
Sisi lain di kantor utama One Light Corp
Antony saat itu sedang duduk di kursi kejayaannya, ia terus melamun sembari sesekali meraba lagi luka yang masih sedikit membekas di ujung bibirnya. Tak lama, asisten pribadinya pun terlihat masuk dengan sedikit tergesa-gesa hingga membuat lupa mengetuk pintu terlebih dulu.
"Apa penyebab dari sikap tergesa-gesa mu ini? hingga membuatmu masuk tanpa berani mengetuk pintu terlebih dulu?" Antony pun mulai melirik tajam ke arah asisten pribadinya.
"Maaf kan saya tuan muda, tapi..."
"Tapi apa?"
"Ada berita yang cukup mengagetkan hari ini, dan sepertinya telah menggemparkan jagat maya maupun nyata."
"Berita???" Dahi Antony pun mulai mengernyit sembari matanya yang juga mulai memicing saat menatap Asisten pribadinya.
Tanpa ingin berbasa basi lagi, sang asisten pun langsung saja mendekati Antony dan memberikan ponselnya pada atasannya itu. Antony meraihnya dan langsung menatap layar terpaku yang sedang menampilkan berita tentang dirinya dan juga Rachel, yang fotonya di pampang nyata di halaman utama berita online. Alih-alih marah, saat itu Antony justru langsung tersenyum memandangi foto dirinya dan juga Rachel yang nampak begitu akrab.
"Tu,, tuan muda, kenapa anda tersenyum?" Tanya Asisten yang jadi merasa heran beserta bingung.
"Aku tersenyum, karena akhirnya aku memiliki foto berdua bersamanya." Jawab Antony dengan tenang sembari terus memandangi foto itu.
Asistennya pun di buat jadi semakin bingung hingga tanpa sadar mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa? Kenapa kau nampak begitu cemas?" Tanya Antony yang seolah tanpa beban.
"Tuan muda, maaf sebelumnya, tapi jujur saja, saya cukup merasa heran melihat sikap anda yang begitu tenang melihat berita miring itu. Bukankah berita itu jadi membuat nama baik anda terlihat buruk di mata banyak orang?"
"Ya, kau benar, pantas saja sejak tadi ponselku tidak berhenti berdering, ada banyak panggilan masuk dari keluarga dan juga kerabatku yang sama sekali tidak berminat untuk aku angkat. Dan sekarang aku tau alasan mereka menelponku, bukan untuk menanyakan keadaanku, tapi melainkan menanyakan tentang berita miring ini yang diduga akan membuat nama baik keluarga juga ikut tercemar."
__ADS_1
"Lalu,,, kenapa tuan muda malah tersenyum?"
"Meskipun berita miring dan membuat nama baikku tercoreng dan di anggap sebagai perusak rumah tangga rekan bisnis sendiri, tapi entah kenapa aku begitu menyukai berita ini, di anggap memiliki hubungan khusus dengan wanita yang ku cintai, itu sangat lah menyenangkan." Ungkap Antony yang kembali mengembangkan senyumannya.
"Apakah anda yang sengaja memuat berita ini tuan muda? Apa anda sengaja mengutus seseorang untuk mengabil potret ini?"
"Aku bahkan sama sekali tidak memikirkan hal itu sebelumnya, tapi entah siapa pun yang melakukannya, yang jelas aku menyukai tindakannya itu." Jawab Antony lagi yang benar-benar terlihat begitu tenang seolah tanpa beban.
"Jadi, apa aku tidak perlu mencari tau dalangnya dan memberi hukuman padanya?"
"Jika pun kita tau dalangnya, maka aku justru akan memerintahkan mu untuk memberinya hadiah atas itu." Ucap Antony sembari kembali meletakkan ponsel milik asistennya ke atas meja.
"Baik lah kalau begitu tuan muda, saya permisi dulu."
Antony pun hanya mengangguk dan kembali tersenyum sembari menyandarkan dirinya lagi ke sandaran kursi kejayaannya.
"Hahaha, aku jadi penasaran, bagaimana reaksi Arsen Lim saat melihat berita ini? Apakah saat ini ia semakin bertambah marah dan kecewa? Apa kemudian akan menceraikan Rachel?" Gumam Antony dalam hati sembari terus tersenyum puas.
Antony kembali memejamkan matanya dengan senyumannya yang terus berkembang, ia benar-benar tak sabar menantikan berita selanjutnya tentang kehancuran hubungan antara Arsen dan Rachel. Namun dalam hitungan detik setelahnya, tiba-tiba saja pintu ruangannya kembali dibuka tanpa di ketuk terlebih dulu.
"Padahal aku baru saja mengingatkanmu tentang bagaimana harusnya kamu masuk ke ruanganku." Celetuk Antony namun dengan keadaan matanya yang masih saja terpejam.
Tapi bukan kata maaf yang di dengarnya saat itu, melainkan sebuah tinjuan keras yang mendarat di pipi sebelah kanannya lah yang ia dapatkan.
"Bajingan kau!!" Bentak suara bariton dari seorang lelaki yang terdengar begitu menggelegar di dalam ruangannya.
Hal itu, sontak membuat Antony hampir terjungkal dari kursinya, ia pun jadi begitu terkejut dan langsung berdiri sembari menatap tajam ke arah orang yang sudah berani memukulnya.
__ADS_1
"Kau!!!" Ketusnya dengan mata yang jadi begitu membulat sempurna saat mengetahui siapa yang datang dan memukulnya.
Ya, orang itu tak lain ialah Arsen Lim, satu-satunya orang yang sejauh ini berani memukul Antony tanpa ragu dan rasa takut akan di tuntut. Karena pada dasarnya, kedudukan mereka di kota itu hampir berimbang, bahkan Arsen mungkin berada satu tingkat saja di atasnya.
"Iya, kau pikir siapa? Apa kau berharap istriku yang datang ha???!" Ketus Arsen yang kembali meninju pipi sebelah kiri Antony.
Hal itu pun lagi-lagi berhasil membuat luka di ujung bibir Arsen kembali berdarah.
"Seingatku, aku pun belum lama mengingatkan padamu untuk tidak mengganggung istriku apalagi ketenangan keluargaku!!!" Bentak Arsen yang kembali memukul bagian perut Antony.
Arsen benar-benar hilang kendali saat itu, ia benar-benar telah dirasuki rasa emosi yang semakin kuat menggerogoti diri dan pikirannya kala itu.
Antony pun mulai terjajar ke sudut ruangannya akibat pukulan keras dari Arsen, namun bukan Antony namanya jika ia hanya pasrah begitu saja. Ia pun langsung meludahkan darah yang ada di mulutnya ke lantai, lalu dengan cepat membalas pukulan Arsen dengan ikut meninju pipinya.
Baku hantam di ruangan pribadi Antony pun tak bisa terelakkan lagi, kini keduanya terus saling serang hingga ada merusak beberapa pajangan di atas meja kerja Antony. Hingga akhirnya asisten pribadi Antony pun masuk ke ruangan itu karena mendengar keributan di dalamnya.
"Astaga tuan muda." Teriak asisten pribadinya yang bergegas ingin menghentikan Arsen yang kala itu terlihat sedang ingin memukul Antony lagi. Namun seolah tak ingin di bantu oleh siapapun, Antony segera menahan asistennya dengan hanya mengangkat sebelah tangannya yang mengisyaratkan agar ia jangan mendekat pada mereka.
"Ta,, tapi tuan muda."
"Ku bilang tidak perlu!" Tegas Antony lagi sembari meninggikan suaranya,
Arsen pun akhirnya menurunkan tangannya yang awalnya begitu mengepal kuat dan siap melayangkan pukulan lagi ke wajah Antony. Lalu mengibaskan sekali jasnya yang jadi sedikit berantakan dan kemudian kembali mendekati Antony hingga jarak di antara mereka hanya sekita 5cm saja.
"Ku tegaskan sekali lagi padamu, apapun yang kau lakukan, tak peduli dengan cara apapun itu, hal itu tidak akan pernah membuat aku dan Rachel berpisah!!! Kau mengerti??!" Bisik Arsen dengan suara berat tepat di telinga Antony.
Setelah mengatakan hal itu, Arsen pun langsung pergi begitu saja dari ruangan Antony sembari mengusap ujung bibirnya yang juga berdarah. Sepanjang langkahnya menuju loby, tak sedikit pula pegawai dan staff yang bekerja di kantor Antony yang terus memandanginya dalam diam sembari terus berbisik-bisik.
__ADS_1
Karena tidak bisa di pungkiri, sudah banyak bahkan hampir seluruh warga kota yang cukup up to date dengan berita, sudah mengetahui berita tentang Rachel dan Antony. Jadi hal itu lah yang menyebabkan Arsen jadi pusat perhatian saat memasuki kantor utama One Light Corp.
...Bersambung......