Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 137


__ADS_3

Rachel, yang kala itu terlihat begitu seksi saat rambutnya yang masih basah di biarkan terurai, di tambah pula dengan kemeja gombrong yang membalut tubuh mungilnya, membuat paha putih dan mulus pun terlihat nyata. Hal itu pun berhasil membuat jantung Arsen kembali terpacu hingga berdetak hebat, keringat dingin pun mulai ia rasakan saat menyadari bagian bawahnya yang mulai bangun.


Berkali-kali ia harus menelan ludahnya sendiri saat Rachel melangkah semakin dekat dengannya.


"Wajahmu terlihat tegang, ada apa?" Tanya Rachel polos.


"Tidak ada." Jawab Arsen datar yang seketika kembali berbaring membelakangi Rachel.


Berkali-kali Arsen harus menghela nafas panjang, demi membuat dirinya kembali rileks dan berharap Arsen junior bisa tertidur kembali.


"Astaga, kenapa dia harus memilih baju yang itu." Gumam Arsen dalam hati.


"Kamu tidak keberatan kan jika aku meminjam kemeja mu ini?" Tanya Rachel lagi yang masih berdiri di tepi ranjang.


"Emm." Jawab Arsen singkat.


Rachel pun akhirnya tersenyum tipis saat memandangi gelagat aneh Arsen.


"Masih saja sok jual mahal." Celetuk Rachel yang terus memandangi punggung Arsen sembari menggelengkan kepalanya dengan sebuah senyuman tipis yang masih melekat.


Mandi air hangat di malam hari sungguh membuat Rachel sangat rileks hingga membuatnya mulai mengantuk. Tanpa pikir panjang, Rachel pun langsung menaiki ranjang yang berukuran 200x200cm, lalu perlahan mulai membaringkan tubuhnya di samping Arsen yang saat itu kembali memejamkan mata.


Tapi, baru beberapa detik Rachel terbaring di sebelah Arsen, tiba-tiba saja Arsen kembali membuka mata, dan seperti begitu terkejut saat mendapati Rachel berbaring begitu dekat di sampingnya.


"Hahhh" Arsen secara refleks terperanjat.


Hal itu membuat Rachel yang baru saja ingin memejamkan matanya menjadi ikut terkejut.


"Kamu kenapa?" Tanya Rachel bingung.


Arsen pun diam dengan nafasnya yang begitu terengah-engah, di tambah lagi tanpa sengaja ia melirik ke bagian dada Rachel yang saat itu belahan dadanya cukup terlihat jelas hingga membuat Arsen semakin gelisah dan tak karuan.


"Tidak, tidak bisa begini, aku tidak akan tahan jika tidur disini." Gumam Arsen dalam hati.


Akhirnya Arsen pun bangkit, ia membawa serta bantal miliknya dan mulai beranjak. Rachel yang melihat hal itu sontak ikut bangkit dan beranjak.


"Arsen Lim." Panggil Rachel yang kini sudah berdiri di belakang Arsen.


Langkah Arsen terhenti namun ia tidak menoleh ke arah Rachel sedikit pun.


"Kamu mau tidur dimana?"


"Bukan urusanmu." Jawab Arsen pelan, ia kembali melanjutkan langkahnya dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Namun bukan Rachel namanya jika hal begitu saja membuatnya menyerah. Rachel pun dengan cepat mengikuti langkah Arsen menuju ruang TV. Saat itu Arsen meletakkan bantalnya di sebuah sofa panjang dan bersiap untuk tidur.


"Kamu akan tidur disini?" Tanya Rachel.


"Menurutmu?"


"Tapi kenapa?" Rengek Rachel yang ikut duduk di tepi sofa sembari menggoyang-goyangkan tangan Arsen.


"Apa aku begitu menjijikkan bagimu?" Tanya Rachel lagi dengan bibirnya yang sengaja ia manyunkan.


Namun Arsen hanya diam sembari dalam hati terus bergumam.


"Sama sekali tidak menjijikkan, justru sangat menggoda bagiku, aku merasa tidak akan bisa menahannya jika kamu terus ada di hadapanku." Gumam Arsen dalam hati.


"Baiklah kalau kamu terus diam, aku juga akan tidur disini!!" Tegas Rachel dengan kedua tangannya yang bersedekap.


"Di ruangan ini hanya ada satu sofa, lakukan saja jika kamu sungguh ingin tidur di lantai." Ketus Arsen yang langsung saja berbaring dan memejamkan mata.


Sikap Arsen di hadapan Rachel benar-benar seolah tidak perduli, namun jauh di dalam hatinya, apa yang di ucapkannya sama sekali tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan. Rachel yang hanya dia memandangi Arsen pun akhirnya langsung beranjak untuk kembali ke kamar, dan hal itu pun seketika membuat Arsen mendengus.


"Huh, sudah jelas-jelas anak manja yang hanya bisa tidur di tempat nyaman, masih sok ingin mengancamku." Celetuk Arsen seorang diri.


Namun nyatanya, yang terjadi sungguh di luar dugaan Arsen, tak lama Rachel terlihat kembali datang dengan sudah membawa bantal dan selimut. Ia dengan wajah manyunnya langsung meletakkan bantal miliknya ke lantai, dan bersiap ingin berbaring tepat tepat di bawah sofa Arsen. Mata Arsen pun mendelik saat memandangi Rachel yang seolah tanpa ragu mulai berbaring di lantai yang hanya beralaskan sepetak ambal tipis.


Rachel yang sudah berbaring, dengan santainya melirik ke arah Arsen dan menjawab,


"Bukankah sudah ku katakan sebelumnya? Lagi pula kamu yang merekomendasikan agar aku tidur di lantai, tidak apa, jika itu bisa membuatmu puas dan tidak marah lagi padaku, akan ku lakukan." Rachel pun menimbulkan senyuman lirihnya.


Hingga seketika membuat Arsen terdiam, perasaan tidak tega kini mulai ia rasakan, namun di sisi lain, ia masih begitu kecewa, rasa kecewanya seakan menghalanginya untuk berlaku baik pada Rachel.


Arsen pun menghela nafas kasar, lalu ia kembali bangkit dari tidurnya dan langsung berdiri di hadapan Rachel.


"Bangun!" Tegasnya.


Namun Rachel tidak bergeming, ia justru semakin menaikkan selimutnya hingga ke pundaknya dan mulai memejamkan matanya.


"Rachel Chou, aku minta kau untuk bangun dari situ!" Arsen pun mulai mengecakkan pinggangnya.


"Tidak akan, sudah terlanjur." Jawab Rachel santai.


"Tapi ini sungguh sudah melanggar prinsip hidupku yang tidak ingin merendahkan siapa pun."


"Emm mau bagaimana lagi?" Jawab Rachel begitu tenang yang seolah tak bergeming dengan ucapan Arsen dan terus memejamkan matanya.

__ADS_1


Hal itu kian memicu kekesalan Arsen yang merasa jika Rachel begitu keras kepala.


"Haaish, benar-benar merepotkan sekali." Geram Arsen seorang diri.


Tanpa basa basi, Arsen pun langsung menggendong paksa Rachel, membuat Rachel terkejut dan kembali mendelikkan matanya.


"Hei, kamu mau apa?"


Arsen sama sekali tidak menjawab, ia pun langsung saja membawa tubuh mungil wanita yang telah menjadi istrinya itu untuk kembali ke kamar.


"Arsen Lim, turunkan aku! Aku tidak mau tidur di kamar sendiri, turunkan aku!!" Teriak Rachel sembari terus bergelonjang di gendongan Arsen.


Kala itu, Arsen dengan wajah dinginnya hanya diam dan memilih untuk terus melangkah, tiba di ranjang, ia pun meletakkan Rachel di atasnya. Lalu tanpa berkata apa-apa, Arsen pun bersiap untuk kembali pergi, namun tangannya dengan cepat di tarik oleh Rachel.


"Arsen Lim, mau sampai kapan kamu mendiamiku begini?" Rengek Rachel.


Arsen masih diam tidak menatap Rachel sedikit pun.


"Ayo jawab aku." Rachel menarik tangan Arsen lagi, hingga membuat Arsen akhirnya terduduk di tepi ranjang menghadap ke arahnya.


Dengan cepat memeluk manja tubuh Arsen.


"Tolong jangan marah terus, aku harus apa agar kamu memaafkan aku?" Nada bicara Rachel terdengar begitu manja membuat Arsen semakin tak karuan.


Tak lama Rachel kembali melepaskan tautan tubuhnya, ia menatap Arsen begitu dalam, dan mengusap pipinya dengan lembut.


"Tidak apa jika kamu terus diam, aku tidak akan menyerah sampai kamu memaafkan kesalahanku yang sudah membohongimu hingga sejauh ini. Tapi aku mohon, agar kamu mau tidur bersamaku disini, jangan tinggalkan aku disini Arsen Lim," Kini nada bicara Rachel terdengar begitu lirih,


Membuat Arsen akhirnya menghela nafas panjang, ia beranjak dari hadapan Rachel menuju bagian ranjang di samping Rachel. Arsen pun mulai bersiap untuk berbaring, membuat Rachel yang melihatnya akhirnya kembali tersenyum.


"Sudah sangat larut, aku mau tidur." Ucap Arsen datar.


Rachel pun akhirnya ikut berbaring di samping Arsen, ia terus tersenyum memandangi wajah suaminya yang dingin namun masih terlihat begitu manis.


"Selamat tidur, suamiku." Ucap Rachel lembut.


Mendengar perkataan itu membuat Arsen lagi-lagi membuka matanya dan menatap Rachel yang kala itu sedang berhadapan dengannya.


"I love you." Tambahnya lagi.


Jiwa Arsen terasa menghangat mendengarnya, namun masih saja ia memilih untuk bungkam dan kembali memejamkan matanya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2