Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 88


__ADS_3

Sepanjang langkahnya menuju kantin, Rachel pun kembali di buat bertanya-tanya kemana sebenarnya Arsen.


"Jika tidak mendatangi Laura, lalu kemana dia pergi?" Tanya Rachel dalam hati yang nampak semakin cemas.


Rachel pun seketika menghentikan langkahnya, lalu ia pun memilih untuk berbalik arah, ia berbalik arah untuk kembali ke ruangannya.


"Aku tau dia sedang dalam keadaan kalut, aku tak mau dia berbuat hal yang aneh-aneh." Gumam Rachel lagi sembari semakin melajukan langkahnya.


Begitu memasuki ruangannya, Rachel pun langsung menghidupkan kembali laptopnya yang sudah tersambung ke system cctv kantor. Ya berhubung dia adalah sekretaris CEO, maka dia pun memiliki akses untuk membuka cctv kantor di bagian mana saja yang ia mau.


Saat itu mata Rachel terlihat begitu fokus menatap laptopnya yang sedang memperlihatkan rekaman Arsen sejak masih di dalam ruangannya. Hingga akhirnya ia terlihat keluar dari ruangannya begitu saja, Rachel pun segera membuka rekaman dari kamera di bagian yang lain. Ternyata saat itu Arsen kedapatan terlihat menaiki lift menuju rooftop gedung utama, membuat mata Rachel seketika membulat sempurna karena Rachel berfikir jika Arsen akan bunuh diri karena patah hati.


"Oh tidak, jadi dia ada di atas gedung? Aku harus menyusulnya!" Rachel pun segera berlari menuju lift.


Dengan cepat ia menekan salah satu tombol yang ada di dalam lift itu untuk membawanya menuju ke rooftop tempat dimana di cctv tadi Arsen terlihat sedang berdiri di tepi atap gedung.


*Ting*


Tak lama pintu lift pun terbuka, dengan langkah cepat Rachel langsung keluar, lalu ia pun mulai berlari menuju tepi atap gedung yang menjulang tinggi itu. Dan benar saja, saat itu Arsen masih terlihat berdiri sendiri menghadap ke arah bawah gedung.


"Arsen Lim!" Panggil Rachel yang saat itu sudah berdiri tepat di belakang Arsen.


Mendengar teriakan itu membuat Arsen seketika menoleh dan berbalik badan.


"Bella?"


"Ya ini aku, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Rachel yang kembali melangkah dan akhirnya kembali menghentikan langkahnya saat posisinya tepat berada di samping Arsen.


"Tidak ada, hanya sedang merefresh pikiran saja. Dan kamu, bagaimana kamu bisa tau aku ada disini?" Tanya Arsen dengan tenang.


"Aku bisa tau karena aku mencari tau." Jawab Rachel sembari tersenyum tipis.


Mendengar jawaban Rachel seketika membuat Arsen langsung mendengus dan memiringkan senyumannya. Ia pun kembali terdiam dengan tatapannya yang kosong, melihat itu pun Rachel semakin penasaran, sekiranya apa yang membuat Arsen jadi bersikap seperti itu.


"Arsen Lim, apa aku boleh bertanya?!"


"Katakan!"


"Apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dan Laura? Aku melihatmu begitu hancur hingga menangis, ada apa?" Tanya Rachel pelan.

__ADS_1


Arsen kembali terdiam, kembali mengingat Laura dan Erick benar-benar kembali membuat hatinya terasa berdenyut hingga membuat matanya kembali berkaca-kaca. Namun diamnya Arsen sontak membuat Rachel merasa tak enak hati.


"Kamu tidak perlu menjawabnya jika pertanyaan ku tadi membuatmu tak nyaman." Ucap Rachel kemudian.


Akhirnya Arsen pun mulai menghela nafas panjang, lalu perlahan kembali menatap Rachel yang tengah berada di sampingnya.


"Dia berkhianat." Ucap Arsen datar.


"Apa?! Ma, maksudmu Laura selingkuh? Begitu?" Tanya Rachel yang begitu terkejut.


Karena sejauh ini yang Rachel tau kebusukan Laura hanyalah sebagai perempuan matrealistis dan tidak sepenuhnya tulus mencintai Arsen. Namun Rachel tidak mengira jika Laura sanggup berselingkuh dengan lelaki lain.


"Ya, dia bahkan berselingkuh dengan sahabatku sendiri." Jawab Arsen sembari mulai memancarkan senyumannya yang begitu lirih.


Lagi-lagi Rachel semakin terkejut hingga dengan spontan sebelah tangannya menutup mulutnya yang menganga.


"Apa?! Ap, apa kamu melihatnya sendiri?"


"Aku tipekal orang yang tak mudah percaya dengan ucapan orang jika tidak ada buktinya nyata. Termasuk dengan ucapannya yang sebelumnya beberapa kali mencoba mengingatkanku tentang keburukan Laura, dan aku dengan bodohnya tidak percaya hal itu hanya karena tidak ada bukti nyata. Tapi sekarang semuanya sudah terbukti, bahkan kedua bola mataku ini dengan sangat jelas melihat mereka berdua di dalam sebuah kamar." Jelas Arsen yang mulai menunduk.


"Kamu tau apa yang ku lihat?" Tanya Arsen lagi yang kembali menatap Rachel.


"Aku melihat Laura dan sahabatku Erick sedang melakukan hubungan intim di kamar tamu rumahnya, dan kamu tau bagaimana perasaanku saat itu? Aku merasa dunia dan seluruh isinya seolah runtuh dan menimpaku. Rasanya sakit sekali saat dua orang yang kamu percaya, bekerja sama dalam menyakiti hatiku." Jelas Arsen dengan begitu lirih dan kembali melamun.


Seolah merasakan apa yang dirasakan oleh Arsen, kini sebuah tetesan bening mengalir begitu saja dari pipi Rachel. Ia begitu tak terima melihat Arsen begitu patah hati karena Laura.


Ingin rasanya ia kembali mengejar Laura dan kembali menamparnya.


"Benar-benar keterlaluan kau Laura, bisa-bisanya kamu mengkhianati Arsen yang benar-benar tulus mencintaimu. Lihat lah, aku akan benar-benar membuatmu kehilangan Arsen untuk selamanya." Ketus Rachel dalam hati.


Akhirnya Rachel pun segera mengusap air matanya karena tak ingin membuat Arsen semakin tak karuan. Dan sejak saat itu, ia pun akhirnya bertekat untuk menunjukkan sikap manis, dan perasaan ketertarikannya pada Arsen tak peduli bagaimana kelak balasan Arsen padanya.


Namun Arsen yang mulai tersadar seketika langsung mengusap kasar wajahnya dan dengan secepat kilat ia menyembunyikan ekspresi lirihnya, lalu dengan cepat ia ganti ekspresi wajahnya dengan begitu datar saat menatap Rachel.


"Sudah lah, bukankah aku sudah mengatakan jangan pernah menyebut namanya apalagi membahasnya di hadapanku?!" Ketus Arsen.


Membuat Rachel seketika memanyunkan bibirnya dan mulai menunduk.


"Emm iya iya." Jawab Rachel melesu.

__ADS_1


"Lagi pula untuk apa kamu menyusulku kesini ha? Kembali bekerja sana! Apa mau kena SP?!"


"Eits, tidak kah kamu melihat sekarang jam berapa ha?"


Arsen pun dengan cepat mengeluarkan sebelah tangannya yang sejak tadi ia masukkan ke dalam saku celananya lalu kemudian langsung melirik ke arah jam tangan ia kenakan. Mata Arsen sedikit membulat saat akhirnya menyadari jika saat itu sudah waktunya jam makan siang.


"Bagaimana? Apa masih mau memberiku SP?" Tanya Rachel lagi sembari menahan senyumnya.


Namun Arsen kembali memasang wajah datar dan berkata,


"Sudah lah, turun sana bukankah sudah waktunya makan siang? Lalu kenapa masih disini?"


"Apa kamu tidak ingin aku disini?" Tanya Rachel sembari kembali memanyunkan bibirnya di hadapan Arsen.


"Tidak" Jawab Arsen singkat sembari memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


"Yakin tidak butuh aku temani? Karena aku paham kondisi hatimu saat ini, pasti butuh teman untuk sharing."


"Sudah, turun sana dan segera pergi makan."


"Emmm baiklah." Akhirnya dengan wajahnya yang cemberut Rachel pun hanya bisa patuh dan mulai ingin beranjak pergi.


Namun seketika langkahnya terhenti, sembari merogoh-rogoh saku celananya, ia pun menoleh ke arah Arsen dan berbalik arah.


"Ada apa lagi?"


"Tunggu, seperti ada yang ketinggalan."


"Apa yang ketinggalan?" Arsen pun mulai mengernyitkan dahinya.


"Ada yang lupa ku berikan padamu." Ucap Rachel lagi.


Membuat dahi Arsen semakin mengkerut karena penasaran. Tak lama kemudian Rachel pun kembali mengeluarkan tangannya, lalu memberikan lambang sebuah hati melalui jari tangannya.


"Ini" Ucap Rachel sembari tersenyum manis.



...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2