Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 106


__ADS_3

"Sejak kapan kau resmi berpacaran dengannya? Lalu, bagaimana dengan Laura?" Tanya Benzie yang kembali menatap wajah putranya.


Mendengar nama Laura, membuat Arsen seketika mulai menundukkan pandangannya. Bayangan saat Laura sedang melakukan hubungan intim dengan pria lain yang tak lain ialah sahabatnya sendiri seakan langsung memenuhi isi kepalanya saat itu. Hingga tanpa ia sadari, kedua tangannya kembali mengepal kuat, Benzie yang melirik ke arah tangannya itu pun akhirnya cukup paham dengan apa yang terjadi.


"Aku mohon jangan menyebut nama wanita itu lagi di hadapanku pa, apalagi memintaku untuk menjelaskan apapun yang berkaitan dengannya! Intinya, aku dan dia sudah berakhir!" Tegas Arsen lagi.


"Lalu apa kau sungguh mencintai Ra..." Ucapan Benzie seketika terhenti saat ia menyadari jika ia hampir menyebut nama Rachel.


"Ra...?!" Arsen pun mengernyitkan dahinya.


"Ehmm ma, maksud papa Bella. Ya Bella, apa kau sungguh mencintai Bella?" Benzie pun berusaha tetap tenang untuk menutupi sikapnya yang mulai gelagapan.


"Aku pun tidak tau pasti bagaimana perasaanku saat ini padanya, namun aku merasa begitu nyaman saat di dekatnya." Jawab Arsen yang tak menaruh curiga sama sekali pada papanya yang hampir salah menyebut nama.


"Nahhh sudah pasti itu namanya cinta, tahap awal dari perasaan cinta memanglah sebuah perasaan nyaman. Astaga putraku, bagaimana kau bisa tidak menyadari hal itu hahaha." Jelas Benzie yang langsung sumringah.


Wajah Benzie yang awalnya terlihat begitu ketat dan datar, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat sumringah bahkan begitu berbinar.


"Pa, kenapa papa mendadak terlihat begitu girang? Bukankah tadi sepertinya papa begitu marah?" Arsen yang merasa terheran-heran pun kembali mengerutkan dahinya.


"Ah hahaha itu tadi hanya untuk melihat kejantanan mu saja untuk mengakui hal itu." Jawab Benzie dengan tenang yang terus tersenyum.


"Jadi apa kau sungguh yakin dengan Bella? Maksud papa, apa kau yakin dia itu bukan wanita matrealistis seperti mantan pacarmu sebelumnya?"


"Aku sangat yakin Bella tidak seperti itu. Sekarang aku mulai menyadari, Bella bahkan jauh lebih baik dari segala hal jika di bandingkan dengan Laura."


"Hahaha good job son. Akhirnya, akhirnya misi kami untuk membuatmu sadar telah berhasil." Benzie pun terlihat semakin girang dan terus menepuk-nepuk pundak Arsen.


"Misi? Kami? Maksud papa?" Tanya Arsen yang mulai membulatkan matanya.


Seketika Benzie kembali terdiam, lagi dan lagi ia berhasil membuat Arsen menaruh rasa curiga padanya.


"Oh tidak, bagaimana aku bisa sebodoh ini?" Gumam Benzie dalam hati yang seolah sedang menyumpahi dirinya sendiri.


"Pa, tolong jelaskan, apa maksud papa dengan misi kami?"


"Oh begini nak, dari awal papa sudah menaruh curiga pada Laura, papa merasa Laura memang bukanlah wanita yang baik. Jadi papa menceritakan hal itu pada uncle mu dan mulai mencari cara bagaimana agar kamu bisa menyadari hal itu." Jelas Benzie yang kembali berkilah.


"Pa, jangan bilang jika kehadiran Bella yang dengan mudah masuk ke Blue Light Group adalah bagian dari rencana papa yang memang sengaja mengutusnya untuk membuatku jatuh cinta?!" Ucap Arsen dengan wajahnya yang mengetat.


Deggg...


Mendapat tatapan Arsen yang seolah sedang mengintimidasinya membuat Benzie merasa sedikit gugup dan gelagapan. Namun bukan Benzie namanya jika ia tak bisa mengatasi rasa curiga sang anak. Apalagi Benzie sudah bertahun-tahun di dampingi oleh Alex yang memang memiliki skill ngeles tingkat dewa, hingga sedikit banyaknya, membuat Benzie kecipratan skill itu.


"Ah hahaha astaga Arsen Lim putraku, pemikiran macam apa itu hahaha. Apa kau melihat waktu papamu ini terlalu senggang hingga dengan khusus menghadirkan wanita untuk membuatmu jatuh cinta? Ha?"

__ADS_1


Arsen pun masih terdiam dan terus menatap wajah sang ayah.


"Tentu saja tidak nak. Papa dan uncle hanya masih berdiskusi mencari cara, namun nyatanya tuhan sudah bergerak mendahului papa dan berhasil membuatmu sadar sekarang, itu maksud papa." Tambah Benzie lagi.


"Benarkah begitu?"


"Iya tentu saja, kau bisa menanyakan pada uncle mu jika kau tidak percaya."


"Tidak perlu, aku bahkan akan lebih percaya pada papa dari pada uncle." Ucap Arsen datar.


"Nah begitu baru anak papa haha." Benzie pun kembali tersenyum dan menepuk pundak anaknya lagi.


"Lalu, bagaimana selanjutnya?" Tanya Benzie lagi.


"Selanjutnya?" Lagi-lagi Arsen pun di buat tak mengerti.


"Ya, hubunganmu dan Bella, akan dibawa kemana selanjutnya?"


"Astaga pa, aku dan dia bahkan baru beberapa hari berpacaran." Jawab Arsen dengan matanya yang kembali membesar.


"Ya papa tau, tapi saran papa, jika sudah yakin kau bersama wanita yang tepat, tidak perlu di tunda lagi, karena kita tidak tau ada berapa banyak lelaki yang ingin menjadi pendampingnya." Jelas Benzie.


"Kau tau, papa dan mamamu bahkan hanya butuh waktu beberapa hari saja berkenalan sebelum akhirnya kami memilih langsung menikah." Jelas Benzie lagi.


"Emm sudah lah, tidak perlu berfikir terlalu keras sekarang. Kau bisa memikirkannya pelan-pelan dari sekarang."


Arsen pun hanya bisa tersenyum singkat.


"Ya sudah, kau boleh kembali ke ruanganmu."


Arsen pun mengangguk singkat dan langsung beranjak.


"Oh ya, panggil Bella kemari, papa juga perlu bicara dengannya." Ucap Benzie.


Arsen pun langsung menghentikan langkahnya dan kembali menatap tajam papanya.


"Tapi untuk apa pa? Apa papa akan memarahinya? atau dibelakangku papa akan memberinya uang dan menyuruhnya untuk menjauhiku?


"Astaga tuan muda, tenangkan dirimu. Aku mana berani memarahi sekretaris pribadi CEO perusahaan ini hahaha." Benzie pun kembali tertawa geli.


Mendengar itu Arsen pun hanya mendengus dan langsung beranjak begitu saja. Ia pun berjalan tenang menuju ke ruangannya, sembari terus memikirkan ucapan ayahnya tadi.


"Hei, bagaimana? Apa papamu benar-benar marah?" Tanya Rachel yang langsung menghampiri Arsen begitu melihat Arsen memasuki ruangannya.


Arsen hanya diam dan menatap Rachel dengan begitu lekat.

__ADS_1


"Papaku memanggilmu ke ruangannya." Ucapnya pelan.


"Benarkah? Astaga aku harus bagaimana? Apa dia sungguh sangat marah melihat hal tadi?" Tanya Rachel lagi yang semakin merasa cemas dan panik.


"Tidak perlu cemas, aku yakin papaku tidak akan memarahimu apalagi sampai memecatmu, jika itu terjadi, aku yang akan kembali berhadapan dengan papaku. Sekarang pergi lah, temui dulu dia." Jawab Arsen yang berusaha menenangkan Rachel.


Rachel pun mengangguk dan mulai ingin beranjak pergi.


"Tunggu!" Arsen kembali menarik tangan Rachel.


Membuat Rachel kembali menatapnya.


"Tutup matamu." Ucap Arsen.


Tanpa banyak bertanya, Rachel pun perlahan menutup matanya.


"Tarik nafas perlahan, lalu buang." Ucap Arsen lagi.


Dan Rachel pun patuh dan menuruti ucapan Arsen.


"Bagaimana, sudah lebih tenang?"


Rachel pun mengangguk, membuat Arsen kembali tersenyum tipis.


"Sekarang pergi lah."


Akhirnya Rachel pun pergi menuju ruangan Benzie Lim.


Tok tok tok


"Masuk" Ucap Benzie.


Rachel pun masuk dalam keadaan menunduk, dia mengira jika saat itu Benzie benar-benar akan memarahinya.


"Duduklah." Ucap Benzie lagi.


Rachel yang terus menunduk pun patuh dan mulai duduk di hadapan Benzie.


"Maafkan aku paman, aku tidak bermaksud melakukan hal semacam itu di kantor ini, ta, tapi..." Rachel pun mulai ingin menjelaskan dengan suaranya yang begitu pelan.


"Astaga Rachel, bicara apa kamu ha? Paman memanggilmu kesini justru ingin mengucapkan selamat."


Mendengar hal itu membuat kepala Rachel seketika kembali tertegak dan menatap Benzie dengan matanya yang membulat.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2