
Setelah beberapa saat terdiam dengan tatapan lekatnya, akhirnya Arsen pun mulai tersenyum, hal itu pun mengundang rasa bingung pada diri Rachel.
"Ke, kenapa kamu tiba-tiba tersenyum?" Tanya Rachel dengan wajahnya yang masih begitu kikuk.
"Tidak, tidak, aku hanya merasa lucu melihat ekspresimu barusan hehehe. Kenapa kamu seolah nampak begitu tegang saat aku bertanya seperti tadi ha? Apa kamu mengira jika aku tidak akan percaya padamu?"
"Emm hehehe sepertinya begitu." Rachel pun cengengesan.
"Dengarkan aku! Kata apapun yang keluar dari mulutmu, aku akan mempercayainya, terlepas dari benar atau tidaknya." Kini Arsen kembali menatap wajah Rachel begitu dalam.
"Ke, kenapa bisa begitu? Apa kamu sungguh tidak takut jika aku membohongimu?"
"Tidak! aku mencintaimu dan ku tau kamu pun sebaliknya. Aku tidak mungkin berani berkata bohong pada seseorang yang kucintai walau sekecil apapun itu, dan aku pun yakin kamu berfikiran hal yang sama. Aku percaya jika kamu tidak akan pernah membohongiku, karena kamu mencintaiku. Bukan begitu?"
Tatapan Arsen kali ini terlihat semakin dalam, sorot matanya saat itu benar-benar seolah sedang menaruh harapan besar pada Rachel. Membuat bulu kuduk Rachel kembali berdiri tegak, entah kenapa situasi yang harusnya menjadi sangat romantis itu, justru terasa cukup mencekam bagi Rachel.
Hingga lidah Rachel pun semakin terasa kelu, ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun lagi, ia hanya tersenyum kikuk sembari mengangguk pelan.
"Oh iya, ayo masuk lah dulu, rasanya sangat tidak nyaman jika harus mengobrol di depan pintu seperti ini?" Ucap Rachel kemudian sebagai pengalihan topik.
Arsen pun mengangguk dan mulai melangkah memasuki unit apartement Rachel untuk pertama kalinya. Mata Arsen seolah tak bisa diam dan terus melirik kesana kemari, menyisir setiap sudut ruangan yang berwarna pastel itu.
"Duduklah, aku akan membuatkanmu minuman." Ucap Rachel sembari tersenyum tipis.
Lagi-lagi Arsen hanya mengangguk dan mulai menduduki sebuah sofa yang empuk.
"Apa kamu yang menatap seluruh ruangan disini?" Tanya Arsen.
"Hehehe iya. Kenapa? Apa ada yang tidak sesuai dengan seleramu?"
"Ah tidak, justru sebaliknya." Jawab Arsen dengan senyuman tipisnya.
"Dia memiliki selera yang sangat bagus, hal ini terbukti dari caranya menata setiap sudut ruangan ini. Benar-benar sangat estetik." Gumam Arsen dalam hati.
Tak lama Rachel pun datang dengan membawa dua cangkir teh hangat.
"Ini untukmu, minumlah." Rachel pun memberikan secangkir teh yang ia pegang pada Arsen.
"Terima kasih."
Rachel pun akhirnya duduk di samping Arsen dan mulai ikut menyeduh teh miliknya. Namun entah kenapa, suasana saat itu tiba-tiba saja berubah menjadi sangat canggung. Antara Arsen dan Rachel mendadak saling diam dengan sesekali saling bertatapan. Saat itu Arsen tiba-tiba saja merasa grogi saat ia tak sengaja melirik ke arah bibir mungil Rachel yang kala itu terlihat seolah begitu merekah bak buah delima.
"Astaga pikiran macam apa ini? Kenapa saat melihat bibirnya membuatku jadi gelisah seperti ini? Ah tidak, tidak, aku harus bisa mengendalikan diri." Gumam Arsen dalam hati.
Sementara Rachel, saat itu pikirannya sedang di penuhi dengan hal-hal yang sangat ia takuti.
"Apa sekarang adalah waktu yang tepat untukku mengakui semuanya?" Tanya Rachel dalam hati sembari kembali menatap Arsen.
"Ya, kurasa ini saatnya." Imbuhnya lagi sembari mulai menghela nafas.
"Arsen." Panggil Rachel pelan.
"Emm." Arsen juga menatapnya dan mengangkat kedua alisnya.
"Ada apa? Apa kamu merasakan sakit lagi? Atau pusing?"
"Bu, bukan, bukan itu."
"Lalu?" Kini Arsen mulai menatap Rachel dengan tatapan begitu serius.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Ucap Rachel dengan sedikit ragu-ragu.
"Ada apa? Katakan saja, jika di lihat dari wajahmu, sepertinya sangat serius."
"Ya, ini memang masalah serius."
"Seserius apa? Katakan lah!"
Tatapan Arsen saat itu benar-benar seolah seperti sebuah pedang yang tajam, sangat menusuk, membuat Rachel semakin berkeringat dingin hingga lidahnya kembali merasakan kelu.
__ADS_1
"Be, begini Arsen, ak, akuu..." Rachel benar-benar sangat takut serta gugup, hingga membuatnya terus menerus meremas tangannya sendiri.
"Sayang, kamu kenapa? Ada apa sebenarnya?" Arsen mulai nampak cemas, ia pun mendekati Rachel dan memegang kedua pundaknya.
Namun, baru saja Rachel membuka mulutnya untuk menjawab, bel apartementnya kembali berbunyi.
Ting tong...
Mata mereka berdua seketika dengan serentak menoleh ke arah pintu.
"Astaga, siapa lagi yang datang malam-malam begini?" Celetuk Rachel sembari mulai bangkit dari duduknya.
"Kamu duduk lah, biar aku saja yang membukanya." Ucap Arsen yang kembali mendudukkan Rachel ke sofa.
Dengan tenang Arsen melangkah menuju pintu dan langsung membuka pintu itu tanpa mengintip terlebih dulu dari lubang kecil yang ada di tengah pintu. Terlihat seorang kurir lelaki yang datang untuk mengantarkan beberapa box makanan.
"Ini pesanannya tuan muda."
"Oh iya terima kasih. Ini tips untukmu." Arsen meraih paperbag dari kurir dan memberikannya beberapa lembar uang.
"Ya tuhan, terima kasih banyak tuan muda."
Arsen hanya tersenyum tipis dan mengangguk. Ia pun kembali menutup pintu dan dengan senyuman, ia kembali duduk di sisi Rachel.
"Ka, kamu memesan makanan?" Tanya Rachel yang masih nampak tercengang.
Arsen pun melebarkan senyumannya dan kembali mengangguk.
"Saat di jalan menuju kesini, aku benar-benar khawatir padamu, dan aku yakin kamu pasti belum makan malam. Apa tebakanku benar?"
Rachel seketika meraba perutnya yang memang tanpa ia sadari terus memunculkan suara bunyi-bunyian sumbang.
"Iya." Jawab Rachel kikuk.
"Tapi, bukankah ini jadi menunda semua yang ingin ku ungkapkan padanya?" Celetuk Rachel yang jadi sedikit melesu.
"Kamu makan ya, aku memesan semua makanan yang pasti kamu sukai." Arsen dengan semangat menyiapkan seluruh makanan yang ia pesan di atas meja.
"Ta, tapi Arsen, bagaimana dengan sesuatu yang ingin aku katakan padamu tadi?"
"Ah sudah lah, kita bahas itu nanti ya. Kesehatanmu jauh lebih penting dari apapun, sekarang makan lah." Jawab Arsen.
Rachel pun akhirnya mulai memandangi seluruh jenis makanan yang telah terhidang di atas meja.
"Sepertinya lebih nyaman jika duduk di bawah, ayo." Arsen yang awalnya duduk di sofa, kini langsung duduk di lantai.
Membuat mata Rachel seketika terbelalak, bagaimana tidak, seorang Arsen Lim yang dia tau kini punya pengaruh besar di kota itu, kini sedang duduk lesehan di lantai.
"Arsen Lim, sepertinya tidak perlu duduk di bawah, kita makan di meja makan saja ya, aku akan memindahkan semuanya ke meja makan."
"Ah tidak, tidak perlu. Disini lebih nyaman, ayo duduk lah." Arsen pun menarik tangan Rachel begitu saja, membuat tubuh mungil Rachel seketika ambruk di pangkuan Arsen.
Kedua bola mata mereka kembali saling menyapa, dengan sorot mata satu sama lain yang seolah tak ingin berpaling arah kala itu. Arsen begitu terpaku, lagi dan lagi, matanya mulai liar hingga melirik ke arah bibir Rachel.
Perlahan tapi pasti, wajah Arsen mulai ia condongkan ke arah Rachel. Saat itu Rachel pun seolah tak bisa berbuat banyak selain hanya diam terpaku menantikan bibir Arsen yang kini semakin dekat. Hingga akhirnya'
Cuppp...
Arsen melendingkan bibirnya dengan sempurna ke bibir calon istrinya itu, lalu mulai mengecup dan melumattnya dengan lembut. Membuat mata Rachel spontan terpejam. Tangan Rachel yang tadinya memegang erat tangan Arsen, kini mulai beralih dan melingkar ke leher Arsen.
Gejolak cinta yang Arsen rasakan kini seolah tak mampu ia bendung lagi, hal itu terbukti dari ciumannya yang seakan terasa semakin menuntut. Deru kedua jantung yang berdegub cepat pun begitu terdengar kala itu.
Namun, lagi-lagi ciuman yang mulai menghangat itu seketika harus terhenti. Saat untuk kedua kalinya bel apartement Rachel kembali berbunyi.
Ting tong...
Dengan cepat keduanya pun refleks melepaskan tautan bibir mereka yang entah sudah berapa lagi saling memburu. Dengan cepat Rachel pun mengusap bibirnya yang basah dan menoleh ke arah pintu.
"Siapa lagi kali ini?" Tanya Rachel yang kembali menatap Arsen dengan tajam.
__ADS_1
"Hehehe, biarkan aku yang membuka." Jawab Arsen kikuk dan langsung bangkit dari duduknya.
Ceklek...
"Tuan muda, ini pesanan anda." Ucap seorang kurir yang kali ini berseragam serba putih.
"Apa sudah lengkap semua?" Tanya Arsen sembari meraih paperbag itu.
"Tentu tuan muda, semua sesuai pesanan dan kami berikan yang terbaik. Anda bisa mengeceknya sendiri."
"Ah tidak perlu, ini tips untukmu." Lagi-lagi Arsen memberikan kurir uang tips.
"Terima kasih banyak tuan muda." Ucap kurir sembari cengengesan.
"Kenapa malah cengengesan? Kamu bisa pergi sekarang!"
"Hehehe ti, tidak tuan muda, itu, di, di bibir anda."
"Apa?" Tanya Arsen yang mulai mengernyitkan dahi.
"Apa anda menggunakan lipbalm atau semacamnya? Bibir anda terlihat begitu basah dan sedikit memerah tuan muda hehehe."
Arsen yang shock pun secara spontan memegang bibirnya dengan matanya yang melotot.
"Yaa, aku menggunakan lipbalm karena akhir-akhir ini bibirku terasa kering. Emangnya kenapa? Apa ada masalah?!" Arsen pun melotot.
"Ti, tidak tuan muda, tentu tidak hehe."
"Sudah, pergi lah." Ucap Arsen yang masih melotot.
Rachel yang mendengar hal itu dari dalam, seketika pun langsung menahan tawa dengan menutup mulutnya yang begitu ingin tertawa pada saat itu. Arsen pun masuk kembali dengan membawa rasa malunya sembari terus mengusap bibirnya.
"Jangan tertawa!"
"Oh, ti, tidak. Siapa yang tertawa." Jawab Rachel yang terus berusaha menahan tawanya.
"Ini." Arsen pun memberikan paperbag yang ia pegang kepada Rachel.
"Apa ini?" Rachel pun meraihnya dengan tatapan kembali bingung.
"Berbagai vitamin, akhir-akhir ini kamu terlihat seperti sangat kelelahan, dan lihat lah, kantung matamu pun mulai terlihat. Di tambah lagi mulai besok kita pasti akan disibukkan dengan acara pernikahan." Jelas Arsen.
"Kamu benar Arsen Lim, akhir-akhir ini aku memang sangat lelah, aku lelah memikirkan bagaimana cara mengungkapkan jati diriku sebenarnya padamu hingga membuatku sulit tidur."
"Kenapa diam saja, sudah ayo lanjut."
"La, lanjut?!" Mata Rachel seketika mendelik.
"Iya, lanjut makan." Jawab Arsen polos.
"Oh lanjut makan. Emm baiklah." Rachel pun tersenyum kikuk.
"Memangnya lanjut apa lagi yang sedang kamu pikirkan?"
"Aku berfikir jika kamu mau melanjutkan ciuman kita." Jawab Rachel dalam hati.
"Ah tidak, tidak ada. Ayo kita makan bersama." Rachel pun kembali duduk di bawah dan menarik Arsen untuk duduk disisinya.
Mata Rachel kini kembali melirik ke arah berbagai makanan yang telah terhidang di hadapannya.
"Aku benar-benar bingung harus memulai dari yang mana." Celetuk Rachel.
"Mulai lah dari yang paling berat dulu." Jawab Arsen sembari mendekatkan beef steik pada Rachel.
"Kamu memesan makanan begitu banyak, apa kamu ingin membuat aku gendut lagi?"
"Lagi?!" Tanya Arsen yang seketika langsung menatap Rachel.
Hal itu pun sontak membuat Rachel shock karena ia menyadari ia sedikit keceplosan.
__ADS_1
"Memangnya sebelumnya kamu pernah gendut?" Tanya Arsen yang mulai memandangi bentuk tubuh Rachel yang begitu langsing hingga rasanya sangat mustahil jika ia pernah gendut.
...Bersambung......