Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 83


__ADS_3

Tak terlalu lama, akhirnya Arsen pun mulai melepaskan tautan bibir mereka. Dengan sebuah senyuman tipis ia pun mulai menatap Rachel dan mulai mengusap lembut bibir Rachel yang jadi basah karena ulahnya.


"Aku..." Ucap Arsen pelan.


"Aku...." Kini mata Arsen mulai terasa berat dan semakin berat,


"Aku pu, pusing." Ucapnya yang akhirnya ambruk begitu saja dalam pelukan Rachel.


Hal itu sontak membuat Rachel yang awalnya masih diam terpaku kini langsung panik.


"Arsen, kamu kenapa?" Tanya Rachel sembari mulai mengguncang-guncang tubuh Arsen.


Namun Arsen yang sudah tak sadarkan diri tentu tak bisa menjawab pertanyaannya.


"Hei Arsen Lim, bangun lah, jangan pingsan disini." Ucap Rachel lagi yang semakin merasa panik.


"Pak, tolong segera antar kami ke kediaman keluarga Lim ya. Cepat pak." Pinta Rachel pada sang supir.


"Baik nona." Supir pun mengangguk dan langsung menambah kecepatan pada mobilnya.


Kini jarum jam sudah menunjuk tepat di angka 03.00 pagi, jalanan pun begitu sepi dan lengang hingga membuat mereka bisa lebih cepat tiba di kediaman keluarga Lim.


Ting tong...


Suara bel rumah Arsen terdengar begitu menggema di saat itu, Yuna dan Benzie yang saat itu tidak bisa tidur pun langsung segera turun menuju pintu utama untuk membukakan pintu.


"Astaga Arsen putraku." Ucap Yuna yang terkejut saat melihat Arsen yang sudah tak sadarkan diri sedang di papah oleh Rachel.


"Ya tuhan, apa yang terjadi padanya Rachel? Kenapa dia jadi terlihat sangat kacau begini?" Tanya Benzie yang juga ikut terkejut sembari mengambil alih tubuh Arsen dari Rachel.


"Entah lah paman, aku juga tidak tau kenapa dia tiba-tiba begini. Hanya saja aku curiga, sepertinya dia dan pacarnya sedang ada masalah." Jelas Rachel dengan wajahnya yang masih terlihat cemas.


Mendengar penjelasan Rachel, membuat Benzie pun kembali terdiam sembari memandangi wajah putranya.


"Astaga Arsen Lim, ada apa lagi denganmu? Kenapa kau rela merusak dirimu seperti ini hanya demi Laura yang belum tentu baik bagimu." Gumam Benzie dalam hati.

__ADS_1


"Astaga Arsen putraku, tidak seharusnya kamu begini." Yuna pun terlihat begitu sedih saat melihat keadaan anaknya yang nampak begitu kacau.


"Sudah, sudah, ayo kita masuk dulu." Benzie pun akhirnya mulai memapah Arsen dan membawanya masuk.


"Emm maaf paman, bibi, sebaiknya aku pulang sekarang." Ucap Rachel yang masih berdiri di depan pintu.


Benzie dan Yuna pun sontak kembali berbalik arah dan mulai menatap Rachel.


"Oh tidak sayang, ini sudah hampir pagi dan bibi tidak akan mungkin membiarkannu pulang begitu." Jawab Yuna yang kembali menghampiri Rachel.


"Emm ta, tapi bi, a, aku..."


"Rachel, benar apa kata bibimu. Sebaiknya kamu tidur disini saja, dan besok kita bisa berangkat bersama-sama menuju kantor." Tambah Benzie dengan tenang.


Rachel pun terdiam sejenak sembari mulai berfikir, hingga akhirnya ia pun mengangguk patuh dan mulai melangkah masuk ke rumah megah yang kembali ia masuki setelah berpuluh tahun lamanya.


"Ada banyak kamar tamu disini, kamu bebas memilih kamar mana yang kamu suka," Ucap Yuna sembari terus menuntun tangan Rachel.


"Iya, terima kasih bibi." Rachel pun akhirnya kembali tersenyum.


"Ini kamarnya, semoga kamu bisa beristirahat dengan nyenyak disini sayang." Ucap Yuna dengan lembut.


"Terima kasih banyak bibi, dengan kamar sebagus ini aku pasti bisa tidur dengan sangat nyenyak hehehe."


"Dan terima kasih ya, kamu telah rela meluangkan banyak waktu mu hanya demi Arsen. Bibi sudah banyak dengar ceritamu dari pamanmu, dan apapun itu bibi pun mendukung, asal itu yang terbaik untuk kalian." Jelas Yuna sembari tersenyum.


Setelah berbincang singkat, Yuna pun meninggalkan Rachel dan menbiarkannya untuk lanjut beristirahat. Sementara Benzie yang baru tiba di kamar Arsen langsung saja membaringkannya ke atas ranjang dengsn nafas yang mulai ngos-ngosan.


"Huh huh huh, astaga Arsen Lim, kamu benar-benar sudah merepotkan papa." Keluh Benzie sembari mengecakkan sebelah tangannya ke pinggang sembari satu tangannya lagi ia gunakan untuk mengusap peluh yang mulai bercucuran di dahinya.


Pagi hari yang cerah...


Suara kokokan ayam sayup-sayup mulai terdengar mengalun indah di telinga Rachel, membuat mata Rachel perlahan mulai terbuka. Saat itu jam sudah menunjukkan ke arah pukul 06:10 pagi, Rachel pun perlahan mulai bangkit dari tidurnya dan mulai menggeliatkan badannya demi meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.


"Hoooamm." Ucapnya.

__ADS_1


Tanpa berfikir panjang, Rachel pun memilih untuk langsung mandi, selesai mandi, dengan hanya menggunakan selembar handuk yang ia lingkarkan ke dada ia pun keluar dari toilet menuju tempat tidur.


"Tunggu, aku dengan percaya dirinya langsung memilih untuk mandi sementara aku tidak memiliki baju kerja sama sekali disini." Keluh Rachel seorang diri yang mulai kebingungan.


Namun rasa kebingungan itu seketika berakhir saat Yuna secara tiba-tiba masuk ke dalam kamar itu dengan sudah membawakan satu stel baju kerja untuknya.


"Selamat pagi Rachel, wah kamu sudah mandi sayang?" Tanya Yuna sembari tersenyum,


"Hehehe iya sudah bi, baru saja selesai mandi."


"Emm bibi tau, sekarang kamu pasti sedang bingung karena masalah baju kerja kan? Nah ini sudah bibi bawakan satu stel baju untukmu, semoga ini pas dan cocok di badanmu." Yuna dengan sumringah pun langsung menyerahkan baju itu pada Rachel.


Begitu pula dengan Rachel, ia nampak begitu semangat saat menerimanya.


"Wahh, apa ini baju bibi?"


"Hehehe iya, ini baju bibi saat masih jadi pegawai Blue Light Group dulu hehehe." Jawab Yuna.


Rachel pun kembali memandangi satu stel baju berwarna soft pink itu.


"Maaf jika kamu kurang suka dengan modelnya ya, ya wajar saja, baju itu sudah ada berpuluh tahun lalu, namun kamu tidak usah cemas, baju itu masih sangat bagus dan layak."


"Ah tentu tidak bibi, baju ini bagus dan aku suka, apalagi dengan warnanya, ku yakin ini akan pas di badanku, mengingat sepertinya ukuran tubuh kita tidak jauh berbeda." Jawab Rachel yang kembali tersenyum.


"Ah baiklah kalau begitu, ayo cepat pakai lah, bibi tunggu di meja makan ya."


"Iya bibi terima kasih banyak sekali lagi."


"Iya sama-sama sayang." Yuna pun kemudian mulai melangkah pergi menuju pintu.


"Bibi tunggu." Ucap Rachel yang langsung menghentikan langkah Yuna.


"Apa Arsen sudah bangung? Emm ma, maksudku, apa dia sudah sadar dan baik-baik saja?" Tanya Rachel dengan sedikit malu-malu.


"Hehehe tenang lah, Arsen mu sudah baik-baik saja, dan sekarang dia sedang mandi." Jawab Yuna yang semakin tersenyum.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2