Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 131


__ADS_3

Arsen menghela nafas sembari tertunduk, lalu akhirnya membiarkan Rachel untuk masuk ke dalam apartementnya. Dengan langkah pelan, Rachel mulai memasuki unit bernomor 0404 itu, mata Rachel seolah tak bisa diam dan terus melirik ke segala sudut ruangan.


Perpaduan antara warna putih dan pastel pun di pilih Arsen untuk warna dinding ruang tamunya, karena ia tau jika Rachel menyukai warna pastel.


Apartement itu memang sangat mewah, bahkan jauh lebih mewah dari apartement Rachel yang ia huni saat ini. Bahkan ada sebuah balkon disertai dengan taman kecil, pemandangan yang disajikan dari balkon pun langsung menghadap ke laut dan gedung-gedung pencakar langit begitu jelas terlihat.


"Dia bahkan memilih warna cat yang sesuai dengan kesukaanku." Gumam Rachel lirih dalam hati.


Arsen mendudukkan dirinya di sebuah sofa, penampilannya hari itu terlihat sangat berantakan dengan kantung mata yang mulai jelas terlihat. Rachel yang masih sibuk memandangi setiap sisi apartement itu pun tak membuatnya langsung ikut duduk.


"Apa kamu akan tetap berdiri disitu?" Tanya Arsen datar.


Rachel pun langsung tersentak dan akhirnya ia duduk di sofa yang berhadapan dengan Arsen.


"Darimana kamu tau tentang apartement ini?" Tanya Arsen lagi.


"Papamu yang memberitahuku."


Mendengar jawaban Rachel membuat Arsen kembali mendengus.


"Setelah bekerja sama untuk mengelabuiku, kini kalian bekerja sama untuk mencariku?"


"Arsen, tolong jangan...."

__ADS_1


"Sudah lah, cepat katakan apa yang ingin kamu katakan." Tegas Arsen yang langsung memotong ucapan Rachel.


Membuat Rachel sejenak terdiam, ia mulai menatap Arsen dengan tatapan begitu lirih.


"Kamu masih ingat perbincangan kita saat di apartementku? Jujur, pada malam itu aku sangat sedih, saat mendengar pernyataan jika Rachel tidak berarti apapun bagimu. Aku jadi teringat, saat dulu di tahun-tahun pertama aku tinggal di Paris, setiap aku memiliki sesuatu yang baru dalam hidupku, yang pertama terbesit di benakku kala itu adalah 'Andai ada Arsen disini, Andai Arsen melihat ini,' tapi nyatanya hanya aku yang seperti itu." Rachel kembali tersenyum lirih namun dengan air mata yang mulai menetes.


Mendengar hal itu membuat Arsen hanya terdiam seribu bahasa,


"Arsen Lim, aku tau aku bersalah dalam hal ini, aku takkan membela diri. Tapi, apa kebohonganku begitu fatal hingga membuatmu akan berfikir ulang tentang pernikahan kita? Apa kamu tidak berfikir dampaknya jika acara pernikahan kita batal? Bukan hanya aku dan kamu, tapi seluruh keluarga dan seluruh perusahaan kedua keluarga kita akan kena dampaknya Arsen Lim. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana malunya kedua orang tua mu, terutama papamu yang namanya hampir di kenal di seluruh kota ini?" Rachel berkata dengan begitu lembut dan sangat hati-hati.


"Jika mau marah, maka marahlah padaku saja, jika mau menghukumku, maka hukum saja aku, tapi jangan libatkan keluarga kita. Aku siap menanggung segalanya, aku siap bila harus mendapat hinaanmu setiap hari asal kedua keluarga kita tidak di terpa rasa malu yang akan berujung jadi masalah nantinya." Tambah Rachel lagi dengan air mata yang terus menetes.


Kala itu, Arsen bahkan tak mengeluarkan sepatah kata pun, membuat Rachel semakin bingung harus menjelaskan apalagi. Saat itu Rachel seperti sedang berbicara dengan sebuah patung, tanpa respon sedikit pun.


"Baiklah, sepertinya itu saja yang ingin ku utarakan padamu. Aku masih berharap jika kamu berubah pikiran dan datang ke acara pernikahan kita. Aku sama sekali tidak mau membatalkan resepsi besok, aku akan menunggu kedatanganmu meski apapun yang terjadi. Tapi jika kamu tidak datang, maka itu pun sudah jadi keputusanmu dan aku takkan mempertanyakannya lagi."


"Untuk segala kesalahanku padamu, aku minta maaf. Aku cinta kamu, dan itu akan selalu." Ucap Rachel dengan lembut, lalu ia pun mengecup singkat bibir Arsen.


Kemudian Rachel kembali bangkit dan akhirnya ia pun pamit pulang.


"Aku pergi, terima kasih masih mau membuang waktumu demi aku." Ucap Rachel lirih.


Kini Rachel benar-benar pergi dari hadapan Arsen, Arsen pun masih terdiam sembari memandang lirih kepergian Rachel. Menyadari jika Rachel sudah pergi dan takkan kembali, Arsen pun langsung mengusap kasar wajahnya, dia benar-benar tak tau apa yang rasakan saat ini terhadap Rachel.

__ADS_1


Malam hari...


Angin sepoi-sepoi dari arah laut membuat rambut Arsen sedikit bergoyang, kala itu ia tengah berdiri di balkon untuk merenungi segala macam persoalan yang telah terjadi padanya. Pikiran yang begitu kalut membuatnya susah tidur dan memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Arsen terus berjalan santai di taman sekitar kawasan gedung apartement miliknya. Namun lagi-lagi Arsen dengan kebetulan harus di pertemukan dengan Antony yang kala itu sedang membawa Anjingnya berjalan-jalan di taman itu.


"Arsen Lim." Ucap Antony saat tak sengaja mendapati Arsen yang tengah duduk di salah satu kursi taman.


"Wah, wah, sepertinya semesta selalu mensetting agar kita bisa selalu bertemu ya Arsen Lim." Celetuk Antony saat menghampiri Arsen.


Arsen pun sontak melirik ke arah Antony, ia pun memutarkan kedua bola matanya sebagai tanda jika ia sangat jenuh karena selalu bertemu dengan Antony.


"Sedang apa kau disini? Bukankah harusnya saat ini kau sedang sibuk-sibuknya untuk menyiapkan acara pernikahan mu besok?" Tanya Antony lagi seolah sedang mengejek.


"Oh astaga, jangan bilang kau mulai ragu ingin menikahi Rachel ya." Antony nampaknya terus menyerang Arsen segudang pertanyaan yang terkesan mengenyek.


Arsen pun seketika bangkit dari duduknya, hati dan pikirannya sungguh sangat kalut masa itu hingga membuatnya benar-benar tak berminat untuk meladeni perkataan Antony. Arsen tanpa berbicara sepatah katapun, bersiap ingin beranjak pergi meninggalkan Antony, namun seketika langkahnya terhenti saat saat Antony menahan pundak Arsen.


"Inilah kekalahanmu yang sesungguhnya Arsen Lim. Maka lepaskan saja dia, jangan kau halangi aku untuk masuk ke dalam hidupnya. Berbesar hati lah menerima kegagalan ini, di lain tempat, sudah ada wanita yang begitu menantikan mu untuk kembali padanya." Antony pun tersenyum sinis.


Membuat Arsen mulai menatapnya tajam.


"Dari pada sibuk mengurusi urusan pribadiku, mending kau tangisi saja nasibmu sendiri, kau bahkan tidak mampu menembus hati Rachel sedikit pun, bukankah itu sungguh ironis dan patut di tangisi?" Ketus Arsen sembari menepis tangan Antony yang sejak tadi menahan pundaknya.


Arsen pun langsung melangkah pergi meninggalkan Antony yang dibuat terdiam seribu bahasa.

__ADS_1


"Tidak, tidak akan ku biarkan kau dan Laura menertawakan aku. Tidak akan! Dan Rachel, aku tidak bisa kehilangan dia dengan cara seperti ini." Gumam Arsen dalam hati sembari terus saja melangkah pergi.


...Bersambung......


__ADS_2