
Ke esokan harinya...
Jam kini sudah menunjukkan pukul 13.30 siang, saat itu Rachel yang baru selesai makan siang duduk sendirian di salah satu meja kantin kantor. Seketika suara deringan dari ponsel Rachel tiba-tiba berbunyi hingga sontak membuat lamunannya buyar.
"Iya opa?" Jawabnya saat mengangkat panggilan itu.
Ya, panggilan itu ternyata dari Mr. Liong yang saat itu sengaja menelpon cucunya untuk mengabarkan jika satu unit apartement yang di inginkan oleh Rachel saat itu telah resmi menjadi miliknya.
"Benarkah opa? Secepat itu?" Tanya Rachel dengan wajahnya yang seketika langsung berbinar.
"Tentu saja cucuku, apakah kamu meragukan kemampuan opa mu ini ha?
"Hehehe tentu tidak opa. Siapa yang berani meragukan pengacara yang begitu tersohor seperti opaku ini ha?"
"Hahaha oh ya, Opa dan oma bahkan sudah melengkapi isi apartement barumu dengan segala prabot yang pastinya akan kamu butuhkan sayang. Dan kamu hanya perlu datang untuk membuat sidik jari sebagai akses masuk ke apartement mu." Jelas Mr. Liong.
"Aaaa thank you so much opa, I love you."
"Hehehe ya sudah, tapi ingat, kamu harus tetap sering berkunjung ke rumah ini sayang, opa tidak mau begitu pindah ke apartement barumu, kamu langsung tidak ingin datang ke kemari lagi."
"Siap opa, jangan khawatir masalah itu."
Panggilan telpon pun berakhir, Rachel pun sontak berloncat girang karena mulai sekarang ia tidak perlu berbohong lagi jika ada yang bertanya tentang tempat tinggalnya.
"Yeayy, tuhan memang benar-benar sedang berpihak padaku saat ini." Celetuk Rachel seorang diri sembari terus melembarkan senyumannya.
Merasa cukup meluapkan rasa senangnya, Rachel pun akhirnya berniat ingin kembali ke kantornya. Namun begitu ia berbalik badan, Sosok Arsen Lim sudah terlihat sedang mengarah ke arahnya.
"Ada apa tuan muda? Kenapa ada mau repot-repot menginjakkan kaki anda ke kantin ini?" Tanya Rachel dengan wajah datarnya.
"Waktu istirahat sudah habis, waktunya kembali bekerja." Tegas Arsen sembari menghempaskan sebuah map di atas meja kantin.
__ADS_1
Rachel yang merasa bingung pun akhirnya meraih map itu lalu mulai membukanya.
"Tidak kah kamu melihat jadwalku hari ini? Tepat setengah jam lagi kita ada meeting di Blue Light Restorant dan hingga jam segini kamu masih berleha-leha disini." Tegas Arsen lagi dengan nada yang terdengar seperti orang yang sangat kesal.
Namun Rachel yang sudah tau banyak tentang Arsen tentu tak membuatnya takut saat melihat Arsen yang terlihat marah. Ia tetap bersikap tenang meskipun di hadapannya kini sedang ada seekor singa yang seolah sedang mengamuk.
Dan sikap Arsen hari itu sebenarnya bukan karena Rachel yang berleha-leha dengan pekerjaan, melainkan ia sudah merasa kesal sejak semalam. Sejak ia melihat Rachel dan Antony makan malam bersama, di tambah sikap Rachel yang terus cuek padanya, hal itu lah yang membuatnya kesal.
"Baiklah tuan muda, jangan khawatir saya sudah menyiapkan semua materi untuk meeting nanti. Kita bisa jalan sekarang jika anda mau." Jawab Rachel dengan tenang sembari tersenyum tipis dan kemudian langsung pergi begitu saja.
"Ta, tapi..."
"Tapi apa tuan muda? Ayo kita pergi! Bukankah anda tidak suka berleha-leha?" Ucap Rachel dengan tenang dan kembali melangkah.
Arsen pun lagi-lagi di buat mati gaya, niat awal ingin memarahi Rachel agar ia bisa meminta maaf dan kembali bersikap baik justru malah di balas dengan hal yang sama, yaitu masih di balas dengan sikapnya yang cuek. Setelah menghela nafas kasar, akhirnya Arsen pun ikut melangkah untuk menyusul Rachel yang telah berjalan lebih dulu ke mobilnya.
"Apa kamu yakin sudah membawa semuanya?"
"Saya yakin tuan muda, semuanya ada disini." Jawab Rachel sembari menunjukkan tablet yang ia pegang.
"Lagi pula meeting kali ini hanya ingin membahas materi konsep saja," jelas Rachel lagi.
"Bagaimana? Apa ada hal yang masih di permasalahkan?" Tanya Rachel lagi.
"Tidak!" Jawab Arsen singkat sembari langsung mengembalikan tablet itu kepada Rachel.
Mereka pun akhirnya segera pergi menuju restoran, sepanjang jalan Rachel terus diam, meski dalam hatinya ia masih saja menyimpan perasaan dalam pada Arsen, namun menurutnya sesekali Arsen memang pantas di hukum dengan sikap diamnya agar Arsen bisa lebih peka.
Begitu pula dengan Arsen, kala itu dia pun memilih untuk diam, dia sungguh sudah di buat kesal dengan sikap Rachel, namun entah kenapa saat itu dia tak bisa berbuat apapun pada Rachel apalagi memecatnya.
__ADS_1
Mereka pun tiba di restoran saat jam sudah menunjukkan pukul 14.10 siang, kedatangan mereka pun langsung di sambut oleh klien mereka yang ternyata sudah datang lebih dulu.
"Maaf saya sedikit terlambat, jalanan begitu macet siang ini." Ucap Arsen basa basi sembari membalas jabatan tangan dari klien.
"Ah tidak apa tuan muda, lagi pula kami belum terlalu lama tiba disini."
Mereka pun kembali duduk dan langsung memulai meeting. Hari itu ada banyak konsep yang harus mereka bahas dan cocok kan sesuai apa yang mereka inginkan hingga cukup memakan banyak waktu. Hingga tanpa terasa meeting pun baru bisa terselesaikan saat jam sudah mengarah ke arah pukul 17.35 sore.
Rachel pun mulai mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk segera pulang, namun saat itu Arsen melihat ada yang sedikit berbeda dari wajah Rachel. Rachel yang biasanya tetap terlihat energik walau dalam keadaan lelah, kini terlihat sedikit lesu dan wajahnya sedikit pucat. Bahkan sesekali ia terlihat seolah sedang menahan rasa sakit pada bagian perutnya.
"Ada apa denganmu?" Tanya Arsen dengan nada cuek.
"Tidak ada apa-apa tuan muda." Jawab Rachel tanpa melirik ke arah Arsen sedikit pun.
"Baiklah tuan muda, tugas saya hari ini sudah selesai dan saya harus pulang sekarang." Tambah Rachel yang mulai bangkit dari duduknya dan langsung beranjak begitu saja.
Saat itu Arsen tidak menjawab, ia hanya memasang wajah datar dan terus memandangi kepergian Rachel yang saat itu terus berjalan membelakanginya. Namun seketika mata Arsen membulat, saat melihat di celana bagian belakang Rachel seperti ada bercak darah. Tanpa basa basi, ia pun langsung berjalan cepat mengejar langkah Rachel sembari membuka jas yang saat itu sedang ia kenakan.
"Tunggu!" Tegas Arsen.
Rachel dengan lesu pun langsung menghentikan langkahnya dan mulai menatap Arsen dengan wajahnya yang terlihat sangat tak bersemangat.
"Ada apa tuan muda?"
Tanpa berkata apapun lagi, Arsen pun langsung mengikatkan jasnya ke pinggang Rachel demi menutupi noda darah yang ada di celana bagian belakangnya. Rachel pun seketika terkejut, dengan matanya yang membulat sempurna.
"Apa-apaan ini tuan muda?"
"Diam dan tenang lah, kamu sepertinya kedatangan tamu tak di undang hari ini, ada noda merah di celana bagian belakang mu." Bisik Arsen sembari terus mengikatkan jas nya.
Seketika wajah Rachel pun langsung memerah karena malu, hingga membuatnya terus terdiam seribu bahasa.
__ADS_1
"Sudah, tidak perlu panik seperti itu! Aku yang akan mengantarmu pulang." Ucap Arsen lagi sembari langsung menarik tangan Rachel begitu saja.
...Bersambung......