
Saat itu Arsen pun kembali menghentikan langkahnya dan mulai menatap datar wajah Antony yang kala itu menatapnya dengan sebuah senyuman tipis.
"Kau dengar, ini sama sekali tidak menyakitinya." Ucap Arsen kemudian.
Mendengar hal itu membuat Antony mendengus pelan dan semakin tersenyum seolah mengejek.
"Ayo Bella." Arsen pun kembali menarik tangan Rachel.
"Ka, kalau begitu aku permisi dulu." Rachel pun mulai membungkukkan badannya di hadapan Antony sebelum akhirnya ia pun pergi.
"Tunggu." Ucap Antony.
Membuat langkah keduanya seketika kembali terhenti.
"Bella, apa malam ini waktu mu kosonng, jika ia, aku ingin mengajakmu makan malam." Ucap Antony yang kembali mendekati Rachel.
Arsen yang juga mendengar itu sontak mulai membulatkan matanya. Sementara Rachel yang saat itu merasa sangat kikuk berdiri di antara Arsen dan Antony hanya bisa terdiam sembari kembali mengusap-usap tengkuknya.
"Bagaimana Bella?" Tanya Antony lagi.
"Oh emm aku, aa, aku..." Rachel yang tak tau harus menjawab apa mulai tergagap-gagap.
"Maaf Antony Yue, tapi malam ini Bella akan kembali sibuk karena aku sudah membuat janji makan malam dengannya." Jelas Arsen berbohong.
"Oh benarkah begitu Bella?" Tanya Antony dengan tenang sembari kembali menatap Rachel.
Rachel yang polos yang sama sekali tak tau menahu akan hal itu sontak mulai mengerutkan dahinya menatap Arsen.
"Janji makan malam? Apakah kamu ada membicarakan hal ini sebelumnya? Kenapa aku tidak tau?" Bisik Rachel yang merasa bingung.
Namun Antony yang mendengar hal itu sontak kembali tertawa kecil.
"Hoh, nampaknya tuan muda Arsen Lim begitu protektif pada Sekretarisnya ya hingga tak membiarkan sembarang pria mengajak sekretarisnya makan malam. Apa kau sungguh se senggang itu Arsen Lim? Kenapa kamu tidak mengajak pacarmu saja untuk menemani mu makan malam? Kemana pacar cantik dan seksi mu itu ha?" Gumam Antony masih dengan sikapnya yang begitu tenang.
__ADS_1
Mendengar hal itu membuat Arsen mulai naik darah, ia pun mulai mengepalkan kedua tangannya sembari merapatkan gigi-giginya. Rachel yang melihat itu seketika menyadari jika Arsen mulai kesal atas ucapan Antony.
"Oh tidak, jangan sampai ini membuat mereka jadi berkelahi, ini tentu tidak baik untuk hubungan kerja sama mereka." Gumam Rachel dalam hati.
Akhirnya Rachel pun kembali berdiri di tengah-tengah mereka untuk menyudahi perbincangan yang nampaknya mulai tidak kondusif itu.
"Hei, dari pada terus berbincang seperti ini, bagaimana kalau.... emmm ba, bagaimana kalau..." Rachel yang gelagapan mulai berfikir.
"Oh ya, bagaimana kalau kalian balapan saja? Tidak baik jika terlalu banyak membuang waktu seperti ini hehe." Tambah Rachel lagi sembari tersenyum kikuk di hadapan mereka berdua.
"Ide bagus." Jawab Antony sembari terus menatap Arsen.
Kini antara Arsen dan Antony terus melempar tatapan datar satu sama lain seolah kini mereka tengah berperang dingin.
"Mari buat kesepakatan, jika aku menang, maka aku boleh mengajak Bella makan malam di luar. Dan jika aku kalah, maka terserahmu." Tambah Antony.
"Setuju!" Jawab Arsen singkat.
Namun Arsen seketika menatapnya dan berkata.
"Tenang lah, aku berjanji akan memenangkan pertandingan ini, jadi kamu tidak perlu membuang waktu untuk makan malam dengannya." Bisik Arsen dengan tenang.
Bisikan maut Arsen ternyata mampu membuat wajah Rachel kembali memerah, ia pun mulai kembali tersipu malu, dengan hatinya yang kembali berbunga-bunga.
"Ya ampun Arsen Lim, hanya dengan kata-kata seperti itu saja sudah mampu membuatku terasa melayang seperti ini." Gumam Rachel dalam hati sembari terus menahan senyumnya.
Akhirnya Arsen dan Antony mulai berjalan menuju mobil yang telah di persiapkan di arena sircuit. Sementara Rachel memilih berdiri di podium sebagai penonton.
Dalam hitungan tiga dua satu, kini Arsen dan Antony pun mulai melajukan mobil mereka masing-masing, pertandingan pun terasa begitu sengit, meski saat itu tidak ada piala yang sedang mereka perebutkan. Saat itu Rachel yang mulai tegang mulai menyatukan kedua tangannya lalu menempelkannya ke mulutnya. Dalam hati, Rachel benar-benar berharap agar Arsen dapat memenangkan pertandingan balapan itu. Namun di sisi lain ia begitu takut Antony kecewa dan marah hingga membatalkan kontrak kerja sama mereka yang begitu menguntungkan bagi perusahaan mereka.
Kini mobil keduanya semakin mendekati garis finish, Arsen dan Antony nampak begitu fokus mengemudikan mobil mereka agar lebih cepat sampai di garis finish yang sudah semakin terlihat jelas di depan mata mereka. Namun sayang, yang terjadi tidaklah sesuai dengan harapan Arsen maupun Rachel. Sangat tipis sekali berbedaannya, namun Antony lah yang ternyata berhasil memenangkan pertandingan kala itu.
__ADS_1
"Aaaaagh." Teriak Arsen di dalam mobilnya sembari memukul kasar setir kemudinya.
Sama halnya dengan Arsen, Rachel pun saat itu seketika mulai melesu, dalam hati ia merasa begitu sedih karena Arsen gagal memenangkan pertandingan itu.
"Dasar payah, bukankah dia sudah berjanji akan memenangkan pertandingan ini?" Celetuk Rachel dalam hati dengan wajahnya yang mulai cemberut.
Namun berbeda halnya dengan Antony yang kala itu jadi begitu tersenyum lebar saat mengetahui jika dirinya lah yang menang. Antony pun keluar dari mobil dan mulai melangkah ke arah Rachel dengan begitu percaya dirinya.
"Bagaimana performaku tadi?" Tanya Antony dengan sebuah senyuman yang begitu cerah.
"Oh itu, emm iya selamat ya, kamu hebat." Ucap Rachel yang memaksakan senyumannya.
Tak lama Arsen dengan wajah lesu bercampur kesal terlihat melewati mereka, melihat hal itu Rachel segera menghampirinya.
"Arsen." Panggil Rachel.
Arsen berhenti sejenak dengan kepala yang mulai ia tundukkan.
"Maafkan aku, ternyata aku kalah." Ucapnya pelan.
"Emm mau bagaimana lagi." Ucap Rachel yang ikut murung.
"Apakah aku memang lelaki yang lemah dan payah?" Tanya Arsen lagi dengan lirih.
Membuat Rachel seketika terdiam dan merasa bersalah karena sebelumnya ia sudah mengatakan Arsen orang yang payah meski ia mengatakan hal itu dalam hati.
"Ah tentu saja tidak, ini hanya kebetulan saja dewi Fortuna sedang ada di pihak Antony. Mungkin next time kamu akan menang. Sudah lah jangan terlalu di pikirkan, ini hanyalah sebuah pertandingan seru-seruan saja. Lagi pula sang pemenang tidak mendapatkan piala maupun uang, jadi apa yang harus di pusingkan?" Jelas Rachel yang mencoba untuk menghibur Arsen.
Namun mendengar hal itu bukan malah membuat Arsen jadi terhibur, ia justru langsung menatap Rachel dengan begitu serius.
"Bagaimana kamu bisa setenang ini, padahal jelas kamu tau yang menang berarti bisa makan malam denganmu. Apa kamu sungguh ingin makan malam dengannya? Apa kamu sungguh menyukai Antony?" Ketus Arsen yang terlihat semakin merasa kesal.
__ADS_1
Hingga membuat Rachel lagi-lagi merasa bingung, karena ia bahkan tidak memikirkan hal itu sama sekali. Yang ia pikirkan saat itu bagaimana cara untuk menghibur Arsen, namun ternyata itu semua di salah artikan oleh Arsen.
...Bersambung......