Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 166


__ADS_3

Kantor utama One Light Corp


Antony baru saja menyelesaikan meeting singkat dengan kliennya yang baru datang dari luar negeri. Lalu ia pun memutuskan untuk mengajak kliennya itu makan siang bersama sekaligus membawanya berkeliling ke beberapa usaha miliknya. Mereka pun memasuki lift untuk kembali turun ke loby utama.


Di waktu yang sama pula, seorang yang di perintahkan oleh Alex pun tiba di loby utama dan langsung menuju ke meja resepsionis.


"Permisi nona, saya membawa sebuah paket untuk tuan muda Antony Yue, apa dia ada?"


"Paket?"


"Benar."


"Maaf sebelumnya, tapi kamu harus tau dari mana paket itu berasal, itu sudah termasuk salah satu protokol di kantor ini."


"Oh ini kiriman dari bos besar, tuan muda Arsen Lim dari Blue Light Group."


"Oh benarkah? Emm baiklah, anda bisa menitipkannya padaku, nanti akan aku sampaikan pada tuan muda Anton."


"Maaf nona, tapi tuan muda Arsen memerintahkan agar paket ini bisa di terima langsung oleh tuan muda Antony."


"Tapi tuan muda Anton sedang mengadakan meeting, tidak bisa di ganggu. Jadi titipkan saja padaku."


"Maaf nona, tapi aku tetap harus memberikannya langsung pada tuan muda Antony."


Tak lama pintu lift pun terbuka, Antony dan lainnya pun nampak keluar dari lift dan berjalan santai sembari berbincang ringan dengan kliennya melewati meja resepsionis.


"Nah itu dia tuan muda Antony." Celetuk orang suruhan Alex yang seketika langsung ingin menghampiri Antony.


"Tapi tuan, tunggu!!" Cegah resepsionis yang sontak mulai cemas karena takut Antony akan marah.


"Tuan muda Antony." Panggil orang suruhan Alex.


Langkah Antony pun seketika terhenti, lalu seketika menoleh ke arah sumber suara.


"Maaf mengganggu waktu sibuk anda tuan muda, tapi saya di tugaskan untuk mengantarkan paket untuk anda."


"Jika hanya paket biasa, kamu bisa menitipkannya di resepsionis, tidak perlu menunda kepergian tuan muda begini." Ujar asisten pribadi Antony yang selalu mendampingi Antony kemana pun ia pergi.


"Maaf tapi saya mendapat mandat, harus memberikannya langsung pada tuan muda."


"Seberapa penting memangnya paket itu?" Tanya sang asisten pribadi dengan matanya yang mulai melotot.


"Dari siapa paket itu?" Tanya Antony dengan tenang.


"Dari CEO Blue Light Group, tuan muda Arsen Lim."


"Arsen Lim?" Tanya Antony dalam hati.


"Ah baiklah, serahkan saja padaku, tuan Antony harus segera pergi." Asisten Antony pun bergegas ingin mengambil kotak itu dari tangan orang suruhan Alex.


"Berikan padaku!" Tegas Antony.


"Oh baik tuan muda." Orang suruhan Alex pun bergegas menghampiri Antony, melewati sang asisten pribadi begitu saja dan langsung menyerahkan kotak itu pada Antony.

__ADS_1


"Terima kasih." Ucapnya sembari tersenyum tipis.


"Baiklah tuan muda, tugas saya sudah selesai, saya permisi."


Antony pun mengangguk singkat.


Tak ingin membuang waktu, Antony segera membuka penutup kotak itu, lalu seketika ia menjadi tertegun sejenak memandangi seluruh barang pemberiannya yang kini di kembalikan oleh Arsen.


"What is that?" Tanya klien Antony yang sedikit merasa penasaran.


"Oh no, it's nothing." Antony pun kembali tersenyum dan bergegas menutup kembali kotaknya.


"Ok, let's go." Ucapnya lagi sembari melanjutkan langkahnya.


Dengan menggunakan dua mobil, mereka pun akhirnya pergi menuju ke sebuah restaurant bintang lima yang berada di tengah kota. Saat itu Antony berada di mobil yang berbeda dengan kliennya, karena kliennya membawa dua orang staff kantornya dan satu Sekretaris sehingga ia harus memilih untuk naik mobil yang lebih besar dan luas.


Sepanjang jalan ia jadi lebih banyak diam sembari sesekali kembali melirik ke arah kotak yang saat itu berada di sisinya.


Tak lama Antony pu meraih ponselnya, lalu memutuskan untuk mengirim pesan singkat ke Rachel.


Saat itu, Rachel tengah berjalan lesu di trotoar yang berada di depan gedung kantor utama. Sesekali air matanya masih saja menetes saat ia kembali menoleh ke arah gedung yang menjulang tinggi itu.


"Dia bahkan tidak berusaha untuk mengejarku, apa sungguh memang sudah tidak peduli lagi padaku?" Gumam Rachel dalam hati sembari memandang lirih ke arah loby utama, karena ia masih begitu berharap Arsen muncul dan mengejarnya.


Tapi sayangnya itu tidak terjadi, membuatnya kembali melanjutkan langkahnya dengan lesu sembari menyeka kembali air matanya yang tidak bisa ia tahan. Dengan tatapannya yang kosong, Rachel akhirnya berhenti di tepi jalan, banyak taksi yang berhenti untuk menawarinya tumpangan, namun saat itu ia hanya menggeleng lesu. Entah apa sebenarnya yang sedang ia tunggu hingga terus menerus menolak taksi dan bis yang berhenti.


Tak lama ponsel yang berada di saku mantelnya pun berbunyi, menandakan sebuah pesan baru masuk.


Rachel pun menghela nafas panjang saat membacanya, dan memutuskan untuk membalasnya.


"Aku sungguh minta maaf atas hal yang tidak menyenangkan itu, tapi aku baik-baik saja, Arsen hanya sedang cemburu buta, bukankah itu sering terjadi pada seseorang yang sangat mencintai pasangannya? Jadi, tolong maafkan dia." Balas Rachel yang masih saja mencoba menyembunyikan masalah yang terjadi di rumah tangganya.


Rachel kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku mantel, lalu ia kembali termenung, membayangkan bagaimana Arsen berkata begitu ketus padanya dan tega memecatnya.



"Dia sungguh tidak seperti Arsen yang ku kenal." Gumamnya lagi dalam hati.


Antony yang membaca pesan balasan dari Rachel pun hanya bisa tersenyum tipis saat mengetahui jika Rachel baik-baik saja.


"Syukurlah, aku lega mendengar kamu baik-baik saja." Balasnya singkat.


Tak lama, mobil sedan mewah yang di tumpangi Antony pun secara kebetulan melewati kantor utama Blue Light, karena memang letak restaurant yang akan ia tuju sejalan dengan gedung kantor utama Blue Light yang memang terletak di pusat kota.


Antony yang sejak tadi banyak diam dan memandangi ke arah jendela mobil, seketika membulatkan matanya saat tak sengaja melihat Rachel yang tengah berdiri di tepi jalan.


"Berhenti!" Tegas Antony pada supir.


Tanpa banyak pertanyaan, sang supir pun langsung menghentikan mobilnya dengan cepat, dan hal itu sontak mengundang rasa bingung dan penasaran pada Asisten pribadinya.


"Ada apa tuan muda? Apa terjadi sesuatu?"


"Tunggu disini." Ucap Antony datar dan kemudian langsung keluar dari mobil begitu saja.

__ADS_1


Antony berdiri di sisi mobilnya dengan sorot matanya yang begitu lekat memandang ke arah Rachel yang kala itu masih belum menyadari keberadaan Antony. Antony akhirnya mulai melangkah ke arahnya, lalu kembali menghentikan langkahnya saat posisinya sudah tak begitu jauh dari Rachel.


"Apakah ini yang kamu maksud dengan kata baik-baik saja?" Tanya Antony yang kala itu terlihat berdiri dengan tenang sembari memasukkan kedua tangan ke saku celananya,


Lamunan Rachel seketika buyar, membuatnya spontan menoleh ke arah Antony, matanya membulat saat mendapati Antony yang sudah berdiri tak jauh darinya, menyadari air matanya yang masih saja menetes, membuatnya bergegas mengusap pipinya demi menutupi kesedihannya di depan Antony.


"Kenapa kamu tiba-tiba ada disini?" Tanya Rachel yang masih terlihat sibuk menyeka air matanya.


Melihat hal itu membuat Antony seketika mendengus dan tersenyum tipis,


"Tidak perlu mengusapnya dan bersikap seolah tidak terjadi apapun, karena aku sudah terlanjur melihat air mata itu di pipimu."


Mendengar hal itu membuat Rachel seketika terdiam dan kembali menundukkan wajahnya,


"Apa kamu kesini untuk menemui Arsen dan memarahinya karena hal tadi? Ku mohon maafkan dia." Ujar Rachel dengan suara begitu pelan.


Lagi-lagi hal itu berhasil membuat Antony mendengus dan kembali tersenyum.


"Kamu sudah makan siang?" Tanya Antony yang seolah tak berminat untuk membahas tentang Arsen maupun paket itu.


Rachel hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Kebetulan aku mau makan siang bersama klienku, mau ikut?"


"Hah, jadi kamu bersama klienmu?" Rachel nampak cemas sembari melirik ke arah mobil Antony yang terparkir di tepi jalan.


"Haais, kenapa kamu malah membuatnya menunggu, ayo pergi lah, aku baik-baik saja, aku bisa makan siang di rumah." Tambahnya lagi sembari mulai memunculkan senyumannya untuk menegaskan pada Antony jika dia sungguh baik-baik saja.


"Klienku berada di mobil lain, supirku sudah membawanya menuju restaurant."


"Oh begitu, eemm ya sudah, pergi lah, jangan buat klien menunggu lama."


"Aku akan segera melanjutkan perjalanan jika kamu ikut makan siang bersamaku, tapi jika kamu terus menolak, maka sepertinya aku akan terus disini hingga memastikan kamu benar-benar pergi. Bagaimana?"


Rachel pun terdiam sejenak sembari terus memandangi Antony, lalu ia menghela nafas dan akhirnya setuju.


"Eemm baiklah, kamu begitu pemaksa, membuatku sulit untuk menolaknya." Celetuk Rachel sembari mendengus dan akhirnya kembali memunculkan senyuman tipisnya.


Sementara Antony, ia justru semakin mengembangkan senyumannya saat mengetahui jika Rachel bersedia ikut makan siang dengannya. Antony pun bergegas kembali ke mobilnya, ia membuka pintu dan memberi kode pada asistennya hanya dengan menggunakan gerakan mata agar sang asisten pindah duduk di samping supir. Sang asisten nampaknya langsung mengerti maksud dari kode itu hingga tanpa berpikir panjang, ia pun langsung bergegas pindah ke depan.


"Silahkan." Antony pun mempersilahkan Rachel untuk masuk.


"Terima kasih." Rachel pun tersenyum singkat dan akhirnya masuk ke dalam mobil.


Di susul dengan Antony yang duduk di sampingnya.


"Jalan!" Tegas Antony.


"Baik tuan muda."


Mobil sedan mewah berwarna hitam itu akhirnya kembali melaju meninggalkan kawasan perkantoran elit itu.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2