Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 169


__ADS_3

Rachel mulai meringis saat kepunyaan Arsen mulai ingin menerobos memasuki bagian penting miliknya. Air matanya kembali menetes begitu saja menahankan rasa sakit yang begitu tak diduganya akan separah itu.


"Kamu menangis lagi?" Tanya Arsen yang seketika menghentikan aksinya.


"Kenapa berhenti? Tidak apa, kurasa aku bisa menahannya." Ucap Rachel lirih yang kembali ingin mencium Arsen.


Namun Arsen mengelak pelan dan kembali menatapnya dengan sendu.


"Aku sudah berusaha melakukannya sepelan mungkin, tapi sepertinya hal itu pun masih saja menyakitimu. Aku sungguh minta maaf."


"Tidak apa, lanjutkan saja, lagi pula kita sudah setengah perjalanan." Jawab Rachel namun dengan air matanya yang masih sesekali menetes.


"Tapi aku tidak mau menyakitimu lagi,"


"Kamu akan lebih menyakitiku jika harus menunda dan membuatku harus mengulangi rasa sakitnya lagi."


"Benarkah? Apa kamu yakin ingin melanjutkannya?"


Rachel pun mengangguk penuh keyakinan. Arsen yang melihatnya, kembali membelai lembut pipi istrinya, lalu menciumnya lagi. Kedua bibir mereka pun kembali saling bertautan, seolah saling membalas lumataan masing-masing. Kini Arsen mulai kembali beralih menuju leher Rachel, menciptakan lebih banyak tanda kepemilikan di area itu, lalu turun ke dada dan akhirnya berlabuh di gundukan daging miliknya yang terlihat masih berdiri dengan begitu kokoh.


Rachel kembali mengerang serta mulai meremass kembali rambut Arsen yang sudah terlihat berantakan sejak awal. Suara erangan yang terdengar seakan begitu mendayu-dayu turut membuat Arsen semakin kalap dan tak terkendali. Ia pun kembali menciumi seluruh bagian tubuh Rachel dan nyaris tak seinci pun terlewatkan.


Aroma tubuh Rachel benar-benar memabukkan bagi Arsen, membuatnya semakin tak ingin berhenti menciuminya secara terus menerus. Rachel kembali menggeliat geli saat Arsen kembali mengulum gundukan daging miliknya, lalu secara perlahan, kembali memasuki lobang surgawi milik istrinya yang belum sepenuhnya berhasil ia terobos di percobaan pertama,


"Aaagh." Pekik Rachel, saat akhirnya sang Arsen junior berhasil menembus sampai ke ujung lorong yang masih terasa begitu sempit dan hangat.


Sesekali Arsen juga ikut mengerang, saat merasakan kehangatan yang luar biasa pada bagian bawahnya. Keringat keduanya mulai bercucuran, Rachel pun nampak mulai melemah dan terus meringis namun masih tak ingin menyerah untuk melakukannya.


Arsen terus menarik ulur kepunyaannya dengan ritme yang teratur dan pelan namun penuh penekanan. Itu benar-benar hal yang pertama baginya, mendapat kenikmatan yang luar biasa yang sulit di jelaskan dengan kata-kata.


Perlahan tapi pasti, ritme yang awalnya lembut, semakin lama seakan kian menuntut dan terasa semakin cepat, semakin cepat, dan cepat. Hingga pada akhirnya Arsen pun ambruk di atas tubuh mungil Rachel dengan nafasnya yang begitu tersengal-sengal.


Itu juga hal yang pertama bagi Rachel, membuatnya merasakan sakit yang luar biasa serta rasa nikmat dalam waktu yang sama, rasanya juga sulit ia jelaskan.


"Huh, huh, huh." Deru nafas Rachel yang juga terengah-engah begitu jelas terdengar di telinga Arsen.


Beberapa saat setelahnya, Arsen kembali menatapnya, mengusap lembut keringat yang membasahi dahinya, lalu kembali memints maaf.


"Maafkan aku, karena hal ini kamu harus merasakan sakit." Ucapnya lembut.


"Tidak apa." Ucap Rachel yang nampak begitu terkulai seolah kehilangan seluruh tenaganya.


Arsen akhirnya berbaring di sisi Rachel, lalu menarik selimutnya yang tebal dan membantu menutupi tubuh Rachel yang masih terlihat polos tanpa sehelai benang pun. Arsen memeluknya dengan erat, lalu mengecup lembut dahinya dan terus mengusap-usap punggungnya dengan lembut.


"Jadi, ini pun juga yang pertama bagimu?" Tanya Arsen yang kemudian mulai kembali tersenyum.

__ADS_1


Rachel hanya mengangguk lesu.


"Jujur aku merasa sangat beruntung tapi sekaligus juga merasa sulit untuk percaya."


"Kenapa begitu?"


"Kamu hidup dan besar di Paris, kota dimana melakukan hubungan intim bahkan dengan teman juga di anggap hal yang begitu wajar. Tapi mengetahui jika kamu belum pernah melakukannya, itu sebuah hal yang menakjubkan bagiku di jaman modern begini."


"Entah lah, tapi ku rasa, aku sama sekali tidak memiliki ketertarikan pada pria bule. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk terus single sampai pada akhirnya, aku bertemu lagi denganmu." Ungkap Rachel yang mulai kembali tersenyum simpul saat membayangkan bagaimana pertemuan pertamanya dengan Arsen saat di Paris.


"Lalu kamu, apa sebelumnya sudah pernah melakukannya? Tapi kurasa aku sudah tau jawabannya" Rachel pun langsung menatapnya dengan tatapan seolah menyelidik.


Hal itu sontak membuat Arsen mendengus dan semakin melebarkan senyumannya.


"Kamu pengalaman pertamaku dalam hal ini." Jawabnya sembari mencubit pelan hidung istrinya.


"Hah, tidak mungkin! Mengingat dulu kamu pernah berlibur bersamanya ke Paris." Jawab Rachel seolah tak yakin.


"Apa yang membuatmu tidak percaya? Apa wajahku ini terlihat seperti lelaki hidung belang? Aku memang pergi berlibur bersamanya, tapi aku tidur di kamar yang berbeda dengannya."


"Eem benarkah? Sebenarnya, masalahnya bukan ada pada wajahmu, tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi ada pada mantan kekasih terindahmu itu, dia terlihat begitu vulgar dalam berpakaian, dan juga begitu agresif untuk ukuran seorang wanita. Jadi, sangat sulit untuk percaya jika kalian sama sekali belum pernah melakukannya."


"Emm ya, kali ini aku percaya. Mengingat kamu yang selalu menghindariku saat aku mencoba memakai pakaian terbuka di hadapanmu."


"Untuk hal itu jelas berbeda, aku menghindar bukan karena tak menginginkanmu, justru saat itu aku begitu ingin melahapmu, tapi egoku seolah menghalangiku untuk melakukan itu. Sekali lagi, aku memohon maaf padamu."


"Eeemm aku senang mendengar pengakuanmu, terlihat begitu jujur dan natural." Rachel pun dengan manja kembali memeluk Arsen.


Arsen kembali tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya pada Rachel.


"Aku mencintaimu, sangat cinta! Bisa mengalahkan egoku hari ini, membuatku sangat merasa lega, seperti seluruh beban di pikiranku lenyap begitu saja."


"Jika cinta, kenapa tadi kamu tidak menahanku atau mengejarku?" Tanya Rachel lagi yang kembali mengerucutkan bibirnya.


"Awalnya aku sudah ingin mengejarmu hingga di depan ruanganku, tapi entah kenapa saat itu egoku seakan kembali menguasaiku. Jujur, aku merasa cemas sekaligus kesal di waktu yang sama, itu sungguh membuatku bingung harus melakukan apa. Sekali lagi aku minta maaf, aku membatalkan keputusan untuk memecatmu, jadi tolong jangan bekerja dengan lelaki itu. Aku tidak akan pernah rela."


"Eeemm baiklah, tidak perlu di bahas lagi, membuatku sedih saja."


"Eemm baiklah, mari bahas tentang kita saja."


"Ya, mari bahas tentang kita, pembahasan apa yang tepat untuk memulainya?" Tanya Rachel yang nampak kembali bersemangat.

__ADS_1


"Eeemm." Arsen pun nampak seperti sedang berfikir.


"Bagaimana jika dimulai dengan nama panggilan?" Tambah Arsen lagi yang menatap Rachel dengan sumringah.


"Boleh, nama panggilan apa yang cocok?"


"Yang jelas, aku tidak ingin mendengarmu memanggilku dengan nama. Itu tidak ada bedanya dengan saat kita belum menikah."


"Bagaimana dengan sayang?"


"Itu cukup bagus, tapi sudah terlalu mainstream."


"Ah benar juga, emm apa ya???"


Saat itu Arsen nampak hanya diam menantikan ide dari Rachel.


"Haaaish, memikirkannya membuatku kembali pusing, bisakah kita memikirkannya nanti saja?"


"Baiklah, untuk sementara aku akan memanggilmu 'istri'" ucap Arsen kembali tersenyum.


"Yaa, baiklah suamiku. Andai begini sejak tadi, tentu aku tidak perlu stress memikirkannya." Celetuk Rachel,


"Kamu ingin stress mu lenyap dalam seketika?"


"Bagaimana caranya??"


"Mari melakukannya lagi." Bisik Arsen yang kemudian kembali menciumi Rachel.


Rachel pun kembali terkekeh kecil dan mengelakknya.


"Aaah tidak, lihat lah hari sudah gelap, aku harus menyiapkan makan malam."


"Haaish, aku mulai bosan dengan makanan, apa malam ini aku boleh memakanmu saja?" Arsen pun terkekeh dan kembali berusaha menciumi Rachel.


Rachel nampak tertawa geli dan terus menerus berusaha menghindar.


"Hentikan hahaha, kenapa kamu mendadak jadi nakal begini?"


"Kamu yang membuatku nakal."


Arsen dan Rachel pun kembali saling melempar senyuman, api emosi yang sebelumnya begitu berkorbar, kini seketika telah berganti menjadi kobaran api asmara. Arsen benar-benar di mabuk cinta karena Rachel, membuatnya ingin selalu menciumi istrinya seolah tak ingin berhenti.


Arsen pun kembali melahap bibir Rachel, melahapnya tanpa ampun, membuat Rachel tak bisa menolak ajakannya lagi kali ini. Beberapa saat setelahnya, suara ******* pun kembali terdengar begitu menggema di dalam ruangan itu. Kali ini, Arsen nampak lebih liar dari sebelumnya, yang mana sebelumnya ia nampak lebih banyak berhati-hati dalam bertindak. Namun nyatanya, liarnya Arsen justru berhasil membuat Rachel semakin terbuai, matanya terus terpejam kala merasakan setiap sentuhan dari bibir Arsen yang terus saja menjalar di sekujur tubuhnya, memunculkan lebih banyak tanda merah kepemilikan di area gundukan daging miliknya.


Dan akhirnya lagi, mereka pun melakukannya lagi.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2