
Waktu satu jam tidak terasa sudah berlalu, Rachel pun kembali datang ke ruangan Arsen untuk mengajaknya ke ruang meeting bersama.
Tanpa berkata apapun, Arsen pun langsung bangkit dari duduknya dan beranjak pergi begitu saja tanpa aba-aba.
Rachel hanya bisa memandanginya dengan bibirnya yang kembali mengerucut.
"Lihat saja nanti." Celetuk Rachel yang akhirnya menyusul langkah Arsen dengan memancarkan kembali senyuman tipisnya.
Ruang meeting nampaknya masih begitu lengang, hanya ada beberapa pegawai kebersihan, salah satunya kala itu terlihat sedang membersihkan meja kaca yang berbentuk persegi panjang yang ukurannya cukup besar itu, satunya lagi terlihat sedang meletakkan gelas yang sudah di isi oleh air mineral di hadapan setiap kursi,
"Ruangan meeting masih nampak kosong, kenapa aku harus kesini lebih awal?"
"Dalam waktu tidak sampai lima menit lagi, tuan muda Antony beserta yang lain akan tiba di ruangan ini." Jelas Rachel dengan tenang sembari meletakkan sebuah laptop di meja.
"Tidak bisakah kamu mengajakku kesini saat mereka sudah datang saja?!." Ujar Arsen sembari menduduki kasar kursinya.
"Sebagai tuan rumah yang baik dan bijaksana, alangkah lebih bagus jika kita lah yang menunggu kedatangan tamu agar bisa segera menyambutnya. Bukan begitu tuan muda?" Rachel pun menatap Arsen dengan senyuman yang tak biasa.
Membuat Arsen, lagi dan lagi, jadi tak bisa berkutik apalagi menjawab, yang ia bisa lakukan saat itu hanyalah mendengus kesal dan kembali terdiam seribu bahasa.
Rachel kembali melirik ke arah jam tangan barunya, saat itu jam terlihat sudah menunjukkan pukul 10:00 pagi. Rachel pun kembali melirik ke arah Arsen yang saat itu terlihat begitu resah dan gelisah serta wajahnya yang terlihat begitu ketat.
"Dia sama sekali tidak bereaksi saat melihatku memakai tas dan jam tangan pemberian Antony, Apa dia sungguh sudah tidak peduli, atau sungguh lupa dengan benda-benda ini?" Gumam Rachel dalam hati yang mulai merasa gusar.
Tak lama, yang di nantikan pun hadir, Antony dan beberapa bawahannya nampak memasuki ruang meeting dengan di dampingi oleh Alex yang sudah menyambut mereka dari loby utama.
"Selamat pagi." Sapa Antony dengan sangat ramah.
Rachel yang melihat kedatangan Antony pun langsung berdiri tegak dan membungkuk sejenak.
"Selamat pagi tuan muda." Sapanya secara formal.
Begitu pula dengan Arsen, dengan sangat tak bersemangat, ia pun kembali bangkit dari duduknya dan menatap Antony dengan raut wajah datar.
"Hai tuan muda Arsen Lim, senang bisa melihat anda kembali dalam waktu yang cukup singkat." Antony pun menjulurkan tangannya dan kembali tersenyum tipis seperti biasa.
"Ya, selamat datang di kantor utama tuan muda Antony Yue." Jawab Arsen yang memancarkan senyuman keterpaksaan sembari membalas jabatan tangan Antony.
__ADS_1
"Jika di lihat dari raut wajah anda, sepertinya sangat tidak fresh, tidak seperti biasanya. Apa menjadi pengantin baru dan menjalani hidup berumah tangga memang semelelahkan itu tuan muda?" Sindir Antony dengan sikapnya yang begitu tenang.
Dan lagi-lagi, hal itu pun berhasil memicu rasa kesal Arsen hingga membuatnya seketika mendengus dan tersenyum sinis.
"Apa saat ini anda mulai tidak tertarik lagi di dunia bisnis dan beralih profesi menjadi sukarelawan yang bersedia mengurusi rumah tangga orang lain?" Ketus Arsen.
Membuat Antony hanya semakin melebarkan senyumannya dan memilih bungkam. Rachel yang melihat hal itu bergegas menyudahi perang dingin mereka dengan cara hadir di tengah-tengah mereka untuk ikut menyapa Antony.
"Hai tuan muda, apa kabar? Senang bertemu anda kembali." Rachel dengan ramah langsung menjulurkan tangannya ke arah Antony demi mengalihkan percakapan mereka yang terkesan saling sindir.
"Oh hai nona Rachel, tentu saja kabarku baik seperti yang kamu lihat saat ini." Menatap Rachel, senyuman Antony semakin terlihat berkembang dan matanya juga langsung terlihat berbinar.
"Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kamu baik-baik saja setelah...." Antony kembali melirik singkat ke arah Arsen.
"Ahh, tentu saya juga baik, seperti yang anda lihat saat ini." Jawab Rachel yang juga semakin mengembangkan senyumannya.
Melihat hal itu, membuat Arsen mulai memicingkan matanya.
"Berani-beraninya dia menatap istriku dengan tatapan seperti itu!" Geram Arsen dalam hati dengan tangannya yang mulai mengepal.
Rachel yang melirik sejenak ke arah Arsen, langsung menyadari jika saat itu Arsen terlihat begitu kesal menyaksikan perbincangan ringan yang terjadi antara Rachel dan Antony.
"Ah baiklah, tidak perlu membuang waktu lagi, ayo silahkan duduk." Rachel pun mempersilahkan para tamu untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan.
Begitu pula dengannya yang bersigap untuk duduk di samping Antony, namun Arsen dengan cepat menarik tangannya.
"Kamu mau kemana?" Bisik Arsen ketus.
"Aku? Ya tentu saja aku harus duduk di samping klien agar lebih mudah untuk menyampaikan materi." Jawab Rachel dengan tenang.
"Tidak perlu, kamu duduk disini! Biar uncle yang duduk disana!" Bisiknya lagi sembari melirik ke arah kursi yang ada di samping kursinya.
"Ta,, tapi..."
"Duduk!" Mata Arsen pun semakin melotot menatap istrinya.
Membuat Rachel seketika memutarkan kedua bola matanya dan akhirnya patuh, namun di balik itu, Rachel rasanya ingin kembali tersenyum lebar, namun hal itu tidak ia lakukan dan terus berusaha untuk ia tahan.
__ADS_1
Alex yang tak sengaja mendengar hal itu pun hanya tersenyum dan mulai menggeleng-gelengkan kepalanya. Tanpa di perintah, ia pun langsung saja menduduki kursi tempat dimana Rachel seharusnya duduk.
"Baiklah, meeting kita mulai." Tegas Arsen yang akhirnya kembali duduk.
Meeting pun berjalan dengan sebagai mana mestinya, sama sekali tidak ada kendala atau pun berdebatan yang berarti. Antony nampaknya begitu menikmati segala bentuk materi yang di sampaikan oleh Rachel yang memang memiliki public speaking yang sangat baik. Sorot matanya seolah tak ingin ia alihkan kemana pun saat Rachel berbicara di hadapannya, di tambah dengan senyuman simpul yang selalu terpancar nyata setiap kali melihat Rachel tersenyum.
"Kenapa aku jadi sekacau ini, masih saja berharap pada wanita yang sudah jelas menjadi milik orang lain." Celetuk Antony dalam hati yang mendengus dan kembali tersenyum.
Kala itu, Arsen pun seolah tak lepas memperhatikan gerak gerik Antony, tatapan matanya saat menatap Rachel, masih saja sama seperti dulu, sebelum Rachel resmi menikah dengannya. Hal itu semakin membuat Arsen kesal, namun kala itu ia tak dapat berbuat apapun selain hanya bisa memandanginya dengan tatapan dingin.
Menyita waktu lebih kurang dua jam lamanya, akhirnya meeting pun dinyatakan selesai, dengan kesepakatan bahwa kedua CEO dengan didampingi para asisten akan meninjau proyek yang sedang berjalan di lokasi yang telah di tentukan.
"Jadi sampai disini meeting kita untuk hari ini, sampai bertemu kembali di peninjauan proyek dua hari lagi, terima kasih," tutup Rachel dengan senyuma ramahnya.
Beberapa staff yang ikut terlibat dalam meeting pun mulai pamit lebih dulu untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Antony dengan tenang akhirnya kembali bangkit dari duduknya.
"Terima kasih tuan muda, sampai bertemu besok lusa." Antony tersenyum dan kembali mengulurkan tangannya.
"Emm ya." Mereka pun kembali berjabat tangan.
"Dan kamu, terima kasih untuk presentasi yang luar biasa. you look so great." Puji Antony saat berjabat dengan dengan Rachel.
"Ah terima kasih pujiannya, tapi sepertinya itu terdengar berlebihan tuan muda." Rachel pun ikut tersenyum dan tersipu malu.
"Oh no, big no! Bahkan jika ada kata yang lebih dari itu, maka akan aku ucapkan untukmu hari ini. Sama sekali tidak berlebihan,"
"Haaiss, dua orang ini benae-benar sangat merusak moodku hari ini. Dan wanita ini, kenapa hari ini dia terlihat sangat centil di hadapan Antony." Ketus Arsen dalam hati sembari menatap tajam ke arah Rachel yang kala itu sedang tersenyum pada Antony.
"Eehem." Arsen pun berdehem, seolah memberi kode pada mereka berdua untuk segera melepaskan jabatan tangan mereka.
Namun baru saja ingin melepaskan tautan tangannya, mata Antony tak sengaja melirik ke arah jam tangan yang di kenakan oleh Rachel.
"Wah, bertambah lagi satu kepuasanku, yaitu saat melihatmu memakai hadiah pemberian dariku." Antony pun mengangkat tangan Rachel dan memandangi kembali jam tangan yang melingkar di tangan Rachel.
"Apa kamu suka?" Tanyanya lagi sembari kembali menatap Rachel.
__ADS_1
Mendengar hal itu, mata Arsen seketika membulat sempurna dan langsung menyorot tajam ke arah pergelangan tangan Rachel. Seketika aksinya membuang seluruh hadiah pemberian Antony ke tempat sampah kembali terbayang, di tambah ucapan Rachel yang menyatakan jika seluruh sampah sudah di buang oleh pegawai kebersihan juga ikut terlintas di ingatannya.
...Bersambung......