
Ke esokan harinya...
Kini tibalah waktu yang di nantikan, waktu dimana Rachel dan keluarganya harus kembali ke Paris. Saat itu, Rachel tengah duduk termenung di salah satu kursi tunggu yang ada di bandara, matanya pun jadi begitu sembab karena ia terus saja menangis sepanjang malam, tapi untungnya saat itu ia mengenakan kaca mata hitam hingga dapat membuat penampilannya setidaknya jadi sedikit lebih baik.
"Ayo sayang." Ucap Shea yang tiba-tiba datang menghampirinya.
"Apakah sudah mom?"
"Sudah sayang." Jawab Shea sembari tersenyum tipis.
Akhirnya Rachel pun mulai bangkit dari duduknya, lagi-lagi matanya kembali menatap nanar ke arah pintu kedatangan, entah kenapa saat itu ia masih saja berharap pada Arsen, ia begitu berharap jika Arsen akan datang untuk menyusulnya dan menahan kepergiannya. Namun sayangnya, hal itu rasanya sudah tidak mungkin lagi terjadi untuk saat ini, mengingat sikap Arsen yang juga sudah terlalu acuh tak acuh padanya.
"Sudah lah sayang, tunggu apa lagi?" Bisik Shea.
Rachel pun segera menatap wajah sang ibu, lalu langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak mom, tidak ada. Ayo." Ucapnya pelan.
"Kamu masih mengharapkan Arsen datang untuk menyusulmu ya?"
"Ah tidak mom, tidak. Sudah lah, ayo kita masuk." Rachel pun langsung menggandeng tangan Shea dan menariknya untuk segera masuk ke gate.
Rachel pun kini harus membuang jauh-jauh harapannya pada Arsen, sejak ia memutuskan untuk melangkah memasuki gate, ia telah memutuskan pula untuk tidak lagi berharap, tidak lagi berharap agar rumah tangganya tetap baik-baik saja setelah ini. Segala kemungkinan terburuk pun telah ia pikirkan, terutama jika setelah kepergiannya, ia harus berpisah dari Arsen untuk selama-lamanya.
"Kali ini aku akan benar-benar pergi Arsen Lim, kita akan benar-benar berpisah, tapi nyatanya pun kamu tetap tidak menahanku, hal ini membuktikan jika memang tidak ada yang bisa kita pertahankan lagi. Baiklah, tidak apa-apa, aku memang tidak pantas untukmu, selamat tinggal Arsen Lim." Gumam Rachel dalam hati yang terus melangkahkan kakinya.
Sisi lain di Apartement...
Arsen saat itu terus merenung di balkon apartementnya, hari itu ia bahkan sama sekali tidak berminat untuk masuk kantor. Ia sendiri bahkan begitu bingung untuk hal-hal yang harus ia lakukan. Hati kecilnya, begitu tidak ingin Rachel pergi meninggalkannya, namun sayang, lagi-lagi ego, rasa kecewa dan sakit hati atas perlakuan Rachel, membuatnya mengurungkan niatnya untuk menahan kepergian Rachel.
Yang ia lakukan justru hanya berdiam diri sembari meneguk entah sudah berapa gelas wine. Tak lama suara bel terdengar berbunyi, Arsen pun seketika menoleh ke arah pintunya dengan tatapannya yang terlihat begitu lesu. Dengan tak bersemangat, ia pun akhirnya mulai beranjak menuju pintu.
*Ceklek*
__ADS_1
Mata Arsen seketika mendelik saat mendapati papa dan mamanya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Pa, ma?"
"Arsen, ternyata benar kamu masih disini?" Tanya Yuna sembari langsung masuk meski tanpa disuruh oleh sang tuan rumah,
"Masih disini??? Ehmm, lalu kemana lagi aku harus pergi? Kantor?" Tanyanya sembari tersenyum lirih dan kembali melangkah masuk ke dalam.
"Apa kamu tidak pergi ke bandara dan mencoba mencegah kepergian Rachel?" Tanya Benzie yang seolah tak percaya dengan sikap anaknya.
Mendengar pertanyaan itu, lagi-lagi membuat Arsen harus tersenyum begitu lirih sembari mulai mendudukkan dirinya di sofa.
"Ini jelas bukan mauku, aku tidak pernah mengusirnya, dia sendiri lah yang memutuskan untuk pergi dari sini. Jadi, untuk apa aku harus mencegah hal yang sudah jelas dia inginkan?" Jawab Arsen dengan tatapannya yang kosong.
"Tapi Arsen, biar bagaimana pun, Rachel itu masih tetap istrimu nak." Ucap Yuna yang langsung duduk di samping Arsen sembari memegang pundaknya.
"Istri mana yang sanggup meninggalkan suaminya begitu saja di saat sedang dalam masalah ma?? Katakan padaku! Apakah dia masih bisa dikatakan seorang istri yang baik????" Arsen pun mulai meninggikan suaranya sembari menatap tajam wajah ibunya yang hari itu terlihat begitu sendu.
Yuna pun terdiam sejenak, begitu pula dengan Benzie.
Yuna pun akhirnya mulai meneteskan air matanya karena ia benar-benar tidak tega melihat keadaan putranya yang terlihat begitu kacau hari ini.
"Arsen anakku, tolong tenangkan dirimu nak, mama mohon tenang kan dirimu." Ucap Yuna sembari terus menangis.
Arsen pun seketika tersentak saat melihat ibunya mulai menangis di hadapannya karena melihat sikapnya yang sedang lepas kendali.
"Maafkan aku ma." Ucap Arsen akhirnya dengan nada suaranya yang semakin pelan dan sembari mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya.
"Arsen, papa yakin ini belum terlambat, kamu masih bisa menyusulnya ke bandara. Ayolah, papa dan mama akan menemanimu." Tambah Benzie lagi.
Namun Arsen pun seketika menggelengkan kepalanya.
"Tidak pa, tidak perlu di cegah. Dia sudah memutuskan, berarti dia langkah yang ia ambil saat ini, itulah yang menurutnya yang terbaik dan sudah pasti juga itu sudah menjadi keinginannya."
__ADS_1
Mendengar hal itu, Benzie dan Yuna pun akhirnya terdiam, Yuna nampak melesu saat mendengar keputusan Arsen yang seolah juga tidak ingin mempertahankan pernikahannya.
"Pa, ma, apa aku bisa minta tolong pada kalian?" Kini Arsen pun memandang Yuna dan Benzie secara bergantian dengan tatapan yang datar.
"Apa nak? Katakanlah, apapun akan mama bantu selagi mama bisa melakukannya untukmu." Jawab Yuna dengan lembut yang kembali mengusap lembut pundak putranya.
"Ku yakin, kalian berdua pasti bisa melakukannya jika kalian mau."
"Memangnya apa? Katakan lah." Timpal Benzie.
Arsen pun kembali memalingkan pandangannya, dengan tatapan yang kembali terlihat kosong, ia pun menjawab.
"Untuk saat ini, aku ingin sekali menyendiri disini, aku ingin ketenangan. Jadi, bisakah kalian tinggalkan aku sendiri?" Ucap Arsen pelan.
Yuna dan Benzie pun seketika kembali terdiam sembari mulai saling berpandangan satu sama lain.
"Ta,, tapi Arsen..."
"Ma! Please." Ucap Arsen yang seketika langsung memotong ucapan Yuna.
Lagi dan lagi, Yuna hanya bisa kembali terdiam sembari terus memandangi wajah sendu anaknya. Kemudian ia kembali menatap Benzie, saat itu juga Benzie langsung memberi anggukan sebagai tanda setuju akan permintaan putra sulungnya itu. Membuat Yuna akhirnya pasrah, ia menghela nafas panjang, lalu kemudian perlahan mulai bangkit dari duduknya.
"Eeemm baiklah jika itu maumu, mama tidak mungkin membantah soal ini." Ucap Yuna pelan.
"Terima kasih banyak ma, pa." Jawab Arsen pelan, sembari mulai menundukkan pandangannya.
"Ya sudah, papa dan mama pergi dulu. Apapun masalahnya, papa harap agar kau tetap bijak dalam mengambil keputusan. Dan tolong jangan melakukan hal-hal aneh yang bukan mencerminkan dirimu." Ucap Benzie yang selaku ayah dari Arsen, patut memberi sedikit mejangan bagi putranya.
"Ya pa, aku tau." Jawab Arsen singkat.
Benzie pun mengangguk, lalu akhirnya mereka pun pergi meninggalkan apartement mewah milik Arsen.
Arsen, kembali menenggak segelas wine hingga kandas, pikirannya benar-benar kalut namun ia tak ingin terlalu memperlihatkan hal itu pada kedua orang tuanya,
__ADS_1
Sementara Rachel, kini ia sudah menaiki pesawat, pesawat pun mulai take off, perlahan tapi pasti mulai terbang tinggi, menembus awan, dan melaju dan terus menjauhi kota yang penuh kenangan itu. Bahkan, hingga di sepanjang penerbangannya menuju Paris, ia tetap saja terus melamun sembari sesekali diiringi dengan tetesan air mata yang kembali menetes di balik kaca mata hitam yang sedang ia kenakan.
...Bersambung......