Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 56


__ADS_3

Melihat Rachel yang sudah mulai sedikit tenang, Arsen pun kembali membuka suara.


"Bagaimana? Sudah merasa lebih tenang sekarang?"


Rachel pun mengangguk pelan sembari meletakkan cangkir tehnya ke atas meja.


"Baiklah, itu artinya kamu bisa lanjut bekerja secara profesional kan?"


Lagi-lagi Rachel pun hanya mengangguk.


"Ok, sekarang berikan jadwal yang ku minta kemarin, aku ingin melihatnya!" Ucap Arsen dengan tenang.


"Baik, akan saya ambilkan sebentar."


Rachel pun akhirnya beranjak ke ruangannya untuk mengambil beberapa berkas, lalu dengan tergesa-gesa ia kembali ke ruangan Arsen untuk memberikan map hitam berisi jadwal mingguan Arsen itu.


"Ini tuan mud....."


Namun Rachel yang begitu tergesa-gesa membuatnya tak terlalu memperhatikan langkahnya hingga membuat kakinya tiba-tiba tersandung oleh kaki kursi. Hal itu tentu membuatnya kehilangan keseimbangan dan segera ingin terjatuh.


"Aaaaaagh" Rachel pun kembali dengan refleks berteriak saat menyadari tubuhnya akan segera ambruk.


Melihat hal itu mata Arsen sontak membulat sempurna, dengan refleks ia pun langsung berdiri dan dengan cepat menangkap tubuh mungil Rachel yang hampir ambruk di hadapannya.


Dan untuk kesekian kalinya, kini wajah Arsen dan Rachel jadi berjarak sangat dekat, membuat kedua mata mereka jadi saling beradu tanpa berkedip sedikit pun. Saat itu Rachel begitu terpaku, ia kembali merasa syok karena hampir jatuh, namun juga merasa jantungnya begitu berdebar saat menatap mata Arsen dalam waktu yang bersamaan.


"Sepertinya kamu sungguh memiliki hoby terjatuh ya?" Tanya Arsen pelan dengan nada datar dan masih dengan keadaan mereka yang saling bertautan.


Belum sempat Rachel mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab, tiba-tiba saja pintu ruangan Arsen terbuka.


"Selamat pagi say......ang."

__ADS_1


Laura tiba-tiba muncul, dan betapa terkejutnya dia saat melihat keadaan Arsen dan Rachel yang masih dalam keadaan seolah berpelukan. Matanya berubah jadi begitu membulat dengan di susul oleh dahinya yang jadi mengkerut. Rachel yang terkejut pun langsung melepaskan dirinya dari pegangan Arsen, lalu mulai merapikan pakaiannya.


"Apa-apaan ini Arsen Lim?!" Bentak Laura yang langsung masuk begitu saja sembari meletakkan kasar kotak bekal yang ia bawa ke atas meja kerja Arsen.


Saat itu Arsen masih bersikap tenang karena ia merasa tidak sedang melakukan kesalahan.


"Maaf nona, ini, ini tidak seperti yang anda...."


"Diam kau! Aku sedang tidak bertanya denganmu wanita murahan!" Bentak Laura sembari menatap tajam ke arah Rachel.


"Laura, apa yang kamu katakan padanya? Dia ini sekretaris baruku, dan ini tidak seperti yang terlihat." Jelas Arsen.


"Oh jadi ini sekretaris barumu itu?!" Tanya Laura yang kembali menatap Rachel dari ujung kaki hingga rambut.


Saat itu Rachel hanya diam menahan rasa kesalnya, dalam hati Rachel seolah ingin segera menjambak rambut Laura kata telah berani mengatakannya wanita murahan. Tapi Rachel adalah seorang wanita yang cukup berfikir panjang sebelum bertindak, ia tidak ingin emosinya menggagalkan semua rencananya yang telah ia bangun sejauh ini.


"Iya, tadi dia ingin terjatuh, dan hampir ambruk di atas meja kerjaku, jika ku biarkan itu terjadi, dia bisa merusak seluruh benda yang ada di meja ini, itu sebabnya aku langsung membantu menangkapnya agar ia tak jatuh." Jelas Arsen lagi sembari melirik ke arah Laura dan Rachel secara bergantian.


"Ingin terjatuh, atau sengaja memang menjatuhkan diri agar di tangkap olehmu?" Kedua tangan Laura mulai bersedekap begitu angkuhnya, lalu mulai mendekati Rachel yang dan kembali menatapnya begitu tajam.


"Oh wait, tunggu, aku seperti pernah melihat mu, emmm tunggu, tunggu." Laura pun mulai berfikir untuk mengingat kembali siapa gerangan wanita yang begitu tak asing baginya itu.


"Kau, kau bukannya wanita yang merusak gaun mahalku saat di pesta?! Oh god, benar! Kau lah wanita itu, aku tidak mungkin salah!!" Ucap Laura kemudian yang semakin melotot menatap Rachel.


"Sayang, dia lah wanita yang sudah lancang merusak gaun mahal ku sayang. Dia orangnya!!" Laura pun kini mendekati Arsen sembari merangkul lengannya.


"Aku tidak mau tau, sekarang juga kamu harus memecatnya!" Tegas Laura lagi.


Mendengar hal itu seketika membuat Arsen mendengus sembari tersenyum tenang.


"Ya memang dia wanita yang ada di pesta itu, tapi bukan berarti karena hal itu aku harus memecatnya." Jawab Arsen.

__ADS_1


Laura pun mulai menatap tajam ke arah wajah pacarnya itu, karena ia merasa begitu tidak puas dengan jawaban yang dilontarkan oleh Arsen.


"Jadi kamu lebih memilih wanita ini di bandingkan aku pacarmu?!"


"Laura, tolong kamu jangan sangkut pautkan masalah pribadi ke urusan pekerjaan."


"Tetap saja, wanita ini sudah merusak gaun mahalku, karena hal itu aku jadi terpaksa memakai baju ibumu yang begitu melenceng dari seleraku, Begitu tertutup dan kuno!" Ucap Laura yang jadi dibuat begitu emosi.


Seketika mata Arsen pun ikut membulat mendengar ucapannya, dan membuatnya kembali mendengus.


"Apa?! Apa katamu?!"


"Ya memang baju itu begitu tertutup dan kuno bagiku dan semua masalah itu bersumber dari wanita sialan ini!" Ketus Laura yang semakin meninggikan suaranya.


"Cukup Laura!!" Bentak Arsen yang juga ikut meninggikan suaranya.


Bak tersambar petir di siang bolong, suara Arsen yang begitu menggelegar di ruangan itu sontak membuat Laura terkejut hingga terdiam. Begitu pula dengan Rachel yang ikut terkejut hingga membuatnya tercengang.


"Astaga Arsen Lim, aku baru kali ini melihatnya sangat marah seperti ini. Ternyata dia menakutkan juga kalau lagi marah." Gumam Rachel dalam hati.


"Cukup! Tidak ada seorang pun yang boleh menghina apalagi merendahkan mamaku! Termasuk kau!" Bentak Arsen lagi.


Laura amat sangat terkejut, itu pertama kalinya Arsen membentaknya selama mereka kenal hingga menjalin kasih. Sebelumnya Arsen adalah kekasih yang selalu mengalah dan terkesan patuh padanya, namun hari ini, di depan orang lain Arsen telah berani membentak Laura hingga membuat hati Laura sangat sedih bercampur kesal.


"Kamu membentak ku Arsen Lim?" Tanya Laura yang mulai merendahkan suaranya sembari mulai meneteskan air mata.


"Kamu membentakku di hadapan wanita ini?!" Tanya Laura lagi sembari mulai mengguncang-guncangkan lengan Arsen.


"Tidak peduli siapa pun orangnya, jika ia berani menjelekkan mamaku, maka aku pun akan melakukan hal yang sama." Jawab Arsen datar.


"Kamu benar-benar jahat Arsen Lim, kamu membuat hatiku sakit, kamu jahat." Laura pun semakin menangis.

__ADS_1


Lalu ia meraih tasnya, dan langsung keluar begitu saja dari ruangan itu dengan membawa tangisannya yang semakin pecah. Saat itu Arsen hanya diam memandangi kepergian Laura dengan sorot matanya yang masih begitu menunjukkan kekesalannya tanpa ingin berusaha mengejar atau pun menyusul Laura seperti biasa.


...Bersambung......


__ADS_2