Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 162


__ADS_3

Arsen telah sampai lebih dulu di kantor utama, kedatangannya pun sontak di sambut dengan begitu hangat oleh hampir seluruh staff yang saat itu berada di loby utama.


Dengan hanya memancarkan sebuah senyuman tipisnya, Arsen pun terus saja melangkah memasuki lift.


Begitu keluar dari lift, dengan tenang ia terus saja melangkah menuju ruang kerja pribadinya.


"Hah, Arsen, kau sudah masuk kantor? Apa aku tidak salah?!" Tanya Alex yang secara tak sengaja berselisih dengannya.


"Bagaimana kantor selama aku tidak ada, apakah aman?" Tanya Arsen datar sembari terus melangkah menuju ruang kerjanya.


"Haiyoo, semuanya aman terkendali tuan muda hehehe." Alex pun tersenyum dan terus mengikuti langkah Arsen.


"Uncle, tolong buka kembali lowongan pekerjaan, aku ingin mencari Sekretaris baru. Dan tolong pilih yang terbaik dari yang baik, kalau perlu kinerjanya harus lebih baik dari Bella." Tegas Arsen.


"Bella?"


"Oh, emm maksudku, Rachel, iya Rachel." Arsen pun akhirnya tiba di ruangannya dan langsung menduduki kursi singgasananya yang telah beberapa hari tak di sentuh olehnya.


"Tapi kenapa? Kenapa kamu ingin menggantikan istrimu dengan orang lain?"


"Tolong lakukan saja perintahku uncle!"


"Lalu bagaimana dengan Rachel?"


"Tolong keluarkan surat pemecatan untuknya, dan keluarkan juga pesangonnya sesuai prosedur kantor." Tegas Arsen datar.


"Astaga Arsen, ada apa denganmu? Kau tidak bisa membawa ranah pribadi ke urusan kantor Arsen Lim,"


"Kenapa tidak bisa? Di tatanan keluarga, mungkin aku hanyalah keponakan, tapi saat di kantor, ku harap uncle tidak lupa sebagai apa jabatanku disini. Jadi, tolong lakukan saja perintahku!" Tegas Arsen lagi dengan tatapannya yang begitu dingin.


Alex pun terdiam sejenak sembari menghela nafas panjang, hingga akhirnya tak ada yang bisa ia lakukan selain hanya patuh pada perintah atasan.


"Baiklah tuan muda." Ucap Alex sembari membungkukkan badannya lalu beranjak pergi begitu saja.


Tapi baru saja sebelah tangan Alex memegang handle pintu, tiba-tiba saja seseorang mendorongnya dari luar hingga membuat Alex seketika menjerit karena bibirnya yang tidak sengaja terkena pintu.


"Aaaghh!" Pekiknya sembari dengan spontan langsung memegangi bibirnya.

__ADS_1


"Astaga paman, maafkan aku paman, aku sungguh tidak tau." Tiba-tiba Rachel pun terlihat masuk ke dalam ruangan Arsen dengan membawa raut wajah merasa bersalahnya pada Alex.


"Huh, astaga, untung gigiku tidak patah." Keluh Alex yang sembari terus meringis memegangi mulutnya.


"Iya, iya maaf paman." Ungkap Rachel sembari menahan senyumannya.


Melihat kedatangan Rachel, membuat Arsen yang sejak awal terduduk dengan nyaman di kursi kerjanya, kini langsung seketika berdiri dan memandangi Rachel dengan tatapan yang tak biasa.


"Kamu, kenapa kamu tetap memaksakan datang kemari?"


"Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, aku akan tetap bekerja denganmu."


"Tapi kamu sudah di pecat!" Tegas Arsen.


"Hah, di pecat?!"


"Ya, aku baru saja memecatmu! Sebentar lagi surat pemecatanmu akan diberikan oleh uncle." Jawab Arsen datar sembari kembali memalingkan wajahnya,


Mendengar hal itu seketika membuat bibir Rachel kembali mengerucut dan mulai menatap Alex dengan tatapan lirih.


"Benarkah begitu paman?" Tanya Rachel begitu lirih.


"Tidak??" Tanya Rachel lagi yang mulai tersenyum.


"Tidak apanya? Aku yang memutuskan!" Tegas Arsen lagi.


Belum sempat Rachel dan Alex menjawab, tiba-tiba saja ponsel Rachel berdering, ia bergegas meraihnya dari dalam tas, melihat sebuah panggilan dari nomor asing, membuat dahi Rachel sedikit mengernyit hingga akhirnya ia pun mengangkatnya dengan sedikit ragu-ragu.


"Hallo."


"Nona Bella alias Rachel, saya asisten pribadi tuan muda Antony dari One Light Corp, ingin mengonfirmasi jadwal meeting untuk hari ini."


"Hah, jadwal meeting?" Tanya Rachel yang seketika jadi kelimpungan.


Ia pun bergegas menuju meja kerja Arsen, melewati Arsen begitu saja yang saat itu juga terlihat sedikit bingung memandanginya yang sedang menerima panggilan. Dengan cepat Rachel meraih sebuah map yang berisikan jadwal Arsen dalam satu Minggu.


"Ya, kami dengar tuan muda Arsen sudah kembali masuk kantor per hari ini. Itu menandakan jadwal meeting hari ini, yang telah di jadwalkan dari jauh hari, tidak perlu kita undur. Bukankah begitu?" Jelas Asisten pribadi Antony lagi.

__ADS_1


"Aaaa benar juga, memang ada jadwal meeting dengan Antony hari ini, aaaa bukankah ini kesempatan di balik kebetulan?" Gumam Rachel dalam hati sembari mulai tersenyum tipis.


"Oh iya benar, tidak ada alasan untuk menunda meetingnya karena tuan muda Arsen sudah kembali bekerja. Baiklah, kita bertemu di kantor utama Blue Light sejam lagi seperti yang di jadwalkan."


"Baik nona, terima kasih."


Panggilan telepon pun berakhir, Rachel dengan senyumannya kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Arsen memandangi tas Rachel yang nampak baru, namun sepertinya ia belum sadar sama sekali jika tas itu adalah tas yang sempat ia buang ke tong sampah.


"Apa yang terjadi?" Tanya Alex yang juga nampak bingung.


"Maaf tuan muda, sepertinya anda tidak bisa memecat saya dengan mudah." Rachel pun kembali menatap Arsen dengan senyumannya yang tak biasa.


"Kenapa?"


"Karena dalam waktu satu jam dari sekarang, kita harus mengadakan meeting bersama tuan muda Antony dari One Light Corp. Dan sayangnya, proyek itu sudah berjalan sesuai kontrak yang dimana aku turut menjadi salah satu penanggung jawabnya." Jelas Rachel yang akhirnya semakin melebarkan senyumannya.


Mata Arsen mendelik, ia bahkan tidak memikirkan hal sejauh itu, yang ada di dalam benaknya saat ini adalah bagaimana caranya agar Rachel tidak lagi menjadi Sekretarisnya agar ia tidak perlu lagi bertemu dengan Antony.


"Uncle, tolong atur ulang jadwal meetingnya!" Tegas Arsen.


Membuat Alex jadi semakin bingung memandangi Arsen dan Rachel secara bergantian.


"Tidak bisa, karena pihak One Light sudah menuju kesini." Jawab Rachel dengan tenang.


"Ka, kamuuu!!"


"Tolong bersikap profesional saja Arsen Lim, jika tidak bisa berlemah lembut padaku sebagai istri, maka bersikap baiklah sebagai seorang atasan yang bijaksana." Ketus Rachel yang kemudian langsung melangkah menuju ruangannya.


"Aku tidak bisa membuang banyak waktu hanya untuk berdebat, ada banyak berkas yang harus ku siapkan." Celetuk Rachel lagi sembari terus melangkah dengan tenang.


Arsen seketika dibuat terdiam seribu bahasa, menahan rasa kesal dan api cemburu yang belum apa-apa namun serasa seperti sudah mulai berkobar hanya karena mendengar Rachel menyebut nama Antony.


"Lelaki itu, kenapa aku harus bertemu dengannya bahkan di hari pertamaku kembali bekerja." Ketus Arsen dalam hati yang kembali menduduki kasar kursi kerjanya.


Sementara Rachel yang secara diam-diam memperhatikan gelagat suaminya, mulai kembali tersenyum tipis karena merasa begitu puas bisa membuatnya terdiam dan tak berkutik.


"Andai kamu tidak terburu-buru masuk kantor, mungkin hari ini kita tidak perlu bertemu dan berhadapan dengan Antony. Tapi bukankah kamu sudah memutuskan, maka siap-siap saja terbakar, terbakar api cemburu maksudku." Gumam Rachel lagi dalam hati.

__ADS_1


Rachel pun kembali bergegas menyiapkan segala berkas yang sekiranya di butuhkan dalam pertemuan mereka nanti. Sementara Arsen, tidak ada yang bisa ia lakukan saat itu selain hanya bisa pasrah menantikan kedatangan Antony yang kini telah menjadi rekan sekaligus rival baginya.


...Bersambung......


__ADS_2