Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 182


__ADS_3

Rachel pun bergegas beranjak dari ranjang dan langsung keluar dari kamarnya demi mencari keberadaan Arsen suaminya, namun sayang, ia tidak menemukan sosok Arsen dimana pun, bahkan ia sudah mencarinya di setiap suduh apartement.


Rachel pun seolah kembali di landa kesedihan, dengan langkahnya yang begitu lesu, ia pun mulai melangkah menuju balkon, lalu mulai termenung sembari memandangi suasana pagi yang saat itu masih terasa begitu sejuk.


"Apa dia sudah pergi? Sepagi ini?" Tanya Rachel dalam hati, sembari mulai memandang nanar pemandangan yang terpampang nyata di hadapannya.


"Oh ya ampun, aku ini benar-benar istri seperti apa sih? Aku bahkan membiarkannya pergi tanpa menyiapkan sarapan." Celetuk Rachel lagi yang mulai mengusap kasar wajahnya.


Rachel semakin di buat merasa frustasi saat memikirkan semua masalah yang ada, yang lagi-lagi masalah itu datang karena ulahnya sendiri.


"Dasar bodoh!! Dasar tidak tau diri!! Dasar istri tidak berguna!!" Rachel pun mulai menyumpahi dirinya sendiri saking merasa kesal dan begitu menyesali semua perbuatannya.


"Tapi, apa dia sungguh pergi ke kantor? Atau justru ia malah pergi meninggalkan aku begitu saja untuk selama-lamanya?" Gumam Rachel lagi yang nampak mulai cemas dan tak tenang.


Akhirnya, seolah tak ingin membuang banyak waktu lagi, Rachel pun mulai bergegas menuju kamar mandi, ia memutuskan untuk segera mandi dan berniat untuk masuk kerja hari itu demi memastikan Arsen berada di kantor atau tidak.


Tak terasa, jarum jam kini sudah menunjukkan pukul 08:15 menit, Rachel yang telah siap pun bergegas pergi menuju kantor utama Blue Light Group.


Hari ini Rachel memutuskan untuk membawa mobil sendiri, dengan kecepatan tinggi, ia mulai menebas jalanan yang hari itu terlihat cukup padat. Hanya memerlukan waktu 20 menit saja, kini Rachel akhirnya tiba tepat di depan loby utama kantor.


"Selamat pagi nona Rachel." Sapa petugas keamanan yang berjaga di depan pintu loby dengan sangat ramah.


"Selamat pagi pak." Rachel pun mulai memancarkan senyuman tipisnya.


"Oh ya pak, apa suamiku ada di dalam?" Tanya Rachel untuk memastikan.


"Oh iya benar nona, sejak pagi sekali tuan muda sudah tiba disini"


"Oh baik lah, terima kasih." Rachel pun kembali tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Rachel, saat itu terus berjalan dengan tenang melintasi loby yang cukup luas, namun ada hal yang terasa sedikit aneh dari para pegawai yang kala itu berpapasan dengannya.

__ADS_1


Mereka menyapa Rachel, namun dengan tatapan yang terlihat begitu jelas berbeda. Beberapa orang kedapatan pula seolah tengah berbisik-bisik sembari memandangi Rachel. Menyadari hal itu, membuat Rachel mulai mengerutkan dahinya karena merasa heran dan kebingungan.


"Ada apa dengan orang-orang ini? Kenapa menatapku dengan tatapan seperti itu?" Tanya Rachel dalam hati sembari mulai memandangi tubuhnya dari ujung kaki hingga harus meraba rambutnya demi memastikan tidak ada yang salah dengan penampilannya pagi itu.


Namun Rachel memilih untuk mengabaikannya, dan melanjutkan langkahnya. Tapi, nampaknya hal itu tidak berlangsung lama, karena sesaat setelah Rachel memasuki lift bersama beberapa staff yang lain, tak sengaja telinganya seperti mendengar jika beberapa staff itu seperti terus berbisik-bisik di belakangnya.


Merasa tak tahan lagi dengan rasa penasaran yang kian memuncak, akhirnya Rachel pun mulai menoleh ke arah mereka, menatap mereka dengan tatapan yang tak biasa.


"Ku perhatikan, sejak tadi kalian terus berbisik-bisik di belakangku, kenapa? Apa ada yang salah dengan penampilanku? Atau yang lainnya?" Tanya Rachel tegas.


Beberapa staff itu pun sontak langsung terlihat gelagapan dan begitu takut, membuat mereka dengan begitu kompak langsung menggelengkan kepala mereka dengan cepat.


"Ti,, tidak nona! Tidak ada, kami sungguh minta maaf nona." Ucap salah satu staff sembari terus menundukkan kepalanya di hadapan Rachel.


Rachel pun terdiam sejenak dengan sorot matanya yang mulai ia picingkan. Tapi sayangnya, belum sempat Rachel kembali berkata, pintu lift tiba-tiba saja terbuka, beberapa staff itu pun akhirnya bergegas pamit undur diri dari hadapan Rachel.


"Kami sudah sampai di lantai tujuan kami nona, kami permisi dulu." Ucap mereka yang kemudian langsung keluar dari lift dengan tergesa-gesa.


"Benar-benar aneh." Celetuk Rachel dalam hati.


Rachel pun dengan perlahan membuka pintu ruangannya, dengan pelan ia melangkah menuju mejanya, sembari langsung melirik ke arah ruang kerja Arsen yang berada di samping ruangannya.


Saat itu, Arsen nampak tengah duduk termenung sembari terus mengetuk-ngetukan penanya di atas meja. namun begitu melihat kehadiran Rachel di ruangannya, Arsen seolah terlihat begitu terkejut namun memilih untuk kembali bersikap biasa, seolah tidak melihat Rachel.


Mendapati sikap Arsen yang kembali dingin, membuat Rachel kembali semakin merasa bersalah dan terus menerus mengutuk dirinya sendiri dalam diamnya. Rachel pun mulai menduduki kursinya dengan lesu, beberapa kali yang melirik ke arah meja kerja Arsen, namun sepertinya, saat itu Arsen tak lagi memandang ke arahnya dan memilih fokus pada beberapa berkas yang ada di atas meja.


Rachel membuka laptopnya, lalu menerima email dari staff keuangan yang berisikan laporan keuangan per satu Minggu yang harus mendapat tanda tangan dari CEO yaitu Arsen.


Rachel pun segera mengeprint laporan itu, lalu bersigap menuju ruangan Arsen untuk meminta tanda tangan, dan berharap bisa sedikitnya berbicara dengannya.


Saat itu, Arsen hanya melirik singkat ke arah Rachel saat menyadari kedatangan Rachel ke ruangannya, dan kemudian kembali menatap fokus ke beberapa lembar kertas yang saat itu tengah ia pegang.

__ADS_1


"Sayang, ini aku membawa..."


"Panggil aku dengan sebutan formal!" Tegas Arsen yang langsung memotong ucapan Rachel bahkan tanpa melirik sedikit pun lagi ke arah Rachel.


Rachel terdiam sejenak, hatinya mendadak merasa terluka saat mendapat penegasan seperti itu dari suaminya, namun kembali lagi dengan masalah awal yang memang karena ulahnya sendiri, membuat Rachel tak bisa membela dirinya lagi,


"Tu,, tuan muda, ini saya membawa laporan keuangan Mingguan, yang harus mendapatkan tanda tangan dari anda." Ucap Rachel kemudian.


"Letakkan saja! Nanti aku akan memeriksanya terlebih dulu!" Tegas Arsen lagi yang nampaknya masih begitu enggan untuk menatap Rachel lagi,


Lagi-lagi Rachel harus terdiam menahan rasa sakitnya saat ia kembali di abaikan oleh suaminya.


"Baik lah." Ucap Rachel yang terdengar mulai melesu.


Rachel pun meletakkan map tebal berwarna hitam itu ke atas meja kerja Arsen, sembari terus memandangi Arsen, berharap saat itu setidaknya Arsen bisa menatapnya, namun itu hanyalah menjadi angan-angan belaka, karena nyatanya Arsen masih tak ingin melirik ke arah Rachel yang sudah membuatnya kecewa untuk kedua kalinya.


"Apa masih ada keperluan lain?" Tanya Arsen datar, dan masih tanpa menatap Rachel.


"Hah?! Eemm,,," Rachel pun akhirnya mulai merasa gugup serta bingung.


"Jika tidak, anda boleh pergi sekarang." Tambah Arsen lagi.


"Oh emm baik lah tuan muda, kalau begitu saya mau pergi ke pantry dulu, akan saya buatkan teh." Ucap Rachel yang bergegas ingin pergi.


"Tidak perlu! Sebelumnya sudah ada OB yang membuatkan kopi untukku!"


Rachel pun refleks melirik ke arah secangkir kopi yang memang sudah terletak di atas mejanya.


"Ouh, baik lah tuan muda, kalau begitu saya permisi." Ucap Rachel pelan dan akhirnya ia pun kembali ke ruangannya dengan langkah yang lagi-lagi jadi melesu.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2