
Beberapa saat menjadi dua orang yang saling membisu, tiba-tiba saja Arsen pun bangkit dari duduknya dan langsung masuk ke kamar mandi tanpa berkata apapun. Rachel yang juga masih terdiam hanya memandangi kepergiannya dengan raut wajah bingung.
"Astaga, kenapa rasanya canggung sekali saat tinggal serumah dengan sahabat masa kecil yang kini jadi suamiku." Gumam Rachel dalam hati.
Rachel pun terus memanyunkan bibirnya sembari terus memandangi pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
"Lelaki itu, sampai kapan dia mau memaafkan aku? Tidak kah dia rindu denganku, sahabat kecilnya."
Sementara Arsen, saat itu ia hanya berdiri di depan cermin tak sungguh tidak tau harus berbuat apa di malam pertamanya menjadi seorang suami.
"Wanita itu, bukannya meredakan amarahku, dia justru sibuk membuat janji dengan Antony. Perjanjian apa yang ada di antara mereka?" Gumam Arsen dalam hati yang dibuat begitu penasaran serta membuatnya jadi over thinking.
"Tidak bisa di biarkan, aku tidak mau memaafkannya dengan mudah. Biar saja dia." Tambahnya lagi yang akhirnya mulai membasuh wajahnya dan memutuskan untuk mandi air hangat demi menghilangkan rasa lelahnya.
Beberapa menit berlalu, Arsen pun keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai bathrobe atau yang biasa kita tau sebagai jubah mandi. Wajahnya kembali nampak segar dengan rambutnya yang basah, ia pun terus melangkah begitu saja melewati Rachel yang masih terduduk di sofa memandanginya. Aroma segar yang berasal dari tubuh Arsen pun begitu jelas menyelusup masuk ke rongga-rongga hidung Rachel, hingga membuat tubuh Rachel seolah tertarik ingin mengikuti Arsen.
"Ya ampun, wangi sekali suamiku." Gumam Rachel dalam hati seolah menjadi geregetan sendiri.
Arsen pun masuk begitu saja ke kamar, ia sengaja tidak menggubris Rachel demi menunjukkan jika amarahnya belum mereda meskipun mereka telah menikah dan bahkan berciuman di khalayak ramai.
Rachel pun memutuskan untuk mandi juga karena ia merasa tubuhnya mulai terasa lengket dan terasa lelah. Guyuran air hangat yang bercucuran dari shower seolah memberi pijatan hangat pada kepala juga tubuh Rachel.
Berbeda dari Arsen yang hanya menghabiskan waktu beberapa menit saja untuk mandi, Rachel justru memerlukan lebih banyak waktu di kamar mandi, apalagi ini adalah malam pertama baginya akan tidur seranjang dengan Arsen.
Rachel meraih handuk berwarna putih yang tergantung di kamar mandi, ia mengusap kepalanya dan mulai melilitkan handuk itu di lingkar dadanya. Ia pun dengan semangat ingin segera keluar dari kamar mandi, tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat tangannya baru saja memegang handle pintu.
"Tunggu." Ucapnya.
"Feelingku sangat tidak enak, seperti melupakan sesuatu, tapi apa ya?" Tanya Rachel seorang diri sembari terus berfikir untuk mengingat-ingat hal apa yang dilupakannya.
Dan benar saja, mata Rachel kembali mendelik saat ia teringat jika ia belum ada membawa sehelai bajupun ke apartement itu. Dan bukan hanya baju, semua perlengkapan yang dia butuhkan seperti cream wajah, body lotion dan lainnya tidak ada yang terbawa. Bahkan tas yang di dalamnya terdapat ponsel serta dompet yang berisikan seluruh kartu atm dan kredit card miliknya juga tertinggal di kamar hotel yang menjadi kamar tempat ia berdandan saat ingin menikah.
"Astaga bagaimana ini? Bagaimana aku bisa melupakan hal penting seperti itu?" Rachel mulai kebingungan dan panik hingga membuatnya tak bisa berhenti menggigiti kukunya sendiri.
"Rachel oh Rachel, kenapa bisa sepikun ini? Lantas apa aku harus tidur dengan handuk seperti ini?" Rachel yang bingung terus berceloteh dan berjalan mondar mandir di kamar mandi.
__ADS_1
Hampir sejam lamanya, namun Rachel belum juga keluar hingga menimbulkan tanda tanya bagi Arsen yang telah lebih dulu berbaring di kasurnya.
"Aku sering mendengar jika wanita menghabiskan lebih banyak waktu hanya untuk mandi, tapi apa benar-benar selama ini? Apa saja yang dilakukannya di dalam sana? Apa dia sungguh mempersiapkan diri untuk malam ini?" Arsen terus bertanya-tanya dalam hati sembari mulai ingin bangkit dari ranjang.
Tapi hal itu gagal ia lakukan saat handle pintu mulai bergerak dan pintu pun terbuka. Arsen dengan cepat kembali berbaring dengan memiringkan tubuhnya, dan memejamkan matanya seolah dia sedang tidur.
Rachel yang kala itu masih menggunakan handuk, perlahan masuk ke dalam kamar dengan masih membawa rasa bingung dan paniknya. Rachel pun melirik ke arah Arsen yang kala itu terlihat sudah tertidur begitu pulas.
"Hah, yang benar saja, apa dia sungguh tidur?" Ketus Rachel yang merasa sedikit kesal.
Namun lagi-lagi rasa kesalnya tertutupi dengan rasa paniknya yang hingga saat itu belum juga memakai pakaiannya. Ia pun kembali mondar-mandir di kamar sembari terus berfikir.
"Tidak ada ponsel untuk menghubungi seseorang untuk meminta tolong mengantarkan seluruh pakaian, tidak ada uang cash untuk memesan pakaian" celoteh Rachel seorang diri.
Rachel pun menyadari, jika pun ia bisa memesan pakaian, tentu tidak akan bisa di antar saat itu juga mengingat hari sudah malam.
"Astaga bagaimana ini?"
Arsen kembali merasa aneh saat Rachel masih belum juga menaiki ranjang, ia pun diam-diam mengintip di balik matanya yang sedikit ia buka.
"Ah terserah saja, aku tidak akan mau menyapanya lebih dulu." Arsen pun kembali memejamkan matanya.
Rachel kembali melirik tajam ke arah Arsen, rasa kesalnya kembali muncul hingga membuatnya langsung melangkah mendekati Arsen.
"Hei, bangun." Rachel pun seketika menarik selimut yang menutupi sebagian tubuh Arsen.
Namun Arsen yang hanya pura-pura tidur memilih terus diam dan tetap memejamkan matanya.
"Arsen Lim, ayo bangun..." Ucap Rachel lagi sembari memukul lengan Arsen sedikit keras
Hal itu sontak membuat Arsen spontan menjerit.
"Aaagh" Lalu mulai mengusap-usap bagian lengannya yang terasa sakit.
"Ka,, kamu, kamu pura-pura tidur ya?" Tanya Rachel yang ikut terkejut saat Arsen berteriak cukup keras.
__ADS_1
"Hah, ti,, tidak!!" Bantah Arsen namun sedikit gelagapan.
"Ada apa ha? Kenapa menggangguku?" Tanya Arsen lagi demi mengalihkan pembicaraan.
Entah kenapa Arsen tiba-tiba terkejut dan langsung terduduk saat kembali menatap Rachel lebih jeli. Rachel yang ternyata masih memakai handuk ada di hadapannya. Rachel dalam keadaan rambutnya yang masih basah, di tambah pula aroma tubuhnya yang begitu segar karena baru selesai mandi, serta bagian dada dan bahunya yang putih mulus begitu terlihat jelas hingga membuat Arsen seketika harus menelan ludahnya sendiri.
"Ke, kenapa kamu masih memakai handuk?" Tanya Arsen yang berusaha menutupi rasa terpesonanya pada Rachel.
"Ak, aku..."
"Kenapa? Apa kamu ingin mencoba merayuku?" Tanya Arsen lagi yang kembali memasang wajah datar.
Hal itu sontak membuat Rachel semakin bertambah kesal hingga membuat matanya mulai memicing.
"Apa katamu?! Kamu pikir aku ini wanita penggoda."
Arsen pun hanya diam sembari memutar kedua bola matanya.
"Ehmm." Rachel mulai berdehem untuk kembali meredakan kekesalannya.
Ia pun kembali menatap Arsen dengan kikuk.
"Tolong pinjamkan aku bajumu."
"Apa?!" Mata Arsen pun seketika melebar.
"Hehehe, aku lupa membawa pakaianku kesini, jadi tolong pinjami aku baju." Jawab Rachel cengengesan.
Arsen akhirnya hanya bisa menghela nafas, dan kemudian tangannya mulai menunjuk ke arah lemari yang berada di sudut kamarnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Oh ok, terima kasih." Rachel pun tersenyum dan langsung melangkah menuju lemari pakaian.
Beberapa menit mencari pakaian yang paling pas, akhirnya ia menjatuhkan pilihan pada kemeja polos Arsen yang berwarna putih. Tubuhnya yang mungil membuatnya bisa menjadikan sepotong kemeja milik Arsen menjadi baju terusan dengan panjang sepaha.
...Bersambung......
__ADS_1