Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 134


__ADS_3

"Cukup!" Tegas Arsen.


Rachel pun terkejut saat Arsen secara tiba-tiba langsung menarik tangannya.


"Maaf tuan muda Antony, aku dan istriku tidak punya banyak waktu untuk meladeni tamu terlalu lama, kami harus menyapa tamu yang lainnya. Permisi." Jelas Arsen yang mencoba bersikap tenang.


"Ayo sayang." Arsen pun tersenyum menatap Rachel, lalu menggandeng tangannya pergi menjauh dari Antony.


Antony yang menyaksikan itu hanya bisa mendengus kelas.


"Menyebalkan sekali kau Arsen Lim, aku tau kau pasti sengaja melakukan itu di hadapanku." Gumam Antony dalam hati sembari memandangi kepergian Arsen dan Rachel.


Namun lagi-lagi langkah Arsen dan Rachel di hadang oleh Laura yang nampaknya masih merasa sangat tidak terima atas pernikahan itu.


"Arsen Lim." Panggil Laura.


Arsen seketika menoleh ke arahnya dan seketika ia pun mendengus.


"Astaga kau lagi." Ucap Arsen yang nampak seolah sangat malas meladeni Laura.


"Arsen Lim, setelah apa yang dia lakukan, kenapa kau masih mau menikahi wanita seperti ini?!"


"Lalu menurutmu aku harus menikahi siapa? Menikahimu? Begitu?" Arsen pun terkekeh sinis.


"Ya kenapa tidak? Aku masih sangat yakin, jika jauh di lubuk hatimu, masih mencintaiku, dan memilih menikahi wanita ini karena ingin membalas dendam denganku. Ya kan?"


Mendengar hal itu, seketika membuat raut wajah Rachel berubah, ia melirik lirih ke arah Arsen Lim yang kala itu sedang terkekeh menatap Laura.


"Apa benar yang di ucapkan Laura? Apa benar dia hanya ingin membalas dendam atas rasa sakit hatinya pada Laura?" Gumam Rachel dalam hati dengan perasaan yang mulai tak menentu.


"Bahkan jika seandainya di dunia ini hanya tersisa satu wanita yaitu kau, maka lebih baik aku melajang seumur hidupku!" Tegas Arsen lagi.


"Dan kau lihat ini," Arsen pun menunjukkan jari manisnya ke hadapan Laura.


Saat itu di jari manis Arsen telah melingkar sebuah cincin pernikahannya dengan Rachel.


"Saat ini aku sudah resmi menikah, jadi tolong, jangan ganggu aku, kita sudah berakhir sejak kau berani menipu dan mengkhianatiku." Tegas Arsen yang kemudian langsung merangkul Rachel dan pergi meninggalkan Laura begitu saja.


Melihat hal itu, sontak membuat sebuah senyuman tipis muncul di bibir Rachel. Begitu lega dan puas rasanya saat melihat dan mendengar Arsen mengatakan hal seperti itu pada Laura yang akhirnya bisa membungkam mulut tajamnya.


Waktu terasa berlalu begitu cepat, kini resepsi pernikahan Arsen dan Rachel yang di gelar dengan begitu mewah telah usai. Ballroom yang tadinya begitu ramai dan terasa penuh, kini mulai lengang.

__ADS_1


"Arsen, papa bangga padamu. Selamat ya." Ucap Benzie yang tersenyum sumringah sembari menepuk pundak Arsen.


"Terima kasih." Jawab Arsen datar.


"Akibat masalah kemarin, membuat papa belum sempat menyiapkan sebuah hadiah pernikahan untuk kalian. Sekarang katakan, hadiah apa yang kamu inginkan dari papa?"


"Tidak perlu."


"Ayolah Arsen, apa kau sungguh masih marah pada kami?"


"Lupakan saja, aku lelah dan sedang tidak ingin membahasnya."


Menyadari prilaku Arsen yang nampaknya masih menyimpan rasa marah, membuat Yuna akhirnya ikut bersuara untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak terasa canggung.


"Ah Arsen benar, hari ini memang hari yang sangat melelahkan bagi mereka berdua sebagai pengantin baru. Sudah tidak perlu di bahas lagi, ayo kita pulang, mama sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan kamar untuk kalian berdua." Jelas Yuna dengan senyuman manisnya.


"Ah benarkah bi?" Tanya Rachel dengan wajah berbinar.


"Benar sayang, dan satu hal, mulai hari ini berhenti memanggilku bibi ok?"


Rachel pun mulai tersenyum kikuk dan mengangguk.


"Nah, begitu baru benar." Yuna pun mengusap pundak Rachel dengan lembut.


"Ayo, kita pulang ke rumah sekarang, mama tau kalian lelah dan di kamar baru, kalian bisa beristirahat dengan nyaman." Yuna pun merangkul Rachel untuk mengajaknya.


"Ayo ma."


"Hehehe ayo, ayo, papa juga sudah sangat lelah." Celetuk Benzie yang juga terlihat bersemangat.


Namun tiba-tiba ucapan Arsen seketika menghentikan langkah mereka semua.


"Aku tidak bisa pulang kesana." Ucap Arsen.


Yuna, Benzie, Rachel, dan yang lainnya seketika menatap wajah Arsen yang datar dengan raut wajah mereka yang kebingungan.


"Arsen Lim, apa maksudmu?" Tanya Rachel pelan sembari menghampiri Arsen.


Rachel pun juga nampaknya bingung dengan ucapan Arsen.


"Rasanya tidak mungkin aku bisa tinggal bersama komplotan orang yang berusaha untuk menipu dan mempermainkanku." Jelas Arsen masih dengan wajah datarnya yang kemudian mulai melangkah pergi.

__ADS_1


"Ta, tapi Arsen, tunggu." Ucap Benzie.


Langkah Arsen kembali terhenti, ia kembali menoleh ke arah papanya dengan menampilkan wajah dinginnya.


"Apalagi sekarang pa? Disaat aku merasakan kecewa yang sangat besar pada kalian semua, saat itu juga aku bahkan masih mampu menyelamatkan seluruh keluarga ini dari rasa malu dan hilangnya kepercayaan dari seluruh rekan bisnis yang hadir. Tapi itu semua tidak akan menghilangkan rasa kecewaku begitu saja,"


"Arsen, bisakah kita membahas masalah ini dan menyelesaikannya baik-baik di rumah?" Tanya Yuna lirih sembari menghampiri Arsen dan memegang tangannya.


"Maaf ma, tapi untuk saat ini, biarlah begini." Jawab Arsen yang dengan lembut melepaskan tangan Yuna dari lengannya.


Arsen pun kembali melangkah pergi, namun Rachel yang menyaksikan hal itu tak mungkin tinggal diam. Ia pun berlari mengejar Arsen, lalu menahan tangannya hingga lagi-lagi langkah Arsen terhenti karenanya.


"Arsen, tapi kamu mau kemana? Lalu bagaimana denganku?" Tanya Rachel lirih.


"Aku akan tinggal di apartement, jika kamu ingin tinggal bersama mereka, tidak akan jadi masalah bagiku." Jawab Arsen yang kembali melangkah pergi.


"Aku akan ikut denganmu!" Tegas Rachel.


Namun Arsen seolah tak bergeming dan terus saja melangkah pergi. Rachel kembali menoleh ke arah seluruh keluarga yang masih terdiam ia menatap mereka dengan tatapan lirih.


"Aku sungguh minta maaf atas ini semua, tapi aku harus tetap ikut bersama suamiku. Maafkan aku." Ucap Rachel yang kemudian langsung berlari menyusul Arsen yang telah keluar lebih dulu.


Benzie yang terdiam memandangi kepergian mereka berdua akhirnya hanya bisa menghela nafas panjang sembari memijiti pelipisnya.


"Ternyata dia masih belum bisa memaafkan kita." Ujar Yuna pelan.


"Ini hanya masalah waktu, setidaknya aku merasa lega karena akhirnya mereka resmi menikah." Jawab Benzie yang terlihat sedikit lesu.


Kini mereka harus pulang ke rumah tanpa Arsen dan Rachel, kamar pengantin yang telah di siapkan oleh Yuna khusus untuk mereka mau tak mau hanya dijadikan sebuah pajangan belaka.


"Arsen tunggu aku." Jerit Rachel yang terus berlari tergopoh-gopoh mengejar langkah Arsen yang begitu cepat sembari terus mengangkat gaun pengantinya yang terjurai panjang.


Namun Arsen terus diam, terus melangkah menuju mobilnya dan masuk begitu saja tanpa membukakan pintu untuk Rachel terlebih dulu seperti sebelumnya. Namun Rachel tak lagi peduli akan hal itu, ia langsung masuk begitu saja dan duduk di samping Arsen.


Arsen yang telah terduduk lebih dulu di setir kemudi sontak memandangi Rachel dengan wajah datar.


"Kenapa menatapku seperti itu? Apa pun yang akan kamu katakan, intinya sekarang aku sudah menjadi istrimu dan suka tidak suka aku akan tinggal bersamamu." Tegas Rachel yang sama sekali tak peduli dengan tatapan dingin Arsen padanya.


"Lalu, jika aku menceraikanmu sekarang, apa kamu masih tetap ngotot ingin tinggal bersamaku?" Tanya Arsen masih dengan tatapan dingin.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2