Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 42


__ADS_3

Sarapan pun selesai, setelah mengusap ujung bibirnya dengan tisu, Arsen pun mulai membuka obrolan pagi itu.


"Oh ya uncle, bagaimana tentang sekretaris pribadiku? Apa sudah ada yang memasukkan CV nya ke perusahaan? Karena aku harus segera merekrut seorang sekretaris untuk membantu pekerjaanku."


"Jika kamu menanyakan sudah ada atau tidaknya yang melamar menjadi sekretarismu, jawabannya tentu saja bukan hanya ada, bahkan hingga saat ini email baru dari orang-orang yang mengirimkan CV nya terus saja bermunculan." Jelas Alex dengan santai.


Mendengar penjelasan Alex, mata Benzie langsung membulat seolah memberi kode padanya dan Alex yang menyadari hal itu pun langsung paham.


"Tapi kamu tenang saja Arsen, serahkan semuanya pada unclemu yang tampan, hari ini juga seorang sekretaris terbaik dari yang paling baik akan paman rekrut untukmu." Tambah Alex lagi sembari tersenyum dengan percaya dirinya.


"Emm baiklah uncle, aku percaya keahlianmu dalam hal itu sungguh tidak akan bisa ku ragukan." Arsen pun ikut tersenyum.


Setelah beberapa saat berbincang, mereka pun akhirnya memutuskan untuk berangkat pergi ke kantor. Seperti biasa, Benzie lebih memilih pergi bersama Alex, dan Arsen memilih mengendarai mobilnya sendiri.


Saat itu, Rachel yang begitu terbakar api semangat pun langsung berangkat menuju kantor utama Blue Light setelah ia selesai menyantap sarapannya.


"Oma opa, aku pergi dulu ya, bye bye." Setelah mengecup singkat pipi oma dan opanya Rachel pun langsung berlalu pergi begitu saja.


"Astaga istriku, kenapa kamu justru membiarkannya bekerja? Bukankah kedatangannya kesini untuk berlibur?" Tanya Mr. Liong yang masih tak menyangka jika Rachel bisa secepat itu bekerja di Blue Light.


"Aku bisa apa saat dia sudah memutuskannya? Aku juga awalnya kaget saat tau jika ternyata kedatangannya kembali kesini hanya demi mengejar cinta Arsen Lim. Oh anak itu, dia sungguh begitu mirip dengan Shea putri kita." Jawab Ny. Irene


"Kamu benar, keberadaannya disini membuatku seolah merasa jika Shea lah yang sedang bersama kita sekarang." Mr. Liong pun hanya tersenyum tipis dan melanjutkan sarapannya.


Benzie, Arsen, dan Alex pun akhirnya sampai bersamaan di kantor utama, begitu mereka tiba, anna sang sekretaris dari Alex pun langsung menghampiri sembari memberikan banyak map yang berisikan berkas-berkas penting.


"Berkas apa ini Anna? Kenapa banyak sekali?" Tanya Alex sembari mulai membuka lembaran berkas itu.


"Itu adalah berkas-berkas yang menyatakan jika posisi CEO telah resmi berpindah pada tuan muda Arsen Lim dan berbagai aset dan kontrak kerja sama lainnya tuan. Jadi berkas-berkas ini harus mendapat tanda tangan dari keduanya tuan."


"Oh ok baiklah," Alex pun tersenyum singkat dan menutup kembali map nya.


"Bawa itu ke ruangan Arsen, biarkan dia yang menanda tangani semuanya lebih dulu Lex." Perintah Benzie dengan tenang.


Alex pun mengangguk, lalu ia pun segera mempersilahkan Arsen untuk langsung menuju ke ruangan pribadi miliknya. Sementara Benzie memilih menuju ke meja resepsionis sebelum ia menuju ke ruangannya.


"Jika nanti ada seorang wanita bernama Rachel yang datang, tolong langsung antar ke ruanganku. Mengerti?"


"Oh baiklah tuan."


Benzie pun mengangguk singkat lalu mulai menaiki lift khusus untuk menuju ke ruangannya. Tak begitu lama, Rachel yang di antar oleh supir pun tiba di depan loby, dengan langkah yang tergesa-gesa sembari memandangi jam tangannya, ia pun langsung saja memasuki gedung utama itu.


"Selamat pagi pak." Sapa Rachel dengan ramah kepada dua orang security yang berjaga di depan pintu masuk.


"Pagi nona, silahkan."

__ADS_1


Rachel segera menuju meja resepsionis.


"Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?"


"Emm saya, saya." Seketika Rachel mendadak jadi begitu gugup.


"Bagaimana caraku menjelaskannya ya? Kenapa aku jadi terlihat bodoh begini?" Gumam Rachel dalam hati sembari mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Apakah yang nona bawa adalah CV? Apa nona ingin melamar kerja?"


"Iya ini memang CV ku." Rachel pun langsung menunjukkan CV nya pada sang resepsionis.


Sang resepsionis pun dengan tenang langsung membuka map yang di bawa oleh Rachel.


"Ta, tapi sebenarnya aku sudah..."


"Oh jadi benarkah anda yang bernama Rachel?"


"Ah iya benar hehehe." Rachel pun cengengesan.


"Baiklah, tuan Benzie Lim telah berpesan untuk mengantarkan nona ke ruangannya. Mari ikut saya."


"Oh begitu rupanya, emm baiklah." Rachel pun tersenyum dan mengikuti langkah wanita itu lalu mulai memasuki sebuah lift.


"Ternyata paman Ben, sungguh-sunggub dengan ucapannya, dia bahkan telah mempersiapkan kedatanganku. Benar-benar calon mertua idaman hehehe." Gumam Rachel dalam hati sembari tersenyum seorang diri.


"Ini ruangannya nona, tunggu sebentar." Sang resepsionis pun masuk ke dalam ruangan Benzie terlebih dulu.


"Tuan nona Rachel sudah ada disini."


"Oh baiklah, segera suruh dia masuk."


"Baik tuan."


Resepsionis pun kembali keluar.


"Silahkan masuk nona, tuan Benzie telah menunggu."


"Baiklah, terima kasih telah mengantarkan ku." Rachel pun tersenyum lalu mulai masuk ke dalam ruangan kerja Benzie.


"Selamat pagi paman." Sapa Rachel sembari membungkukkan badannya.


"Oh Rachel, ayo duduk lah."


Rachel pun segera duduk di kursi yang ada di depan meja milik Benzie lalu ia pun mulai menyerahkan bungkusan yang sejak tadi di bawanya.

__ADS_1


"Ini untukmu paman, tadi kebetulan aku singgah sebentar ke toko dessert saat berangkat kesini."


"Apa ini Rachel? Astaga kenapa kamu repot-repot begini nak?"


"Itu pancake paman, bukankah paman menyukainya?"


"Ternyata kamu masih mengingatnya ya hehehe, terima kasih ya."


"Sama-sama paman."


Tak lama Benzie pun menelpon Alex dan memintanya untuk datang ke ruangannya.


"Lex, tolong ke ruanganku sebentar dan tolong bawakan kontrak kerja untuk sekretaris Arsen yang baru."


"Baik Ben."


Tak perlu menunggu lama, Alex pun masuk ke dalam ruangan Benzie dengan sudah membawa sebuah map.


"Wah wah wah, apakah ini yang akan menjadi calon sekretaris dari keponakanku?"


"Selamat pagi paman Alex." Sapa Rachel dengan wajahnya yang kembali cengengesan.


"Apa tadi? Paman? Kamu memanggilku paman? Apa-apaan ini?" Alex pun sontak mengernyitkan dahinya.


"Hahaha tidak kah kau tau siapa dia Lex? Sungguh benar-benar keterlaluan."


"Maksudmu Ben?" Alex nampaknya masih bingung.


"Tolong perkenalkan dirimu lagi padanya." Ucap Benzie pada Rachel.


Rachel pun mengangguk sembari tersenyum, lalu ia mulai bangkit dari duduknya dan berdiri menghadap Alex lalu mulai menjulurkan tangannya.


"Mungkin paman sudah lupa padaku, aku adalah Rachel Chou paman, putri dari Sahabat mu Shea Hauw dan Martin Chou." Ucap Rachel sembari melebarkan senyumannya.


Seketika mata Alex pun membulat, mulutnya sontak begitu menganga hingga map yang ia pegang terjatuh begitu saja.


"A, aa, apa? Ra, Rachel? Ja, jadi ka, kau ini... kau adalah Rachel?" Dengan terbata-bata Alex mulai memegang kedua lengan Rachel sembari memandanginya dari ujung kaki hingga rambut.


"Hehehe iya paman."


"Rachel Chou? Kau yakin jika kau ini Rachel Chou putri dari Shea dan Martin? Kau tidak sedang berbohong kan? Rachel si pipi bakpao itu?"


Hehehe iya paman, aku adalah Rachel gendut si pipi bakpao." Rachel pun semakin tersenyum geli.


"Astaga ya tuhan, ternyata kau adalah Rachel keponakanku." Alex pun langsung memeluk Rachel begitu saja.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2