
Saat itu mereka masih berada di depan pintu utama rumah Laura, namun sikap Laura sudah terlihat begitu agresif hingga membuat Arsen Lim merasa kurang nyaman.
"Ah ya, sebentar lagi jam makan siang, jadi ku bawakan makanan untukmu." Ucap Arsen sembari menunjukkan beberapa bungkus makanan yang dibawanya.
"Aaaa sayang, kamu manis sekali." Laura pun semakin kegirangan hingga membuatnya mencubit hidung Arsen dengan gemas.
"Inilah alasan yang membuat aku semakin hari semakin mencintaimu. Dan aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena di cintai oleh seorang Arsen Lim." Tambah Laura lagi yang kemudian mencium pipi Arsen.
Namun seolah tak puas hanya dengan mencium pipi saja, kini bibir Laura mulai semakin liar menuju ke bibir Arsen. Namun Arsen dengan refleks pun langsung memalingkan wajahnya dan berkata.
"Emm Laura, jangan begitu, kita sedang berada di depan pintu tidak enak jika ada yang melihat." Ucap Arsen sembari menepis dengan lembut tangan Laura yang dikalungkannya ke leher Arsen.
"Aa sayang, tidak apa, lagi pula kamu tau kan rumah ku sering kosong."
"Ah tidak, tidak, tolong jangan begini. Sebaiknya kamu siapkan makanan ini dan kita makan bersama saja." Arsen pun langsung menyerahkan beberapa bungkus makanan itu ke tangan Laura.
Hingga membuat Laura seketika langsung memanyunkan bibirnya.
"Emm baiklah." Ucap Laura sembari melangkah lesu menuju dapurnya.
Arsen pun akhirnya tersenyum tipis sembari mengusap ujung kepala Laura.
"Sudah, jangan cemberut seperti itu." Ucap Arsen.
"Emmm ya." Jawab Laura datar sembari terus melangkah menuju dapurnya.
Arsen pun akhirnya masuk, dan memilih untuk duduk di sofa dimana tempatnya biasa duduk saat berkunjung ke rumah Laura.
"Huh, sampai kapan dia berlagak sok suci seperti itu di hadapanku?" Ketus Laura seorang diri ketika ia tiba di dapur sembari menghempas kasar bungkusan makanan itu ke atas meja.
"Aku jadi semakin penasaran, apa dia sungguh tidak tergoda padaku atau hanya sedang berusaha menahan diri agar tidak tergoda?" Kedua tangan Laura mulai bersedekap sembari terus berfikir.
"Tidak, tidak, aku tidak bisa terus begini! Bagiku akan terasa sia-sia jika berpacaran dengannya namun tidak melakukan apapun. Apa gunanya pacaran? Lagi pula aku yakin, jika sudah melakukannya sekali, maka dia takkan sanggup lagi berpaling dariku, bahkan ku jamin dia akan tunduk dan meminta untuk melakukannya lagi, lagi, dan lagi." Ucap Laura seorang diri sembari mulai memunculkan senyuman sinisnya.
Lima menit berlalu, kini akhirnya Laura kembali muncul.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita makan bersama, semua makanan sudah terhidang di atas meja makan." Ucapnya sembari tersenyum ramah.
"Oh benar kah, emm baiklah." Arsen pun akhirnya ikut tersenyum lalu mulai bangkit dari duduknya.
Laura pun menuntun Arsen untuk duduk di salah satu kursi, ini kedua kalinya Arsen makan di rumah Laura setelah sebelumnya ia pernah di undang untuk makan malam bersama dengan kedua orang tua Laura.
"Ini sayang, makan yang banyak ya, kamu tentu butuh banyak energi, apalagi kamu sekarang adalah seorang CEO dari perusahaan besar yang pasti akan banyak menguras energi dalam berfikir dan menjalankan perusahaan." Jelas Laura panjang lebar sembari terus meletakkan beberapa makanan ke dalam piring Arsen.
Mendengar itu Arsen pun kembali mendengus pelan sembari tersenyum, ini pertama kalinya Laura berbicara dan bersikap seolah ia sangat mengerti dengan Arsen.
"Tumben sekali kamu bisa berbicara seperti itu, biasanya kamu selalu melarangku banyak makan dan bahkan aku tidak boleh makan sembarangan."
"Emm iya iya, aku tau aku salah dalam hal itu, aku tau sikapku seperti itu begitu berlebihan, maka dari itu mulai saat ini kamu bebas memilih makanan apa saja yang ingin kamu makan." Laura pun semakin melebarkan senyumannya.
"Entah angin apa yang membuatmu berubah jadi seperti ini, tapi yang jelas aku suka dengan sikapmu yang seperti ini." Ucap Arsen yang kembali tersenyum dan mulai menyantap makanan yang ada di piringnya.
"Aaa benarkah sayang? Baiklah, demi kamu akan terus berubah menjadi lebih baik ya."
Arsen pun mengangguk dengan senyumnya yang semakin lebar.
"Kenapa diam saja? Ayo makan lah, kamu juga harus makan yang banyak, karena sebenarnya aku tidak terlalu suka jika kamu diet yang berlebihan." Ucap Arsen dengan tenang.
"Iya iya sayang, aku akan makan semua makanan yang kamu bawa. Emmm nampaknya ini sangat enak hehehe, selamat makan sayang."
"Aku bahkan sudah menghabiskan setengah makananku." Jawab Arsen.
Makan siang pun selesai dengan di tutup oleh semangkuk salad buah yang menyegarkan.
"Sayang, tunggu sebentar ya aku mau ke kamarku." Ucap Laura yang mulai bangkit dari duduknya.
"Untuk apa?" Tanya Arsen dengan tenang.
"Ah ada sesuatu yang ingin aku ambil, sebentar saja."
Arsen pun akhirnya mengangguk. Laura pun tersenyum dan langsung melangkah menuju kamarnya. Namun setelah beberapa menit, tiba-tiba saja suara teriakan Laura yang melengking pun terdengar seolah memekakkan telinga. Membuat Arsen seketika langsung bangkit dari duduknya sembari menatap tajam ke arah kamar Laura yang ada di lantai dua rumahnya.
__ADS_1
"Laura, kamu kenapa?" Teriak Arsen sembari mulai melangkah cepat menaiki anak tangga.
"Sayang, tolong aku, aku takut." Jawab Laura sembari terus berteriak.
Arsen pun semakin melajukan langkahnya, dengan wajah cemas dan tanpa berfikir panjang ia pun langsung membuka kasar pintu kamar Laura.
"Lauraaa." Ucapnya begitu memasuki kamar.
"Sayang.." Laura pun seketika langsung menghambur ke dalam pelukan Arsen.
"Ada apa? Ha?! Katakan kamu kenapa?" Tanya Arsen yang masih nampak panik.
"Aku takut sayang aku takut."
"Ada apa?! Katakan ada apa? Apa kamu terluka?" Arsen pun memandangi Laura dari ujung kaki hingga rambut.
"Ada kecoa di kamar mandiku sayang, aku takut." Jawab Laura yang semakin mengeratkan pelukannya.
"Apa? Kecoa?!" Arsen pun seketika langsung membulatkan matanya.
"Iya sayang aku takut, dia hinggap begitu saja di pundak ku."
"Jadi yang membuatmu berteriak seperti tadi hanya seekor kecoa?!" Tanya Arsen lagi yang begitu dibuat terperangah.
Laura pun mengangguk.
"Astaga Laura, aku begitu panik mendengarmu berteriak dan ternyata hanya karena seekor kecoa." Arsen dengan sebelah tangannya mulai mengecak pinggang sembari sebelah tangannya mengusap wajahnya.
"Hehehe maafkan aku sayang, tapi aku benar-benar takut."
"Emm ya sudah, sekarang kecoanya sudah pergi dan aku akan kembali ke bawah." Arsen pun kembali mengusap singkat ujung kepala Laura dan bersiap untuk melangkah pergi.
"Ah tidak, tunggu sayang, aku masih takut." Namun Laura dengan cepat menahan tangan Arsen seolah tak membiarkannya keluar dari kamarnya.
...Bersambung......
__ADS_1