikan moment langka itu, dimana sang pewaris tahta pengusaha terkaya kota itu sedang terlihat berciuman dengan seorang gadis asing.
"Astaga ini benar-benar akan jadi hot news dan trending topik besok, aku pasti akan mendapat bonus dari perusahaan tempatku bekerja hehehe." Celetuk salah satu wartawan yang terlihat begitu semangat saat mengambil foto mereka dari berbagai sisi.
Rachel dan Arsen pun seketika tersentak dan sama-sama saling menjauh, Rachel yang jadi begitu gugup pun langsung pergi begitu saja tanpa berkata apapun lagi. Berbeda halnya dengan Arsen yang masih terdiam memandangi kepergian Rachel, sembari dengan wajah datarnya ia pun terus memegangi bibirnya.
Namun menyadari ada banyak wartawan yang masih memotret dirinya dari kejauhan, Arsen pun dengan langkah santai langsung menghampiri para wartawan itu, dengan sikapnya yang terlihat masih begitu tenang, ia pun merebut salah satu camera dari wartawan untuk melihat hasil potretan mereka.
"Tu, tuan muda, a, apa yang ada lakukan?" Tanya wartawan itu dengan gemetaran.
"Tenanglah, aku hanya sedang melihat hasil foto mu." Jawab Arsen yang terus memandangi beberapa hasil dari potretan sang wartawan.
"Wah, ini sangat tepat dan pas, dimana dalam foto ini seorang Arsen Lim tengah kedapatan sedang berciuman dengan seorang gadis misterius. Bukankah begitu nantinya judul yang akan kalian pasang di surat kabar?"
Para wartawan pun terdiam dan beberapa ada yang menunduk. Arsen pun hanya tersenyum tipis sembari mendengus, lalu ia pun langsung menghapus foto itu dari camera yang di pegangnya.
"Aku hanya ingin mengingatkan pada kalian semua yang ada disini, tidak apa jika kalian ingin menjadikan fotoku ini sebagai berita, tapi jika itu terjadi, maka jangan salahkan aku juga jika setelahnya, kantor penerbitan tempat kalian bekerja akan ku buat bangkrut atau tutup selamanya." Tegas Arsen masih dengan senyumannya sembari mengembalikan camera yang di pegangnya.
Arsen pun dengan tenangnya kembali melanjutkan langkahnya, kedua tangannya pun ia masukkan ke dalam saku celana, dan terus berjalan menuju gedung acara. Para wartawan pun di buat terdiam, dengan wajah yang bingung dan murung.
"Dia berbicara dengan begitu tenang saja sudah berhasil membuat nyaliku ciut, apalagi kalau sampai dia marah-marah tadi." Celetuk salah satu wartawan wanita.
Arsen pun kembali menghampiri Benzie Lim yang saat itu tengah mengobrol dengan beberapa rekan bisnis mereka.
"Bagaimana Arsen Lim?"
"Aku sudah mengurusnya pa."
"Bagus." Benzie pun tersenyum dan menepuk pundaknya beberapa kali.
"Lalu, dimana Laura? Kemana mama membawanya?"
"Dia di bawa ke kamar hotel oleh mama mu, kurasa dia akan diberikan gaun pengganti oleh mama mu agar mulutnya tidak kembali berteriak dan membuat onar."
"Pa, aku minta maaf."
__ADS_1
"Seharusnya dia yang minta maaf, bukan kau!"
Arsen pun akhirnya terdiam.
Sisi lain di kamar hotel...
Yuna membawa Laura masuk ke dalam kamar hotel tempat mereka menginap dan beristirahat selama mempersiapkan acara pesta. Kebetulan saat itu Yuna membawa beberapa gaun miliknya untuk berjaga-jaga.
"Seharusnya kamu tidak melakukan hal semacam tadi, itu sungguh sangat memalukan Laura" Ucap Yuna yang mencoba menasehati Laura dengan nada lembut.
"Wanita itu sungguh membuatku emosi bibik."
"Meskipun begitu, kamu tetap tidak boleh begitu di hadapan orang ramai. Tolong jaga sikapmu Laura, tolong jaga juga nama baik Arsen Lim sebagai kekasih mu. Aku tidak mencoba untuk membela siapapun, namun sikapmu tadi sungguh salah."
"Iya bibik maafkan aku." Ucap Laura dengan wajah cemberut.
"Ini, kebetulan bibi membawa beberapa gaun kemari, kamu bisa memakai salah satunya sebagai pengganti gaun mu yang robek." Yuna pun menunjukkan beberapa gaun bawaannya.
Gaun yang di bawa Yuna semuanya terlihat begitu elegant dan harganya pun tak main-main, namun hanya saja, gaun-gaun itu tidak ada satupun yang membuat Laura tertarik karena modelnya yang kurang terbuka.
"Sudah tidak usah sungkan, pakai saja, setidaknya ini lebih baik daripada kamu terus memakai gaunmu yang robek. Lagi pula gaun mu ini begitu tipis dan begitu terbuka, jika terlalu lama memakainya kamu bisa saja masuk angin."
Laura pun akhirnya memilih diam dan hanya bergumam dalam hatinya.
"Aku sama sekali tidak sungkan, tapi gaun-gaun ini sama sekali tidak masuk pada seleraku, ini sama sekali tidak seksi dan tidak begitu memperlihatkan lekuk tubuhku. Lagi pula, bagaimana mungkin aku memakai gaun milik seseorang yang usianya sudah 40an."
Namun akhirnya Laura pun terpaksa mengganti gaunnya, dan memilih salah satu gaun yang menurutnya paling bagus di antara ke dua gaun lainnya. Dengan ragu-ragu akhirnya ia pun keluar dari toilet dengan sudah memakai gaun milik Yuna.
"Nah, kamu terlihat anggun memakainya Laura, bahkan sepertinya gaun itu terlihat lebih pas di tubuhmu." Ucap Yuna sembari tersenyum.
Namun Laura hanya diam dan menampilkan senyuman keterpaksaan di depan Yuna. Merasa semuanya sudah beres, Yuna pun membawa Laura untuk kembali ke area pesta.
"Kenapa lama sekali sayang? Kamu tau, hal itu membuatku rindu." Bisik Benzie yang mencoba menggoda istrinya.
Yuna pun tersenyum geli dan mulai mencubit perut sang suami.
__ADS_1
"Kamu ini sudah begitu tua untuk mengucapkan rayuan-rayuan seperti itu." Bisik Yuna.
"Justru semakin tua maka akan semakin hot." Bisik Benzie dengan genit.
Mereka pun akhirnya saling tertawa satu sama lain, Benzie dan Yuna begitu nampak serasi dengan saling melengkapi kekurangan masing-masing.
Tak lama Laura pun ikut bergabung di tengah-tengah mereka, secara bersamaan pula Benzie dan Arsen langsung menatap ke arahnya.
"Wah lihatlah penampilanmu Laura, begini terlihat jauh lebih baik, dan pastinya jadi lebih tertutup." Celetuk Benzie sembari tersenyum tipis.
"Bukan begitu Arsen Lim?" Tanya Benzie lagi.
"Oh iya benar pa." Arsen pun tersenyum.
Lalu Arsen pun mendekati Laura.
"Sudah jangan marah lagi ya, lagi pula benar kata papa, kamu terlihat lebih cantik memakai gaun ini. Aku menyukainya." Bisik Arsen dengan lembut.
"Tapi tetap saja, gaun ini bukan seleraku, bahkan lekuk tubuhku tidak bisa terlihat jelas."
"Lekuk tubuhmu, biarkan aku saja yang nanti melihatnya, saat kita sudah menikah." Rayu Arsen dengan suara begitu pelan.
Mendengar hal itu Laura sontak langsung melirik ke arah Arsen sembari mulai tersenyum.
"Kamu bilang apa? Saat sudah menikah? Memangnya kamu punya niat ingin menikahiku?"
"Tentu saja, kamu kan kekasihku sudah pasti aku ingin menikahimu."
"Benarkah? Lalu kapan itu akan terjadi?" Wajah Laura mulai kembali berbinar.
"Nanti, tunggu waktu yang tepat." Ucap Arsen dengan tenang sembari tersenyum.
Mendengar jawaban yang kurang memuaskan dari Arsen sontak membuat bola mata Laura memutar seketika, dan kembali memasam wajah kecut.
...Bersambung......
__ADS_1