
"Ka, kamu mau kemana?"
"Ayo ku antar kamu pulang."
"Ta, tapi mobilmu..?
"Tidak usah memikirkannya, sebentar lagi akan ada orang yang datang untuk mengurusnya."
"Ta, tapi aku akan berjalan kaki."
"Lalu kenapa kalau berjalan kaki? Sudah lah jangan banyak tapi, ayo" Lagi-lagi Arsen menarik tangan Rachel begitu saja.
Akhirnya mereka pun berjalan kaki di tepi jalan, di bagian yang memang khusus di persiapkan untuk para pejalan kaki. Saat itu waktu sudah semakin malam sudah menunjukkan pukul 22.10 malam, jalanan kota yang awalnya begitu padat kini berangsur-angsur mulai sedikit lengang.
Arsen dan Rachel akhirnya mulai berjalan santai, sembari menikmati pemandangan kota pada malam hari yang begitu cantik dengan banyaknya gedung pencakar langit di tambah sungai yang berada di tepi jalanan itu.
"Apa kamu sering seperti ini?" Tanya Arsen secara tiba-tiba sembari terus berjalan santai.
"Seperti ini bagaimana maksudmu?" Tanya Rachel yang masih tidak mengerti.
"Berjalan kaki seperti ini, apa kamu tidak takut?"
"Oh itu hehehe, aku tidak takut, lagi pula bukankah berjalan santai seperti ini sangat mengasikkan?" Rachel pun tersenyum.
"Benar juga, ini pertama kalinya dalam hidupku berjalan kaki di malam hari seperti ini. Ternyata asik dan seru juga." Jawab Arsen tersenyum tipis.
Rachel pun semakin melebarkan senyumannya, udara malam yang semakin terasa dingin mulai terasa pada tubuh mungil Rachel, membuat kedua tangannya mulai bersedekap sembari terus mengusap-usap lengannya sendiri. Arsen yang tak sengaja melihat hal itu pun langsung menyadari jika saat itu Rachel mulai kedinginan. Tanpa pikir panjang dan tanpa berkata apapun, Arsen pun langsung melepas jasnya, lalu memasangkan jas itu ke tubuh Rachel begitu saja.
Hal itu kembali membuat Rachel terpaku dengan tatapan matanya yang begitu lekat menatap Arsen Lim yang kini ada di hadapannya.
"Malam semakin larut, membuat udaranya pun semakin terasa sejuk, pakai lah ini." Ucap Arsen dengan tenang.
"La, lalu bagaimana denganmu?"
"Astaga kenapa masih saja memikirkan aku? Aku seorang lelaki, tubuhku berkali lipat lebih kuat darimu." Jawab Arsen dengan tenang sembari kembali berjalan dengan keadaan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.
Namun saat itu Rachel masih diam di tempatnya, dengan tatapan matanya yang seolah tak lekang memandangi Arsen yang sudah kembali melangkah di depannya.
"Semakin hari, sikapnya semakin manis. Apa ini pertanda dia mulai membuka hati untukku, atau justru menjadikan aku hanya sebagai pelampiasan?" Kata Rachel dalam benaknya.
Arsen yang menyadari Rachel tak ada di sisinya, akhirnya menghentikan langkahnya lalu mulai menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Astaga Bella, apalagi yang sedang kamu pikirkan? Ayo cepat lah, apa kamu mau sampai di apartement larut malam?"
Rachel pun mengangguk dan langsung melangkah menyusul Arsen, mereka pun kembali berjalan santai menuju kawasan apartement yang sudah tak begitu jauh dari mereka saat itu.
"Bagaimana hubunganmu dengan Laura? Ku lihat sepertinya kamu tak pernah lagi berkomunikasi dengannya? Apa dia masih marah padamu?" Tanya Rachel memberanikan diri.
Mendengar pertanyaan itu membuat Arsen sontak mendengus sembari menciptakan sebuah senyuman lirih.
"Kenapa harus membahasnya di saat seperti ini?"
"Tidak apa, hanya ingin tau sebatas teman berbagi saja. Tidak apa jika tidak ingin menjawabnya."
Akhirnya Arsen pun menghela nafasnya, lalu mulai bersuara.
"Entah lah, semakin kesini aku mulai merasa bahwa dia tidak benar-benar mencintai keluargaku dengan tulus. Sejauh ini aku masih belum ingin berkomunikasi dengannya dulu, aku ingin fokus pada perusahaan." Jelas Arsen.
"Tapi, apa kamu masih mencintainya?" Tanya Rachel lagi dengan sedikit ragu-ragu.
Sejenak Arsen terdiam, lalu kembali tersenyum tipis.
"Aku sudah menjalin hubungan setahun lebih, sudah begitu banyak hal yang kulakukan untuknya, tentu tidak mudah melupakan semuanya begitu saja, termasuk perasaanku."
"Ja, jadi kamu, kamu masih mencintainya?" Tanya Rachel dengan rasa kecewa dan air mata di kelopak matanya terlihat mulai menggenang.
Membuat perasaan Rachel semakin kecewa, karena ia merasa dalam beberapa hari ini dia dan Arsen pun telah melewati banyak hal bersama, sering berbagi cerita layaknya dua insan yang sudah sangat dekat.
"Tapi sepertinya perasaanku untuknya sudah tidak sama seperti dulu." Tambah Arsen lagi.
Mendengar hal itu membuat Rachel kembali merasa seolah masih ada harapan.
"Benarkah?" Tanya Rachel.
"Ya, seperti ada yang berbeda, tapi entahlah, saat ini aku sedang malas memikirkan hal itu."
"Emm baiklah, tidak usah membahasnya lagi." Rachel pun tersenyum.
Akhirnya tibalah mereka di depan sebuah apartement.
"Jadi disini lah kamu tinggal selama ini?" Tanya Arsen sembari menatap gedung apartement yang menjulang cukup tinggi itu.
"Hehe iya." Jawab Rachel berbohong.
"Apa kamu merasa nyaman dan aman tinggal disini?"
__ADS_1
"Tentu saja nyaman, lagi pula biaya sewanya tidak terlalu mahal, jadi sangat sesuai untukku."
"Oh begitu rupanya. Baiklah, ayo ku antar sampai loby, aku ingin memastikan jika kamu aman sampai masuk ke apartement."
"Ah tidak, tidak! tidak perlu!" Rachel pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kenapa?" Tanya Arsen sembari mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada, hanya saja aku sudah mengenal baik security disini, aku tidak ingin mereka salah paham saat melihatmu mengantarku."
"Emm baiklah, kalau begitu aku akan berdiri disini sampai kamu benar-benar masuk ke dalam."
"Harus begitu ya?"
"Ya." Jawab Arsen sembari mengangguk singkat.
"Emmm baiklah kalau begitu, aku masuk dulu ya." Ucap Rachel sembari cengengesan dan mulai gugup.
"Ya. Sampai jumpa besok di kantor, bye." Arsen pun melambaikan tangannya.
"Oh astaga, aku hampir melupakan jas mu." Rachel pun dengan cepat segera ingin melepas jas Arsen yang di pakainya.
Namun Arsen langsung menahannya.
"Ah tidak perlu, pakai saja dulu, kamu bisa mengembalikannya di lain waktu."
"Baiklah, aku masuk dulu, bye."
Rachel pun dengan pelan mulai berjalan menuju loby apartement itu, dengan membawa perasaannya yang kebingungan karena sesungguhnya itu bukanlah apartement nya.
Tak lama ponsel Arsen berdering, nampak panggilan itu dari supir keluarganya yang memang diberi tugas untuk menjemputnya setelah sebelumnya Arsen mengirimkan pesan padanya.
"Ya, aku tepat di depan apartement Blue safir." Ucap Arsen dengan tenang.
Tak lama sebuah mobil mewah pun berhenti tepat di depan Arsen, Rachel pun melirik ke belakangnya, dan melihat Arsen sudah naik ke dalam mobil itu. Tak lama mobil pun mulai berjalan dan pergi meninggalkan kawasan apartement itu, melihat hal itu akhirnya Rachel menghela nafas lega karena ia tak perlu masuk ke dalamnya.
"Huh, huh, syukur lah dia sudah pulang lebih dulu tanpa menungguku masuk. Benar-benar sangat mendebarkan." Celetuk Rachel seorang diri.
Rachel pun akhirnya dengan cepat mengeluarkan ponselnya, ia pun langsung menelpon supir yang memang di tugaskan oleh omanya khusus untuk mengantar jemputnya.
"Pak, tolong jemput aku sekarang ya, aku berada di depan apartement Blue Safir. Sekarang ya."
"Baik nona Rachel."
__ADS_1
...Bersambung......