
Paris...
Kini, setelah sekian lama akhirnya Rachel kembali ke kota, tempat dimana dia dibesarkan selama ini. Kota dimana pertama kalinya dia dibuat jatuh cinta kepada seorang turis pria, yang tak lain ternyata adalah sahabat kecilnya sendiri yaitu Arsen Lim.
Rachel masuk perlahan ke kamarnya yang telah begitu lama ia tinggalkan, dengan tatapan sendunya, ia pun terus memandangi ke seluruh sudut kamar yang juga begitu ia rindukan. Bahkan, tatanan letak setiap benda di kamarnya, masih tersusun sama persis seperti pada saat ia tinggalkan dulu.
"Semuanya masih sama." Gumam Rachel dalam hati sembari tersenyum lirih saat memandangi susunan benda-benda di kamarnya.
Tak lama, Shea pun datang untuk menghampiri Rachel, begitu tiba di depan pintu yang kala itu tengah terbuka lebar, Shea langsung bisa mendapati Rachel yang sedang melamun memandangi salah satu sudut kamarnya.
"Mommy memang sengaja menyuruh pelayan agar tidak memindahkan letak benda apapun di kamarmu, mommy hanya memerintahkan mereka untuk membersihkan, tapi tidak untuk memindahkan apapun." Jelas Shea secara tiba-tiba.
Mendengar hal itu membuat Rachel seketika langsung berbalik badan dan mendapati ibunya yang sudah berdiri santai di depan pintu.
"Astaga, sejak kapan mommy disini?? Emm mengagetkan saja." Celetuk Rachel yang memang nampak sedikit kaget.
"Kamu kaget karena kamu terlalu banyak melamun sayang." Jawab Shea dengan tenang sembari mulai melangkah masuk ke kamar putrinya.
Rachel pun jadi dibuat terdiam sejenak, karena ucapan sang ibu, memang benar adanya.
"Oh ya, tapi kenapa mommy tidak membiarkan pelayan untuk memindahkan barang apapun di kamar ini?" Tanya Rachel yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Eemmm kenapa ya??" Shea nampak seperti tengah berfikir sembari mulai duduk di tepi ranjang putrinya.
"Mommy juga tidak tau pasti kenapa mommy begitu tidak ingin ada barang-barangmu yang di pindahkan dari tempatnya, tapi yang jelas mommy berfikir saat kamu kembali masuk ke kamar ini, kamu tidak akan merasa asing jika tatanan atau susunannya masih sama seperti pada saat kamu tinggalkan dulu." Jelas Shea lagi sembari tersenyum tipis.
Rachel pun akhirnya ikut tersenyum tipis,
"Benar juga." Jawabnya pelan.
__ADS_1
Rachel pun kembali memandangi wajah Shea yang meski sudah cukup berumur, namun masih jelas terlihat cantik.
"Ada apa? Kenapa menatap mommy seperti itu ha?"
Rachel pun semakin melebarkan senyumannya, lalu seketika ia ikut duduk di samping Shea dan langsung memeluk erat tubuh Shea.
"Terima kasih banyak mom, terima kasih banyak sudah sangat menyayangi hingga saat ini, terima kasih banyak sudah melakukan yang terbaik untukku." Rachel pun kembali meneteskan air matanya.
"Heii, kenapa kamu malah kembali menangis sayang, please stop! Bukan ini yang mommy harapkan darimu saat kamu pulang kesini." Jawab Shea dengan begitu lembut, sembari terus mengusap-usap punggung putrinya yang sedang dirundung pilu itu.
"Entah keputusanku untuk pergi ini benar atau tidak, tapi yang jelas, hatiku sangat sakit saat ini mommy, aku benar-benar seperti kehilangan sebagian hidupku, aku seperti kehilangan tujuan dan kehilangan arah. Aku bingung sekarang harus berpegangan pada siapa kecuali pada mommy." Ungkap Rachel lagi yang terus menangis bahkan dia semakin menangis tersedu-sedu.
"Benar atau salah, yang jelas kamu telah memutuskannya dan sekarang kamu pun sudah disini. Jadi tidak perlu lagi memikirkan apa ini benar atau salah, yang perlu kamu lakukan adalah, menenangkan diri dan pikiranmu sayang. Jangan lupa juga intropeksi diri, agar kedepannya tidak terjadi lagi kesalahan yang sama."
Rachel pun mengangguk sembari semakin mengeratkan pelukannya.
"Itu memang benar hehehe." Shea pun kembali tersenyum.
Membuat Rachel ikut kembali tersenyum. Shea mengusap air mata putrinya yang sudah membuat pipi mulusnya menjadi begitu basah.
"Mommy mohon, jangan menangis terus, ini bukan lagi saatnya untuk menangisi takdir sayang, ini jalan hidup yang memang sudah di gariskan, jadi mau tidak mau, kita harus tetap menjalaninya, jadi saat ini kamu hanya perlu menjadi wanita yang tegar dan kuat. Dan kamu harus ingat satu hal ini,,," Shea pun menegakkan kembali tubuh putrinya, sehingga membuat Rachel kembali menatapnya.
"Apa mommy?" Tanya Rachel sembari terus menyeka air matanya.
"Sesakit atau sebahagia apapun kamu saat ini, ingat saja, dan ini pun akan berlalu. Jadi jalani saja, nikmati setiap prosesnya namun juga jangan terlalu berlebihan. Jadi jika saat ini kamu sedang merasakan sakit hati dan merasa terpuruk, ingat! Dan ini pun juga akan berlalu, hanya masalah waktu saja."
Rachel pun kembali terdiam sembari terus mencerna segala ucapan dan nasihat dari Shea yang memang sudah lebih banyak merasakan pil pahit kehidupan.
"Ya, mommy benar, ini pun akan berlalu, hanya masalah waktu saja." Jawab Rachel dengan begitu pelan.
__ADS_1
Shea pun mengangguk dan mengusap rambut Rachel.
"Ya sudah, sekarang kamu lebih baik mandi dengan air hangat agar bisa lebih rileks, setelah itu kamu bisa beristirahat."
"Iya mommy, aku juga memikirkan hal yang sama."
"Baiklah kalau begitu, mommy keluar dulu ya, mommy juga perlu membersihkan diri."
Rachel pun kembali mengangguk, akhirnya Shea pun pergi meninggalkan Rachel sendiri di kamarnya. Sebelum mandi, Rachel memutuskan untuk membuka kopernya, ia berniat ingin mengeluarkan seluruh barang-barang dan pakaiannya terlebih dulu dari koper untuk ia susun ke lemari dan meja riasnya.
Namun jiwanya kembali seolah mendapat guncangan hebat saat ia kembali meraih sebuah bingkai foto dirinya dan juga Arsen yang sedang terbalut dengan pakaian pernikahan. Hati Rachel kembali merasa pedih, teriris, dan bahkan ia merasakan dadanya yang mulai sesak saat menyadari jika kali ini antara ia dan Arsen sudah benar-benar terpisah oleh jarak bahkan mungkin sebentar lagi bukan hanya jarak yang memisahkan, namun juga status mereka juga akan terpisah.
Namun Rachel kembali teringat oleh ucapan Shea yang masih terngiang di telinganya.
"Calm down Rachel, calm down, ya ya ya, sesakit apapun, namun ini akan berlalu, cuma masalah waktu. Dan setelah itu, everything is gonna be fine." Gumamnya dalam hati sembari kemudian ia mulai menarik nafas panjang.
Rachel pun akhirnya meletakkan bingkai foto itu dengan rapi ke atas nakas yang ada di sisi tempat tidurnya.
Selesai berberes, ia pun akhirnya mulai bangkit untuk menuju ke kamar mandi, mengguyur tubuh dengan air hangat memanglah pilihan yang terbaik untuk membuat tubuh dan pikirannya sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Sisi lain di Apartement...
Suasana apartement yang awalnya nampak begitu tertata rapi, begitu damai dan asri, kini mendadak berubah menjadi begitu suram. Ada banyak botol wine yang berserakan di meja bar bahkan di meja yang terletak di ruang tamu, ada banyak pula barang-barang yang berhambur di lantai, terutama barang-barang yang memang sengaja ia rusak saat melampiaskan kekesalan hatinya.
Arsen, saat ini benar-benar terlihat begitu kacau, penampakan kekacauannya bahkan berkali lipat lebih parah bila di banding kekacauannya saat dikhianati Laura dulu.
Begitu pula kamar tidurnya yang selalu terlihat gelap dan berantakan, bahkan seluruh jendela yang ada di kamarnya, sama sekali tidak berniat untuk ia buka, benar-benar gelap seolah tidak ada tanda-tanda kehidupan seperti sebelumnya.
...Bersambung......
__ADS_1