
Arsen pun mulai menatap tajam ke arah Rachel, lalu kemudian ia meraih telepon yang ada di atas meja untuk langsung menghubungi Rachel yang ada di ruangannya.
Suara telepon yang berbunyi pun sontak membuat Rachel harus menghentikan sejenak aktivitasnya.
"Ya halo." Jawab Rachel dengan tenang.
"Ke ruanganku sekarang!" Tegas Arsen yang kemudian langsung menutup teleponnya.
Rachel pun seketika melirik ke arah Arsen, ia merasa sangat aneh saat Arsen memilih memanggilnya melalui telepon.
"Tumben sekali menelepon, biasanya langsung mengetuk dinding kaca ini." Gumam Rachel dalam hati sembari mulai bangkit dari duduknya.
Rachel dengan tenang pun langsung melangkah menuju ruangan Arsen, ia pun berdiri tegak di hadapan Arsen dan bertanya.
"Ada apa tuan muda?"
Tanpa mengeluarkan suara, Arsen langsung saja meletakkan ponselnya yang saat itu sudah terpampang nyata foto Rachel dan Antony yang dikirimkan Alex padanya di atas meja dan tepat di hadapan Rachel.
Rachel pun meraih ponsel itu dengan tatapannya yang masih terlihat bingung. Namun seketika mata Rachel kembali membulat sempurna saat mendapati foto dirinya dan Antony yang tertangkap kamera saat di perpustakaan kemarin.
"In.. ini..." Rachel yang kaget pun sontak menjadi tergagap-gagap.
"Ba, bagaimana ini bisa terjadi? Dan bagaimana foto ini bisa ada di ponselmu?" Tanya Rachel lagi dengan wajahnya yang mulai panik namun terlihat masih tampak bingung.
"Foto itu sudah tersebar luas di berita online. Jadi selamat ya, selamat atas hubunganmu dengan Antony. Tak ku sangka kalian bisa secepat ini menjalin hubungan, padahal setauku kalian baru saja bertemu di meeting perdana beberapa hari yang lalu kan." Ucap Arsen sembari tersenyum sinis.
"Ta, tapi aku dan Antony..." Rachel pun ingin mencoba untuk menjelaskan kesalah pahaman itu pada Arsen namun nampaknya saat itu Arsen sudah terlanjur merasa kesal hingga tak berminat untuk mendengarkan penjelasan dari Rachel.
"Sudah lah, tidak perlu di bahas! Aku bahkan tidak terlalu peduli akan hal itu." Ucap Arsen sembari mendengus pelan dan kembali tersenyum sinis.
Rachel pun kembali terdiam, dia masih terlihat kebingungan dengan berita online yang kini tersebar tentang dirinya.
__ADS_1
"Aku memanggilmu kesini untuk menyuruhmu menyelesaikan ini. Tolong periksa semua nominalnya, dan jangan sampai ada selisih satu angka pun!" Tegas Arsen sembari menghempaskan sebuah map ke hadapan Rachel.
Saat itu Arsen benar-benar sulit mengendalikan rasa kesalnya, dia bahkan tak mengerti kenapa perasaan kesal semacam itu bisa muncul dalam dirinya begitu ia melihat foto itu.
"Ta, tapi laporan ini, bukankah aku sudah memeriksanya kemarin?"
"Sudah berani membantah?!" Arsen pun kembali menatap sinis ke arah Rachel.
Rachel pun seketika kembali terdiam, akhirnya ia pun menghela nafasnya dan langsung meraih sebuah map berwarna hitam yang di hempaskan Arsen ke atas meja.
"Baiklah tuan muda." Ucapnya yang kemudian langsung berlalu pergi.
Rachel meletakkan map itu ke atas meja sembari terduduk lesu di kursinya. Kini pikirannya mulai berkelana, perasaan bingung dan cemas pun kembali menyapanya kala itu.
"Aku benar-benar tidak menyangka, kenapa foto itu bisa tersebar luas di media online? Lalu siapa yang memotretnya?" Gumam Rachel dalam hati sembari mulai menggigiti ibu jarinya.
"Astaga bagaimana jika Antony melihatnya dan marah? Bagaimana jika ia tidak terima atas pemberitaan ini dan membatalkan kontrak kerja samanya?" Rachel yang pikirannya semakin kalut pun sama sekali tidak bisa konsen dalam hal pekerjaannya hari itu.
Begitu pula dengan Arsen yang kala itu juga benar-benar sudah kehilangan moodnya untuk bekerja. Ia pun memilih untuk langsung keluar dari ruangannya tanpa memberitahu pada Rachel kemana ia akan pergi. Rachel yang melihat hal itu pun hanya terdiam sembari memandangi kepergian Arsen.
"Ah astaga, kenapa jadi begini? Aku tidak ada hubungan apapun dengan Antony. Oh ya tuhan, aku tidak mau Arsen salah paham padaku dan mengira aku benar-benar menjalin hubungan dengan Antony. Ini tentu akan berdampak buruk pada misi-misiku." Keluh Rachel seorang diri sembari mulai menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangannya yang ia lipat di atas meja kerjanya.
Saat itu Arsen terus berjalan cepat menuju ke mobilnya, entah kemana pastinya ia akan pergi pun ia tak tau. Yang ia inginkan saat itu hanyalah keluar dari kantor untuk merefresh otaknya yang mulai terasa penat. Namun kebetulan, begitu Arsen masuk ke mobilnya, di saat itu pula ponselnya kembali berdering.
Nama Laura pun terpampang jelas di layar datarnya, Arsen terdiam sejenak sebelum akhirnya ia pun mengangkat telepon itu.
"Iya." Jawab Arsen pelan.
"Sayang kamu dimana?"
"Aku di kantor, baru saja ingin keluar."
__ADS_1
"Keluar? Kamu mau kemana sayang?"
"Entahlah, aku merasa penat di kantor."
"Ah kalau begitu kamu kesini saja, aku juga merasa bosan sayang. Aku juga merindukanmu, jadi kamu mau kan datang?"
"Baiklah, aku akan datang kesana." Jawab Arsen sembari tersenyum tipis.
"Yeay, terima kasih sayang, I love You." Laura pun terdengar begitu kegirangan.
Setelah panggilan berakhir, Arsen pun dengan segera melajukan mobilnya untuk menuju ke rumah Laura kekasihnya. Saat itu Arsen berfikir jika bertemu dengan Laura sang kekasih adalah pilihan yang tepat untuk membunuh rasa penatnya.
Tin tin..
Akhirnya kini mobil Arsen pun berhenti tepat di depan pekarangan rumah Laura, saat itu Laura masih berada di kamarnya, ia pun langsung berlari menuju balkon rumahnya untuk memastikan jika yang datang memang lah Arsen.
Seketika wajah Laura pun berbinar saat melihat mobil sang kekasih sudah berhenti tepat di depan rumahnya.
"Akhirnya dia datang." Celetuknya sembari kembali berlari masuk ke dalam kamarnya.
Laura dengan semangat menyemprotkan parfum hampir ke seluruh tubuhnya, lalu tak lupa pula ia memoles kembali bibirnya agar tak terlihat pucat, di tambah pula dengan pakaian yang ia kenakan saat itu sungguh begitu minim dan seksi. Nampaknya Laura memang sudah sangat mempersiapkan dirinya untuk bertemu dengan sang kekasih hati.
Dengan cepat Laura pun segera menuruni anak tangga, lalu langsung menuju pintu utama dan membukakan pintu untuk Arsen.
"Hai sayang." Sapa Laura yang langsung memeluk hangat tubuh Arsen.
Arsen pun hanya tersenyum tipis dan mengusap singkat punggung Laura.
"I miss you." Ucap Laura dengan nada manja sembari melepaskan pelukannya dan tersenyum menatap Arsen.
"Sekarang aku sudah disini, jadi tidak ada alasan lagi untukmu merindukanku." Jawab Arsen dengan tenang.
__ADS_1
"Hehehe iya sayang, aku senang sekali akhirnya kamu bisa meluangkan waktu meski di jam kerja seperti sekarang ini." Laura dengan manja pun kembali mengalungkan kedua tangannya ke lengan Arsen sembari mulai menyandarkan kepalanya ke pundak Arsen.
...Bersambung......