Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 176


__ADS_3

Malam hari...


Malam itu, suasana di meja makan kediaman keluarga Lim nampaknya begitu berisik. Ya, seluruh orang di meja makan itu tengah membahas Arsen dan Rachel yang mereka ketahui akhirnya sudah berbaikan dan kembali mesra.


Benzie, terus tersenyum memandangi foto yang di kirimkan oleh Alex padanya. Sementara Alex, saat itu terlihat sangat sibuk dan adik menceritakan bagaimana ia yang melihat langsung Arsen dan Rachel yang terlihat bergandeng mesra di hadapan para staff.


Namun saat itu, ada sesuatu yang berbeda dari sikap Lylia yang terlihat biasa saja, tidak menunjukkan sikap kaget atau semacamnya.


"Hei anak kecil, sejak tadi uncle begitu penuh penghayatan saat menyampaikan berita bahagia ini, tapi kenapa ekspresi serta reaksimu terkesan biasa saja?? Apa kamu tidak ikut merasakan bahagia seperti kami?" Tanya Alex yang nampak heran.


Mendengar ucapan Alex, sontak membuat semua mata yang ada di meja makan itu mulai tertuju pada Lylia, yang saat itu ia sedang terlihat meneguk minumannya, lalu perlahan meletakkan kembali gelasnya dengan begitu tenang.


"Aaah iya, benar juga." Celetuk Tere yang baru menyadari hal itu.


"Hei bestie, ada apa dengan sikap cuekmu ini ha?" Tanya Tere lagi.


Ya, Tere dan Lylia memang cukup akrab di rumah, berbeda dengan Arsen yang selalu memanggilnya dengan sebutan bibi atau pun aunty, Lylia memiliki panggilan tersendiri untuk orang yang sebenarnya adalah bibinya itu, yaitu bestie atau teman baik.


"Aku bersikap seperti ini, karena informasi ini sudah begitu basi untuk ku." Jawab Lylia santai.


"Basi??! Apa maksudmu dengan kata basi anak kecil? Haissh, jelas-jelas informasi ini masih begitu hangat seperti cookies yang baru keluar dari oven." Alex pun nampak tidak terima dengan ucapan keponakannya itu.


"Eeeemm aku bahkan punya berita yang lebih hot ketimbang hanya bergandengan tangan." Celetuk Lylia dengan suara sangat pelan.


Hingga membuat orang-orang di sekitarnya tidak bisa mendengar dengan jelas.


"Apa tadi katamu?" Tanya Yuna yang mulai memicingkan matanya.


"Ah tidak mama, lupakan saja." Lylia pun tersenyum dan kembali meneguk minumannya.


"Haaaiss anak kecil ini, benar-benar meresahkan!" Celetuk Alex.


"I'm not kid!" Tegas Lylia tak senang.


Alex pun terkekeh puas saat berhasil membuat keponakannya itu mulai nampak kesal. Namun berbeda halnya dengan Benzie yang sejak tadi hanya diam, namun dalam diamnya itulah ia terus memperhatikan gelagat aneh putri sulungnya itu.


"Kurasa ada yang sedang coba dia tutupi dari semua orang yang ada di rumah ini." Gumam Benzie dalam hati sembari mulai mendengus dan tersenyum.


"Eeemm baiklah ma, pa, aku sudah menyelesaikan makan malamku, boleh aku masuk ke kamar lebih dulu?" Pinta Lylia yang mulai bangkit dari duduknya.


"Iya sayang, kamu boleh masuk kamar sekarang." Jawab Yuna sembari tersenyum.


Lylia dengan tenang mulai melangkah menuju tangga, lalu menapaki satu persatu anak tangga tanpa menoleh ke belakang lagi.


Sementara Benzie, masih diam dan terus memandangi kepergian putrinya, tanpa ia sadari, Yuna sejak tadi juga memperhatikan gelagat aneh sang suami saat menatap anak sulung mereka.


"Ada apa?" Tanya Yuna pelan.


Benzie pun tersentak.


"Eh iya sayang? Kenapa?"


"Aku bertanya, ada apa? Kenapa kamu memandangi Lylia dengan tatapan aneh?" Tanya Yuna pelan.


Benzie kemudian melirik ke arah Alex dan Tere yang kala itu juga memandanginya seolah ingin mendengar jawaban Benzie. Namun Benzie langsung memasang wajah sinis pada mereka berdua seolah tak ingin mereka tau apa yang ada di dalam pikirannya.


"Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa memandangiku seperti itu?!"


"Aah, ti, tidakk, tidak ada yang memandangimu, benar begitu kan sayangku?" Elak Alex yang kemudian merangkul Tere.


"Oh iya benar, tidak ada yang memandangimu kakak ipar, itu hanya perasaanmu saja hehehe." Jawab Tere yang begitu terlihat kompak dengan suaminya.


"Haaaiss, sepertinya Alex sudah benar-benar mencuci otakmu sehingga sekarang kau semakin menjadi mirip dengannya. Sama-sama suka ngeles!" Ketus Benzie sembari beranjak dari duduknya.


Yuna terdiam sejenak memandangi kepergian suaminya, lalu akhirnya ia pun ikut beranjak dan meninggalkan Alex dan Tere yang masih terduduk di kursinya.


"Eeemm baiklah, tidak ada gunanya juga aku terus disini, aku tidak siap di jadikan nyamuk oleh kalian berdua." Celetuk Yuna yang kemudian pergi begitu saja.


"Semua orang pergi meninggalkan kita saat ini, lalu apa lagi yang bisa kita lakukan saat ini?" Celetuk Tere sembari meraih sepotong buah lalu memakannya.


Alex pun tersenyum dan semakin mesra merangkul Tere, lalu mulai menggoyang-goyangkan kedua alisnya.


"Haaaiss, ada apa dengan wajahmu ha?" Tere pun mendengus.


"Aaaa sayang,, ku yakin kamu mengerti maksudku." Bisik Alex nakal.


Tere pun menatap Alex sembari terus menahan senyumannya.


"Ayolah sayang, sudah saatnya kita beri anak tunggal kita seorang adik, agar dia tidak terlalu kasihan." Pujuk Alex sembari mulai melingkarkan kedua tangannya ke lengan mungil Tere.


Tere akhirnya semakin melebarkan senyumannya, lalu akhirnya ia pun beranjak bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.


"Sayangggg kamu belum menjawabku sayangg." Teriak Alex.


"Aku tunggu di kamar, setidaknya kamu harus tiba satu detik setelah aku tiba di kamar." Ujar Tere santai sembari terus melangkah menuju kamar mereka.


Mendengar hal itu wajah Alex seketika langsung berbinar dan terlihat begitu bersemangat, tanpa membuang waktu, ia pun langsung bergegas beranjak dan berlari mengejar langkah Tere.


"Tidak perlu menunggu sayang, aku bahkan akan tiba lebih dulu di kamar kita." Teriak Alex yang semakin kencang berlari.


Tere pun hanya tersenyum memandangi tingkah laku suaminya yang begitu konyol. Sejak dulu, saat pertama Tere mengenal Alex, hingga saat ini, sikap Alex sama sekali tidak pernah berubah. Masih sama seperti Alex yang dulu, selalu bersikap konyol namun begitu penyayang serta perhatian.


Alex sudah tiba lebih dulu di kamarnya, dengan wajahnya yang begitu sumringah, ia pun berdiri di depan pintu menantikan kehadiran Tere yang kala itu berjalan begitu santai.


"Sayanggg, ayo cepat lah." Alex pun langsung menarik tangan Tere agar ia lebih cepat masuk ke dalam kamar.


"Haaiss, padahal sebelumnya aku merasa begitu lelah, tapi mendadak jadi semangat saat membayangkan apa yang ingin kita lakukan malam ini hehehe." Celetuk lagi sembari mulai menutup pintu kamar.


"Sayangg, gaya apa yang kita gunakan kali ini??" Tanya Alex yang terdengar begitu semangat sembari kembali merangkul mesra Tere.


Membuat Tere hanya terus tersenyum dan akhirnya pasrah saat di bawa Alex menuju ranjang mereka yang empuk.

__ADS_1


Lain halnya dengan Benzie, ia terlihat melangkah dengan tenang menaiki anak tangga.


"Sayang tunggu." Panggil Yuna.


Langkah Benzie terhenti dan menoleh ke arah istrinya.


"Sayang, pelan-pelan! jangan terburu-buru, karena aku tidak akan kemana-mana." Ujar Benzie yang sedikit cemas saat melihat Yuna yang dengan cepat menaiki anak tangga demi mengejar langkahnya.


"Sayang, ayo katakan, kenapa tadi kamu menatap Lylia seperti seolah sedang menyelidik?" Tanya Yuna lagi yang nampak belum puas.


"Aku merasa Lylia mengetahui sesuatu hal yang lebih tentang Arsen dan Rachel." Jawab Benzie sembari melirik ke arah pintu kamar Lylia.


"Hah?! Benarkah begitu?" Tanya Yuna yang kemudian ikut memandangi ke arah pintu kamar putri bungsunya itu.


"Ayo, mari kita buktikan bersama." Benzie pun mengajak Yuna untuk menuju kamar Lylia.


Yuna yang masih saja polos dalam hal penyelidikan pun hanya bisa mengikuti langkah Benzie dengan rasa penasaran yang kini memenuhi isi kepalanya.


"Sayang, apa kamu yakin? Tapi apa yang diketahuinya tanpa ia ingin mengatakannya pada kita?" Tanya Yuna lagi.


"Aku juga tidak tau, maka dari itu kita harus mencari taunya sekarang." Jawab Benzie santai.


Kini mereka pun tiba di depan kamar Lylia, lalu Benzie mengetuknya perlahan dan pelan.


*tok tok tok*


"Siapa?" Teriak Lylia dari malam.


"Sayang ini mama, buka pintunya sebentar." Jawab Yuna.


Lylia tanpa ada rasa curiga sedikit pun, langsung bergegas beranjak menuju pintu, dan membukanya begitu saja. Tapi ia sontak terkejut saat mendapati kedua orang tuanya yang sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan tak biasa.


"Papa, mama, ada apa?" Tanya Lylia yang masih bersikap tenang."


Benzie pun langsung saja masuk ke kamar anaknya itu tanpa permisi, melirik ke sana dan kemari entah sedang mencari apa. Namun, tak sengaja mata tajamnya melirik ke arah meja rias, di atasnya terletak sebuah kotak berwarna orange kotak yang menjadi ciri khas sebuah brand kenamaan dunia,


"Apa ini?" Tanya Benzie sembari mendekati kotak itu dan membukanya begitu saja.


Lylia mulai syok bercampur panik, namun saat itu ia sama sekali tak bisa berbuat apapun selain hanya diam.


Benzie membuka kotak itu, dan mendapati sebuah tas yang masih terbungkus.


"Tas baru?" Benzie melirik ke arah Lylia.


Lylia pun akhirnya mengangguk dengan ragu-ragu.


"Sayang, apa kamu yang membelikannya? Karena tas ini nampaknya sangat mahal," tanya Benzie lagi yang kali ini melirik ke arah Yuna.


Yuna pun menghampiri Benzie dan ikut melihat tas yang di maksud dengan Benzie.


"Wah, bukankah ini tas yang begitu kamu inginkan dalam dua pekan terakhir ini sayang?"


Lagi-lagi Lylia hanya mengangguk.


Karena Yuna sangat tau berapa uang bulanan yang mereka berikan untuk anak bungsunya itu, namun sepertinya tidak akan cukup untuk membeli tas mahal itu.


"Jadi, bukan kamu yang membelikannya sayang?" Tanya Benzie lagi.


"Bukan, aku bahkan juga baru mengetahuinya malam ini."


Benzie pun meletakkan kembali tasnya ke atas meja, lalu mulai memandangi Lylia yang mulai gugup serta ketakutan.


"Kemari lah." Ucapnya pelan.


Lylia dengan ragu-ragu, akhirnya mulai melangkah pelan mendekati Benzie dengan keadaan kepalanya yang terus menunduk.


"Jadi, hal apa yang kamu ketahui tentang kehidupan kakakmu dan istrinya?? Karena jujur saja, semenjak kakakmu memutuskan keluar dari rumah ini, papa dan mama sama sekali tidak tau perkembangan tentang hubungannya dan Rachel," ungkap Benzie tenang.


"Lylia, apakah benar yang dikatakan papamu, apa kamu sungguh tau sesuatu?" Tanya Yuna lagi yang nampak begitu tak sabar.


Lylia diam sejenak, ia bingung. Posisinya saat itu begitu serba salah, satu sisi ia sudah berjanji pada Rachel agar tidak memberitahukan hal yang menurutnya sangat memalukan itu pada siapa pun, dengen imbalan sebuah tas branded yang sudah jelas sangat mahal harganya.


"Jika kamu bersedia terbuka, papa akan memberimu uang jajan tambahan." Benzie pun meraih ponselnya dari saku celananya.


Lalu mulai mengetikkan nominal di aplikasi mobile banking miliknya.


"Apa segini cukup?" Tanyanya sembari menunjukkan layar ponselnya pada Lylia.


Wajah Lylia yang sebelumnya nampak cemberut, seketika berubah menjadi sangat berbinar saat memandangi angka 50 juta yang akan mendarat ke rekeningnya.


"Deal pa." Ucapnya sembari tersenyum.


Benzie pun mendengus dan tersenyum.


"Baiklah, ini akan masuk ke rekeningmu saat kamu sudah selesai berbicara." Ucap Benzie lagi dengan kedua tangannya yang mulai bersedekap.


"Sepertinya tidak ada salahnya jika aku mengatakan hal ini pada papa dan mama. Tindakan kak Rachel dan kak Arsen bukanlah sebuah aib mau tindakan kriminal yang perlu di tutupi. Lagi pula ku yakin dengan hal ini, papa dan mama pasti akan bertambah senang mendengarnya" Gumam Lylia dalam hati.


Lylia pun mulai menarik nafas panjang, lalu mulai tersenyum memandangi wajah kedua orang tuanya secara bergantian.


"Pa, ma, sepertinya tidak lama lagi, aku akan memiliki keponakan, dan kalian, akan memiliki cucu." Ungkap Lylia yang mulai melebarkan senyumanya.


Mendengar hal itu membuat Benzie seketika bangkit dari duduknya dengan tatapan seolah begitu terperangah.


"Apa katamu?! Apa,, apa papa tidak salah dengar??"


"Tidak pa, papa tidak salah dengar." Jawab Lylia sembari menggelengkan kepalanya dan terus saja tersenyum.


Yuna, matanya seketika membulat sempurna, kedua tangannya langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar akibat begitu terkejut.


"Benarkah??! Tapi sayang, dari mana kamu tau?" Tanya Yuna yang seolah masih sulit untuk percaya.

__ADS_1


Lylia pun akhirnya menceritakan semuanya, mulai dari Arsen yang meneleponnya dan memintanya untuk menemani Rachel di apartement mereka, lalu pada saat Lylia pertama kali melihat banyaknya tanda merah di leher Rachel, hingga saat menyaksikan sendiri bagaimana kamar mereka yang jadi begitu berantakan, dan beberapa pakain terlihat tercecer di lantai, hingga yang terakhir, saat mendengar penjelasan dokter spesialis kulit dan kelamin.


"Jadi, tas ini??" Tanya Benzie sembari menunjuk ke arah tas baru Lylia,


"Tas ini pemberian kak Rachel, sebagai sogokan agar aku tutup mulut, karena dia sangat merasa malu jika kalian mengetahui hal itu."


"Haaaiss anak itu, dia bahkan masih merasa malu pada kita, yang sudah menjadi orang tua kedua baginya." Celetuk Yuna sembari menggelengkan kepalanya,


Beberapa puluh menit berlalu, Semuanya Lylia kisahkan pada kedua orangtuanya tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Wajah Yuna yang mendengarnya seketika berubah menjadi begitu berbinar-binar, begitu pula dengan Benzie yang juga ikut terlihat begitu senang.


"Ja, jadi mereka,,,"


"Iya pa, mereka sudah melakukan malam pertama dan sepertinya malam pertama berjalan dengan mulus dan penuh gairahhh." Ungkap Rachel dengan penuh penghayatan.


Membuat Yuna dan Benzie langsung mendengus saat melihat putrinya yang bercerita dengan ekspresinya yang terlihat begitu berlebihan.


"Sayang, aku sangat senang mendengarnya, ternyata tips jituku membuahkan hasil." Celetuk Yuna yang terlihat begitu puas dan senang.


"Tips jitu???" Tanya Benzie yang seketika melirik ke arah Yuna.


"Oh itu hehehe iya, beberapa hari yang lalu, aku ada membelikan banyak lingeri untuk Rachel, dan menyuruh orang untuk mengirimkannya ke apartement mereka." Jelas Yuna yang terlihat cengengesan.


"Benarkah? Kenapa aku tidak tau hal itu?"


"Untuk apa kamu tau? Itu urusan sesama wanita," Jawab Yuna sembari memukul paha suaminya,


Benzie pun kembali tersenyum dan akhirnya merangkul pundak Yuna.


"Eeeemmm jadi, apa kita sungguh sudah mulai menua sekarang?" Tanya Benzie.


"Tentu saja, sebentar lagi, akan ada seseorang yang memanggilmu dengan sebutan kakek" Yuna pun terkekeh geli.


"Hei hei hei, kenapa kamu begitu puas menertawaiku? Bukankah itu berarti juga akan ada yang memanggilmu dengan sebutan nenek??" Ketus Benzie yang merasa tak senang.


"Hehehe benar juga ya." Yuna pun akhirnya menggaruk-garukkan kepalanya yang tak gatal."


"Haaaiss, waktu sepertinya begitu cepat berlalu, baru kemarin rasanya aku merasakan cinta yang begitu menggebu padamu sayang, namuntiba-tiba saja kita sudah memiliki dua orang anak, dan sekarang, tiba-tiba juga mendengar kabar bahwa kita akan segera memiliki cucu." Gumam Benzie yang kembali merangkul mesra Yuna.


Yuna hanya tersenyum dan ikut merangkul pinggang Benzie dengan penuh suka cita.


Sementara Lylia yang sejak tadi masih berada di hadapan mereka, menjadi dibuat tercengang memandangi adegan yang menurutnya begitu berlebihan saat dilakukan oleh orang-orang yang sebentar lagi akan menjadi kakek dan nenek.


"Eeehhem, papa, mama." Panggil Lylia.


"Eh, iya sayang?" Sahut Yuna polos,


"Tidak bisakah kalian bermesraan hanya di kamar kalian? Kenapa mempertontonkan adegan dewasa ini di hadapanku?"


"Oh hahaha astaga, maaf sayang, terkadang papa dan mama memang suka lupa waktu dan tempat." Benzie pun terkekeh geli.


Sementara Lylia hanya bisa memutarkan bola matanya menatap kedua orang tuanya yang seakan menolak tua dan terlihat tengah di mabuk asmara untuk yang kesekian kalinya.


Akhirnya Yuna pun mengajak Benzie untuk keluar dari kamar Lylia setelah puas mendengar penjelasan Lylia tentang kehidupan baru putra sulungnya. Namun Lylia kembali menarik lengan Benzie saat ia baru saja ingin keluar dari kamarnya.


"Ada apa sayang?" Tanya Benzie seolah tanpa beban,


"Apa papa tidak merasa sudah melupakan sesuatu?" Sindir Lylia dengan kedua tangannya yang mulai bersedekap.


"Sesuatu? Apa?" Benzie nampaknya masih tidak paham.


"Reward yang papa janjikan di awal, apakah tidak jadi di kirim ke rekeningku?" Jelas Lylia akhirnya.


"Oh astaga, iya juga, papa hampir lupa." Benzie pun kembali meraih ponsel dari saku celananya.


Hanya dalam beberapa detik, kini Benzie menunjukkan kembali hasil transferannya yang sudah berhasil.


"Kamu puas sekarang?!" Tanya Benzie yang kembali memasukkan ponselnya.


"Terima kasih banyak papa, papa yang terbaik." Ungkap Lylia yang merasa sangat senang, sembari mulai memeluk erat papanya,


Benzie pun tersenyum, lalu mulai mengusap lembut punggung putri kecilnya yang kini mulai beranjak dewasa.


"Gunakan uang itu sebaik mungkin, jangan membeli hal yang tidak terlalu penting." Tegas Benzie namun dengan nada bicara yang begitu lembut.


"Baik papa," Lylia pun tersenyum lebar, lalu melepaskan tautan tubuhnya.


"Ya sudah, kamu jangan tidur terlalu larut ya, papa mau menyusul mama ke kamar."


Lylia pun mengangguk cepat, lalu kembali menutup pintu kamarnya saat Benzie telah berlalu pergi.


Lylia kembali berloncat girang, hanya dalam waktu beberapa hari saja, kini dia sudah mendapatkan uang seratus juta beserta tas mahal yang begitu ia idam-idamkan.


Benzie pun berjalan cepat untuk menyusul langkah Yuna, saat itu Yuna ternyata sudah masuk lebih dulu ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Yuna mencuci wajahnya, lalu menggosok gigi seolah siap untuk tidur.


Namun, tiba-tiba saja Benzie memeluknya dari belakang, lalu menciumi pundaknya.


"Sayang.." Bisik Benzie.


"Eeemm." Jawab Yuna sembari tersenyum.


"Apa kamu sudah selesai menstruasi?"


"Kenapa memangnya?"


"Aku rindu," bisik Benzie sembari tersenyum.


"Sudah sejak tadi pagi." Jawab Yuna yang kemudian langsung beranjak pergi menuju meja riasnya.


Dengan tenang Yuna mengoleskan serum wajah ke wajahnya yang masih saja terlihat kencang meski umurnya sudah menginjak kepala 4.


Namun Benzie seolah tak tinggal diam, ia pun mengejar langkah Yuna dan kembali menciumi lehernya hingga tengkuk. Membuat bulu kuduk Yuna seketika bergidik, Yuna pun mulai berbalik badan, lalu menatap suaminya dengan senyuman, Benzie membelai wajahnya, lalu kemudian langsung mencium bibirnya, melumattnya dengan lembut, dan perlahan membawa istri yang begitu dicintainya itu menuju ranjang mereka. Ranjang yang selama ini sudah menjadi saksi bisi bagaimana gairah Benzie yang seolah tiada matinya pada Yuna.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2