Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 123


__ADS_3

Antony yang sejak tadi menatap wajah Rachel dengan begitu serius, kini mendadak kembali tersenyum saat melihat ekspresi Rachel yang seolah terlihat jadi kikuk.


"Kenapa diam? Apa kamu merasa ucapanku ada benarnya?"


"Ak, aku..."


"Kenapa? Apa kamu masih berharap jika Arsen akan tetap mencintaimu seperti aku? Tapi kurasa tidak, karena mengingat Arsen lah orang yang paling menjadi korban atas kebohonganmu ini."


Lagi dan lagi, ucapan Antony kali ini pun membuat Rachel seolah tertampar.


"Sekarang katakan Rachel Chou, apa yang membuatmu melakukan ini? Kamu sengaja terbang jauh-jauh dari kota Paris, datang kesini hanya untuk menyamar menjadi bawahan Arsen Lim. Apa maksud dan tujuan mu melakukannya?" Antony pun kembali menatap Rachel dengan tatapan menyelidik.


Seperti berada dalam posisi tersudutkan, akhirnya Rachel mau tak mau menjelaskan semuanya pada Antony. Ia benar-benar menceritakan detail demi detail dari awal ia berjumpa dengan Arsen di Paris, hingga akhirnya ia jatuh hati dan menyusul Arsen kesini.


Setelah mendengar semuanya, mendadak raut wajah Antony berubah, raut wajah yang awalnya terlihat tetap tenang dan lugas, kini seolah berubah menjadi sendu.


"Apa, kamu sungguh mencintainya sedalam itu?" Tanya Antony dengan lirih.


Rachel pun mengangguk tegas. Membuat jiwa Antony seolah semakin di buat tercabik saat mendapat jawaban dari Rachel.


"Dan apa kamu yakin dia juga akan tetap menikahimu setelah dia tau kebohongan mu ini?"


"Entah lah, saat ini aku sedang mencari waktu yang tepat untuk mengakui semuanya. Jadi ku harap, kamu bisa menolongku agar tidak memberitahukan hal ini padanya." Jawab Rachel yang juga memasang raut wajah lirihnya saat menatap Antony.


"Aku mencintaimu, otomatis aku akan senang jika kamu dan Arsen batal menikah. Apa kamu masih yakin aku mau menolongmu dalam hal ini?"


"Masalah perasaanmu padaku, tentu aku tak dapat mencegahnya. Tapi yang aku yakini adalah, Antony Yue bukanlah seseorang yang egois, Antony yang ku kenal adalah orang yang baik dan peduli terhadapku." Rachel pun tersenyum lirih.


"Itu semua ku lakukan karena aku ingin mendapatkan hatimu. Melihat kamu dan Arsen akan segera menikah, tentu itu akan membuatku tidak senang."


"Lalu kamu mau melakukan apa setelah tau fakta ini? Apa kamu ingin memberitahukannya pada Arsen Lim?"


"Aku mau, kamu memilihku sebagai suami. Rachel Chou, menikah lah denganku. Aku adalah orang yang sudah jelas bisa menerimamu saat ini." Kali ini sorot mata Antony benar-benar terlihat begitu tulus saat mengungkapkan keinginannya.


Namun berbeda halnya dengan perasaan Rachel yang kembali di buat syok mendengar ungkapan tulus dari seorang Antony Yue.


"Aku sungguh minta maaf karena lagi-lagi harus membuatmu kecewa, tapi aku dan Arsen Lim adalah dua orang yang saling mencintai dan kami akan segera menikah, lebih tepatnya Minggu depan."


"Apa?! Mi, minggu depan?!" Mata Antony sontak di buat terbelalak.


"Emm" Rachel kembali menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Baiklah jika kamu sangat yakin dia mencintaimu, mari kita membuktikannya bersama."


"Ma, maksudmu?" Tanya Rachel yang tampak bingung.


"Kamu atau aku yang akan memberitahukan hal ini padanya? Aku ingin lihat, apa dia masih mau menikahimu atau justru berubah pikiran saat ia tau jika kamu adalah Rachel Chou, si pipi bakpao sesuai panggilan Arsen untukmu dimasa kecil."


"Tidak!!" Tegas Rachel yang dengan refleks langsung bangkit dari duduknya.


Hal itu membuat beberapa pasang mata kini tertuju padanya dengan tetapan heran. Rachel yang menyadari akan hal itu pun perlahan kembali duduk.


"Aku sendiri yang akan mengatakan hal ini pada Arsen Lim. Tapi ku mohon jangan paksa aku mengatakannya sekarang. Dengan kamu memaksakan perasaanmu begini, aku jadi semakin tidak simpati lagi padamu." Tegas Rachel lagi.


"Aku sama sekali sedang tidak memaksakan perasaanku, melainkan aku sedang memperjuangkan cintaku. Kamu tau, kamu adalah satu-satunya wanita yang aku ajak menikah, berbeda halnya dengan Arsen, sebelum kamu, dia begitu mencintai Laura dan berniat ingin menikahinya bukan? Hingga akhirnya ia dibuat kecewa dan kini berpaling padamu. Aku bisa yakin 1000% jika Arsen tau akan hal ini, maka ia akan menilaimu sama saja dengan Laura." Jelas Antony panjang lebar.


"Tidak, itu tidak mungkin. Jangan samakan aku dengannya! Aku dan Laura jelas berbeda, ku yakin Arsen bisa merasakan ketulusanku."


"Baiklah, mari buat kesepakatan. Ku beri waktu sampai H-1 sebelum hari pernikahan kalian, kamu sudah harus mengakui semuanya, jika tidak aku sendiri yang akan memberitahukan Arsen Lim. Dan kamu harus berjanji, jika dia tidak bisa menerima kebohonganmu dan membatalkan pernikahan, maka kamu harus membuka hatimu untukku. Bagaimana?"


Mendengar hal itu lagi-lagi membuat Rachel tertunduk dengan kebingungan yang ia rasakan. Ia pun masih terdiam seolah lidahnya mendadak terasa kelu.


"Bagaimana Rachel Chou? Tolong beri aku jawaban, karena waktu terus berjalan."


Rachel akhirnya menghela nafas panjang, ia menegakkan kembali pandangannya menatap Antony yang saat itu terlihat begitu tenang menatapnya.


"Are you sure?" Tanya Antony lagi seolah lebih ingin memastikan.


"Sure." Jawab Rachel singkat.


"Baik, aku akan menunggu sampai hari itu tiba, hari dimana kamu akan datang untuk memenuhi janjimu padaku." Antony pun kembali tersenyum.


Antony sungguh merasa jika kali ini ia masih memiliki kesempatan untuk merebut hati Rachel.


"Jika itu benar terjadi, kamu harus menepati janjimu, karena jika tidak..." Ucap Antony dengan suaranya yang semakin pelan serta tubuhnya yang semakin ia condongkan ke arah Rachel.


Hal itu sontak membuat Rachel semakin merasa tak nyaman.


"Ji, jika tidak apa??"


"Jika kamu berani tidak menepati janjimu, maka aku akan..." Antony pun terlihat semakin lekat menatap Rachel sembari semakin mendekatkan wajahnya.


Hingga akhirnya Rachel pun kian merasa risih dan langsung bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Kurasa diskusi kita sudah selesai, aku harus pulang." Tegas Rachel.


"Baiklah, kamu boleh pergi. Apa mau aku antar?" Antony pun akhirnya ikut berdiri.


"Tidak, tidak perlu! Aku bersama supir."


"Oh benar juga, Rachel Chou yang kaya raya tidak mungkin tidak memiliki supir pribadi." Ucap Antony lagi yang memancarkan senyuman yang dibalut oleh sikapnya yang terlihat tenang.


"Ok, aku juga mau pergi sekarang." Antony pun mulai melangkah.


"Dan ingat, aku akan mengejar dan mencarimu meski sampai ke pelosok dunia jika kamu berani ingkar." Bisik Antony saat dirinya tepat berada di sisi Rachel.


Kemudian setelahnya, ia pun langsung beranjak pergi begitu saja. Meninggalkan Rachel seorang diri, saat itu Rachel terlihat masih diam terpaku, tubuhnya pun terlihat sedikit gemetar dengan tangannya yang tanpa ia sadari terus *******-***** dress yang ia kenakan.


"Benar-benar mengerikan, ternyata ucapan Arsen benar, jika kebaikan Antony selama ini padaku memiliki maksud lain selain pertemanan." Gumam Rachel seorang diri.


Rachel pun akhirnya pergi, dengan lesu ia pun terus berjalan menuju tempat dimana mobilnya terparkir.


"Jalan pak." Ucapnya pada sang supir.


"Baik nona."


Pikiran Rachel kali ini benar-benar kalut, dalam hati, ingin sekali rasanya ia mengungkapkan jati dirinya pada Arsen, tapi di sisi lain, ia begitu takut, ia sangat tak siap jika Arsen marah bahkan kecewa, apalagi jika harus membatalkan pernikahan mereka.


"Pak, tidak perlu mengantarku ke apartement, karena malam ini aku mau pulang ke rumah oma dan opa."


"Baik nona."


Mobil sedan mewah yang membawa Rachel pun melesat dengan cepat menuju kediaman Mr. Liong. Hanya butuh waktu 10 menit saja, kini mobil yang di tumpangi Rachel telah berhasil membawanya hingga di depan loby.


Rachel dengan langkah lesu terus saja memasuki rumah megah itu tanpa permisi. Saat itu kebetulan opa dan omanya sedang menyantap makanan penutup di ruang keluarga.


"Oh ya ampun, Rachel cucuku." Ujar Mr. Liong dengan wajahnya yang seketika jadi begitu berbinar.


"Opa." Rachel pun tersenyum tipis dan langsung memeluk opanya.


"Sayang, wajahmu terlihat lusuh. Ada apa?" Tanya Mr. Liong sembari mengusap-usap ujung kepala cucunya.


"Bagaimana tidak lusuh, cucumu ini telah menciptakan masalah untuk dirinya sendiri." Jawab oma Rachel.


Rachel pun langsung tertegak sembari menatap wajah sang nenek dengan raut wajah tegang.

__ADS_1


"Ba, bagaimana oma tau?"


Bersambung...


__ADS_2