Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 49


__ADS_3

"Diam kau!" Ketus Benzie pelan sembari menyenggol lengan Alex yang masih asik tertawa.


"Memangnya dulu tidak?" Tanya Rachel yang mulai mengerutkan dahi.


"Astaga, andai kamu tau bagaimana dinginnya paman mu ini dulu ketika masih muda, sampai-sampai orang yang berada di dekatnya saja seolah hampir membeku dibuatnya hahaha." Jelas Alex lagi yang terus tertawa dan kembali memukul-mukul meja.


"Dan jika bukan karena bibimu Yuna yang berhasil menakhlukkan hatinya, mungkin sampai sekarang wajahnya ini sudah keriput karena tak pernah tersenyum hahaha. Itulah sebabnya ia sangat mencintainya bibimu, itu karena Yuna sudah membuatnya awet muda sekarang hahaha bukan begitu Ben?" Tanya Alex sembari menyenggol pelan lengan Benzie.


Benzie pun hanya mendengus, sembari tersenyum kecil, kali ini ia tak mampu marah pada perkataan Alex karena menurutnya ucapan Alex memang lah benar adanya.


Namun berbeda halnya dengan Arsen, saat mendengar hal itu Arsen justru tidak tertawa sama sekali, ia malah mulai mengerutkan dahinya memandangi Benzie, Alex, dan Rachel secara bergantian.


"Tunggu, tunggu, paman? Bibi? Maksudnya apa ini?" Tanya Arsen kemudian.


Mendengar hal itu, membuat Alex yang sejak tadi terus tertawa geli seketika langsung terdiam. Begitu juga dengan Benzie yang langsung melirik tajam ke arah Alex yang begitu banyak bicara hingga membuat Arsen jadi mulai curiga. Sementara Rachel saat itu pun hanya bisa terdiam sembari meraih gelas minumannya, ia memilih menghabiskan minumannya sebagai pengalihan.


"Paman bibi apa maksudmu Arsen?" Tanya Alex sembari cengengesan yang masih berlagak tak mengerti.


"Ya, sejak tadi, uncle bercerita padanya, mengatakan jika papa adalah pamannya dan mamaku adalah bibinya? Maksudnya? Apa maksud dari ucapan itu uncle?"


Seketika suasana ruangan VVIP yang tadinya begitu hidup, kini mendadak menjadi hening.


"Astaga Lex, rasanya aku ingin sekali mematahkan lehermu saat ini juga!!" Gumam Benzie yang mulai menggeram dalam hati.


Namun Alex yang cerdik tentu takkan kehilangan akal untuk memberantas rasa curiga Arsen, suasana yang tadinya begitu hening, kini kembali bisa ia cairkan dengan suara tawanya yang kembali menggelegar di ruangan kedap suara itu.


"Hahahaha oh itu hahaha astaga Arsen."

__ADS_1


Benzie, Arsen, dan Rachel masih saja terdiam memandangi Alex yang kembali tertawa dengan ekspresi wajah mereka yang terlihat begitu terheran-heran.


"Arsen oh Arsen, pertanyaan mu itu sungguh sudah menegaskan pada kami semua jika kau ini masih muda tapi ternyata sudah pikun." Tambah Alex lagi sembari terus tertawa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pikun bagaimana?" Tanya Arsen sembari mengerutkan dahinya.


"Tentu saja kau pikun, bukan kah sejak awal tadi uncle sudah mengatakan pada Bella, jika di kantor dia memang harus menganggap kita ini adalah atasannya, tapi saat di luar jam kerja, Bella bisa menganggap uncle dan papamu sebagai pamannya. Jadi karena papamu adalah paman, otomatis tentu saja mamamu menjadi bibi baginya. Bukan begitu Ben?" Jelas Alex yang kemudian mengguit Benzie.


"Oh hahahaha iya juga ya, kau benar Lex hahaha." Jawab Benzie yang akhirnya ikut tertawa dan mengiyakan ucapan Alex demi membunuh rasa curiga Arsen.


Alex dan Benzie pun akhirnya tertawa layaknya dua orang konyol di hadapan Arsen, sementara Rachel yang melihat itu pun rasanya ingin sekali tertawa, namun hal itu tak dilakukannya, ia justru memilih menahan tawanya sekuat tenaga dan hanya memilih tersenyum.


Arsen pun akhirnya mendengus dan menggelengkan kepalanya melihat kekonyolan papa dan unclenya.


"Sudah lah, hentikan tertawa kalian, dengan seperti itu kalian berdua tidak terlihat berwibawa di depannya." Ucap Arsen yang melirik ke arah Rachel.


Benzie pun akhirnya memelankan suara tawanya, dan menyudahi tingkah konyolnya di hadapan putranya. Begitu juga dengan Alex yang akhirnya kembali mencoba untuk bersikap tenang.


"Baiklah, kalau begitu selamat kembali bekerja ya." Ucap Benzie dengan senyum tipisnya sembari kembali mengancing jasnya.


"Terima kasih sebelumnya tuan, sudah mengajak saya bergabung untuk makan siang." Ucap Rachel tersenyum lebar sembari membungkukkan badannya.


"Tidak masalah, semua itu semata-mata hanya karena agar kamu bisa merasa lebih cepat berbaur dan nyaman di lingkungan mu yang baru ini." Jelas Benzie.


Rachel pun hanya kembali tersenyum lalu mengangguk.


Tak lama mobil milik Benzie pun terlihat terhenti tepat di depan loby, Benzie dan Alex pun pergi lebih dulu meninggalkan Arsen dan Rachel yang masih menunggu mobil mereka di ambilkan oleh security restoran.

__ADS_1


"Lain kali jangan bersikap seperti tadi, apalagi di hadapan papaku." Ucap Arsen dengan sikap tenangnya, dan tatapan matanya yang sama sekali tak menatap ke arah Rachel.


"Untuk masalah itu saya minta maaf, saya hanya refleks."


"Baiklah, untuk kali ini aku memaafkan mu." Arsen pun akhirnya menatap Rachel meski dengan tatapan datarnya.


"Terima kasih." Rachel pun tersenyum hangat.


Tak lama mobil mereka tiba, Arsen dengan segera mengambil alih mobilnya dan langsung melaju untuk kembali ke kantor utama. Di sepanjang jalan ponselnya terus berbunyi, namun ketika melirik nama Laura yang sedang memanggilnya, ia pun memilih untuk mengabaikan panggilan itu meski Laura sudah beberapa kali menelponnya secara terus menerus.


"Kenapa tidak di angkat tuan muda?"


"Mengangkat panggilannya saat ini, itu sama saja aku membuat pusing kepalaku sendiri." Jawab Arsen dengan tenang.


Rachel pun kali ini memilih hanya mengangguk-angguk saja.


Mereka pun tiba di kantor utama, Arsen langsung berjalan cepat menuju ruangannya dengan diikuti oleh Rachel yang setia mendampinginya.


"Aku ingin kamu segera mengatur jadwalku untuk waktu seminggu mendatang. Kamu bisa menanyakan hal itu pada uncle Alex atau pun sekretarisnya Anna, karena mereka yang menghandle ini sebelumnya." Ucap Arsen sebelum memasuki ruangannya.


"Baik tuan." Rachel pun mengangguk.


Arsen pun langsung masuk begitu saja ke ruangannya, ia terduduk di kursi kejayaannya, sembari mulai memijiti pelipisnya. Tak sengaja matanya melirik ke arah sebuah berkas yang terletak di atas meja. Berkas itu ialah hasil laporan yang dikerjakan oleh Rachel yang belum sempat ia cek ulang.


Ia pun perlahan meraih berkas yang terbalut oleh map hitam itu, lalu mulai membukanya, matanya dengan begitu jeli memandangi angka demi angka yang tertulis di setiap lembaran.


"Emmm untuk sebuah tugas di hari pertama bekerja, tentu ini bukanlah tugas yang mudah, namun dia ternyata cukup bisa di andalkan, semuanya terlihat begitu rapi dan jelas." Pikir Arsen seorang diri sembari melirik ke arah Rachel yang tengah terduduk di depan laptop di ruangannya.

__ADS_1


Tanpa berkata apapun lagi, Arsen pun langsung menandatangani berkas itu bahkan sebelum Rachel meminta tanda tangan darinya.


...Bersambung......


__ADS_2