
"Sekarang katakan, apa kalian sudah pernah melakukan hal menjijikan ini sebelumnya?" Tanya Arsen lagi sembari kembali menatap tajam ke arah Erick dan Laura secara bergantian.
"Aku, emm aku tidak, aku tidak..." Laura pun begitu tergagu-gagu karena lidahnya terasa begitu kelu hingga otaknya pun tak mampu lagi berfikir untuk mencari alasan yang dapat menyelematkan dia dari keadaan itu.
"Jawab aku brengsek!" Bentak Arsen lagi sembari kembali mencengkram rahang Erick.
Saat itu seketika Erick pun tertawa sembari mendengus lalu mulai meludahkan darah yang ada di mulutnya ke arah lantai.
"Bukan hanya sekali dua kali, kami bahkan sudah sering melakukannya tanpa ada seorang pun yang tau terutama kau Arsen Lim." Jawab Erick sembari tersenyum.
Mendengar pengakuan Erick sontak membuat mata Laura semakin melotot, ia begitu kesal pada Erick yang dengan mudahnya mengaku kepada Arsen.
"Bajingan kau!!!" Arsen semakin tersulut emosi dan kembali meninju kuat pipi Erick.
"Berhenti memukul ku lelaki payah!" Jawab Erick yang kemudian ikut memukul sebelah pipi Arsen.
"Erick stop!! Apa-apaan kau ha? Jangan pernah sekalipun kau memukul pacarku!!" Bentak Laura yang langsung meraih pipi Arsen yang mulai memar.
"Sudah ku bilang jangan menyentuhku!!" Teriak Arsen pun semakin menggema di kamar tamu itu.
Hingga lagi-lagi membuat Laura terkejut dan ketakutan.
"Sayang, kenapa kamu membentakku?" Laura pun semakin menangis.
"Dan berhenti memanggilku sayang! Kau dengar itu?!" Tegas Arsen.
"Hahaha, tidak kah kau sadar betapa payahnya dirimu Arsen Lim? Memiliki pacar yang nyaris sempurna seperti ini, namun karena kebodohanmu, kau memilih mengabaikan kesempatan untuk menidurinya, hingga akhirnya pacarmu yang kesepian ini memilih ditiduri dengan lelaki lain hahaha." Celetuk Erick yang terus tertawa sembari terus mengusap ujung bibirnya yang di penuhi dengan darah.
Arsen pun hanya mendengus kasar, lalu ia memilih untuk keluar dari kamar itu dan segera menuju lantai dua tepatnya ke kamar Laura untuk mencari ponselnya.
Sementara Laura dan Erick yang masih berada di kamar itu seketika menjadi berdebat saling menyalahkan satu sama lain atas ketauannya hubungan gelap mereka.
__ADS_1
Tak lama Arsen pun kembali, dengan sudah memegang ponselnya.
"Bukankah kau pernah mengatakan betapa kau mencintai Mila pacarmu? Dan tak sanggup jika harus kehilangan dia?" Tanya Arsen dengan tenang sembari menatap Erick.
"Ka, kau mau apa?" Tanya Erick yang mulai gelagapan.
Tanpa menjawab, Arsen yang memiliki kontak Mila pun langsung memilih untuk melakukan video call dengan Mila.
"Ya Arsen, ada apa?" Sambut Mila begitu menerima panggilan video darinya.
Menyadari Arsen yang ternyata menghubungi Mila sontak membuat Erick semakin tak karuan, karena memang sesungguhnya ia begitu mencintai kekasihnya itu.
"Apakah kau sedang di rumah saat ini?"
"Emm ya, aku sedang tidak enak badan." Jawab Mila dengan tenang.
"Oh benarkah? Apakah Erick tau? Apa dia tidak menjengukmu?"
"Oh haha benarkah? Namun sayangnya hal itu tidak lah benar dan aku turut prihatin padamu yang sudah tertipu mentah-mentah oleh pacar brengsekmu itu." Jelas Arsen.
"Arsen, ada apa? Kenapa kau bicara seperti itu? Apa kau dan Erick sedang ada masalah?" Tanya Mila yang mulai mengernyitkan dahinya.
"Lihat lah sekarang aku sedang berada dimana, aku sedang berada di sebuah kamar, dan tepat lima menit yang lalu, aku baru saja melihat sebuah tontonan yang sangat sangat seru."
"Apa maksudmu Arsen?" Tanya Mila lagi.
"Apa kamu mengenal dua orang ini?" Tanya Arsen yang mulai mengarahkan kameranya ke arah Laura dan Erick secara bergantian.
Kala itu Laura dan Erick masih nampak begitu berantakan.
"Ya tentu saja kau sangat mengenal dua pemeran adegan panas ini."
__ADS_1
"Adegan panas?!"
"Lima menit yang lalu, aku berhasil memergoki dua orang brengsek ini sedang asik bermain kuda-kudaan tanpa mengenakan busana sama sekali."
"Apa?!!!" Mila pun nampak sangat terkejut.
"Hahaha lihat lah bagaimana penampilan mereka saat ini, sangat berantakan. Lihat kekasihmu, bahkan dia tidak sempat memakai pakaiannya lebih dulu." Ucap Arsen sembari tertawa sinis.
Melihat hal itu, membuat Erick semakin marah, ia pun langsung meraih ponsel Arsen dengan kasar dan membantingnya ke lantai begitu saja.
Namun melihat ponsel mahalnya yang telah berhambur ke lantai, tak serta merta membuat Arsen kembali tersulut emosi. Ia memilih tetap bersikap tenang sembari memancarkan senyuman sinisnya.
"Kehilangan satu ponsel kurasa tidak masalah, karena dengan begitu aku jadi tau sebuah kebenaran yang sangat menjijikan." Ucap Arsen.
"Baiklah, sebaiknya aku segera pergi. Kalian bisa melanjutkan adegan panas itu lagi, karena ku yakin rasanya akan sangat tidak enak jika tidak sampai tuntas bukan?"
Arsen pun akhirnya mulai melangkah pergi, namun Laura dengan cepat berlari mengejar langkah Arsen dan menahan tangannya.
"Tidak sayang, aku mohon jangan pergi dulu, biarkan aku menjelaskan semuanya padamu sayang. Aku mohon, aku sungguh mencintaimu demi tuhan aku mencintaimu, aku tidak mencintai Erick sama sekali." Jelas Laura sembari terus menahan tangan Arsen seolah tak membiarkannya untuk pergi.
"Dan kau, mulai saat ini, kita tidak ada hubungan apapun lagi! Jadi, tidak perlu memanggilku dengan kata sayang lagi, karena sekarang aku sangat jijik mendengarnya." Tegas Arsen sembari menatap tajam ke arah Laura.
Kemudian Arsen pun langsung menepis kasar tangan Laura, lalu segera pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun meski Laura terus memanggilnya hingga berteriak histeris.
Jauh di dalan lubuk hati Arsen, ia begitu merasa hatinya hancur berkeping-keping. Kala itu ia merasa bagaikan tertikam dua kali di tempat yang sama. Bagaimana tidak, ia baru saja memergoki pacar dan sahabatnya sendiri sedang bermain api di belakangnya. Laura yang ia cintai dan Erick yang begitu ia percayai kini seolah bersatu untuk menghancurkan perasaannya.
Arsen pun terus melangkah menuju mobilnya, ia langsung menancap gas, lalu melajukan mobilnya dan langsung pergi meninggalkan pekarangan rumah Laura. Perasaan kalutnya pun kini seolah menguasai dirinya hingga ia tak berminat untuk pulang ke rumahnya.
Arsen yang sedang terluka hatinya pun akhirnya memilih untuk berkunjung ke club malam milik keluarganya. Ia duduk sendiri di meja bar dan menyuruh pelayan club untuk mengeluarkan beberapa botol minuman terbaik dari clubnya. Kejadian itu sungguh membuat Arsen syok hingga berhasil membuat Arsen yang tak suka minum, kini menjadi mabuk karena banyak minum.
Hingga tanpa terasa jarum jam pun kini sudah menunjuk ke arah 01.15 dini hari, Yuna yang menyadari anak sulungnya belum juga pulang pun mulai merasa cemas karena saat itu ponsel Arsen tidak bisa di hubungi.
__ADS_1
...Bersambung......