Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 93


__ADS_3

Kini mobil Antony pun telah terparkir sempurna di depan loby sebuah restaurant bintang lima yang menjadi salah satu pesaing Blue Light Restaurant. Dengan cepat Antony turun dari mobilnya dan langsung membantu Rachel membukakan pintu mobil untuknya.


"Silahkan nona cantik." Ucap Antony sembari tersenyum.


Rachel yang baru saja turun dari mobil pun seketika dibuat tersenyum.


"Terima kasih." Jawabnya pelan.


Di waktu yang sama pula, Arsen pun akhirnya tiba, ia menghentikan mobilnya tak jauh dari mobil Antony. Ia pun mulai menurunkan kaca mobilnya untuk mengamati Rachel dan Antony dari kejauhan. Melihat penampilan Rachel pada malam itu yang terlihat begitu anggun, sontak membuatnya semakin merasa kesal.


"Bagaimana dia bisa berdandan secantik itu di depan Antony Yue?!" Gumam Arsen dalam hati dengan wajahnya yang memang terlihat begitu di tekuk.


Saat itu Antony terlihat menjulurkan tangannya ke arah Rachel.


"Ayo kita masuk." Ucapnya.


Membuat Rachel sejenak terdiam sembari terus memandangi tangan Antony yang masih menjulur di hadapannya. Kemudian Rachel pun mulai melirik ke segala arah guna mencari keberadaan mobil Arsen Lim yang sebelumnya dia tau jika Arsen telah membuntuti mereka.


Dan dengan cepat mata tajam Rachel pun akhirnya menemukan dimana mobil Arsen terhenti, ia pun melihat dengan jelas bagaimana Arsen kala itu terus mengawasi mereka.


"Ternyata dia sungguh membuntuti kami." Celetuk Rachel dalam hati sembari menahan senyumnya.


Akhirnya Rachel pun kembali menatap Antony yang masih berdiri di dekatnya.


"Ayo Bella, tunggu apa lagi?"


Dengan sedikit ragu-ragu, Rachel pun akhirnya meraih tangan Antony, membuat Antony mulai tersenyum dan mereka pun mulai melangkah bersama memasuki restoran mewah itu.


Melihat hal itu lagi-lagi membuat mata Arsen jadi melotot saat tangan Antony mulai menggenggam erat tangan Rachel.


"Hah, apa-apaan itu? Mereka belum lama kenal tapi lagaknya sudah seperti orang berpacaran saja." Ketus Arsen sembari mendengus.


Tak puas hanya mengawasi dari dalam mobil, kini Arsen pun memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan ikut masuk ke dalam restoran itu dengan cara sembunyi-sembunyi berharap Rachel dan Antony tidak akan melihatnya.


Lalu ia pun duduk di salah satu meja kosong yang jaraknya tak jauh dari meja Rachel dan Antony. Tak lama pelayan pun datang menghampirinya dengan membawakan sebuah buku menu padanya.


"Silahkan tuan." Ucap pelayan dengan ramah.


Dengan cepat Arsen pun meraih buku menu itu, namun bukan untuk melihat daftar menu makanan yang ada di restoran itu, melainkan untuk menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Apa menu yang paling di rekomendasikan disini?" Tanya Arsen setengah berbisik.


"Ada banyak tuan muda, salah satunya adalah Beef steak yang dagingnya di impor langsung dari daging sapi Australia." Jelas sang pelayan singkat.


"Baiklah, aku pesan itu saja." Ucap Arsen yang terus melirik ke arah meja Rachel dan Antony.


"Lalu bagaimana dengan minumannya tuan?"


"Aku pesan minuman yang paling enak disini."


"Baik tuan, mohon di tunggu sebentar."


"Emm." Jawab Arsen sembari mengangguk singkat.


"Boleh saya membawa kembali buku menunya tuan?"


"Tidak, biarkan buku ini disini dulu." Jawab Arsen datar.


"Baik tuan, saya permisi."


Pelayan pun akhirnya beranjak pergi, membuat Arsen bisa kembali fokus untuk mengawasi gerak gerik Antony dan Rachel saat itu. Tak lama makanan yang di pesan oleh Rachel dan Antony pun tiba dan mulai di hidangkan di atas meja mereka. Mereka pun terlihat mulai menyantap makanan itu dengan tenang. Namun lagi dan lagi, tingkah laku Antony saat itu kembali membuat Arsen menggerutu saat melihat Antony yang mencoba menyulangi Rachel.


Beberapa saat kemudian, pelayan pun kembali datang dengan sudah membawakan menu pesanan Arsen dalam sebuah nampan. Namun Arsen yang saat itu masih begitu fokus mengawasi Rachel, membuatnya tak menyadari kehadiran pelayan yang saat itu berdiri di sampingnya dan siap untuk menghidangkan menu pesanannya ke atas meja.


"Ini pesanan anda tuan." Ucap pelayan itu.


Membuat Arsen tiba-tiba saja jadi terkejut hingga tanpa sengaja menyenggol gelas minuman yang sedang di pegang oleh pelayan itu.


*Pranggg*


Gelas itu pun akhirnya pecah berderai di lantai, membuat semua mata yang ada di ruangan itu pun seketika tertuju ke arah meja Arsen. Menyadari hal itu membuat Arsen seketika mengusap kasar wajahnya karena merasa malu dan pastinya ia berfikir jika ia akan ketahuan oleh Rachel dan Antony.


"Itu, itu bukankah Arsen Lim?" Tanya Antony saat ikut menoleh ke arah dimana suara pecahan kaca itu terdengar.


"Ha?! Benarkah?" Tanya Rachel yang bersikap seolah tak tau.


"Iya, aku yakin itu Arsen Lim." Jawab Antony sembari mulai bangkit dari duduknya.


"Hei." Menyadari Antony yang mulai ingin beranjak dari duduknya membuat Rachel seketika menahannya.

__ADS_1


"Ka, kamu mau kemana?" Tanya Rachel kemudian.


"Aku ingin menghampirinya." Jawab Antony dengan tenang.


Antony pun akhirnya mulai melangkah menuju meja tempat dimana Arsen terduduk. Menyadari kedatangan Antony, membuat Arsen yang awalnya begitu gelagapan pun akhirnya berusaha untuk bersikap tenang di hadapan rekan bisnisnya itu.


"Arsen Lim? Bukankah ini suatu kebetulan yang terus menerus terjadi?" Ucap Antony saat sudah berdiri di hadapan Arsen yang kala itu masih terduduk kikuk.


"Oh hai Antony, kau makan malam disini juga rupanya." Arsen pun tersenyum kikuk.


"Setelah tadi tanpa sengaja bertemu di sircuit balapan, sekarang secara kebetulan lagi kita bertemu disini hehe. Hal ini jadi membuat timbul sebuah pertanyaan di dalam benakku." Celetuk Antony sembari mulai memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.


"Pertanyaan? Apa?" Tanya Arsen yang mulai ingin menyantap menu makanannya agar tidak terlihat kikuk di hadapan Antony.


"Kau tidak sedang membuntuti aku kan?" Tanya Antony setengah berbisik.


Mendengar pertanyaan semacam itu sontak membuat Arsen seketika jadi tersedak hingga terbatuk-batuk.


"Hei, kau kenapa? Kau baik-baik saja?" Tanya Antony lagi.


"Aku baik saja." Jawab Arsen yang langsung meraih selembar tisu di mejanya.


"Sial, kenapa lelaki ini bisa bertanya seperti itu? Apa dia tau sejak tadi aku membuntuti mereka?" Tanya Arsen dalam hati sembari mulai mengusapkan tisu itu ke bibirnya.


Rachel yang sejak tadi masih terduduk di kursinya kini mulai ikut beranjak dan menghampiri Arsen.


"Hai tuan muda, anda disini juga ternyata hehe." Sapa Rachel yang bersikap seolah tak tau apapun.


"Hai." Jawab Arsen singkat sembari tersenyum kikuk.


"Kalau boleh saya tau, anda kesini dengan siapa tuan muda?"


"Aku, emm aku, aku sendiri." Jawab Arsen yang jadi terbata-bata.


"Seorang Arsen Lim makan malam di tempat seperti ini sendirian, emm bukankah itu terdengar sedikit aneh?" Tanya Antony.


Arsen pun hanya diam, begitu pula dengan Rachel yang ikut diam sembari terus berusaha menahan tawanya karena sesungguhnya ia tau jika saat itu Arsen pasti jadi begitu kikuk karena keberadaannya akhirnya diketahui oleh mereka berdua.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2