Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 98


__ADS_3

Suara sorakan dan tepuk tangan seketika terdengar saat Rachel akhirnya berhasil menghabiskan segelas minuman pertamanya.


"Yeahh, begitu baru benar hahaha." Celetu Mr. Fredy sembari terus bertepuk tangan dengan riangnya.


Namun berbeda halnya dengan Rachel yang masih terlihat begitu terengah-engah kala itu, ia hanya mampu menampilkan sebuah senyuman tipisnya tanpa bisa berkata apapun lagi.


"Ayo, tuang lagi minumannya hahaha." Ucap Mr. Fredy yang kembali duduk.


Membuat mata Rachel lagi dan lagi kembali membulat sempurna, namun tak bisa berbuat apapun saat itu.


Hingga gelas kedua, ketiga, ke empat, hingga ke lima, akhirnya Rachel merasa tak sanggup lagi, ia mulai merasa isi perutnya seolah sedang di acak-acak hingga membuatnya begitu ingin muntah.


"Mr, Fredy, ak, aku ingin ke toilet sebentar." Ucap Rachel dengan matanya yang mulai sayu.


"Silahkan nona, tapi jangan sampai anda tidak kembali, karena masih banyak botol minuman yang menunggu." Jawab Mr. Fredy dengan santai.


Rachel pun memandang nanar beberapa botol wine yang terletat di dalam tempat es batu, membuat dirinya semakin ingin memuntahkan seluruh isi perutnya sore itu. Rachel pun berjalan dengan sempoyongan menuju toilet, tangannya terus berpegangan pada dinding toilet hingga akhirnya ia berhasil tiba di westafel. Tanpa menunggu lama, seluruh isi perut Rachel hari itu seolah langsung ia muntahkan begitu saja.


"Uuweeekkk."


Rachel semakin melemas, pandangannya mulai buram dan berbayang, namun ia tetap berusaha untuk sadar, hingga ia pun berkali-kali menepuk-nepuk pipinya sendiri.


"Tidak Rachel tidak, jangan mabuk apalagi pingsan Ok. Huh tenangkan dirimu, ayo kamu bisa Rachel." Gumam Rachel seorang diri sembari menarik nafas cukup dalam.


Rachel pun membasuh mukanya dengan air demi membuat dirinya tetap terlihat segar di hadapan kliennya.


"Arsen oh Arsen, dimana kamu? Tidak kah kau tau aku seolah dijadikan tumbal disini." Keluh Rachel yang seakan ingin menangis namun tetap ia tahan tangisan itu.


Tak ingin terus berkeluh kesah di dalam toilet, Rachel pun memutuskan untuk kembali bergabung ke meja Mr. Fredy dengan membawa wajahnya yang mulai memerah.


"Wah, akhirnya ratu minum kita telah kembali." Celetuk Mr. Fredy sembari tersenyum riang memandangi kedatangan Rachel kembali.


Rachel dengan sempoyongan mulai kembali duduk di kursinya, tak lama minuman pun kembali di tuang ke dalam gelas, Mr. Fredy seolah tak memberi jeda pada Rachel, Ia pun terus menerus menubanya dengan minuman.

__ADS_1


Sementara di sisi lain kediaman keluarga Lim, Alex yang sudah pulang kerja melangkah dengan begitu santai memasuki rumah yang begitu megah itu. Tanpa sengaja, ia melirik ke arah kolam berenang yang ada di halaman belakang rumah mereka. Saat itu Arsen Lim terlihat tengah berdiri menghadap ke arah kolam dengan tatapannya yang kosong.


Melihat pemandangan itu, membuat Alex memutuskan untuk segera menghampirinya.


"Hei bung, sedang apa disini ha?" Tanya Alex sembari menyenggol pundak Arsen.


"Tidak ada uncle." Jawab Arsen datar.


"Sebenarnya apa yang membuatmu tidak mood masuk kantor hari ini? Apa kamu sedang ada masalah? Ayo ceritakan saja pada unclemu yang berpengalaman ini."


Arsen yang berdiri dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya, seketika melirik ke arah pamannya lalu mendengus pelan.


"Bagaimana keadaan kantor uncle?" Tanya Arsen yang seolah mengalihkan pembicaraan.


"Kantor baik, Bella dan uncle bisa menghandle semua dengan sangat baik. Kamu layak memberikan bonus untuk kami berdua hehehe." Celetuk Alex sembari tertawa.


Namun nyatanya lelucon itu tak membuat Arsen ikut tersenyum apalagi tertawa, ia pun hanya terus memasang wajah datarnya, dan terus melemparkan tatapan kosongnya ke arah air terjun buatan yang ada di kolam berenang itu.


"Tenang saja, Bella pasti bisa menanganinya dan pasti bisa membuat perusahaan itu percaya dan bekerja sama pada kita, harusnya dia sudah selesai meeting di jam segini." Jelas Alex yang kemudian melirik ke arah jam tangannya.


Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17:30 sore.


"Tapi..." Ucap Alex lagi yang kemudian melirik ke arah ponselnya.


Alex mulai merasa heran karena hingga saat itu Rachel belum ada mengabarinya sedikit pun.


"Tapi apa uncle?" Tanya Arsen yang mulai menoleh ke arah Alex.


"Kenapa hingga sekarang dia belum juga mengabari uncle ya?" Alex pun nampak sedikit bingung.


Membuat Arsen seketika mengerutkan dahinya.


"Jadi belum ada kabar darinya? Memangnya siapa pimpinan yang meeting bersamanya hari ini?" Tanya Arsen yang mulai sedikit merasa cemas namun masih berusaha menyembunyikannya dari Alex.

__ADS_1


"Dia meeting bersama Mr. Fredy. Dulu uncle dan ayahmu pernah bekerja sama dengannya, tapi itu dulu, sudah lama sekali saat papamu baru saja menjadi CEO. Dan kau tau, Mr. Fredy itu memiliki kebiasan yang cukup unik, dia selalu suka mengajak para rekan bisnisnya untuk minum bersama saat mau memulai hubungan kerja sama. Dan dia takkan mengizinkan kliennya itu pulang atau pergi sebelum minuman yang di pesannya habis." Jelas Alex sembari tersenyum saat membayangkan bagaimana dulu dia dan Benzie pulang dengan begitu sempoyongan karena habis di tuba oleh Mr. Fredy.


Mendengarkan hal itu sontak membuat dahi Arsen semakin mengkerut, dia semakin merasa cemas karena mulai berfikir jika Mr. Fredy pasti akan melakukan hal yang sama pada Rachel.


Tanpa berkata apapun, Arsen pun langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, ponsel yang sengaja di non aktifkan itu pun langsung di hidupkan, lalu mulai mencari nama Bella pada kontaknya untuk kemudian menelponnya.


Beberapa kali mencoba menghubungi Rachel dan tidak kunjung dapat jawaban, membuat Arsen kian merasa khawatir.


"Uncle, dimana mereka meeting?"


"Di Lounge hotel Diamond. Memangnya kenapa?" Tanya Alex lagi.


Lagi-lagi tak menjawab pertanyaan Alex, Arsen pun langsung pergi begitu saja dengan langkah yang begitu cepat.


"Hei bung, mau kemana? Kau tidak berfikiran untuk datang ke hotel itu dengan berpakaian seperti itu kan?" Teriak Alex.


Namun Arsen masih tak bergeming, bahkan ia sama sekali tak menoleh sedikit pun dan terus saja melangkah.


"Ada apa dengannya?" Tanya Alex yang jadi tercengang memandangi kepergian Arsen.


"Kenapa orang galau selalu bertingkah aneh? Tidak bisakah mereka tetap bersikap normal saja!" Tambahnya lagi sembari mengangkat kedua pundaknya.


Tanpa berfikir untuk mengganti pakaiannya menjadi lebih formal terlebih dulu, Arsen pun langsung menuju mobilnya, lalu dengan cepat langsung melajukan mobil itu, dan meninggalkan pekarangan rumahnya.


Hanya menempuh waktu beberapa menit saja, kini mobil yang di kendarai oleh Arsen pun tiba di depan loby hotel. Ia dengan percaya diri langsung keluar dari mobil dengan hanya memakai pakaian biasa, tanpa setelan jass seperti biasanya.


"Tolong parkirkan mobilku." Ucapnya sembari menyerahkan kunci mobilnya pada Security yang menyambutnya di depan pintu utama.


"Baik tuan."


Arsen melangkah begitu cepat menuju Lounge tempat dimana Rachel dan klien melakukan meeting.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2