Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 107


__ADS_3

"Ha?! Ja,, jadi paman tidak..."


"Hahaha tentu tidak nak." Benzie pun tersenyum.


"Selamat ya, akhirnya misimu berhasil, kini kamu telah resmi menjalin hubungan dengan Arsen Lim."


"Hehehe paman, ini semua berkat bantuan paman juga." Rachel pun mulai kembali tersipu malu.


"Astaga, paman hanya membantu sedikit saja, selebihnya ini semua berkat kesabaran dan ketulusanmu pada Arsen."


"Hehehe terima kasih sebelumnya paman, Rachel mengira jika awalnya paman benar-benar marah dengan kejadian tadi."


"Sebenarnya paman mau marah, tapi saat ini rasa gembira lebih besar dari pada amarah paman sendiri. Jadi, untuk hari ini kalian dimaafkan, tapi saran paman jangan melakukan hal itu di area kantor."


"Emm tapi paman, bukankah paman Alex pernah mengatakan jika paman dulu juga pernah seperti itu dengan bibi Yuna di kantor?" Ucap Rachel sembari cengengesan.


Membuat Benzie kembali terdiam kikuk dengan wajahnya yang mulai sedikit memerah.


"Astaga Alex, benar-benar mulutnya seperti wanita." Gerutu Benzie menggeram.


"Hehehe tenang saja paman, bukankah itu sudah lama berlalu."


"Eemm iya, maksud paman, tidak akan jadi masalah jika kalian bermesraan di kantor ini tanpa ketahuan hahaha."


Rachel dan Benzie pun saling melempar tawa, mengetahui Arsen anaknya telah jatuh hati pada Rachel dan telah lepas dari jeratan Laura cukup membuatnya begitu lega. Karena sesungguhnya dari lubuk hati Benzie, ia memang tidak pernah suka pada Laura sejak pertama kali Arsen mengenalkannnya.


"Ya sudah kalau begitu, kamu boleh kembali bekerja."


"Baik paman terima kasih banyak telah merestui hubungan kami."


"Tentu saja, karena jika aku tidak mendukungmu, Martin bisa saja kembali memusuhiku hahaha."


Akhirnya Rachel pun kembali ke ruangannya, melihat kedatangan Rachel, membuat Arsen langsung beranjak dari kursinya dan menghampiri Rachel.


"Bagaimana? Papa bilang apa? Apa papa memarahimu? Tidak kan?!"


Rachel hanya menggeleng.


"Hanya sebuah teguran kecil saja." Jawab Rachel tersenyum tipis.


"Bagus lah kalau begitu." Arsen pun tersenyum.


"Oh ya, sudah mau jam makan siang, aku ingin mengajakmu makan siang di luar." Ucap Arsen lagi.


"Kita memang akan makan siang diluar, karena siang ini ada meeting lanjutan bersama Starlight Corp."


"Benarkah?"


"Apa kamu tidak melihat jadwal mingguanmu yang sudah ku letakkan di atas meja?"

__ADS_1


"Belum." Jawab Arsen santai sembari tersenyum tipis.


"Haish, benar-benar CEO yang terpuji."


"Yang terpuji, terbaik, dan yang tertampan. Iya kan?" Goda Arsen yang kembali mendekat kepada Rachel.


"Arsen Lim, jangan memulainya lagi, aku tidak mau nanti ada yang melihatnya lagi." Ucap Rachel yang tersenyum sembari seolah ingin memberi jarak.


Namun lagi dan lagi Arsen menarik tangannya, seolah meminta agar Rachel tetap berada di dekatnya.


"Arsen Lim, lepas. Ayo kita siap-siap untuk pergi meeting." Ucap Rachel sembari mulai melotot dan berusaha untuk melepaskan tangannya.


"Tidak mau, sebelum kamu bilang jika aku memang yang tertampan." Arsen terus tersenyum.


"Semakin hari tingkat percaya dirimu semakin tinggi saja." Celetuk Rachel pelan.


"Biar saja, ayo cepat katakan." Arsen pun semakin mendekatkan tubuhnya pada Rachel dengan tatapannya yang begitu lembut dan menggoda.


"Emm baiklah tuan muda yang paling tampan, bisakah anda melepaskan tanganku sekarang?"


"Tidak mau."


"Tapi kenapa? Bukankah aku sudah mengatakan yang ingin kamu dengar?" Mata Rachel pun dibuat semakin melotot.


"Katakan jika kamu mencintaiku, lagi." Bisik Arsen yang kembali tersenyum manis.


"Ti, tidak mau." Jawab Rachel yang langsung memalingkan wajahnya karena ia merasa wajahnya pasti mulai memerah karena malu.


"Emm ya sudah, kalau begitu aku tidak mau melepaskannya sampai sore, malam, bahkan sampai besok." Ucap Arsen dengan begitu santainya.


Membuat Rachel seketika kembali menatap wajahnya dengan bibirnya yang mulai mengerucut.


"Ak, aku,,, aku..." Rachel begitu terbata-bata untuk mengatakan apa yang disuruh oleh Arsen.


"Haissh, padahal sudah jelas-jelas kemarin aku yang begitu menginginkannya, jelas-jelas aku memang mencintainya, tapi kenapa susah sekali mengatakannya disaat dalam kondisi 100% sadar begini?" Gumam Rachel dalam hati.


"Tik tok tik tok, waktu terus berjalan, sepertinya kamu memang begitu betah berada di sisiku ya." Ucap Arsen yang terlihat semakin menggodanya.


"Haissh, dasar pemaksa." Ucap Rachel sinis.


"Hahaha terserah mau mengatakan apa, yang pasti tidak akan ku lepas sebelum aku mendengarnya lagi disaat kamu benar-benar tidak dalam pengaruh alkohol."


Rachel yang cemberut akhirnya mulai menghela nafas panjang.


"Emm baiklah, aku,,, aku men,,,"


"Men...?" Ucap Arsen seolah sedang menantikan lanjutan dari ucapan Rachel.


"Mencintaimu." Ucap Rachel akhirnya dengan suara begitu pelan.

__ADS_1


"Apa? Aku tidak dengar, tolong katakan sekali lagi, katakan dengan jelas." Arsen pun terlihat seolah semakin bersemangat ingin mendengarnya.


"Aku mencintaimu Arsen Lim." Tegas Rachel.


"Hehe iya aku tau." Jawab Arsen.


Membuat Rachel semakin merasa kesal tak karuan.


"Benar-benar menyebalkan." Gumam Rachel pelan.


"Apa katamu?"


"Ah tidak, aku bilang sekarang tolong lepaskan tanganku."


"Masih ada satu lagi, setelah ini aku janji akan langsung melepaskanmu."


"Hah?!" Lagi-lagi Rachel pun harus kembali melotot.


"Apa lagi?"


"Cium aku." Ucap Arsen dengan tenang.


"Apa?! Ti, tidak! Aku tidak mau." Rachel dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, semua pilihan ada padamu, aku tidak memaksanya."


"Iya, kamu jelas tidak memaksaku, tapi kamu mengancamku."


Arsen pun hanya tersenyum geli saat melihat Rachel yang terlihat begitu kesal, saat itu wajahnya jadi begitu menggemaskan bagi Arsen.


"Langsung pada intinya saja nona Bella, mau melakukannya atau tidak?" Tanya Arsen lagi.


Rachel pun terdiam sejenak, dengan perlahan ia pun mulai kembali menatap wajah Arsen yang memang begitu rupawan, debar jantung Rachel kala itu sungguh tak bisa ia kendalikan, rasanya seperti ingin copot dari tempatnya. Kini mata Rachel pun perlahan mulai mengarah ke bibir Arsen, dengan penuh kegugupan dan tubuh yang sedikit gemetaran, ia pun mulai mendekatkan wajahnya ke arah Arsen.


Saat itu Arsen hanya diam, ia sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, seolah sedang menantikan Rachel yang saat itu semakin dekat dengannya.



Cuuppp...


Akhirnya bibir Rachel pun mendarat tepat di bibir Arsen, membuat mata keduanya secara refleks terpejam. Namun itu hanya sebuah ciuman yang singkat, rasa takut dan malu Rachel saat itu nampaknya masih begitu besar hingga membuatnya langsung melepaskan tautan bibir mereka saat baru beberapa detik bibir keduanya menyatu.


"Ak, aku mau mengambil berkas di mejaku dulu, aku tunggu kamu di bawah." Ucap Rachel yang kemudian langsung bergegas pergi begitu saja dengan membawa perasaan gugup beserta kikuknya kala itu.


Sementara Arsen, masih terus diam memandangi kepergian Rachel, dengan senyuman tipisnya, ia pun kemudian mulai mengusap bagian bibir bawahnya yang sedikit basah dengan ibu jarinya.



...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2