
Hal itu membuat Rachel tercengang, ia dibuat jadi begitu terpaku atas apa yang dilakukan Arsen padanya saat itu. Di tambah jarak kedua wajah mereka yang jadi begitu dekat, membuat debaran di hati Rachel jadi kian tak menentu, kali ini berganti menjadi wajah Rachel yang memerah, bahkan kini wajahnya seolah merah padam bak kepiting rebus.
"Sudah bersih." Ucap Arsen lagi yang kembali bersandar di sandaran kursinya.
Rachel pun tersadar, lalu kembali mengusap ujung bibirnya.
"Te, terima kasih." Ucap Rachel kemudian sembari tersenyum kikuk.
Arsen tidak menjawab, ia hanya menampilkan sebuah senyumannya yang khas.
Tak lama menu makanan yang mereka pesan pun datang, membuat Rachel terus menggosok-gosokkan kedua tangannya saat memandangi hidangan menu yang sudah terhidang di atas meja seolah sudah begitu tak sabar ingin menyantapnya.
"Ayo makan lah." Ucap Arsen yang mulai meraih sendok dan garpunya.
Membuat Rachel kembali tersenyum dan mengangguk. Namun baru saja Arsen ingin memasukkan makannya ke dalam mulut, suatu hal yang tak terduga pun terjadi.
"Arsen Lim." Panggil seseorang yang kini tengah berdiri tepat di sisi belakang Rachel.
Arsen sontak terdiam, sendok yang harusnya sudah menyentuh mulutnya, kini sontak ia letakkan kembali ke piring.
"Laura?!" Ucapnya pelan dengan wajah datar namun sedikit tercengang.
Mendengar hal itu Rachel seketika menatap Arsen,
"La, laura?!" Tanya Rachel yang kemudian langsung menoleh ke arah belakangnya.
Rachel pun ikut membulatkan matanya saat melihat sosok Laura sudah berdiri di belakangnya, saat itu Laura terlihat menangis dan terus memandangi Arsen yang masih terdiam.
"Kamu disini?" Tanya Arsen yang mulai berdiri.
"Arsen Lim" Ucap Laura lagi yang kemudian semakin menangis sembari langsung berlari dan memeluk tubuh Arsen begitu saja.
Melihat hal itu membuat mata Rachel semakin membulat sempurna, sementara Arsen saat itu hanya diam dan masih tak mengeluarkan respon apapun.
"Arsen, aku perlu bicara denganmu." Ucap Laura lirih.
__ADS_1
"Katakan lah."
Kemudian Laura pun perlahan melepas pelukannya, ia pun mulai mengusap air matanya.
"Aku ingin bicara berdua saja denganmu, kita bicara disana ya." Ucap Laura sembari menunjuk ke salah satu meja yang ada di sudut restoran.
Arsen pun akhirnya mengangguk.
"Bella, kamu lanjut makan saja duluan, aku kesana dulu." Ucap Arsen.
"Ba, baik." Jawab Laura dengan keadaan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Laura pun langsung menarik tangan Arsen begitu saja lalu membawanya ke sebuah meja kosong untuk mereka bisa lebih leluasa berbicara.
"Mau bicara apa? Katakan saja." Ucap Arsen kemudian.
"Aku sangat merindukan mu, aku tidak bisa tanpa mu sayang. Tolong maafkan aku, maafkan sikap ku." Laura yang duduk di sampingnya pun kembali memeluk Arsen.
Saat itu Arsen masih terdiam.
"Aku tidak tau harus menjawab apa saat itu, perkataan mu itu sungguh sudah sangat keterlaluan Laura. Bukankah kamu tau aku menyayangi mamaku lebih dari apapun, itu sudah pernah ku utarakan padamu saat pertama kita berpacaran."
"Iya sayang aku tau, aku tau! Aku sangat emosi hari itu, tapi setelah itu aku akhirnya merasa menyesal. Tolong maafkan aku sayang, aku tidak bisa tanpamu, I love you so much." Ucap Laura yang kembali memasang wajah begitu lirih.
"Kamu mau kan memaafkan aku? Kamu masih mencintai aku kan sayang? Aku janji akan memperbaiki sikap ku menjadi lebih manis lagi, aku janji akan berubah demi kamu." Pujuk Laura lagi.
Arsen pun akhirnya mulai menghela nafasnya, dan mulai menatap lekat ke arah Laura.
"Apa kamu yakin ingin berubah sikapmu itu?"
"Iya sayang aku janji, demi kamu dan demi pembuktian cintaku padamu." Jawab Laura yang kembali meraih tangan Arsen.
"Emm baiklah, aku memaafkan mu. Tapi tolong jangan seperti itu lagi."
"Terima kasih sayang." Laura pun langsung tersenyum bahagia, dan lagi-lagi memeluk erat tubuh Arsen.
__ADS_1
Rachel yang melihat hal itu pun akhirnya mulai meneteskan air matanya, baru saja hatinya dibuat begitu berbunga-bunga dengan sikap manis Arsen belakangan ini padanya, tapi hal itu seolah tak berarti bagi Arsen dan cukup membuat hati Rachel terasa sakit.
"Ternyata semua yang sudah kita alami belakangan ini masih belum berarti bagimu Arsen Lim. Meski sesungguhnya kamu tau wanita itu tidak sebaik yang kamu pikir, namun dengan mudahnya kamu memaafkannya dan menerimanya kembali. Apa yang ada di dalam otakmu? Kapan kamu bisa sadar jika wanita itu bukanlah wanita yang baik." Gumam Rachel dalam hati sembari terus menusuk-nusuk daging Steak miliknya tanpa memakannya sedikit pun.
"Jadi mulai saat ini kita resmi baikan kan? Aku masih pacarmu kan?" Tanya Laura lagi.
Arsen pun mengangguk dan tersenyum tipis.
"Ya sudah, ayo kita kembali kesana, tidak enak jika terlalu lama membuat Bella menunggu kita." Arsen pun ingin bangkit dari duduknya.
Namun Laura kembali menarik tangannya seolah tak membiarkan Arsen untuk kembali duduk bersama Bella.
"Ah sayang, kita baru saja kembali bertemu setelah seminggu, aku sangat merindukan mu sayang, aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua denganmu." Ucap Laura dengan begitu manja dan kembali menyandarka kepalanya di pundak Arsen.
"Tapi Bella, kasihan jika dia harus makan sendirian seperti itu. Lagi pula makanan pesananku juga belum sempat ku makan, jadi ayo, kita duduk bergabung saja dengannya."
Tak ingin kembali berdebat dengan Arsen, akhirnya mau tak mau Laura pun setuju, dan dengan berat hati ia pun ikut bersama Arsen untuk kembali duduk di meja yang sama dengan Rachel.
"Ingat Laura, aku tidak mau ada keributan lagi antara kamu dan Bella seperti kemarin. Bersikap manis lah padanya karena di kami berdua memang tidak ada hubungan apapun." Jelas Arsen saat menuju ke meja Rachel.
"Iya sayang, aku janji mulai saat ini akan percaya padamu dan bersikap baik pada sekretarismu itu."
"Baguslah kalau begitu."
Akhirnya mereka pun kembali ke hadapan Rachel.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama Bella." Ucap Laura yang bersikap sangat ramah di depan Arsen.
Dengan cepat Rachel langsung mengusap air matanya, lalu dengan penuh rasa terpaksa akhirnya ia pun tersenyum ramah menatap Laura.
"Ah tidak apa nona." Jawabnya kemudian.
Mereka berdua pun duduk di hadapan Rachel, bisa terbaca dengan sangat jelas oleh Rachel jika saat itu Laura hanya sedang berpura-pura baik dan ramah padanya di hadapan Arsen. Namun Rachel memilih mengikuti alurnya dan tak mengatakan yang sebenarnya pada Arsen karena ia sudah tau pasti Arsen takkan mendengar ucapannya itu.
...Bersambung......
__ADS_1