
Hingga tiba lah mereka di Loby, namun nampaknya Antony masih juga belum ada tanda-tanda ingin menyudahi perbincangan mereka. Melihat hal itu Arsen pun kembali dibuat mulai meradang. Seolah tak ingin membiarkan Rachel dan Antony mengobrol terlalu lama, ia pun kembali berdiri di tengah-tengah mereka.
"Maaf jika aku harus memotong perbincangan kalian yang nampaknya sangat seru ini, tapi sayangnya kami masih ada jadwal meeting lain. Jadi dengan berat hati kami harus pergi sekarang juga."
"Oh begitu rupanya. It's ok, tidak masalah, kami bisa membuat janji untuk bertemu di lain waktu. Bukankah begitu nona Bella?" Jawab Antony dengan tenang sembari tersenyum.
Saat itu Rachel pun hanya mengangguk dan menampilkan senyuman keterpaksaannya. Ia terus melayani Antony bukan karena ia menyukainya, namun hal itu dilakukan Rachel semata-mata hanya karena ingin menjalin hubungan kerja yang baik dengan kliennya.
"Ok baiklah kalau begitu, kami harus pergi sekarang. Dan sekali lagi, senang bisa bekerja sama dengan Starlight Corp." Arsen pun tersenyum tipis dan kemudian langsung beranjak pergi begitu saja.
Rachel yang melihat Arsen melangkah begitu saja pun langsung ikut pamit dan berjalan cepat untuk menyusul langkah Arsen.
"Hei tunggu, kenapa buru-buru sekali?" Keluh Rachel yang terus mengejar langkah Arsen untuk menuju mobilnya.
Namun saat itu Arsen tidak menggubrisnya sama sekali dan memilih langsung masuk begitu saja ke mobilnya.
"Ada apa dengannya?" Tanya Rachel pada dirinya sendiri.
Rachel pun dengan cepat ikut masuk ke mobilnya, dan mulai mengernyitkan dahinya saat menatap Arsen yang memasang wajah datar saat itu.
"Hei, ada apa denganmu? Bukankah harusnya hari ini kamu senang karena kita mendapatkan proyek besar ini?" Tanya Rachel yang terlihat masih bingung dengan perubahan sikap Arsen padanya.
Namun Arsen masih diam dan mulai memasang sabuk pengamannya.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Rachel lagi.
Kini Arsen pun langsung menatap Rachel.
"Kelihatannya kamu suka pada Antony Yue, apa itu benar? Baru di puji sedikit saja olehnya tapi sudah membuatmu langsung melambung tinggi ya." Ucap Arsen sembari mendengus pelan.
"Ha? Aku? Suka pada Antony Yue? Apa kamu tidak salah bicara?"
"Sudah lah, tidak perlu memungkirinya di hadapanku, katakan saja jika memang suka. Itu begitu jelas terlihat dari kamu yang terus tersenyum saat berbicara dengannya."
"Ha? Hahahaha, kamu ini sungguh lucu sekali." Rachel pun seketika langsung tertawa.
__ADS_1
"Tidak ada yang lucu, sudah lah, tidak usah di bahas! Lagi pula itu bukan urusanku." Ketus Arsen yang kemudian mulai menancap gas.
"Ada apa dengannya? Kenapa mendadak berubah jadi sensi begitu? Oh tunggu, apa, emm apa dia sedang cemburu?" Tanya Rachel dalam hati yang kembali memandangi Arsen sembari terus menahan senyumnya.
"Oh ya ampun, jika benar dia cemburu, bukankah tingkahnya seperti ini sangatlah menggemaskan?" Celetuk Rachel lagi yang diam-diam semakin di buat berbunga-bunga hatinya.
Di sepanjang jalan Arsen terus diam dan memilih untuk fokus mengemudi saja, sementara Rachel, saat itu ia teringat ucapan Arsen pada Antony yang mengatakan jika setelah ini mereka masih ada meeting.
"Apa benar setelah ini ada meeting lain? Perasaan tidak ada jadwal meeting lain hari ini." Gumam Rachel sembari kembali meraih ponselnya lalu mulai membuka jadwal mingguan Arsen.
"Tidak ada meeting setelah ini, tapi kenapa tadi kamu mengatakan ada meeting lain? Apa kamu sudah membuat janji pada klien tanpa sepengetahuanku?" Tanya Rachel yang nampak heran.
"Tidak ada." Jawab Arsen singkat.
"Lalu kenapa harus berbohong begitu pada klien penting?"
"Aku berbohong agar dia tidak terlalu banyak berbicara, apalagi semua yang di ucapkan sejak awal tadi sungguh sangat berlebihan." Jawab Arsen tanpa menoleh sedikit pun ke arah Rachel.
"Aaaaa tidak salah lagi, Arsen pasti cemburu melihatku di puji oleh lelaki lain di depan matanya."
Tak lama mobil Arsen berhenti di sebuah restoran, restoran itu berada di rooftop (atas atap) gedung yang cukup tinggi hingga bisa menyajikan pemandangan kota yang cukup indah.
Mereka pun naik ke lantai paling atas lalu langsung mengambil posisi meja yang cukup nyaman. Rachel yang hari itu begitu senang, nampak bersemangat dalam memilih menu makanan yang ingin ia makan. Berbeda halnya dengan Arsen yang justru meminta menunya di samakan saja dengan punya Rachel dan nampak begitu tak semangat.
Melihat Arsen yang nampak masih terlihat kesal padanya, membuat Rachel pun kembali tersenyum menatapnya dan memilih untuk menghiburnya sembari menunggu makanan yang mereka pesan itu datang.
"Hei Arsen Lim," Panggil Rachel sembari bertopang dagu menatapnya.
"Emm" jawab Arsen yang masih memalingkan wajahnya.
"Apa sikapmu begini karena kamu sedang cemburu pada Antony?" Tanya Rachel memberanikan diri sembari terus menahan senyum nya.
"Apa? Aku? Cemburu pada Antony Yue?"
Rachel pun mengangguk dengan tenang.
__ADS_1
"Itu tidak mungkin!" Tegasnya sembari mendengus pelan.
"Sudah lah, katakan saja jika memang iya. Apa itu artinya kamu...." Rachel pun mulai menatap dalam wajah Arsen.
"Ka, kamu apa? Dan kenapa kamu jadi menatapku seperti itu?" Tanya Arsen namun sembari memalingkan wajahnya.
Entah kenapa, saat di tatap begitu dalam oleh Rachel membuat seolah ada sedikit getaran yang dirasakan oleh Arsen pada hatinya. Hal itu pun jadi membuatnya sedikit gugup hingga tak kuasa membalas tatapan mata Rachel yang kala itu seolah tengah menggodanya.
"Apa itu artinya kamu mulai merasa nyaman padaku?"
Mendengar pertanyaan itu sontak membuat Arsen membulatkan matanya.
"Apa kamu mulai mengakui jika pacarmu itu bukanlah yang terbaik untukmu?" Tanya Rachel lagi sembari menggoyang-goyangkan alisnya seolah menggoda Arsen.
"Tidak. Sama sekali tidak." Arsen pun terlihat semakin gugup dan semakin terlihat salah tingkah.
"Hahahaha." Namun melihat hal itu membuat Rachel seketika tertawa.
"Hei, kenapa tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Lihat lah bagaimana dirimu Arsen Lim, wajahmu nampak mulai memerah, oh ya ampun itu terlihat lucu sekali hahaha." Jawab Rachel sembari terus tertawa.
"Tidak, sama sekali tidak!" Arsen pun langsung mengusap-usap wajahnya.
"Hahaha maaf maaf, aku hanya bercanda tadi. Tapi begitu saja sudah membuatmu salah tingkah." Ucap Rachel lagi sembari mulai meminum minuman Mocca Float yang ia pesan.
Saking asiknya minum, tanpa Rachel sadari ada krim dari minumannya yang menempel di ujung bibirnya, saat itu Rachel masih terus menertawakan Arsen, namun berbeda halnya dengan Arsen.
"Mendekat lah." Ucap Arsen dengan tenang sembari memanggil Rachel dengan jari-jarinya.
"Ada apa? Apa kamu ingin memukulku karena menertawakan mu? Astaga itu hanya bercanda Arsen Lim, agar kamu tidak terlalu kaku."
"Turuti saja ucapanku."
Akhirnya dengan perlahan, Rachel pun mulai mendekat, dengan wajahnya yang berubah jadi sedikit tegang namun penasaran, ia pun mulai mencondongkan tubuhnya ke arah Arsen. Saat itu Arsen pun langsung tersenyum tipis, dan langsung mengusap ujung bibir Rachel dengan ibu jarinya.
__ADS_1
"Minum saja bisa sampai belepotan seperti ini, benar-benar tidak elegant." Celetuk Arsen saat mengusap lembut ujung bibir Rachel sembari terus tersenyum.
...Bersambung......