Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 150


__ADS_3

Sementara Rachel yang masih kurang paham dengan makna sindiran itu pun seketika melirik ke arah rambutnya yang masih terbalut dengan handuk.


"Memangnya ada apa dengan keramas di pagi hari? Dan kenapa juga jadi menatapku seperti itu saat melihatku keramas?" Tanya Rachel polos.


"Emm sudah lah, percuma juga di perpanjang, kamu juga tidak akan mengakuinya." Shea pun tersenyum lalu mulai memutarkan kedua bola matanya.


Rachel yang masih tak mengerti pun hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Oh ya, dimana Arsen?" Tanya Shea sembari mulai melirik-lirik ke berbagai sudut ruangan.


"Oh itu, emm Arsen..."


"Siapa yang datang?" Tiba-tiba saja suara datar Arsen terdengar saat Rachel belum sempat menjawab.


Tak lama, Arsen pun muncul dari dalam kamar dengan keadaan yang masih sedikit berantakan. Menyadari jika kedua orang tua Rachel lah yang datang, membuat mata Arsen seketika membulat hingga ia pun jadi sedikit gelagapan.


"Bibi, paman." Ucapnya pelan.


"Arsen, kamu baru bangun?" Tanya Shea sembari mulai mengernyitkan dahinya.


"Emm sejujurnya iya bibi." Jawab Arsen pelan.


"Hah, ja,, jadi.. jadi kalian berdua tidak..." Shea seketika nampak tergagap saat ingin menanyakan sesuatu yang cukup sensitive.


"Tidak... tidak apa bibi?"


"Apa mereka tidak melakukannya di pagi hari seperti kebanyakan pasangan yang baru menikah?" Gumam Shea dalam hati.


Akhirnya Shea pun segera menarik Rachel, dan membawanya agak ke sudut ruangan.


"Jujur pada mommy, apa hubunganmu dan Arsen belum membaik?" Tanya Shea berbisik.


Kala itu Arsen yang masih berdiri tak jauh dari pintu kamar pun masih terdiam memandang bingung ke arah mereka. Begitu pula dengan Martin yang juga nampak bingung dengan sikap Shea.


Rachel dengan bibir yang mulai mengerucut pun akhirnya menggelengkan kepalanya pelan.


"Hah?! Ja, jadi... jadi kamu keramas pagi ini bukan karena habis melakukannya?"


"Melakukan apa?"


"Ya melakukan yang seharusnya dilakukan oleh para pengantin baru."

__ADS_1


Lagi-lagi Rachel pun menggelengkan kepalanya.


"Astaga anak itu." Shea pun mulai melirik ke arah Arsen.


"Mommy please, jangan berkata yang tidak-tidak pada suamiku. Jangan pernah berfikir untuk mengomel padanya, jika itu terjadi, maka aku tidak akan memaafkan mommy." Tegas Rachel yang mencurigai Shea yang akan memarahi Arsen.


"Haaaish, kenapa kamu jadi begitu membelanya? Jelas-jelas dia mengabaikanmu dan tidak menjalankan tugasnya sebagai suami yang baik." Shea pun mulai mengecakkan pinggangnya.


"Jelas saja, dia suamiku sekarang, maka aku sebagai istri harus membelanya. Bukankah itu juga yang mommy lakukan pada daddy."


"Eemm benar juga." Shea pun seketika menurunkan tangannya yang sebelumnya ia kecakkan.


"Aaaa kamu sungguh mewarisi sikap mommy mu yang baik ini." Shea pun kembali tersenyum dan mencubit pelan pipi anaknya yang sekarang sudah menjadi istri.


"Tapi ibu tetap harus menasihatinya jika memang Arsen masih bersikap dingin padamu, ibu tetap harus mengomelinya, lihat saja dia." Shea pun bersiap untuk kembali menghampiri Arsen.


Tapi dengan cepat Rachel menarik tangan ibunya dan merengek seperti anak kecil.


"Aaaa mommy, tolong jangan seperti ini, aku dan Arsen sudah baik-baik saja, dia juga sudah menjalankan tugasnya sebagai suami. Dia memberiku tempat tinggal yang layak, memberi nafkah, dan segala fasilitas lainnya." Jelas Rachel,


"Lalu kenapa kalian belum melakukannya jika memang kalian sudah baik-baik saja?"


"Emmm itu,,," Rachel yang gugup mulai mengusap-usap tengkuknya.


"Tidak mommy, kami masih merasa terlalu lelah untuk melakukan hal itu." Jawab Rachel berbohong.


"Hah mustahil." Ketus Shea.


"Lihat saja, akan ibu beri wejangan untuk anak itu." Shea kembali ingin beranjak, tapi Rachel kembali menahannya.


Akhirnya Rachel pun bergegas menghampiri Arsen lebih dulu, lalu membawanya kembali masuk ke kamar.


"Daddy, tunggu sebentar ya." Ucap Rachel yang kemudian langsung menarik Arsen untuk masuk ke kamar.


"Ada apa paman dan bibi datang pagi-pagi kesini?" Tanya Arsen datar.


"Hei dengar! Kamu boleh marah dan benci padaku, tapi aku sangat minta tolong agar bersikap baik lah seolah kita sudah baik-baik saja di hadapan kedua orang tuaku." Rachel pun menyatukan kedua tangannya di hadapan Arsen.


Kala itu Arsen masih diam dan hanya memandangi Rachel dengan raut wajahnya yang datar.


"Tolong lah Arsen Lim, aku tidak masalah jika sikapmu hanya sandiwara, asalkan tidak membuat kedua orang tuaku terutama mommy jadi mencemaskan aku." Tambah Rachel lagi yang terlihat penuh harap.

__ADS_1


Arsen pun akhirnya mendengus dan tersenyum sinis.


"Apa kamu takut mereka akan berfikir buruk dan membenciku karena aku bersikap dingin pada anak manja mereka?"


"Terserah mau menilainya bagaimana, yang jelas aku mohon padamu agar mau terus berpura-pura baik di hadapan mereka, untuk membalasnya, aku rela melakukan apapun yang kamu minta."


"Cukup menarik, baiklah, deal!" Arsen pun tersenyum dan langsung beranjak menuju kamar mandi.


"Tolong sampaikan pada mertuaku, aku harus mandi dulu sebelum menyapa mereka secara resmi." Tambah Arsen lagi.


Rachel pun hanya diam sembari memandangi punggung suaminya. Menyadari dirinya yang masih memakai bathrobe, ia pun langsung menuju lemari untuk memakai pakaian.


Beberapa menit berlalu, Rachel pun keluar dengan mengutas senyuman manisnya.


"Maaf mommy, daddy, aku jadi mengabaikan kalian karena harus memakai pakaianku lebih dulu." Rachel pun akhirnya ikut duduk di sofa.


"Rachel, benarkah apa yang dikatakan oleh mommy mu?" Tanya Martin yang mulai menatap Rachel dengan serius.


"Tentang apa?" Rachel pun menatap Shea dan Martin secara bergantian.


"Barusan mommy mu mengatakan pada daddy, jika Arsen masih marah dan bersikap dingin padamu? Emm bahkan mommy mu juga mengatakan, kalian bahkan tidak melakukannya sama sekali?"


"Haaaish mommy, apa-apaan, masih saja suka bergosip hehe." Elak Rachel yang mulai terkekeh.


"Gosip katamu? Sudah jelas-jelas itu fakta." Ketus Shea.


"Fakta apanya, aku dan Arsen sudah baik-baik saja dad, bahkan sangat baik." Jawab Rachel sembari tersenyum.


Mendengarnya, seketika membuat Shea langsung mendengus.


"Jadi yang mana yang benar?" Tanya Martin.


"Tentu saja aku yang benar, karena aku lah yang menjalani, jadi sudah pasti aku yang paling tau." Tegas Rachel.


"Emm begitu rupanya, syukur lah jika memang benar begitu. Karena daddy akan merasa sangat tidak tenang jika antara kamu dan Arsen masih ada masalah." Jelas Martin.


"Jangan khawatir daddy, aku dan Arsen sudah baik-baik saja dan tidak ada masalah."


"Rachel, kamu adalah satu-satunya putri daddy, daddy sangat mengasihimu, meskipun kamu sudah menjadi seorang istri, tapi rasanya tetap sulit menerima jika kamu tidak diperlakukan dengan baik oleh suamimu. Daddy tidak akan bisa kembali ke Paris dengan tenang jika belum memastikan kamu dan Arsen sudah baik-baik saja." Ungkap Martin lagi.


Tanpa mereka sadari, Arsen ternyata mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu kamar, ia pun akhirnya menghela nafas panjang dan mulai keluar dari kamar dengan mengukir senyumannya yang nampak begitu sumringah.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2