
Rachel kala itu benar-benar merasa terpuruk, bahkan hingga saat itu belum ada seorang pun yang mengetahui jika ia tengah berbadan dua. Ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengurung diri di kamarnya, memandangi foto hasil usg dengan mata sembab akibat terus menerus menangis.
Hal itu, mulai membuat Shea semakin cemas, karena Rachel benar-benar tidak mau keluar kamar walau pun untuk sekedar makan atau apapun.
Shea tiba-tiba saja teringat, jika setiap pintu yang ada di rumah itu memiliki kunci ganda yang tersimpan di sebuah laci di nakas kamarnya. Ia pun bergegas menuju nakas, dan mengambil kunci ganda untuk kamar milik Rachel. Meski dengan sedikit ragu, akhirnya ia memutuskan untuk membuka pintu kamar Rachel meski tanpa meminta persetujuan Rachel terlebih dulu.
*Ceklek*
Pintu terbuka, Shea dengan langkah pelan mulai masuk ke kamar putrinya yang masih terlihat gelap karena tak adanya sinar matahari yang masuk akibat seluruh jendela dan pintu balkon masih tertutup rapat.
"Rachel." Panggil Shea.
Namun tak ada jawaban, yang terdengar kala itu hanyalah suara tangisan yang perlahan tapi pasti semakin jelas terdengar di indera pendengaran Shea.
"Rachell." Panggil Shea lagi dengan nada lebih tinggi.
Tetap tidak ada jawaban, tapi suara tangisan semakin terdengar nyaring.
Saat itu Rachel terlihat tengah berbaring di atas ranjang, dalam keadaan telungkup, menyembunyikan wajahnya di balik bantal dan terus menangis. Shea dengan cepat menghampirinya, ia naik ke atas ranjang anaknya dan langsung mendekapnya tanpa aba-aba.
"Sayang, ada apa? Kamu kenapa sayang?!" Tanya Shea yang nampak semakin cemas,
Rachel seketika tersentak, ia langsung menoleh ke arah Shea dan saat itu ia terlihat cukup terkejut dengan keberadaan Shea di kamarnya.
"Mom?!!"
"Rachel, astaga matamu kenapa begitu bengkak? Apa kamu terus menangis semalaman?" Shea meraih kedua pipi Rachel untuk melihat wajahnya lebih jelas.
"Bagaimana mommy bisa masuk kesini?? Kenapa mommy masuk?"
"Dengan kunci ganda, maaf mommy masuk ke sini tanpa izin mu, tapi mommy sudah sangat cemas denganmu yang seharian tidak keluar dari kamar."
"Aku baik-baik saja mommy." Ucap Rachel lesu yang Shea tau jelas Rachel sedang berbohong saat mengatakannya.
"Kamu bisa menceritakan semuanya pada mommy sayang, apalagi kali ini? Apa bayang-bayang Arsen masih saja terus mengganggumu? Apa kamu merindukannya?"
Rachel terdiam sejenak dan kembali terbaring lemas, kembali memeluk bantalnya dengan air matanya yang kembali menetes.
Shea pun ikut berbaring dan memeluk hangat tubuh putrinya dari belakang.
"Apa kamu mulai tidak mempercayai ibumu sendiri sayang? Sehingga untuk sekedar bercerita pada mommy pun kamu ragu."
Rachel semakin menangis sejadi-jadinya.
"Aku harus bagaimana mom?? Ini bahkan lebih mengerikan dari sekedar merindukan orang yang tidak akan kita lihat lagi."
"Ada apa sebenarnya??"
Ak,, aku..." ucapan Rachel tersendat-sendat akibat tangisannya.
"Iya sayang, katakan lah. Kamu kenapa? Ada apa?"
"Ak,, aku... aku hamil mom, aku hamil huhuhu." Rachel kembali menangis.
Sementara Shea seketika terdiam, dengan matanya yang membulat. Saat itu Shea pun bingung tentang bagaimana ia harus merespon pengakuan Rachel kala itu. Apakah ia harus senang menyambut kehadiran calon cucu di dalam rahim anaknya, tapi saat itu Rachel terlihat begitu hancur. Apakah ia harus ikut sedih bersama dengan Rachel, tapi nuraninya tidak bisa dibohongi jika ia sungguh senang akan mendapatkan seorang cucu.
"Be,,, benarkah?" Akhirnya hanya pertanyaan seperti itu lah yang pertama kali keluar dari mulut Shea.
Rachel mengangguk.
"Kamu sudah memeriksakannya?"
Rachel pun kembali mengangguk.
Shea pun semakin mengeratkan pelukannya pada Rachel, membuat Rachel setidaknya merasa sedikit lebih tenang dalam pelukan hangatnya.
"Lalu kenapa? Kenapa kamu bersedih nak? Bukankah seharusnya kamu senang? Di rahimmu, tengah tumbuh malaikat kecil, ia menyatu denganmu, tumbuh beriringan dengan denyut nadimu."
"Bukan itu masalahnya mom."
__ADS_1
"Lalu?!"
"Bagaimana, jika Arsen tau aku hamil, dan justru dia malah semakin menghinaku? Bagaimana jika ia berfikir ini anak orang lain, lebih tepatnya anak Antony?? Mengingat sebelum kepergianku, ada fotoku bersama Antony yang tersebar. Bagaimana mom?!
Shea lagi-lagi terdiam sesaat sembari mulai memikirkan hal itu lebih serius, karena ini menyangkut masa depan putrinya dan juga cucunya.
"Maka, Arsen tidak perlu tau!" tegas Shea kemudian.
Rachel terdiam dan mulai memandangi wajah ibunya.
"Ya, jika kamu mulai memikirkan hal semacam itu, maka Arsen tidak perlu tau jika kamu hamil."
"Ta,,, pi mom, aku juga tidak mau melahirkan seorang anak tanpa adanya ayah baginya. aku tidak mau membesarkan anak seorang diri!!"
"Jika begitu, maka biarkan mama yang merawatnya kelak, kamu bebas setelah itu."
"Tidak ma aku juga tidak mau." Rachel pun semakin menangis.
Entah apa yang sebenarnya ia inginkan, semua saran dari Shea terasa tidak cocok baginya.
"Rachel, kamu nampak semakin kacau, sepertinya dengan kembalinya kamu kesini tidak membuatmu lebih tenang."
"Lalu aku harus bagaimana mom, aku benar-benar depressi sekarang."
"Kamu butuh refreshing, agar pikiran kamu tenang, dan nantinya bisa berfikir lebih jernih. Dan mama tau tempat healing yang pas untukmu saat ini."
"Tidak ma, aku tidak mau, aku tidak mau kemana-mana."
"Ayolah Rachel, jangan siksa calon anakmu dengan rasa setressmu, itu akan berdampak buruk bagi perkembangannya. Kamu akan menjadi orang tua, maka kamu tidak boleh egois, tidak boleh memikirkan diri sendiri mulai sekarang."
Rachel lagi-lagi dibuat terdiam, sembari otaknya mulai berfikir dan mencerna segala ucapan dan masukan yang Shea berikan.
"Memangnya dimana tempat yang cocok untukku saat ini? Apa rumah sakit jiwa?" Tanya Rachel sembari tersenyum lirih.
"Bukan! Sekarang kamu mandi dan mama akan membantumu berkemas."
"Ya, kita akan menginap!!"
"Ta,,, tapi mom."
"Ikuti saja, mama yakin kamu akan merasa lebih baik saat tiba disana."
Rachel pun akhirnya patuh, dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia pun berusaha untuk bangun dari atas ranjang. Ia benar-benar lemas, selain karena hormon di awal kehamilan, ia juga belum makan sejak semalam, hingga membuat tubuhnya semakin terkulai lemas, begitu tak berdaya.
Saat itu juga, Shea menelpon Martin yang sedang tidak dirumah, Martin sejak pagi sekali sudah pergi ke kantor karena ada beberapa hal yang harus ia urus. Shea menceritakan secara singkat dan padat apa yang terjadi, ia pun meminta izin untuk membawa Rachel pergi ke tempat yang tentu saja Martin pun mengetahui tempat itu.
"Baik sayang, kalian pergi lah lebih dulu, nanti setelah urusanku selesai. Aku akan menyusul kalian kesana."
"Iya sayang, aku tunggu ya."
Panggilan telpon pun berakhir, disertai pula dengan Rachel yang sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathrobe atau jubah mandi.
"Astaga, wajahmu pucat sekali sayang, baiklah mama akan meminta pelayan untuk membuatkan makanan untukmu, setidaknya kamu harus makan dulu sebelum pergi.
Tidak membantah, kali itu Rachel hanya memilih untuk menggangguk patuh.
Beberapa saat berlalu, Shea telah usai dalam membantu Rachel berkemas seluruh barang yang akan dibawanya. Tak lama pelayan pun datang dengan sudah membawakan dua potong sandwich dan jus jeruk.
"Makan lah sayang, ingat lah, ini bukan semata-mata untuk mu saja, tapi juga untuk janin yang ada di dalam perutmu. Makan lah!"
Rachel pun meraih piring itu dan mulai menyantap sandwich yang berukuran cukup besar itu.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Rachel dan Shea pun pergi dengan menaiki sebuah mobil mewah yang dikendarai sendiri oleh Shea, menitipkan rumah mewah mereka itu pada pelayan kepercayaan untuk beberapa hari ke depan.
Sepanjang perjalanan, Rachel banyak diam, tatapan kosongnya terus mengarah ke jendela mobil yang sedang melaju cepat. Semakin jauh, semakin meninggalkan keramaian kota, dan semakin menepi dari kota Paris yang hingar bingar.
Udara terasa kian sejuk hingga semakin menusuk tulang, Rachel mulai melipatkan kedua tangannya di dada sembari mengusap-usap lengannya.
"Itulah sebabnya mommy membawakan banyak mantel tebal untukmu sayang." Celetuk Shea sembari tersenyum saat menyadari anaknya mulai merasa kedinginan.
__ADS_1
"Sebenarnya kita mau kemana mom?"
"Sabar lah, sebentar lagi kita sampai."
Rachel kembali diam dan kembali memusatkan pandangannya ke jalanan yang mulai menyajikan pemandangan indah khas desa di tepian kota Paris. Banyak rumah-rumah classic bergaya eropa kuno yang terletak di lereng gunung menambah indah pemandangan. Perlahan, sebuah senyuman tipis mulai muncul di sela-sela bibirnya yang sejak tadi mengatup rapat.
Tak berapa lama, mobil pun berhenti tepat di depan sebuah rumah, rumah itu juga bergaya eropa kuno, memiliki warna putih gading, jauh dari kata modern namun entah kenapa terlihat begitu tentram jika membayangkan tinggal di rumah yang juga berada di bawah lereng hamparan perbukitan yang indah.
"Jadi, disini lah kita akan menghabiskan waktu untuk healing sayang."
"Rumah siapa ini mom?" Rachel nampak bingung.
"Oh ya, mommy lupa memberitahumu akan sesuatu." Shea tersenyum tipis.
"Memberitahu apa? Apa kita memiliki saudara lain di Paris?"
"Bukan itu sayang, jadi saat kamu pergi menyusul Arsen, papa ada memberi mama hadiah, yaitu villa ini. Villa ini sengaja dibelinya, katanya akan berguna sebagai tempat pelarian yang cocok saat otak mulai penat dengan suasana kota Paris yang begitu padat dan begitu sibuk." Jelas Shea.
"Oh benarkah?? Ternyata daddy sungguh seromantis itu pada mommy, aku turut senang." Ucap Rachel namun entah kenapa itu terdengar begitu lirih.
Karena tiba-tiba saja ia kembali teringat pada Arsen.
"Sudah, mommy tau kamu jadi teringat pada Arsen, tapi jangan dulu memikirkannya untuk saat ini, ok?!"
"Ayo kita masuk."
Sisi lain di kediaman keluarga Chou
Arsen keluar dari taksi dengan perlahan, di tangannya saat itu sedang memegang secarik kertas yang bertuliskan sebuah alamat, ia memandangi nomor rumah lalu beralih memandangi secarik kertas itu lagi, memastikan jika ia memang lah tidak salah alamat.
Arsen berdiri tegak memandangi rumah keluarga Rachel yang tak kalah mewahnya dengan rumahnya. Dengan sekali tarikan nafas, ia pun mulai melangkahkan kaki mendekati gerbang.
"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu?"
Kala itu, Arsen masih nampak gugup, entah apa penyebabnya namun yang pasti iya benar-benar kikuk saat semakin dekat dengan rumah itu.
"Rachel, ya, aku mencari Rachel."
"Nona Rachel??"
Arsen mengangguk sekali.
Securitu terdiam sejenak, memandangi wajah Arsen lalu penampilannya hingga ujung kaki, seketika ia teringat dengan foto pernikahan Rachel yang tersebar di kalangan seluruh pegawai yang bekerja dengan keluarga Chou. Tentu saja mereka mendapat kabar bahagia itu, mengingat yang menikah adalah putri tunggal dari bos mereka.
"Tuan muda Arsen?" Tanya Security itu memastikan.
"Ah ya, ba,, bagaimana kau bisa tau aku?"
"Tentu saya tau, anda adalah suami dari majikan saya, mana mungkin saya tidak mengenali anda meski pun kita tidak pernah bertemu."
"Oh begitu rupanya, syukurlah."
"Tapi, nona Rachel dan nyonya sedang tidak berada di rumah."
"Kemana mereka?"
"Maaf tuan muda, saya juga tidak tau pasti, mereka keluar sekitar satu atau dua jam an yang lalu."
Arsen pun terdiam, bisa dilihat dengan jelas dari sorot matanya, ada rasa kecewa disana.
"Tapi ada baiknya anda masuk lah dulu ke dalam, mungkin saja para pelayan di dalam tau mereka ke mana."
"Baik lah."
"Mari saya antar."
Arsen pun di tuntun untuk menuju masuk ke dalam rumah, untuk bertemu dengan pelayan yang bertugas di dalam rumah.
...Bersambung......
__ADS_1