
Tanpa ingin mengulur waktu lebih lama lagi, Rachel pun langsung berinisiatif untuk memulai meeting mereka. Meeting hari ini berlangsung dengan begitu santai tanpa banyak perdebatan atau pun ketegangan ya g berarti. Meskipun kala itu ekspresi wajah Arsen terlihat jadi begitu datar bahkan cenderung di tekuk, tak serta merta membuat meeting itu tersendat.
Hingga waktu dua jam pun tanpa sadar terlewat begitu saja dan akhirnya selesai pula lah pertemuan mereka hari ini.
"Sekian meeting pembahasan proyek kita untuk hari ini, meeting selanjutnya akan di adakan dua Minggu mendatang, saat proyek kita mulai berjalan." Ucap Rachel menutup perjumpaan mereka.
Antony pun berdiri, di susul pula dengan asistennya.
"Ingin rasanya aku duduk lebih lama disini untuk berbincang santai dengan kalian terutama dengan mu Bella." Ucap Antony sembari tersenyum.
"Tapi sayangnya, ada hal lain lagi yang harus ku urus sekarang." Tambahnya.
"Oh tidak apa tuan muda, masih ada hari selanjutnya." Jawab Rachel yang ikut berdiri dan tersenyum.
Mendengar hal itu, Arsen yang sejak tadi kebanyakan diam pun seketika langsung mendengus dan akhirnya ikut bangkit dari duduknya.
"Haha, meski anda punya waktu luang hari ini pun, kami tak bisa menemani anda untuk berbincang hal-hal yang tidak termasuk ke dalam urusan pekerjaan. Ada banyak hal yang lebih penting yang harus di kerjakan." Celetuk Arsen.
"Oh hehehe begitu rupanya. Ya ya ya, aku pun paham jika tuan muda Arsen Lim ini juga tentunya pasti sangat sibuk. Tapi kurasa sekretaris anda ini mungkin bisa sedikit lebih santai ketimbang anda yakan." Jawab Antony masih dengan sikapnya yang begitu tenang.
"Oh hahaha tentu saja tidak, justru karena dia sekretarisku, maka dia akan lebih sibuk dariku hingga takkan mungkin ia memiliki waktu santai untuk menemanimu berbincang." Arsen pun ikut tersenyum sinis menatap Antony.
Saat itu Rachel pun hanya bisa terdiam kikuk sembari memandangi Arsen dan Antony secara bergantian.
"Ya tuhan, apa sebenarnya yang sedang terjadi antara kedua lelaki ini? Kenapa berdiri di antara mereka membuatku mendadak jadi merinding seperti ini?" Gumam Rachel dalam hati.
"Emm baiklah, waktuku semakin menipis, tidak ada gunanya juga menghabiskan banyak waktu untuk berdebat." Ucap Antony sembari kembali mengancing jas nya.
"Baiklah Bella, aku harus pergi sekarang, jaga dirimu ya, nanti aku akan menelponnu jika waktuku sudah senggang." Tambah Antony lagi yang kembali tersenyum menatap Rachel.
Rachel pun hanya membalasnya dengan sebuah senyuman kikuknya saja.
"Lebih cepat pergi, akan lebih baik." Ucap Arsen yang ikut tersenyum tipis menatap Antony.
Saat itu Antony hanya mendengus, lalu ia pun akhirnya mulai melangkah dengan tenang keluar dari restaurant mewah itu.
Saat itu tersisa Rachel dan Arsen, jantung Rachel pun kembali berguncang hebat saat ia kembali melirik wajah Arsen yang saat itu terlihat begitu dingin dan datar.
"Dan kamu, aku tunggu di mobil!" Tegas Arsen menatap tajam ke arah Rachel sambil kemudian berlalu pergi begitu saja.
Rachel terdiam sejenak memandangi kepergiannya, perasaan Rachel kini mulai berkecamuk, antara cemas dan takut seolah bercampur jadi satu. Akhirnya perlahan tapi pasti, ia pun mulai melangkah pelan, untuk menyusul Arsen yang telah keluar lebih dulu.
Rachel membuka pelan pintu mobil, lalu dengan sedikit ragu-ragu ia pun mulai duduk perlahan di sebelah Arsen yang kala itu sudah duduk di kursi kemudinya. Saat itu Arsen masih diam, tatapannya lurus kedepan tanpa melirik ke arah Rachel sedikit pun. namun bisa terlihat dengan jelas jika sorot mata kemarahan begitu terpancar.
Menyadari Arsen yang tak kunjung menginjak gas pada mobilnya membuat Rachel akhirnya mulai kembali melirik ke arahnya dan memutuskan untuk menjelaskan semuanya padanya.
"Emm, mengenai parfum tadi, ak, aku...." Rachel dengan suara pelan dan raut wajah yang terlihat sedikit takut mencoba ingin menjelaskan.
"Jelaskan bagaimana dia bisa memberimu parfum!" Potong Arsen seketika.
Rachel pun akhirnya kembali terbayang dan mulai menceritakan semuanya pada Arsen.
*FLASHBACK ON*
Semalam, saat waktu masih menunjukkan pukul 20:00 malam, Rachel memutuskan untuk pergi ke perpustakaan yang sering ia kunjungi. Selain menjadi perpustakaan terbesar dan paling ramai dikunjungi orang-orang di kota itu, perpustakaan itu juga merupakan satu-satunya perpustakaan yang buka 24 jam, memiliki banyak pegawai yang dibagi menjadi tiga shift, turut memperkuat alasan mengapa perpustakaan itu bisa buka 24 jam nonstop layaknya warnet.
Malam itu perpustakaan masih terlihat begitu ramai pengunjung, bahkan saking besarnya perpustakaan itu, di dalamnya terdapat sebuah cafe yang dibuat khusus untuk para pembaca buku yang banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku di perpustakaan itu. Cafe itu pun menyediakan berbagai jenis minuman dan makanan, mulai dari berbagai macam snack, makanan cepat saji, hingga berbagai dessert pun ada.
Rachel yang sudah memegang beberapa buku di tangannya pun langsung mengarah ke sebuah meja kosong yang ada di area cafe itu. Ia pun duduk dan langsung memesan secangkir matcha Latte untuk menemaninya membaca. Beberapa puluh menit begitu fokus membaca, tiba-tiba duduk seorang pria di hadapannya sembari menyapanya.
"Hai cantik, bolehkah aku duduk disini?"
__ADS_1
Mendengar itu membuat Rachel seketika mengangkat kepalanya dan langsung mendapati Antony yang tengah tersenyum tipis ke arahnya.
"Tony?!" Ucap Rachel sembari membulatkan matanya karena ia begitu tak menyangka bisa kembali berjumpa dengan Antony disitu.
"Hehehe apa kali ini pun bisa di katakan kebetulan lagi?"
"Sedang apa disini? Apa kamu sungguh sering kesini ya? Ini benar-benar mengherankan saat beberapa kali kesini, beberapa kali pula aku bertemu denganmu." Ungkap Rachel sembari sedikit memicingkan matanya.
"Hati kecilku mengatakan jika kamu akan datang kesini malam ini, makanya aku datang." Jawab Antony sembari tertawa kecil.
"Emm yayaya, benar-benar sebuah jawaban yang sangat jujur." Sindir Rachel yang langsung memutarkan kedua bola matanya sembari kembali menyeduh matcha latte miliknya.
"Hehehe aku mau minta maaf padamu atas kejadian kemarin,"
"Kejadian kemarin? Kejadian apa?" Tanya Rachel yang tampak bingung.
"Mengingat saat kita dinner kemarin, ada kejadian yang kurang mengenakkan hingga membuatmu langsung badmood dan keluar begitu saja, membuat cukup terusik pada malam itu, dan akhirnya aku berfikir untuk meminta maaf padamu sekarang, jika ada perkataanku kala itu yang membuatmu tidak senang." Jelas Antony dengan tenang.
"Haaisssh, aku bahkan sudah melupakannya." Celetuk Rachel yang tersenyum tipis sembari kembali mengaduk-aduk minumannya.
Namun tak lama, seorang pegawai perpustakaan pun muncul dengan membawa sebuah tablet di tangannya.
"Tuan muda, ini laporan penjualan buku-buku bulan lalu." Ucap pegawai itu sembari menyerahkan tablet itu pada Antony.
Antony dengan tenang pun meraihnya tabletnya, memandanginya sejenak lalu kembali menyerahkan tablet itu pada pegawainya.
"Bagus, terus tingkatkan." Ucapnya datar.
"Baik, saya permisi tuan muda."
"Emm" Antony pun mengangguk pelan.
Sementara Rachel yang melihat hal itu langsung dibuat tercengang dengan matanya yang begitu membulat sempurna.
"Ja, jadi... perpustakaan ini???" Ucap Rachel yang begitu terbata-bata saking tak menyangkanya.
"Astaga, masih saja mau membohongiku, jelas-jelas tadi ada orang yang memperlihatkan laporan hasil penjualan buku."
"Bukan milikku, tapi milik keluargaku."
Rachel pun mendengus.
"Sama saja." Ucapnya kemudian yang kembali memutarkan kedua bola matanya.
"Baiklah, karena tadi sudah berbohong padamu, sepertinya aku harus meminta maaf lagi. Tapi kali ini aku tak mau hanya meminta maaf dengan kata-kata."
"Lalu?" Dahi Rachel pun mulai mengernyit.
"Ayo ikut aku." Antony pun berdiri sembari menjulurkan tangannya.
"Kemana? Tapi aku masih mau disini."
"Tenang saja, kita takkan keluar dari gedung ini, ayo ikut saja."
Rachel pun perlahan mulai memandang ragu tangan Antony yang masih menjulur ke arahnya. Namun Antony nampaknya begitu tak sabar menunggu keputusan Rachel hingga ia pun langsung menarik tangan Rachel begitu saja.
"Jangan terlalu lama berfikir, ayo ikut saja." Ucap Tony sembari menarik tangan Rachel untuk membawanya ke suatu tempat.
"Ta, tapi mau kemana?"
"Jangan takut, ku yakin kamu akan menyukainya." Jawab Antony yang terus saja melangkah.
Tak lama tibalah mereka di depan sebuah pintu yang cukup tinggi, Rachel pun memandangi pintu yang berwarna silver itu.
__ADS_1
"Ruangan apa ini Antony?"
"Masuklah, ku yakin kamu akan betah di dalamnya."
Antony pun membuka pintu itu, dan langsung melangkah masuk, tak lama diikuti pula oleh Rachel yang ikut masuk ke dalam ruangan yang juga begitu megah dan indah itu.
"Waw." Ucap Rachel yang seolah begitu terpana.
Di dalam ruangan itu terdapat sebuah kolam dengan air terjun buatan di tengah-tengahnya. Di tambah pula beberapa jenis tanaman hijau yang sengaja di tanami di area kolam kian menambah kesan asri pada ruangan itu. Di sekeliling dinding itu juga terdapat layar LCD yang besar yang menampilkan sebuah lukisan alam yang seolah dibuat bergerak hingga menambah kesan nyaman di ruangan itu.
"Tempat apa ini?" Tanya Rachel yang terus menyusuri ruangan itu dengan perlahan.
"Ini ruangan yang ku buat khusus untukku meracik parfum pribadiku. Bagaimana, apa terlihat bagus?"
"Ini bahkan sangat indah dan terasa begitu asri, membuatku merasa seperti sedang tidak berada di dalam sebuah ruangan." Jawab Rachel.
Mendengar itu Antony pun tersenyum dan mulai duduk di sebuah kursi.
"Tunggu, tadi katamu ini tempat mu meracik parfum pribadimu?" Tanya Rachel lagi.
"Emm," Antony pun mengangguk.
"Untuk bisa meracik parfum yang aromanya sesuai dengan keinginanku, aku butuh suasana yang nyaman dan damai, itulah sebabnya aku menciptakan ruangan seperti ini" Tambah Antony lagi yang kemudian meraih sebuah remot kontrol, lalu menekannya.
Tak lama, di salah satu sisi dinding ruangan itu, terbuka layaknya pintu Lift, di baliknya ternyata ada rak-rak yang sudah terpajang berbagai jenis bibit parfum kelas dunia. Membuat mata Rachel kembali membulat nyaris keluar dari sarangnya.
"Sebagai permintaan maafku, biarkan aku meracik sebuah parfum untuk mu. Ini akan menjadi satu-satunya di dunia dan ku jamin hanya kamu yang memiliki aroma dari parfum ini." Ucap Antony yang mulai meraih beberapa botol kaca dari rak rak itu.
Tanpa ragu-ragu, Antony pun mulai menuangkan dan mencampur beberapa bibit ke dalam sebuah botol kosong, saat itu Antony terlihat begitu serius saat melakukannya. Sementara Rachel saat itu hanya duduk di hadapannya menjadi penonton yang dibuat takjub sekaligus terkaget-kaget saat melihat bakat yang dimiliki antony.
"Ini dia parfum mu sudah jadi." Ucap Antony sembari memberikan sebuah botol parfum yang telah terisi penuh.
Rachel pun meraihnya, lalu mulai menyemprotkan parfum itu ke punggung telapak tangannya, dan kemudian menciumnya.
"Ya tuhan, wanginya sangat segar sekali." Rachel pun tersenyum sumringah.
"Apa kamu menyukainya?" Antony pun ikut tersenyum.
"Tentu saja. Apa ini sungguh untukku?"
"Tentu, khusus ku buatkan untukmu." Jawab Antony yang mulai menatap lekat ke arah Rachel.
Membuat Rachel seketika terdiam saat mendapat tatapan yang begitu lekat seolah penuh makna dari Antony. Namun tak ingin berlarut, Rachel pun langsung mengalihkan pandangannya dan mengalihkan pembicaraan.
"Ah terima kasih banyak kalau begitu, lalu apa nama yang pantas untuk aroma parfum ini ya?"
"Bellamy." Jawab Antony yang kembali tersenyum.
"Bellamy? Bellamy dalam bahasa Prancis?" Tanya Rachel memastikan.
Karena Rachel tau, jika Bellamy yang di maksud oleh Antony adalah bahasa Pranciss, tentu akan sangat tidak cocok, karena Bellamy dalam bahasa Pranciss itu artinya tampan dan tentu ditujukan untuk anak laki-laki.
"Bukan, Bellamy dalam bahasa latin, yang artinya menarik."
"Oh hehe begitu ya, apa nama itu pantas untuk parfum milikku ini." Rachel pun hanya bisa tersenyum kikuk.
"Tentu saja, karena tanpa kamu sadari, kamu itu sangat menarik bagi para lelaki di luar sana, dan salah satunya aku." Ucap Antony.
"Hahaha bisa saja." Rachel pun hanya bisa tertawa geli mendengarnya dan memilih untuk tidak terlalu memberi respon berlebihan pada Antony.
Akhirnya beberapa saat kemudian Rachel pun memilih untuk pulang mengingat waktu juga sudah semakin malam di tambah lagi besoknya dia masih harus bekerja. Antony menawarkan ingin mengantar Rachel pulang, namun saat itu Rachel bersikeras ingin pulang sendiri dengan mengeluarkan berbagai macam alasan.
__ADS_1
*FLASHBACK OFF*
...Bersambung......