
"Ke,, kenapa begitu?" Tanyanya lirih seperti ingin menangis.
"Memang seharusnya begitu, sudah cukup aku menyakitimu, belakangan ini aku terlalu banyak menyakitimu dari segi fisik maupun perasaan. Jadi aku tidak mau menyakitimu lagi."
"Ta,, tapi sampai berapa lama?"
"Tidak tau sampai kapan, yang jelas sampai kamu benar-benar sembuh,"
"Tapi, aku ingin membuatmu bahagia, aku tidak mau kamu menahannya hanya karena aku."
"Rachel Chou, tolong dengarkan aku! Bahagiaku saat ini adalah kamu. Memastikan kamu sehat, hidup nyaman, tidak kurang suatu apapun, itu adalah kebahagiaan untukku." Jelas Arsen yang kembali menatap Rachel dengan begitu dalam.
Namun nampaknya Rachel masih sulit menerimanya, karena dari sorot mata Arsen jelas terlihat jika ia pun sedang berusaha menahan sesuatu,
"Ta, tapii..."
"Sudah, ku mohon patuh lah untuk kali ini."
Akhirnya Rachel pun diam seribu bahasa, menerima dengan terpaksa keputusan yang telah dibuat oleh suaminya.
2 hari kemudian...
Dua hari berlalu dengan cepat, dalam dua hari itu pula, Rachel sama sekali tidak ada keluar rumah, ia bahkan tidak dibiarkan melakukan aktivitas apapun yang sekiranya akan membuatnya banyak bergerak dan kelelahan.
Selama dua hari, Arsen lah yang mengurus semua keperluan mereka di rumah, meski saat itu ia tidak melakukannya sendiri dan masih mengandalkan orang-orang suruhannya untuk mempermudah segalanya, tapi tetap saja, ia tidak membiarkan Rachel mengurus rumah.
Sikap Arsen semakin bertambah manis pada Rachel, ia merawatnya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang, setiap pagi dan malam ia pun membantu mengoleskan salap ke luka Rachel dengan sangat hati-hati. Rachel benar-benar diperlakukan bak seorang putri raja oleh suaminya itu. Rachel sungguh merasa bahagia, namun di satu sisi hatinya, ia juga merasakan sedih di waktu yang sama. Sedih, karena melihat Arsen yang harus sibuk sendirian, sedih karena tidak bisa memuaskan suaminya kala itu.
Malam pun tiba, setelah selesai memberi salap pada luka Rachel, Arsen pun meminta izin pada istrinya itu untuk bekerja sebentar di ruang kerjanya, tak ada yang bisa Rachel ungkapkan saat itu selain menyetujuinya.
Sebelum pergi, Arsen pun membantu membaringkan Rachel ke atas ranjang lalu menyelimutinya.
"Tidur ya," Ucap Arsen pelan.
Rachel hanya mengangguk lesu dan memilih patuh,
"Jika butuh sesuatu, telepon saja aku."
Untuk kedua kalinya Rachel pun kembali mengangguk.
hal itu membuat Arsen tersenyum dan kemudian mengecup singkat dahi Rachel.
"I love you." Ucapnya lagi sembari membelai lembut pipi Rachel.
Rachel pun ikut tersenyum tipis, lalu ikut mengusap tangan Arsen yang berada di pipinya dan menciumnya singkat.
"I love you more." Jawab Rachel.
Memastikan Rachal sudah merasa aman dan nyaman, Arsen pun akhirnya beranjak pergi menuju ruang kerjanya. Dua hari ini benar-benar hari yang begitu sibuk dan melelahkan bagi Arsen, hingga membuat performanya di kantor sedikit menurun, dan mau tak mau ia harus menebusnya dengan bekerja lembur di kantor.
Meski ia seorang CEO, namun itu tak serta merta membuatnya jadi lepas tangan terhadap perusahaan. Dia tetap ingin terlibat di beberapa pekerjaan, karena sejak awal, begitu lah Benzie Lim mendidiknya.
Kala itu, Rachel benar-benar tidak bisa tidur meski sudah membalikkan tubuhnya ke kanan dan kiri, ternyata itu pun masih belum cukup juga untuk membuatnya mengantuk.
"Haaaiss, aku sudah lelah mencobanya, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur." Keluh Rachel yang kembali terduduk di atas ranjangnya.
__ADS_1
Rachel pun melirik ke arah jam dinding, saat itu jam sudah menunjukkan pukul 22:40 malam. Rachel semakin gelisah di kamarnya, tubuhnya seakan terasa begitu gatal ingin keluar dan menghampiri Arsen.
"Hampiri, tidak, hampiri, tidak, hampiri." Gumamnya sembari menghitung dengan sebelah jari tangannya.
Dan ya, bukan Rachel namanya jika begitu patuh, ia secara hati-hati mulai beranjak bangkit dari tempat tidur, melangkah pelan menuju pintu. Namun baru saja tangannya menyentuh handle pintu, ia kembali berhenti dan menoleh ke arah lemari, lalu memandangi pakaian yang di pakainya kala itu.
"Kurasa dua hari sudah cukup untuk beristirahat." Celetuknya yang kemudian tersenyum dan langsung menuju lemari.
Ia memilih lingeri yang cukup terbuka, lalu memakainya dengan penuh percaya diri. Sesekali ia masih meringis saat bergerak terlalu cepat, namun hal itu nampaknya juga tidak bisa menghalanginya untuk melakukan apa yang ada di pikirannya kali ini.
Rachel tersenyum saat memandangi pantulan dirinya dari cermin, meraih sebotol parfum mahalnya dan menyemprotkannya ke hampir seluruh bagian tubuhnya. Memastikan semuanya sudah tidak ada masalah, Rachel akhirnya keluar dari kamarnya untuk menuju ruang kerja Arsen.
Rachel mengintip di sela-sela pintu yang sedikit terbuka, seperti yang dia lakukan saat pertama kali ingin merayu Arsen yang dulu masih marah.
Saat itu, Arsen terlihat sangat fokus pada berbagai berkas di tangannya, sesekali ia terlihat menguap dan jelas terlihat begitu lelah.
"Ya ampun suamiku, kasihan sekali kamu, kamu seperti kehilangan gairahmu dalam bekerja, itu tidak baik sayang.." Gumam Rachel dalam hati.
Rachel menghela nafas panjang, lalu kembali bergumam penuh keyakinan.
"Eem baiklah, biarkan aku membantumu untuk mengembalikan semangat dan gairahmu lagi. Ku yakin setelah ini kamu akan jadi lebih bersemangat" Rachel pun tersenyum, dan akhirnya mulai memberanikan diri mendorong pintunya dan masuk begitu saja.
"Sayanggg." Panggilnya dengan manja.
Arsen pun seketika menoleh ke arahnya, matanya sontak mulai dibuat membesar saat memandangi istrinya dari ujung kaki hingga rambut.
"Ke, kenapa dia harus berpakaian seperti itu lagi??" Gumam Arsen dalam hati.
"Ka,, kamu,, kenapa kamu kesini dengan berpakaian seperti itu?" Tanya Arsen yang nampak begitu tegang tanpa ingin menoleh ke arah Rachel lagi.
"Sejak tadi aku sudah mencoba untuk tidur, tapi tetap tidak berhasil, aku sungguh bosan sendiri di kamar." Jawab Rachel dengan nada manja sembari terus melangkah mendekati Arsen.
Menyadari Rachel yang semakin dekat dengannya, membuat wajah Arsen terlihat semakin tegang, hingga ia kembali menelan ludahnya. Rachel, tanpa ragu langsung saja meraih pundak Arsen dan seketika duduk di atas pangkuannya dengan begitu tenang.
"Beib, what are you doing?" Arsen pun terkejut saat memandangi Rachel yang terlihat begitu berani.
Rachel menatapnya begitu lekat dan terus membelai lembut rambut suaminya yang terlihat mulai memanjang.
"Kamu terlihat begitu lelah dalam dua hari ini, biarkan aku menghiburmu." Ucap Rachel dengan suara begitu pelan dan lembut.
"Tidak, tolong jangan! Kamu masih sakit." Arsen pun ingin bangkit, namun Rachel menahannya dan kembali membuat Arsen tersandar ke sandaran kursi.
"Sudah dua hari, aku pun merasa semakin pulih sekarang." Rachel secara perlahan, mulai menciumi leher Arsen.
Membuat Arsen semakin di landa ketidak tenangan di fisik maupun pikiran, membuat bulu kuduknya semakin berkidik,
"Beib, please stop!" Bisik Arsen dengan nafasnya yang mulai putus-putus akibat sentuhan maut dari Rachel.
Namun, saat itu Rachel sama sekali tidak bergeming, ia terus saja menciumi dengan lembut leher Arsen, lalu berpindah ke pipi sampai ke rahangnya. Hingga akhirnya, ciuman itu berakhir ke bibir Arsen, ia mulai melumattnya dengan sangat lembut, membuat Arsen terdiam sejenak tanpa membalas ciumannya.
Saat itu, Arsen sekuat hati masih berusaha menahan birahiinya yang sudah mulai kembali bergejolak, rayuan Rachel sungguh tak bisa di anggap remeh, itu terbukti, hanya dengan melihatnya berpakaian seksi saja gelora Arsen mulai kembali menggebu. Apalagi saat ini, saat Bibir Rachel mulai liar memainkan bibirnya, bahkan, Rachel mulai menggigit pelan bibir bagian bawahnya, membuat Arsen kian tak tahan dan akhirnya langsung menyambar bibir istrinya tanpa ragu.
Kini bibir mereka kembali bertautan satu sama lain dalam waktu yang cukup lama. Rachel yang merasa tak puas hanya sampai disitu, mulai membuka kimono tranparan yang sejak tadi masih menutupi sebagian tubuhnya.
__ADS_1
Menyadari hal itu, membuat Arsen seketika berhenti dari segala aktivitasnya dan langsung menahan tangan Rachel agar tidak melanjutkan untuk membuka pakaiannya.
"Jangan, jangan lakukan itu!" Bisik Arsen dengan nafasnya yang sedikit tersengal akibat ciuman yang cukup lama.
"Kenapa?" Tanya Rachel yang kembali tercengang saat mendengar ucapan Arsen.
"Aku tidak bisa melanjutkannya, maafkan aku, tapi aku sungguh tidak ingin memperparah sakitmu."
"Tapi, kita sudah...." Tapi nampaknya Rachel masih sulit menerima dan tetap ngeyel.
Membuat Arsen bergegas mengambil tindakan, Arsen menggendong Rachel begitu saja, lalu membawanya kembali ke kamar dan membaringkannya dengan hati-hati ke atas ranjang mereka yang empuk.
Arsen kembali menyelimuti tubuh Rachel yang cukup terbuka, dan mengusap kembali ujung kepalanya. Sementara Rachel, saat itu kembali terdiam dengan tatapan yang sendu memandangi wajah suaminya.
"Kamu sudah tidak tertarik padaku lagi, kan?" Tanya Rachel lirih.
Membuat Arsen mendengus, dan terkekeh lirih.
"Tidak tertarik apanya ha? Andai kamu tau jika sekarang kepalaku jadi sangat sakit karena menahannya."
Mendengar hal itu membuat Rachel spontan bangkit dan duduk berhadapan dengan Arsen.
"Kalau begitu, maka jangan menahannya lagi."
"Tidak, aku tetap pada keputusanku. Percaya lah, apapun keputusan yang ku ambil saat ini, ini murni demi kebaikanmu!"
Rachel mulai cemberut, ia kembali berbaring dan membelakangi Arsen karena kecewa pada keputusannya. Sementara Arsen, ikut diam memandanginya lirih.
"Tidak apa jika kamu marah, tapi aku akan tetap merawatmu hingga sembuh."
Rachel terus diam, dan memilih untuk tidak menggubris lagi ucapan Arsen. Ia pun memejamkan matanya, seolah benar-benar tidak ingin melihat Arsen lagi untuk saat itu.
Ke esokan harinya...
Rachel bangun dalam keadaan matahari yang sudah mulai terik. Matanya seketika mendelik, ia pun sontak bangkit dari tidurnya saat menatap ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 09:00 lagi.
Rachel bergegas keluar dari kamar, mencari keberadaan suaminya. Namun sama sekali tak menemukan sosok Arsen ada di manapun.
"Kemana dia? Apa dia sungguh sudah pergi ke kantor?" Tanya Rachel seorang diri yang nampak panik.
Rachel menuju ke meja bar, disana sudah terhidang beberapa potong sandwich dan susu. Lalu, tak sengaja melirik ke secarik kertas yang terletak di bawah gelas.
"Bonjour Ma Cherie, saat kamu membaca ini, kemungkinan aku sudah berada di kantor. Ini sarapan kubuat untukmu dengan penuh cinta, ayo dihabiskan. Aku ada meeting mendadak, akan segera kembali setelah selesai. Get well soon Ma Cherie, je t'aime."
Ma cherie disini adalah sebuah panggilan sayang seperti darling atau sayangku dalam bahasa Pranciss yang di peruntukan untuk pasangan perempuan.
Rachel pun tersenyum, dan menutup wajahnya dengan secarik kertas yang ia pegang.
"Aaaa, sejak kapan dia jadi begitu banyak tau kata-kata dalam bahasa Pranciss. Mon Cherie, kamu manis sekali." Gumam Rachel yang jadi tersipu malu.
Sama halnya dengan Ma Cherie, Mon Cherie juga memiliki arti yang sama, namun Mon Cheria di peruntukan untuk pasangan lelaki.
Rachel menghabiskan sarapannya dengan begitu lahapnya, hari ini ia merasa tubuhnya semakin fit dari sebelumnya. Ia pun memutuskan untuk datang ke kantor menyusul Arsen.
Setengah jam berlalu, kini Rachel terlihat sudah berpakaian rapi dan siap pergi. Tapi baru saja ia mau keluar dari kamarnya, bel pun berbunyi, membuat dahi Rachel mulai mengernyit sembari memandangi ke arah pintu.
__ADS_1
...Bersambung......