Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 151


__ADS_3

"Paman, bibi, maaf membuat kalian menunggu," Ucap Arsen berbasa-basi.


Rachel pun seketika menoleh ke arah Arsen, Arsen pun kembali mengembangkan senyumannya dan memilih duduk di sisi Rachel.


"Kelihatannya paman dan bibi sedang merindukan putri kalian yang begitu bawel dan manja ini ya hehehe." Celetuk Arsen sembari mulai merangkul pundak Rachel dengan mesra.


Shea yang melihat itu seketika dibuat terdiam, sementara Martin akhirnya tersenyum senang melihat perlakuan manis Arsen pada putrinya, sedang kan Rachel, kala itu ia masih sedikit tercengang memandangi pundaknya dan Arsen secara bergantian.


"Bisa di katakan begitu, tapi itu bukanlah menjadi satu-satunya alasan kami datang kemari." Jawab Martin dengan tenang.


"Lalu apa lagi dad?" Rachel pun kembali mengerutkan dahinya.


"Sayang, kenapa harus terburu-buru?!" Ucap Arsen dengan lembut.


"Oh ya, kenapa tidak membuatkan minuman untuk paman dan bibi?" Tambahnya lagi saat melirik ke arah meja yang masih kosong.


"Oh iya hehee aku lupa." Rachel pun tersenyum kikuk.


"Baiklah mom, dad, aku ke dapur sebentar." Rachel pun seketika mulai beranjak untuk menuju dapur.


"Rachel, kamu yakin bisa melakukannya? Hati-hati dengan itu semua, jangan sampai tanganmu tersiram air panas sayang." Teriak Shea yang nampak sedikit cemas pada putri semata wayangnya itu.


"Tenang mom, tidak akan terjadi." Rachel pun terus saja melangkah menuju dapur.


Mendengar perkataan Shea, membuat Arsen kembali melirik ke arah tangannya yang masih terlihat memerah akibat tersiram teh panas.


"Ya, memang tidak akan terjadi pada tangannya, tapi sudah kejadian pada tanganku." Celetuk Arsen dalam hati sembari mendengus dan tersenyum lirih.


"Bagaimana keadaanmu Arsen Lim, apakah sudah jauh merasa lebih baik?" Tanya Martin kemudian.


Arsen pun tersenyum, dengan sikapnya yang begitu tenang, ia pun menjawab:


"Seperti yang paman lihat saat ini, aku sudah baik-baik saja." Jawab Arsen berbohong.


"Aah syukur lah, setidaknya paman jadi merasa jauh lebih tenang saat mendengarnya langsung darimu."


"Eeemm tapi apa benar kamu sungguh sudah memaafkan Rachel? Tidak ada dendam sedikit pun?" Tanya Shea menyelidik sembari sedikit memicingkan matanya.


Lagi-lagi Arsen dibuat tersenyum dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh seseorang yang telah menjadi ibu mertuanya itu.

__ADS_1


"Aku yakin Arsen bukanlah seorang yang pendendam," Sahut Martin yang kembali menatap wajah Arsen dengan raut wajahnya yang penuh keyakinan.


"Haaaiish, bagaimana kamu bisa begitu yakin jika dia tidak pendendam?" Lagi-lagi Shea menyenggol lengan Martin.


Membuat Arsen yang melihatnya jadi semakin melebarkan senyumannya.


"Bisa saja kan dia bersikap baik begini untuk membalas dendam secara halus pada anak kita sayang." Bisik Shea kemudian yang terlihat masih sangat was was.


"Bibi, meskipun bibi mengatakannya dengan cara berbisik, tapi aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas." Arsen pun terkekeh lirih.


"Apa sungguh seperti itu kah bibi menilaiku saat ini?" Tanya Arsen yang masih terlihat begitu santai.


"Dia di besarkan dengan penuh cinta oleh Yuna dan Benzie, dua orang hebat yang sudah jelas-jelas memiliki kepribadian yang sangat baik. Lalu bagaimana bisa kamu berfikir anaknya tumbuh menjadi anak yang pendendam?" Jelas Martin lagi.


Shea pun akhirnya terdiam dan menghela nafas.


"Eeem benar juga, bagaimana bisa aku lupa jika dia adalah putra sulung Benzie Lim dan Ayuna." Shea pun akhirnya mendengus pelan lalu tersenyum lirih.


"Paman dan bibi tenang saja, aku bukan tipe lelaki yang rela menikah hanya karena untuk balas dendam atau apapun itu namanya. Prinsipku adalah, menikah sekali seumur hidup dan aku akan menikahi wanita yang sudah pasti sangat aku cinta. Jika aku tidak cinta pada Rachel, meski seluruh orang di dunia memaksaku untuk menikahinya kala itu, hal itu tidak akan pernah ku lakukan. Jadi, aku sama sekali tidak membencinya, aku janji akan menjaganya." Ungkap Arsen dengan sangat lugas.


"Sekarang paman semakin mengerti kenapa Rachel rela meninggalkan Paris dan memilih kembali kesini hanya untuk bisa mendapatkan hatimu. Ternyata, dia memilih lelaki yang tepat." Martin pun tersenyum kembali.


"Arsen Lim, yang kamu ucapkan barusan, benar dari lubuk hatimu, atau hanya bagian dari sandiwara kita?" Tanya Rachel lirih dalam hatinya.


Tak ingin membuang banyak waktu, Rachel kembali menghela nafas dan melanjutkan langkahnya.


"Kalian sedang membicarakan apa? Serius sekali." Tanya Rachel yang bersikap seolah tak mendengar pembicaraan mereka sembari mulai menghidangkan secangkir teh.


"Sayang, kenapa lama sekali?" Tanya Arsen lembut saat Rachel kembali duduk di sisinya.


"Perasaanku tidak lebih dari 10 menit, apakah itu bisa dikatakan lama?" Rachel pun memasang raut wajah bingung.


"Bagiku lama, meski hanya 10 menit, buktinya sudah mampu membuatku rindu." Jawab Arsen yang memancarkan senyuman manisnya sembari kembali merangkul mesra pundak istrinya.


Rachel pun tersenyum, meskipun ia tau ucapan Arsen kala itu hanyalah sandiwara, tapi entah kenapa begitu lucu saat melihat Arsen yang cool, jadi bersikap sok romantis dan penuh dengan gombalan.


"Aaaaaa sayang, kamu selalu saja pintar membuatku melambung." Rachel yang geregetan pun langsung memeluk mesra lengan Arsen dan menyandarkan kepalanya di pundak suaminya itu.


Membuat Shea dan Martin yang menyaksikannya jadi ikut salah tingkah dan mendadak canggung saat melihat putri mereka sedang asik bermesraan dengan suaminya tanpa merasa canggung meski di hal itu di lakukan di hadapan mereka.

__ADS_1


"Melihat kelakuan putriku yang lebih agresif, kenapa seperti sedang bercermin?" Celetuk Shea dalam hati yang mulai mengusap-usap tengkuknya.


"Eeehem" Martin berdehem.


Membuat Rachel dan Arsen seketika tersadar dan akhirnya mereka pun kembali tersenyum.


"Aaaa daddy, maaf ya hehehe, Arsen memang menjadi lebih manis semenjak menikah, selalu bisa membuatku gemas padanya." Jelas Rachel sembari terus tersenyum kikuk.


"Bukan begitu sayang?" Tanya Rachel lagi yang kembali menatap Arsen.


"Emm mau bagaimana lagi, semakin hari kamu semakin membuatku tergila-tergila."


Rachel kembali tersenyum geli.


"Aaaaa sudah cukup sayang, ada mommy dan daddy, aku jadi malu." Rachel pun terus terkekeh sembari memukul paha Arsen.


"Aagh" Teriak Arsen yang refleks mengusap-usap pahanya akibat pukulan Rachel yang terasa cukup pedas.


"Oh sayang, apakah aku memukulmu terlalu keras?" Mata Rachel seketika membulat.


"Aah tidak sayang, asal kamu yang melakukannya, aku bahkan bisa tahan 100 kali lipat lebih sakit dari ini." Jawab Arsen yang terus tersenyum namun dengan matanya yang mulai mendelik saat menatap Rachel.


Rachel akhirnya terdiam sembari terus menahan tawanya karena melihat reaksi Arsen yang begitu lucu saat menahan rasa sakit dan rasa kesalnya.


"Astaga sayang, sepertinya kehadiran kita disini cukup mengganggu," celetuk Shea.


"Sepertinya begitu." Jawab Martin.


"Baiklah, langsung saja, kedatangan mommy dan daddy kesini untuk memberikan ini pada kalian berdua." Shea meraih sesuatu dari dalam tasnya, lalu meletakkannya di atas meja, kemudian mendekatkan lembaran kertas itu ke hadapan Rachel.


"Apa ini mommy?" Rachel pun mulai meraihnya.


"Hanya hadiah kecil." Jawab Martin yang kembali tersenyum.


"Ya, perjalanan honeymoon ke Italia, sudah termasuk hotel bintang lima dan mobil, semua sudah mommy yang urus, kalian hanya tinggal berangkat" Jelas Shea singkat


"Apa?! Honeymoon??!" Mata Arsen seketika kembali membulat.


Sementara Rachel, masih terdiam memandangi lembaran kertas yang kala itu tengah ia pegang. Perasaan senang juga becampur bingung, kini mulai melanda dan berkecamuk di pikirannya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2