
Rapat dengan seluruh staff Blue Light Group pun berjalan dengan semestinya. Saat itu suasana rapat cukup terasa tegang karena ada beberapa staff kantor utama yang kedapatan memarkup uang proyek serta memalsukan data laporan keuangan.
*Prakkkk*
Suara lembaran kertas-kertas yang di hempaskan kuat oleh Arsen ke atas mejanya. Membuat suasan rapat seketika menjadi hening sejenak, saat itu Benzie dan Alex pun berada disana, namun mereka memilih hanya diam sembari terus memandangi tiga orang staff yang telah berdiri menundukkan kepala di hadapan mereka. Bagaimana tidak, sekarang ini, Arsen Lim lah yang memiliki kedudukan tertinggi di Blue Light Group menggantikan posisi Benzie.
"Apa ini ha?!" Bentak Arsen dengan suaranya yang mendadak terdengar jadi begitu gahar.
"Ma, maafkan sa, saya tuan muda." Ucap salah satu staff yang terlihat begitu gemetaran sembari terus menundukkan kepalanya.
"Iya tuan muda, tolong maafkan saya juga, saya khilaf." Imbuh yang satunya lagi.
Arsen masih diam, dan terus menatap tajam ke arah ketiga lelaki yang telah berbuat curang terhadap perusahaannya.
"Tolong ampuni kami tuan muda, kami sungguh menyesalinya."
"Tolong singkirkan raut wajah menyedihkan itu di hadapanku!" Ketus Arsen meninggikan suaranya.
Hingga membuat beberapa orang yang ada di ruangan itu menjadi terkejut, termasuk juga Rachel. Ya, ini pertama kalinya bagi Rachel melihat secara langsung bagaimana garangnya Arsen ketika marah. Saat itu, wajahnya benar-benar terlihat begitu dingin, tak ada kelembutan, yang ada hanyalah kobaran api yang seolah begitu menyala dari sorot matanya.
"Akhirnya aku melihat sisi lain dari dirinya, sungguh sangat mengerikan ketika dia benar-benar marah." Celetuk Rachel dalam hati.
"Sekarang hanya ada dua pilihan untuk orang-orang seperti kalian. Menyerahkan diri pada polisi, atau keluar dari kantor ini secara sukarela tanpa pesangon sepeser pun mengingat uang yang kalian makan sudah sangat besar."
"Tolong tuan muda, tolong beri kami kesempatan tuan muda, kami tidak bisa memilih keduanya tuan muda, tolongg." Ketiga staff itu pun secara bersamaan mulai memelas.
Namun nampaknya hal itu tak membuat Arsen menjadi gentar.
"Tolong jangan buang waktuku! Pilih salah satunya sebelum aku berubah pikiran untuk melakukan hal yang lebih gila lagi!! Apa kalian mau wajah dan identitas kalian terpampang di berbagai baliho di kota ini agar tidak ada satu pun perusahaan yang mau merekrut kalian?!" Bentak Arsen.
"Tolong tuan muda, jangan lakukan hal itu, tolong kasihani lah kami." Ketiganya semakin memelas ketakutan.
Arsen masih diam dan tak bergeming. Membuat ketiga staff yang telah bekerja lama di kantor utama itu pun memilih beralih memohon belas kasih pada Benzie Lim.
"Tuan Benzie, tolong kami tuan, kami sudah lama mengabdi di perusahaan ini anda tentu tau itu tuan, tolong beri kami dispensasi tuan." Salah satu staff langsung berlutut di hadapan Benzie.
Tak lama kedua rekannya pun ikut menyusul bersimpuh di hadapan Benzie. Melihat itu membuat Arsen Lim hanya mendengus sembari tersenyum sinis. Namun beribu sayang, karena kala itu Benzie pun tak dapat membantu mereka.
"Tidak ada gunanya kalian memelas padaku, karena semua keputusan, ada di tangan Arsen Lim selaku CEO perusahaan ini." Tegas Benzie dengan wajah datarnya.
"Tolong panggil security kemari." Tegas Arsen pada salah satu staffnya.
Tak lama beberapa security berbadan tegap pun masuk ke ruang rapat.
"Tolong seret ketiga tikus ini untuk keluar dari sini. Aku tidak ingin melihat tampang-tampang memuakkan ini lagi." Tegas Arsen pada security.
"Baik tuan muda." Ketiga security mengangguk patuh dan langsung menggeret mereka.
__ADS_1
"Kalian bisa melihat sendiri apa yang akan terjadi pada kalian jika berani curang pada perusahaan. Apa ada lagi yang berminat seperti mereka?" Tanya Arsen dengan tenang.
Seluruh staff yang masih duduk di ruangan itu pun secara serentak langsung menggelengkan dengan cepat kepala mereka dengan ketakutan.
"Bagus. Rapat selesai!" Ucap Arsen yang kemudian langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkan ruang rapat.
Tak lama kemudian, di susul pula dengan seluruh staff pegawai yang juga beranjak menuju ke tempat kerja mereka masing-masing.
Saat itu Rachel masih duduk terdiam, berkali-kali ia harus mengatur kembali nafasnya yang sejak tadi terasa sangat tak beraturan saking tegangnya.
"Ada apa Rachel? Kenapa kamu terlihat begitu tegang?" Tanya Benzie pelan.
"Ti, tidak paman, aku, aku hanya..."
"Paman tau, kamu pasti takut melihat Arsen yang begitu marah tadi. Benar begitu?"
Rachel pun melirik dengan ragu-ragu wajah Benzie.
"Iya paman, jujur saja, aku jadi semakin cemas akan kebohongan yang telah ku buat."
"Tenang lah, kamu hanya perlu mencari waktu yang tepat untuk mengutarakannya. Paman yakin kamu pasti bisa mengatasinya." Jawab Benzie sembari bangkit dari duduknya.
Rachel hanya mengangguk lesu, Benzie pun tersenyum tipis, ia menepuk singkat pundak Rachel lalu kemudian beranjak pergi begitu saja meninggalkan Rachel seorang diri.
Tak terasa waktu kini sudah mengarah ke angka 12. Menandakan jika jam makan istirahat makan siang telah di mulai. Arsen mengajak Rachel makan siang di luar seperti biasanya dan bagi Rachel tak ada alasan untuknya menolak ajakan Arsen.
"Apa?! Mi, Minggu depan?" Tanya Rachel dengan matanya yang dibuat jadi begitu terbelalak.
"Iya, kenapa?" Tanya Arsen dengan tenang.
"Ap, apa.. tidak terlalu cepat?" Rachel nampaknya begitu syok hingga membuatnya jadi begitu gelagapan.
"Bukankah semakin cepat akan semakin bagus?"
"Iy, iya, ta, tapi Arsen, aku, ak, akuu..."
"Aku tau kamu begitu terkejut, tapi kenapa reaksimu jadi begitu berlebihan? Aku ingin menikahimu Bella, bukan ingin membunuhmu. Kenapa kamu jadi seperti orang ketakutan." Goda Arsen sembari meraih tangan Rachel yang ia letakkan di atas meja.
"Ah ti, tidak aku hanya..."
"Sudah, ayo atur waktu untuk mempertemukan keluarga kita." Potong Arsen.
"Ha?! Pertemuan ke, ke, keluarga?!" Rachel kembali terbelalak.
"Tentu saja, aku akan menikahimu, jadi sudah pasti aku pun harus meminta restu secara pribadi dengan kedua orang tuamu. Lagi pula, hingga saat ini, aku belum bertemu dengan kedua orang tuamu kan."
Alih-alih merasa senang, Rachel justru semakin merasa tak karuan.
__ADS_1
"Oh tidak, alasan apa yang harus ku katakan? Tidak mungkin aku mengenalkan orang tuaku sebelum aku membuat pengakuan." Gumam Rachel dalam hati.
"Ta, tapi, seluruh keluargaku berada di Paris dan sepertinya mereka masih sangat sibuk. Bagaimana jika lewat telepon saja, kurasa orang tuaku akan tetap merestuinya karena orang tuaku bukanlah orang tua yang kolot." Elak Rachel asal.
"Hei, mana bisa begitu. Aku tetap harus menemui calon mertuaku."
Belum sempat Rachel menjawab, tiba-tiba saja ponsel Rachel berdering, ia pun segera meraih ponselnya dari dalam tas. Dan nampaknya sangat kebetulan, Shea tiba-tiba saja menelpon Rachel hingga membuat Rachel semakin gelagapan.
"Siapa? Kenapa tidak di angkat?" Tanya Arsen sembari mengernyitkan dahinya.
"Ini, emm ini dari..."
Tapi Arsen yang seolah tak sabar, langsung merebut ponsel Rachel begitu saja.
"Mommy? Ini mamamu? Bukankah ini suatu kebetulan? Emm biarkan aku yang mengangkatnya ya." Arsen dengan sumringah bersiap ingin mengangkat telepon dari Shea.
Namun Rachel dengan segera merebut ponselnya kembali dari tangan Arsen.
"Tidak! Aku, aku harus bicara terlebih dulu pada ibuku." Tegas Rachel yang langsung bangkit dari duduknya.
"Lalu kamu mau kemana?"
"Ini urusan sesama wanita." Jawab Rachel singkat sembari langsung bergegas keluar dari resto.
Ia memilih mengangkat teleponnya di loby restaurant agar Arsen tidak mendengarnya.
"Ya mom."
"Rachel, apa-apaan kamu ini ha? Kenapa kamu tidak pernah mengatakan jika niatmu kembali kesana karena ingin mendekati Arsen Lim? Dan sekarang, mommy mendengar kabar jika kamu dan Arsen akan segera menikah, dan lebih parahnya, mommy mendengar kabar ini dari orang lain. Apa maksudnya Rachel Chou?ayo jawab mommy!!" Shea terus mengomel seolah tanpa jeda.
"Bagaimana aku mau menjawab jika mommy terus mengomel."
"Ya sudah, sekarang jelaskan pada mommy!"
"Mommy, ceritanya sangat panjang, nanti saja aku jelaskan saat aku sedang di rumah."
"Tidak bisa, ceritakan dulu secara singkat, tepat, dan padat!"
"Mommy tolong jangan sekarang! Karena saat ini aku sedang pusing memikirkan bagaimana cara membuat pengakuan pada Arsen jika aku ini adalah Rachel Chou sahabat masa kecilnya dan bukan Bella. Aku begitu takut untuk mengakuinya mommy, aku takut Arsen kecewa dan marah, aku tidak mau batal menikah dengannya hanya karena kebohonganku ini." Jelas Rachel.
Namun tanpa Rachel sadari, Antony lewat di belakangnya dan ingin memasuki resto. Dan tanpa sengaja pula Antony ternyata mendengar ucapan Rachel hingga membuat langkahnya seketika terhenti.
"Apa itu benar?!" Tanya Antony yang juga terlihat syok.
Mendengar pertanyaan dari suara yang tak asing membuat Rachel seketika membalikkan badannya, matanya pun langsung membulat sempurna saat mendapati Antony yang telah berdiri tegak di belakangnya.
"Antony." Ucap Rachel pelan yang masih terlihat begitu terperangah.
__ADS_1
...Bersambung......