
Rachel langsung duduk di dalam ruangannya dengan keadaan wajahnya yang masih terlihat pucat dan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia terus terdiam dengan nafasnya yang masih terengah saat membayangkan kejadian di lift tadi. Arsen yang sudah terduduk lebih dulu di dalam ruangannya pun ikut memandangi Rachel yang terlihat masih sangat syok.
Entah kenapa disaat yang bersamaan, ia mendadak terbayang kejadian di masa lalu, lebih tepatnya kejadian di masa kecilnya saat ia masih begitu dekat dengan Rachel.
*Flashback On*
Saat itu Arsen Lim dan Rachel Chou sedang berkunjung ke salah satu Mall mewah di kota itu, mereka pergi dengan ibu mereka masing-masing. Saat itu ibu mereka ingin membawa mereka ke tempat bermain anak yang ada di lantai 5 Mall itu hingga mengharuskan mereka menaiki lift agar lebih cepat tiba.
Namun saat baru saja lift itu bergerak naik, tiba-tiba saja lift itu terhenti, lift itu berguncang, dan seketika lampu pun padam hingga membuat keadaan di dalam ruangan sepetak itu menjadi gelap gulita.
Saat itu juga Rachel spontan berteriak histeris, ia langsung menangis meraung-raung memanggili ibunya karena saat itu ia begitu ketakutan.
"Mommy.... mommyyyy aaaaaaa takutttt..." Jeritnya histeris.
"Sayang, sayang tenang, mommy disini ya, pegang tangan mommy." Ucap Shea yang mencoba menenangkan Rachel yang masih kecil itu.
"Aku takut mommy, aku takut, aku tidak bisa melihat mommy, tidak bisa melihat Arsen dan bibi, tolong mommy aku takut gelap mommy." Tangisan Rachel pun semakin pecah,
Saat itu Arsen yang juga takut hanya terdiam sembari mengeratkan pegangannya pada Yuna ibunya.
"Tenanglah Rachel sayang, sebentar ya, bibi akan nyalakan senter." Ucap Yuna sembari meraih ponsel dari dalam tasnya.
Tak lama cahaya dari senter ponsel Yuna pun hidup, yang setidaknya memberikan sedikit cahaya pada ruangan kecil itu, hingga tak terlalu gelap gulita.
Saat itu Arsen pun akhirnya bisa melihat meski tidak terlalu jelas, Rachel yang sedang menangis terus menyembunyikan wajahnya di balik paha ibunya.
"Rachel, jangan menangis lagi, sudah ada cahaya disini, sudah tidak gelap lagi." Ucap Arsen dengan polos.
"Tidak mau, masih gelap, aku takut." Jawab Rachel dengan sisa tangisannya.
"Astaga apa yang terjadi dengan lift ini? Sampai kapan kita akan terkurung di lift ini?" Tanya Shea yang terlihat mulai panik namun tetap berusaha menenangkan anaknya.
"Entahlah, aku pun tidak tau pasti, tapi kurasa lift ini sudah lama tidak di lakukan perawatan." Jawab Yuna sembari terus mengusap-usap rambut Arsen agar ia tidak ikut panik.
"Sayang, kamu tidak takut kan? Sabar ya, sebentar lagi liftnya pasti akan hidup kembali." Tambah Yuna yang berbicara lembut pada Arsen.
"Iya mama, aku kan anak laki-laki, jadi tidak boleh takut atau pun menangis." Jawab Arsen dengan polos.
__ADS_1
"Anak pintar, itu baru jagoan mama."
Dan benar saja, tak lama lampu lift pun kembali hidup, dan kemudian di susul dengan lift yang kembali bergerak menuju lantai atas membuat mereka semua yang ada di dalamnya akhirnya menghela nafas lega. Begitu pula dengan Rachel, yang perlahan tangisannya mulai terhenti saat Arsen memberitahunya jika lift nya sudah menyala seperti biasa.
*Flashback Off*
"Dia memiliki fobhia yang sama dengan sahabat kecil ku Rachel. Apa bagi orang-orang yang fobhia gelap kejadian seperti tadi terasa sangat menakutkan? Dia terlihat masih sangat syok." Gumam Arsen dalam hati sembari terus memandangi Rachel.
Selesai dengan segala pemikirannya saat melihat kondisi Rachel, Arsen pun hanya bisa menghela nafas, kemudian ia pun meraih gagang telpon yang ada di sisi kiri mejanya dan langsung menelepon ke bagian pantry.
"Halo,"
"Ya tuan muda, apa ada yang anda butuhkan?" Tanya seorang office boy.
"Tolong buatkan secangkir teh hangat aroma melati dan segera antar kesini!"
"Oh baik tuan muda."
Arsen pun langsung menutup teleponnya, lalu ia mulai beranjak dari kursinya, menuju dinding kaca yang menjadi penyekat antara ruangannya dan Rachel.
Dengan jari telunjuknya, ia mengetuk dinding kaca itu, membuat Rachel yang sejak tadi masih sangat syok pun langsung terkejut dan menatap ke arah Arsen.
Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, Arsen dengan tangannya memberi kode, ia memanggil Rachel untuk masuk ke dalam ruangannya. Rachel pun segera mengangguk cepat, ia langsung berdiri dan langsung menuju ruangan Arsen.
Saat itu Arsen pun kembali duduk di kursinya, di susul pula dengan Rachel yang ikut duduk di kursi yang ada di hadapannya dengan terus menundukkan kepalanya.
"Maafkan aku tuan muda." Ucap Rachel kemudian.
Dahi Arsen seketika mengernyit.
"Maaf?" Tanya Arsen.
Rachel pun mengangguk kepalanya yang masih terus ia tundukkan di hadapan Arsen karena ia pun merasa malu karena telah lancang memeluk Arsen saat di lift.
"Maaf untuk?" Tanya Arsen lagi.
"Maaf karena telah lancang memeluk anda di lift tadi, aku, emm aku, aku tidak mengerti bagaimana harus menjelaskannya, tapi aku sungguh sangat takut karena memang aku memiliki fobhia kegelapan, bukan maksudku, itu terjadi begitu saja." Jelas Rachel dengan pelan.
__ADS_1
Arsen pun hanya mendengus sembari tersenyum tipis.
"Aku tau anda pasti sangat marah atas kejadian tadi, apalagi itu terjadi hingga pintu lift terbuka dan ada banyak staff yang melihat. Tapi aku janji nanti akan menjelaskan pada mereka semua jika kejadian tadi tidak seperti yang mereka pikirkan." Tambah Rachel lagi yang akhirnya menatap Arsen demi meyakinkannya.
Belum sempat Arsen menjawab, seorang office boy yang tadi di telpon olehnya pun datang dengan membawakan secangkir teh hangat sesuai permintaan Arsen.
"Ini teh hangat anda tuan muda."
"Emm letakkan disana!" Ucap Arsen dengan tenang sembari menunjuk ke arah meja di hadapan Rachel.
"Baik." Jawab office boy.
Teh hangat beraroma kan melati itu pun kini terhidang di hadapan Rachel, bahkan sangat jelas tercium aroma melatinya di rongga penciuman Rachel, hingga membuatnya begitu merasa nyaman akan harumnya.
"iii, ini?" Tanya Rachel yang terlihat kebingungan.
"Minum lah! Teh itu bisa membantumu menjadi sedikit lebih baik." Ucap Arsen.
"Untuk ku? Anda yang sengaja menyuruh OB untuk membuatkan teh ini untuk ku begitu?" Tanya Rachel lagi yang jadi sedikit kaget karena masih merasa tak menyangka.
"Bisakah kamu meminumnya saja dan tidak usah banyak tanya?" Keluh Arsen.
Rachel pun akhirnya tersenyum, lalu mulai meraih tehnya, dengan perlahan ia mulai menghirup aroma melati yang begitu menenangkan baginya, lalu kemudian mulai menyeruputnya dengan pelan.
"Terima kasih banyak tuan muda, ini sungguh sangat enak."
"Tentu saja enak, karena teh itu impor langsung dari negeri China." Jawab Arsen yang kembali datar.
Membuat Rachel yang awalnya sempat merasa terharu dengan perhatian Arsen kini merasa sedikit jengkel hingga membuatnya memutarkan bola matanya.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka dengan jawabanku barusan?" Tanya Arsen yang memicingkan matanya sembari sedikit mendekatkan wajahnya pada Rachel.
Rachel pun langsung cengengesan dan memalingkan wajahnya ke segala arah demi menutupi rasa gugupnya.
"Ah hehe tidak tuan muda, sama sekali tidak." Jawab Rachel.
...Bersambung......
__ADS_1