
Kini Yuna tiba di depan pintu unit yang bertuliskan angka 0404, dengan sedikit ragu-ragu, akhirnya ia pun mulai menekan tombol bell yang ada di sudut kanan pintu.
*Ting tong*
Suara bel pun terdengar menggema di dalam ruangan apartement itu. Arsen, saat itu ia tengah duduk seorang diri, ia duduk berselonjor di lantai sembari bersandar lesu di kaki tempat tidurnya. Matanya sendu dan sangat sayu, karena sejak beberapa hari belakangan ini, Arsen tidak memiliki kualitas tidur yang baik bahkan sangat kurang tidur hingga membuat kantung matanya mulai terlihat jelas.
Beberapa kali bel berbunyi yang awalnya sama sekali tidak di gubrisnya, hingga entah sudah berapa kali bel itu berbunyi, akhirnya membuat Arsen perlahan mulai bangkit dari duduknya. Dengan langkah tak bersemangat, ia pun mulai berjalan pelan keluar dari kamarnya. Di ruang bagian tengah, ada sebuah monitor yang dapat menampilkan siapa saja orang yang berada di depan pintu.
Arsen pun berdiri tegak di hadapan monitor yang kala itu sedang menampilkan jelas sosok yang begitu ia kenal, yaitu Yuna yang tak lain ialah ibunya sendiri.
"Arsen, mama tau kamu di dalam, mama tau saat ini kamu sedang melihat mama dari dalam sana, jadi tolong buka pintunya nak." Ucap Yuna yang sengaja berbicara seorang diri di depan camera pengawas.
Arsen pun saat itu hanya diam mematung.
"Baiklah jika kamu tidak mau membuka pintunya, maka mama akan menunggu disini sampai kamu mau membuka pintu dan menemui mama." Ucap Yuna lagi.
"Apapun yang terjadi, mama ada disini untuk mendengarkan segala keluh kesahmu nak. Mama disini." Tambahnya lagi dengan wajah yang terlihat begitu sendu.
Mendengar ungkapan yang terdengar begitu tulus, entah kenapa membuat hati Arsen mendadak jadi tersentuh oleh kata-kata ibunya itu. Arsen pun akhirnya melirik ke arah pintu, dimana di balik pintu itu, sudah ada Yuna yang berdiri mengharapkannya untuk membuka pintu. Akhirnya, perlahan tapi pasti, Arsen pun mulai kembali melangkah, ia melangkah mendekati pintu itu, memandanginya sejenak sebelum akhirnya ia benar-benar memegang handle pintu dan membukanya.
Menyadari pintu apartement Arsen yang akhirnya terbuka, membuat Yuna bergegas menghampiri Arsen yang sudah berdiri lesu di depan pintu.
"Arsen Lim, anakku." Ucap Yuna sembari memegang kedua lengan Arsen.
__ADS_1
Saat itu Arsen hanya diam sembari terus memandangi wajah Yuna dengan mata sayunya.
"Astaga Arsen, ada apa denganmu nak? Apa kamu sakit sayang? Kenapa kamu jadi terlihat begitu kacau begini sayang?" Tanya Yuna yang mulai meneteskan air matanya saat melihat penampilan putranya yang biasanya terlihat begitu fresh dan rapi, kini berubah menjadi begitu berantakan dan terlihat sangat kacau. Bahkan Arsen pun terlihat jauh lebih kurus dari sebelumnya.
"Untuk apa mama kemari? Bukankah aku sudah mengatakan ingin sendiri?" Tanya Arsen dengan suara begitu pelan dan terdengar seolah sangat lesu.
"Mama tidak bisa diam saja saat kamu tidak ada kabar dalam beberapa hari sayang. Sekarang katakan, apa kamu sakit? Apa kamu sudah makan nak? Ha?? Ayo jawablah, jangan membuat mama semakin cemas begini."
"Aku baik-baik saja ma." Jawab Arsen yang akhirnya kembali melangkah pelan menuju sofa yang ada di ruang tamu.
Meski tanpa disuruh, akhirnya Yuna pun ikut masuk begitu saja ke dalam apartement anaknya itu. Namun ada hal yang begitu membuat Yuna cukup terkejut saat baru saja memasuki tempat tinggal Arsen, yaitu suasana apartementnya yang tak lagi mirip seperti sebuah tempat tinggal. Bahkan bagian ruang tamunya saja sudah terlihat begitu berantakan dan terkesan jadi terlihat kumuh, mengingat ada banyak botol minuman yang terletak di sembarang tempat, bahkan ada beberapa pecahan gelas wine yang berserakan di lantai, dan beberapa tumpahan wine yang cukup menyengat baunya.
Yuna pun terdiam, dalam hatinya ia begitu syok melihat penampakan seisi rumah putranya itu.
"Ada apa ma? Apa mama mulai merasa tidak nyaman berada disini? Jika benar begitu, maka mama boleh pergi sekarang juga, dan beristirahat lah yang baik di rumah." Ucap Arsen sembari tersenyum lirih.
"Arsen, mama yakin kamu sedang tidak baik-baik saja!" Ucap Yuna yang terdengar semakin lirih sembari mulai duduk di sisi Arsen.
"Berhenti menutupi perasaanmu yang sedang rapuh itu dari mama. Biar bagaimana pun juga, mama adalah orang tuamu, kita pernah menyatu dalam satu tubuh yang sama selama sembilan bulan, jadi tolong jangan menganggap mama seperti orang asing." Tambahnya lagi.
Arsen pun akhirnya kembali menatap Yuna dengan tatapan begitu sendu.
"Apa yang harus kuperbuat ma? Dia pergi meninggalkan aku, aku yang sebenarnya aku sangat butuh dia, aku butuh dia untuk meyakinkan aku jika dia memang benar tidak selingkuh. Aku butuh dia tetap di sisiku meski saat aku dalam keadaan marah. Aku butuh dia saat aku sedang dalam masalah seperti ini. Tapi apa yang dia lakukan, dia justru pergi meninggalkan aku sendiri dengan masalah yang telah dia ciptakan sendiri. Apa itu pantas dia lakukan padaku maa?" ungkap Arsen yang juga mulai meneteskan air matanya.
__ADS_1
Yuna pun semakin menangis, lalu ia menarik Arsen putranya untuk masuk ke dalam dekapannya.
"Iya nak, tumpahkan saja semua perasaanmu pada mama, apapun yang menjadi keluh kesahmu saat ini, tumpahkan saja semuanya nak, mama akan dengarkan." Jawab Yuna sembari terus menangis dan memeluk erat putranya yang memang terlihat begitu rapuh.
"Apa yang salah padaku ma? Apa aku kurang baik menjadi seorang suami? Apa lagi yang kurang dariku? Kenapa dia begitu kejam padaku?" Ungkap Arsen dengan tangisannya yang mulai pecah.
Semenjak Arsen beranjak dewasa, ini adalah pertama kalinya Arsen kembali menangis tersedu-sedu di dalam dekapan Yuna. Hal ini menandakan jika saat ini Arsen benar-benar merasakan sakit hati yang benar-benar luar biasa sakitnya.
"Dengar nak, di dalam rumah tangga, akan selalu ada saja masalah yang akan kalian hadapi, baik malasah besar maupun kecil. Sekarang yang ingin mama tau, bagaimana perasaanmu saat ini kepada istrimu Rachel?"
"Perasaanku??"
"Iya, apa yang saat ini kamu rasakan terhadapnya?"
"Aku,,, jelas saja aku masih begitu mencintainya ma, meski apapun yang telah dia lakukan di belakangku, baik itu benar atau pun salah, tetap perasaanku tidak bisa hilang begitu saja."
"Eeemmm jika memang begitu, sebagai orang tuamu, boleh mama memberimu saran?"
Arsen pun mengangguk pelan.
"Saran mama sebagai orang tuamu, juga sebagai orang yang sudah berpuluh tahun terikat dalam pernikahan, jika masih ada perasaan cinta, meski hanya tersisa secuil, maka ada baiknya kamu tetap mempertahankan rumah tangga kalian sayang. Karena jika masih ada cinta dan memaksakan untuk berpisah, yang ada hanyalah rasa sakit, sakit, dan sakit. Apalagi tadi kamu bilang jika kamu masih sangat mencintainya, berarti kamu memang harus mempertahankannya. Dan setau mama, Rachel bukanlah istri yang buruk, dia hanya sedikit ceroboh dalam mengambil keputusan dan dia salah karena menjadi sedeorang yang tidak tegaan terhadap Antony, hanya itu." Jelas Yuna.
"Jadi menurut mama...."
__ADS_1
"Iya sayang, begitulah memang hidup berumah tangga, ada masanya terkadang kita harus menurunkan ego kita demi untuk memperkecil masalah yang ada. Dan ada pula masanya kita memang harus benar-benar melepaskan seseorang jika orang itu memang sudah tidak layak untuk dipertahankan. Dan yang mama lihat, Rachel masih sangat-sangat layak untuk dipertahankan. Dan mama yakin, dengan adanya masalah seperti itu, itu akan menjadi sebuah pelajaran besar bagi Rachel sehingga di waktu yang akan datang kelak, dia akan lebih berhati-hati dalam mengambil langkah dan berhati-hati untuk percaya pada orang lain." Jelas Yuna lagi dengan nada yang begitu lembut dan terdengar begitu meneduhkan bagi Arsen.
...Bersambung......