
"Ada apa?" Tanya Rachel ketika berdiri menghadap Arsen dengan wajahnya yang masih terlihat masam.
"Apa itu tadi ha?!" Tanya Arsen yang mulai melotot pada Rachel.
"Memangnya apa?!" Rachel pun seolah tak mau kalah dan ikut melotot.
"Ada apa denganmu ha?! Kenapa tiba-tiba kamu jadi berlagak sok cantik di hadapan lelaki itu?"
"Memang aku cantik." Jawab Rachel dengan santai.
Mendengar hal itu seketika semakin membuat Arsen menggeram.
"Haaish, kamu ini!!! Benar-benar...."
"Benar-benar apa?! Harusnya aku yang marah padamu karena dengan sengaja membuang hadiah pemberian orang tanpa sepengetahuanku! Apa maksudmu melakukan hal semacam itu ha??" Rachel pun kembali menatap tajam wajah Arsen dengan kedua tangannya yang mulai bersedekap.
"Masalah itu, ya, aku memang membuangnya! Aku membuangnya karena aku tidak suka dengan model tas dan jam yang dia berikan, semuanya terlihat kuno!"
"Kuno darimananya? Jelas-jelas semua ini keluaran terbaru dan limited edition." Ungkap Rache sembari menunjukkan kembali jam tangan yang ia pakai.
Arsen pun mulai bangkit dari duduknya dan menghampiri Rachel dengan tatapan yang tak biasa.
"Kenapa menatapku begitu? Apa kamu tidak senang dengan ucapanku?"
"Lepaskan!" Tegas Arsen.
"Lepaskan? Apanya?" Tanya Rachel yang terlihat bingung.
"Jam tangan itu, ayo lepaskan!"
"Hah?! Tidak, aku tidak mau!" Rachel pun segera mendekap tangannya lagi.
"Hoh,, demi jam yang tidak seberapa, kamu bahkan rela melawan atasan sekaligus suamimu ya." Arsen seketika jadi terkekeh lirih.
Namun Rachel seolah tak bergeming dan memilih untuk bersikap bodo amat, hal itu pun membuat Arsen kembali mendengus kesal dan langsung kembali menarik tangan Rachel. Tanpa meminta izin, ia pun langsung saja melepaskan jam tangan itu dari pergelangan tangan Rachel secara paksa dan meletakkannya dengan kasar ke atas meja kerjanya.
Aksi Arsen kala itu pun cukup membuat Rachel jadi terperangah, ada rasa kesal namun juga ada perasaan lucu dan senang.
"Ka, kamu!! Kenapa kamu melepasnya secara paksa?!"
Namun kala itu Arsen hanya diam dan memilih untuk langsung menuju ke ruang kerja Rachel. Membuat Rachel semakin kebingungan dan langsung mengikuti langkahnya.
"Arsen Lim, kamu mau apa?"
Arsen pun langsung mengambil tas Rachel yang terletak di atas meja, yang juga merupakan tas pemberian dari Antony. Dengan cepat Arsen mengeluarkan seluruh isi tasnya, kebetulan di dalamnya juga ada kalung berlian, ia juga mengambilnya dan membawanya kembali ke ruangannya.
"Arsen mau kamu apakan barang-barang itu?" Rachel pun terus saja mengikuti langkah Arsen.
Arsen masih saja diam seribu bahasa, ia terus bersibuk dengan halnya. Mengambil sebuah kotak kosong yang ada di bawah mejanya, lalu memasukkan semua barang pemberian Antony ke dalamnya dan kembali menutupnya serta merekatkannya dengan lakban.
__ADS_1
Ia pun meraih ponselnya untuk menelpon Alex.
"Uncle, ke ruanganku sekarang!" Perintahnya yang kemudian langsung menutup teleponnya.
Rachel pun hanya diam memandanginya dengan penuh tanda tanya dan bibirnya yang manyun.
Tak berapa lama, Alex pun terlihat masuk ke ruangan Arsen.
"Ada apa tuan muda?"
Dengan wajah datar, Arsen pun meraih kotak yang telah ia siapkan di atas meja, lalu menyerahkannya pada Alex.
"Tolong suruh seseorang untuk mengembalikan ini pada pemiliknya,"
"Memangnya siapa pemiliknya?" Tanya Alex yang masih nampak bingung.
"Antony Yue!"
"Antony Yue?? Emm tapi sampai saat ini, kami tidak pernah tau dimana ia tinggal. Aku hanya tau rumah induk keluarga Yue, tapi yang ku dengar, ia sangat jarang pulang ke rumah orang tuanya karena mereka tidak begitu akur. Jadi dia tinggal sendiri di beberapa apartement yang ia miliki di kota ini, tapi tidak pernah pasti di apartement mana ia tinggal." Jelas Alex secara singkat.
"Antar saja ke One Light Corp, ku yakin saat ini dia berada disana!"
"Baik." Alex pun mengangguk tanda mengerti dan bergegas ingin beranjak pergi.
"Satu lagi uncle," Ujar Arsen lagi yang seketika membuat langkah Alex terhenti.
"Baik!" Alex pun langsung pamit pergi.
Tanpa membuang waktu, ia pun langsung memerintahkan bawahannya untuk mengantarkan paket itu ke One Light Corp.
Arsen kembali mendekati Rachel dan menatapnya dengan sinis.
"Jangan pernah menerima apapun pemberian darinya. Apapun!" Tegas Arsen dengan suaranya yang begitu pelan, namun terkesan ada penekanan di setiap kalimatnya.
"Haissh, aku benar-benar bingung padamu, di satu sisi, sikapmu terus menerus cuek dan seolah tak acuh padaku, tapi di sisi lain, kamu juga tidak terima jika aku terlihat akrab dengan lelaki lain dan marah saat melihatku menggunakan barang pemberiannya. Apa maksudnya?"
Arsen pun kembali diam dan dengan tenang kembali ke tempat duduknya.
"Aku hanya tidak suka membuat lelaki itu jadi besar kepala." Jawabnya singkat dan memilih kembali fokus pada beberapa berkas yang ada di atas mejanya.
Mendengar jawaban Arsen yang begitu ringan, lagi-lagi membuat Rachel semakin merasa geram.
"Katakan saja jika kamu cemburu, iya kan? kamu cemburu tapi sangat malu untuk mengakuinya."
"Tidak!" Tegas Arsen sembari terus menatap berkas yang ia pegang tanpa berani melirik ke arah Rachel.
"Eemm sudah jelas-jelas cemburu tapi masih saja sulit mengakuinya. Sampai kapan kamu mau menyembunyikan perasaanmu sesungguhnya dariku Arsen Lim?"
Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Arsen jadi tertegun sejenak. Rachel pun menghela nafas dan mulai melangkah mendekati Arsen. Rachel pun berdiri tepat di belakang kursi Arsen dan mulai mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.
__ADS_1
"Aku mohon sudahi semuanya, sudahi marahnya, maafkan aku." Ucap Rachel dengan begitu manja.
"Tolong lepaskan, ini di kantor, tolong jaga batasanmu Rachel." Cegah Arsen yang masih mencoba bersikap dingin.
Arsen masih saja terbayang bagaimana Rachel yang bersikap terlalu centil di hadapan Antony dan itu sungguh membuatnya jadi sangat kesal.
"Tolong maafkan semua kesalahanku, sudahi marahnya, kita mulai semuanya dari nol." Rengek Rachel yang justru semakin mengeratkan pelukannya dan mulai menciumi pipi Arsen.
"Astaga kenapa dia selalu saja membuat pertahananku mulai goyah seperti ini." Keluh Arsen dalam hati.
"Tolong hentikan." Ujarnya lagi yang mencoba melepaskan tautan tangan Rachel.
"Tidak mau, aku tau kamu cemburu pada Antony, aku berjanji next time tidak akan seperti itu lagi padanya, asal kamu memaafkan aku." Rengek Rachel lagi.
Mendengar hal itu membuat Arsen kembali mendengus dan langsung bangkit kembali dari duduknya.
"Apa katamu?! Kamu tidak akan bersikap centil hanya jika aku mau memaafkan mu? Jadi kalau aku belum bisa memaafkanmu, seterusnya kamu akan bersikap seperti itu padanya? Begitu?" Mata Arsen kembali melotot.
Kali ini, dari sorot matanya seolah kobaran api cemburu semakin nyata terlihat.
"Ma, maksudku.." Rachel mencoba memberi penjelasan, namun ucapanya dengan cepat di seka oleh Arsen.
"Cukup! Kamu tidak perlu bertemu dengannya lagi di waktu mendatang. Karena sepertinya, aku semakin yakin dengan keputusanku untuk memecatmu!"
"Apa?!" Rachel pun sontak dibuat terkhayal.
"Aku akan memecatmu, kamu tidak perlu mengurus segala urusan kantor terutama masalah proyek kerja sama dengan One Light Corp, karena secepatnya aku akan mencari penggantimu sebagai penanggung jawab di proyek itu." Tegas Arsen.
Mendengar hal itu, membuat hati Rachel terasa begitu sakit, ia sangat tidak menyangka jika Arsen bisa semarah itu dan benar-benar akan memecatnya. Matanya juga mulai berkaca-kaca menatap Arsen yang tengah dikuasai api cemburu dan rasa kesal.
"Menangis saja jika ingin menangis, tapi bisa ku pastikan, hal itu tidak akan mengubah apapun. Meski kamu mengumpulkan seluruh petinggi Blue Light untuk meminta pertolongan, namun itu tetap masih belum cukup untuk melawan perintahku!" Tegas Arsen lagi yang kemudian mulai melangkah menuju dinding kaca yang langsung tembus ke taman kota.
Ia memilih berdiri menghadap ke arah taman kota, agar ia tidak perlu melihat Rachel menangis, karena jujur saja, jauh dalam lubuk hatinya, ia begitu tak tega saat melihat Rachel menangis.
Dan benar saja, Rachel pun mulai meneteskan air matanya, dalam keadaannya yang masih begitu tercengang mendengar kata-kata Arsen yang terkesan ketus, air matanya pun terlihat semakin mengucur deras membasahi pipinya.
"Sudah ku katakan, tangisanmu tidak akan mengubah apapun. Jadi berhentilah menangis!" Ucap Arsen lagi yang masih berdiri membelakanginya.
Rachel pun perlahan menyeka air matanya yang terus saja mengalir, lalu mulai menghela nafas panjang sembari menatap sendu punggung Arsen.
"Baik, jika sudah memutuskan untuk memecatku, maka pecat saja aku! Tapi, jangan salahkan aku jika nanti aku mencari pekerjaan lain, lebih tepatnya, aku akan melamar pekerjaan di One Light Corp!" Tegas Rachel yang kemudian beranjak pergi begitu saja.
Mendengar hal itu, membuat Arsen seketika langsung berbalik badan.
"Apa?! One Light Corp?! Perusahaan Antony?!" Gumamnya yang mulai panik.
Dengan cepat Rachel kembali ke ruangannya sembari terus menyeka sisa air matanya yang masih sesekali menetes, lalu mulai mengemasi seluruh barangnya dan langsung pergi begitu saja tanpa pamit dan tanpa berkata apapun lagi.
...Bersambung......
__ADS_1