
Arsen masih saja diam memandangi Rachel yang terus melangkah sembari mulai mengikat rambutnya, hal itu membuat leher serta tengkuk Rachel yang mulus begitu jelas terlihat. Dan lagi, berhasil membuat Arsen kembali menelan ludahnya sendiri, tak ingin semakin larut, akhirnya Arsen pun hanya mendengus dan melanjutkan langkahnya menuju kamar.
Sesampai di kamar, Arsen duduk dengan gelisah di tepi ranjang, berkali-kali ia harus mengusap kasar wajahnya sendiri karena Rachel telah kembali berhasil membuat gairahnya sebagai lelaki normal kembali bergejolak.
"Haaiish, kalau sudah begini selera makanku seketika berubah. Bukan lagi ingin memakan makanan sungguhan, melainkan dia lah yang begitu ingin ku makan." Gumam Arsen yang akhirnya kembali menghela nafas kasar.
Lima menit berlalu, Arsen pun akhirnya keluar dari kamar dengan sudah berganti baju jadi lebih santai. Ia memilih duduk di sofa yang ada di ruang tengah, yang kebetulan sofa itu tepat menghadap ke meja bar tempat dimana Rachel sedang sibuk menyiapkan makanan untuknya.
"Apa sudah selesai?" Tanya Arsen datar.
"Bukankah ku bilang sepuluh menit." Jawab Rachel yang terlihat masih begitu sibuk berkutat dengan bahan-bahan masakan yang ada di hadapannya.
Arsen pun memilih bungkam, kedua matanya kini mulai memandangi Rachel yang kala itu terlihat begitu terampil dalam menggunakan berbagai alat masak. Tanpa Rachel sadari, seutas senyuman tipis kembali muncul, perasaan bangga pun tak luput di rasakan oleh Arsen saat mengetahui istrinya bisa memasak dengan sangat tenang dan tertata.
"Sulit untuk di percaya rasanya, saat mengetahui seseorang yang dulunya begitu manja bak princess, kini telah tumbuh menjadi wanita yang sangat mandiri." Gumam Arsen dalam hati sembari terus menampilkan senyuman tipisnya saat memandangi istrinya.
Namun ternyata lamunan itu tak berlangsung lama, saat Rachel yang tiba-tiba saja melirik ke arahnya, dan mendapatinya yang kala itu terus memandangi Rachel.
"Apa kamu sedang terpukau sekarang, hingga terus memandangiku seperti itu?" Tanya Rachel yang ikut tersenyum.
Pertanyaan itu seketika membuat Arsen tersentak, dengan cepat ia segera memalingkan pandangannya ke sembarang arah.
"Ti,, tidak!" Tegas Arsen yang jadi gelagapan.
Rachel pun terkekeh geli karena begitu tau jika Arsen berkata bohong.
"Lalu apa yang kamu lihat?"
"Emmm aku,,," Arsen terus berfikir untuk mencari alasan yang pas.
Perlahan dia pun mulai bangkit dari sofa, lalu beranjak menuju meja bar.
"Aku hanya sedang memandangi peralatan masakmu yang baru dan segala isi dapur ini, haaissh, sepertinya iyuran bulan depan akan sangat membengkak." Arsen pun akhirnya duduk di kursi yang berhadapan dengan Rachel.
"Haais, bukankah untuk ukuran seorang CEO BLue Light itu terkesan perhitungan." Rachel pun mulai menaikkan sebelah bibirnya dan mulai memicingkan matanya.
Namun Arsen hanya mendengus dan tersenyum sinis, karena jelas sebenarnya bukan itu yang ada dalam benaknya. Sementara Rachel juga ikut diam dan memilih untuk melanjutkan kegiatan memasaknya.
Arsen kembali memandanginya sembari mulai duduk bertopang dagu, memandangi Rachel dari jarak yang lebih dekat nyatanya lebih bisa membuat jiwanya menghangat.
__ADS_1
"Seingatku dulu kamu begitu manja, benar-benar seperti tuan putri yang segalanya selalu di layani dengan baik oleh para pelayan." Ucap Arsen dengan suara pelan.
"Lalu?" Tanya Rachel dengan tenang.
"Lalu kenapa sekarang kamu berubah menjadi wanita yang terlihat seolah-olah handal dalam segala hal? Apa ini sungguhan Rachel yang sesungguhnya, atau hanya manupulasi lagi?" Tanya Arsen lagi.
Pertanyaan Arsen membuat Rachel seketika tersenyum dan mendengus, ia pun menghela nafas singkat dan mulai menatap Arsen dengan tatapan begitu lekat.
"Apa yang kamu lihat sekarang, inilah aku yang sebenarnya. Zaman sudah berubah, musim pun terus berganti, begitu pula dengan orang-orangnya. Manusia bisa berubah seiring dengan waktu, dan aku adalah salah satu contoh manusia yang tidak ingin hidupku hanya jalan di tempat, tidak ingin hidupku hanya terus menerus seperti sebelumnya, karena itu akan sangat membosankan." Jelas Rachel yang kembali tersenyum sendu.
Lalu ia pun memutuskan untuk lanjut memasak karena waktunya sudah mepet.
"Dan satu lagi." Tambah Rachel yang kembali menatap Arsen.
Membuat sebelah alis mata Arsen mulai naik.
"Rachel yang sekarang bukan lah Rachel yang dulu, Rachel yang sekarang tentu lebih manis, lebih langsing, serta lebih mandiri." Rachel kembali tersenyum begitu percaya dirinya.
Membuat Arsen yang mendengarnya kembali mendengus kesal.
"Hei kenapa? Bukankah ucapanku benar?"
"Itu terdengar berlebihan." Sanggah Arsen
"Bukankah begitu sayang? Correct me if I wrong." Tambahnya lagi.
Arsen pun jadi terdiam sejenak, lalu ia langsung mengalihkan pembicaraan agar tidak terlihat mulai luluh di hadapan Rachel.
"Hei, kalau kamu bicara terus, waktu sejam juga tidak akan selesai memasaknya." Ketus Arsen.
Membuat bibir Rachel mulai ia manyunkan.
"Siapa suruh mengajakku mengobrol lebih dulu." Jawab Rachel yang tidak mau kalah.
Beberapa menit berlalu, kini Rachel dengan bangga mulai menghidangkan apa yang ia masak untuk Arsen. Ada dua macam menu yang bisa ia masak siang itu, yaitu omelet pedas manis dan spaghetti bolognese. Arsen terdiam memandangi makanan yang dirasanya cukup sederhana yang benar-benar jarang bahkan hampir tidak pernah ia makan.
"Yeay makanan sudah siap." Rachel terlihat begitu antusias dalam menghidangkan masakannya di hadapan Arsen.
"Apa begini saja?" Tanya Arsen yang masih memandangi makanan itu.
"Ya mau bagaimana lagi, memangnya masakan apa yang kamu harapkan jika hanya dalam waktu sepuluh menit ha?"
"Kenapa menyalahkan aku? Bukankah kamu sendiri yang memintamu untuk memberi waktu sepuluh menit?"
__ADS_1
"Ya mau bagaimana lagi, aku takut jika memintamu menunggu lebih lama lagi, kamu justru akan pergi Lagi." Jawab Rachel yang kali ini menatap Arsen dengan tatapan sendu.
"Bahkan aku akan memberikan seluruh waktuku jika kamu minta." Ucap Arsen dengan suara begitu pelan.
"Apa?" Tanya Rachel yang tidak dengar ucapan Arsen.
"Apa?" Tanya Arsen balik bertanya.
"Tadi,, tadi kamu bilang apa?"
"Ah tidak, lupakan! Aku sudah sangat lapar, apa ini sudah bisa di makan?"
"Ya, makan lah, mumpung masih panas." Rachel pun tersenyum dan dengan semangat ia juga ikut duduk di samping Arsen.
Arsen mulai memakan makanan pertama yang di masakkan oleh Rachel sebagai istri, meski makanan yang sederhana, ternyata sudah cukup membuat Arsen menikmati setiap suapan dan kunyahannya.
"Bagaimana rasa?" Tanya Rachel yang terus memandangi Arsen dengan senyuman.
"Not bad." Jawab Arsen singkat dan terus mengunyah makanannya.
"Haiyo, tidak bisakah kamu mengucapkan kata lain selain kata menyebalkan itu ha?"
"Emm lumayan." Jawab Arsen lagi.
"Haaish, bukankah itu sama saja." Gerutu Rachel.
"Bagaimana denganmu? Kenapa tidak makan? Apa mulai bosan hidup?" Tanya Arsen dengan tenang.
"Emm aku masih kenyang, tadi saat ke mall aku sudah makan cukup banyak."
"Oh begitu rupanya." Arsen pun memilih untuk melanjutkan makan.
"Maaf jika makanan siang itu tidak sesuai ekspektasimu, tapi aku janji, nanti malam aku akan masak makanan yang lebih special untukmu. Ya?"
"Emm." Jawab Arsen datar.
Malam hari...
hari yang cerah kini perlahan mulai gelap, lampu-lampu mulai di nyalakan di berbagai ruangan. Rachel, seharian malah di pusingkan dalam pencarian menu masakan yang istimewa melalui ponsel pintarnya dan mulai mempelajarinya demi bisa menghidangkan hidangan yang sempurna untuk Arsen.
Sedangkan Arsen, seharian hanya memilih berada di ruangan kerjanya demi menghindari hasrattnya yang selalu saja mulai bergejolak jika terus menerus di goda oleh Rachel.
...Bersambung......
__ADS_1