
Antony yang melihat hal itu pun seolah tak ingin tinggal diam, dengan cepat ia juga bergegas membuka sabuk pengamannya, lalu langsung mengejar Rachel dan menarik tangannya lagi.
"Kamu mau kemana?"
"Antony lepaskan aku!" Bentak Rachel sembari menghempas kasar tangan Antony hingga membuat tautan tangannya terlepas.
"Sebaiknya kamu pulang naik taksi saja, karena aku tidak bisa lagi mengantarmu!" Tambah Rachel dengan tatapan datar, namun saat itu kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Rachel pun melanjutkan langkahnya dengan cepat, namun lagi-lagi Antony seolah tidak ingin membiarkannya pergi dengan mudah. Antony kembali menyusul langkah Rachel dan langsung saja mencengkram kedua lengannya.
"Kenapa sangat sulit bagimu untuk menerimaku? Kenapa??" Nada suara Antony kembali meninggi dengan wajahnya yang nampak memerah.
Terlihat jelas dari sorot matanya, jika saat itu ia terlihat sangat marah dan juga merasa kecewa, membuatnya semakin meledak-ledak saat mengungkapkan kekecewaannya.
Rachel, dengan kedua matanya yang masih berkaca-kaca, mulai kembali menatapnya.
"Mungkin kamu melupakan sesuatu, eemm baiklah, tidak apa, biarkan aku mengingatkanmu sekali lagi. Aku, sudah menikah! Dan aku, sangat mencintai suamiku, jadi sudah jelas jika aku tidak akan pernah membalas perasaanmu. Sebaiknya kamu mencari wanita yang masih lajang, dan jangan ganggu aku lagi." Rachel pun akhirnya mulai meneteskan air matanya dan ingin kembali beranjak.
Tapi Antony mencengkram lengannya dengan begitu kuat hingga membuat tubuh mungil itu sama sekali tak kuasa untuk meloloskan diri.
"Apa kurangnya aku dibanding dia ha??!! Apa?!" Pekik Antony sembari mulai menatap tajam ke arah Rachel.
Hal itu pun kian membuat Rachel mulai ketakutan hingga terus berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Antony.
"Antony tolong lepaskan aku, kamu tidak bisa memaksakan perasaan seseorang yang sudah jelas bukan untukmu."
"Kamu yakin tidak memiliki perasaan padaku? Meski sedikit, apa tidak ada?" Tanya Antony lagi yang kini mulai terlihat melunak dan sorot matanya kembali terlihat begitu lirih,
"Tidak, seluruh hatiku sudah milik suamiku." Tegas Rachel.
Mendengar hal itu membuat Antony kembali memanas, dadanya seakan begitu sesak dan sangat tidak terima mendengar jawaban itu.
"Lalu kenapa, kenapa kau datang disaat hari ulang tahunku?? Kenapa datang menghiburku? Kenapa mau ikut pergi bersamaku? Kenapa kamu bisa melakukan semua itu jika tidak ada perasaan sedikit pun padaku??"
"Aku melakukan semua itu karena aku berfikir kau sungguh-sungguh ingin menjadi temanku. Tapi nyatanya hal itu jadi membuatmu salah paham hingga menjadi salah langkah. Jadi mulai malam ini, ku tarik kembali ucapanku yang mengatakan jika aku mau menjadi temanmu. Tidak, aku tidak mau menjadi temanmu!!"
Kata-kata Rachel semakin terasa menusuk di dada Antony, sejenak hingga membuatnya jadi tertegun memandangi wajah Rachel.
"Jadi tolong, tolong lepaskan aku." Ucap Rachel yang kembali berusaha melepaskan diri.
Namun bukan malah melepaskan Rachel yang sudah jelas-jelas menolaknya, Antony justru semakin berani dan langsung mencium bibir Rachel begitu saja. Hal itu membuat Rachel semakin syok dan ingin mendorong tubuh tegap Antony. Tapi hal itu nyatanya tidak mudah, karena Antony terus saja mencoba ingin mencium bibirnya lagi secara paksa. Antony bisa dengan mudah melakukannya tanpa ada rasa ragu, karena kebetulan jalanan yang mereka lewati juga nampak lengang, hanya satu-satu mobil atau motor yang melintasi jalanan itu.
__ADS_1
"Setidaknya kita bisa menjalin hubungan gelap, setidaknya biarkan aku memilikimu juga." Bisik Antony namun dengan suaranya yang terdengar begitu berat sembari mulai menciumi rambut Rachel.
"Aaaaagh" Teriak Rachel semakin pecah.
Rachel terus menjerit, juga terus memberontak dengan cara menggerak-gerakkan tubuhnya berharap bisa terlepas dari jeratan tubuh Antony yang jauh lebih tegap darinya.
Namun Antony seolah tak peduli dan masih saja mengikuti hawa nafsunya untuk memiliki Rachel yang begitu dicintainya setengah mati.
"Tolonggg!!" Pekik Rachel lagi.
Rachel kembali berteriak meminta tolong, berharap ada seseorang melintasi jalanan itu dan bisa menolongnya.
Melihat ada cahaya lampu mobil dari kejauhan yang semakin mendekat ke arah mereka, membuat Rachel semakin kencang berteriak meminta tolong.
"Tolongg, tolong aku!!" Pekik Rachel lagi.
Dan tak di sangka dan tak di duga, mobil itu nyatanya adalah mobil yang dikendarai sendiri oleh Arsen yang kebetulan saat itu baru pulang meeting.
Sudah di katakan sebelumnya, Apartement Antony yang menjadi tujuan mereka, berjarak hanya beberapa meter saja dari gedung apartement kediaman Arsen dan Rachel. Jadi sudah pasti Arsen akan melewati jalur yang sama ketika ingin pulang ke apartementnya.
Saat itu pula, Arsen tak sengaja melirik ke arah tepi jalan karena ada sebuah mobil terhenti, namun matanya seketika mulai membulat saat melihat Antony yang saat itu kedapatan sedang berusaha ingin mencium seorang wanita.
"Antony?!" Ketusnya sembari mengerutkan dahinya.
Saat itu Arsen belum menyadari jika wanita itu adalah Rachel, karena kala itu Rachel terus menundukkan kepalanya demi menghindari Antony yang terus berusaha ingin menciumi bibirnya, membuat wajahnya tertutupi oleh rambutnya yang tergerai.
Arsen pun seketika langsung keluar dari mobilnya dan berniat ingin membantu wanita itu.
"Tolongggg!!" Teriak Rachel lagi.
Mendengar suara yang sangat tak asing baginya, membuat mata Arsen semakin membulat sempurna hingga akhirnya ia pun menyadari jika wanita yang sejak tadi di dekap secara paksa oleh Antony adalah Rachel, istrinya sendiri.
"Rachel!!" Teriak Arsen yang seketika langsung berlari cepat menghampiri mereka.
Dengan begitu keras, Arsen pun langsung meninju pipi Antony, hingga seketika membuat cengkraman kuat Antony jadi terlepas begitu saja dari Rachel. Rachel pun langsung bergegas untuk menjauh dari Antony yang jadi begitu mengerikan baginya malam itu.
Dengan tubuhnya yang begitu gemetaran, ia pun menoleh ke arah lelaki yang saat itu terlihat begitu menggebu-gebu saat menghajar Antony. Matanya pun dibuat mendelik seolah hampir keluar dari sarangnya, saat menyadari jika lelaki yang menolongnya itu adalah suaminya sendiri, Arsen Lim.
"Beraninya kau menyentuh istriku!!" Pekik Arsen sembari memukul keras wajah Antony lagi.
Antony, mulai mengusap ujung bibirnya yang berdarah, ia terkekeh lirih sembari memandangi tangannya yang terdapat bercak darah itu. Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia pun juga tak mau kalah dan akhirnya membalas pukulan Arsen hingga membuat ujung bibirnya juga ikut berdarah.
__ADS_1
Menyadari bibirnya berdarah, membuat Arsen semakin menggeram.
"Dasar brengsek!!!" Pekik Arsen lagi dan kembali meninju bagian perut Antony.
Kini antara mereka berdua pun terlibat baku hantam yang cukup sengit, membuat Rachel semakin panik dan tak bisa tinggal diam. Ia pun bergegas berlari ke arah mereka berniat ingin melerai.
"Sudah cukup, aku mohon kalian jangan bertengkar." Pekik Rachel yang mencoba ingin menyelusup ke tengah-tengah mereka agar bisa melerai.
Namun Antony yang saat itu dalam pengaruh alkohol, sudah terlanjur semakin emosi, ia tanpa sadar langsung menolak kasar tubuh Rachel demi bisa kembali memukul Arsen. Namun tanpa ia sadari, tindakan kasarnya itu membuat Rachel tersungkur ke aspal
"Aaagh." Teriak Rachel saat tanganya bergesekan dengan aspal.
Mata Arsen pun kembali membulat saat menyaksikan istrinya yang terjauh ke aspal,
"Bajingannn!!!" Pekik Arsen yang semakin menggeram, ia pun kembali meninju wajah Antony dengan sekuat tenaga.
Membuat Antony akhirnya ikut terjungkal ke aspal, tanpa pikir panjang, Arsen pun langsung berlari menghampiri Rachel, dan bergegas membantunya untuk berdiri.
"Kamu tidak apa-apa?" Tanyanya yang nampak begitu cemas sembari memandangi tubuh Rachel dari ujung kaki hingga rambut.
Rachel pun menganggguk pelan.
"Kita pulang sekarang!!" Tegas Arsen yang langsung menarik tangan Rachel dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Meninggalkan Antony yang masih terduduk lesu di aspal seorang diri dalam keadaan yang masih mabuk.
Sepanjang jalan Arsen terus diam, Rachel juga begitu ketakutan hingga membuatnya ikut diam sembari menahan rasa sakit pada tangannya yang terluka akibat gesekan pada aspal yang tajam.
Arsen mengemudikan mobilnya dengan begitu laju, membuat Rachel semakin ketakutan namun masih tak berani sama sekali untuk bersuara. Sorot mata arsen kala itu, terlihat begitu tajam saat memandangi ke arah jalanan. Api amarah pun seolah semakin nyata berkobar-kobar di matanya. Tidak ada yang bisa Rachel lakukan saat itu selain hanya bisa pasrah dengan semua hal yang akan terjadi padanya setelah ini. Yang jelas dia tau saat ini, Arsen sudah pasti sangat marah dan merasa sangat kecewa padanya karena ia berani pergi bersama Antony tanpa sepengetahuannya apalagi meminta izin.
Kini mereka pun tiba di apartemen, Arsen langsung masuk begitu saja ke rumah tanpa berbicara sepatah kata pun pada Rachel. Ia terus saja melangkah menuju kotak obat yang tergantung di salah satu sisi dinding tak jauh dari dapur, Lalu bergegas mengambil sebuah kapas dan betadine.
"Kemari lah!" Ucapnya sembari mulai duduk di sofa.
Rachel dengan ragu-ragu akhirnya mulai duduk di hadapan Arsen
"Ulurkan tanganmu!" Ucap Arsen datar.
Tanpa berkata, Rachel pun mengulurkan tangannya ke arah Arsen. Dengan wajahnya yang masih terlihat begitu ia tekuk, Arsen pun meraih tangannya dan mulai mengobati lukanya dengan pelan dan sangat hati-hati, namun sama sekali tidak berbicara sepatah katapun pada Rachel.
__ADS_1
...Bersambung......