
Kala itu Arsen hanya diam sembari mulai memijiti pelipis dan dahinya secara bergantian. Ia merasakan jika kepalanya saat itu jadi begitu pusing akibat ada sesuatu yang tertahan di bawah sana.
"Hei, kenapa kau diam saja? Setidaknya biarkan paman masuk ke apartement baru ini dan menikmati secangkir kopi buatan Rachel." Alex pun menepis tubuh Arsen yang berdiri di depan pintu dan langsung masuk begitu saja ke unit miliknya.
"Uncle, sebaiknya katakan saja ada perlu apa kesini dan setelah itu segera lah pergi!" Keluh Arsen yang dengan cepat menyusul langkah Alex yang sudah masuk lebih dulu.
"Wahhh, benar-benar pemilihan hunian yang begitu strategis. Cahaya matahari pagi begitu sempurna masuk kesini, benar-benar menyenangkan." Celetuk Alex saat memandangi pemandangan pagi hari dari dinding apartement yang terbuat dari kaca.
"Oh ya, dimana Rachel? Kenapa uncle belum ada melihatnya sejak tadi? Apa dia masih tidur?" Alex yang memang tidak ada rasa segan apalagi canggung, sontak langsung saja melangkah menuju pintu kamar yang kala itu ternyata masih terbuka.
Saat itu, Rachel dengan pakaian yang masih sama, terlihat sedang berjalan mondar mandir di kamarnya. Alex yang melihat hal itu dari depan pintu pun sontak berteriak kaget.
"Oh astaga," Ucapnya yang refleks menutup matanya dengan kedua telapak tangannya.
"Pantas saja kau bersikap seolah tidak membiarkan aku masuk, ternyata ada seorang wanita dalam kondisi setengah telanjang disini hahaha." Celetuk Alex lagi yang langsung beralih menuju ruang tamu.
Rachel yang mendengar hal itu sontak dibuat terkejut, ia pun langsung meraih jubah mandi milik Arsen dan membalutknya ke tubuhnya.
Alex pun mulai mendudukkan dirinya di sofa, lalu di susul pula dengan Arsen yang dibuat jadi kebingungan serta resah dan gelisah, akhirnya ikut duduk tak jauh darinya.
Rachel pun keluar dengan sudah memakai jubah mandi yang nyaris menutupi hampir seluruh tubuhnya, mengingat jubah mandi itu milik Arsen, yang pasti memiliki ukuran lebih besar darinya.
"Pa,, pamann."
"Haiyoo, ini dia. Maaf tadi paman tidak sengaja melihatmu berpenampilan cukup vulgar haha. Emm pantas saja anak ini terlihat sangat waspada." Celetuk Alex sembari menepuk paha Arsen.
"Emm kalian mengobrol saja dulu, akan ku buatkan kopi." Rachel pun bergegas beranjak menuju dapur.
Alex kembali melirik Arsen yang masih nampak begitu tegang, ia pun jelas terlihat begitu resah dan gelisah dengan sorot mata yang terus memandangi ke arah Rachel.
"Hei bung, apa uncle sungguh mengganggu kalian?" Bisik Alex sembari cengengesan.
"Ah sudah lah uncle, cepat katakan ada keperluan apa?"
__ADS_1
"Emm baiklah, begini Arsen, CEO dari Unicorp mendadak merubah jadwal meeting perdananya menjadi jam 10:00 pagi ini."
"Apa?!" Mara Arsen seketika mendelik.
"Ya, hal itu terjadi di karenakan, adik kandungnya yang menetap di Filiphina meninggal dunia, jadi nanti siang dia harus sudah berangkat ke bandara untuk pergi ke rumah adiknya." Jelas Alex lagi.
"Haiiish, aku sungguh berduka dengan hal itu, tapi ini juga hari pertamaku setelah menikah, kenapa kalian begitu kejam hingga tidak membiarkan aku libur. Untuk apa aku menjabat sebagai CEO bila hal begini saja tidak bisa di wakilkan" Keluh Arsen yang mulai menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Mau bagaimana lagi, sudah menjadi ketentuan di bidang bisnis, saat melakukan meeting perdana dengan klien besar, maka CEO harus ikut serta sebagai perkenalan secara resmi. Ayolah, ini tidak akan lama Arsen Lim, lebih kurang hanya dua jam, setelah itu uncle tidak akan mengganggu mu."
Arsen pun hanya mendengus.
"Lagi pula, jika mau berlibur, nanti saja saat kalian berbulan madu." Tambah Alex lagi.
"Uncle yakin hanya dua jam?"
"Tentu saja," jawab Alex penuh keyakinan,
Tak lama Rachel pun datang dengan sudah membawa dua cangkir kopi, lalu dengan pelan mulai menghidangkannya di atas meja. Melihat kedatangan Rachel, membuat Arsen memutuskan untuk segera beranjak untuk mandi, sekaligus menghindar karena ia takut jika melihat Rachel saat itu, gejolaknya semakin meningkat.
Rachel pun terdiam memandangi kepergian Arsen. Namun akhirnya ia kembali tersenyum karena menyadari keberadaan Alex.
"Ini paman, minum lah dulu." Ucapnya dengan ramah.
"Haiyoo, tentu saja paman akan meminumnya." Alex pun tersenyum lebar dan mulai menyeruput pelan kopi miliknya.
"Apa kalian tidak ada makanan? Karena buru-buru kesini, membuat paman tidak sempat menikmati sarapan." Ucap Alex tanpa ragu-ragu.
"Maaf paman, tapi saat ini, tidak ada apapun untuk di makan." Jawab Rachel yang jadi merasa sangat tidak enak pada Alex.
"Haaaish, dua orang yang begitu kaya raya yang sudah bersatu dalam pernikahan, tapi tidak ada apapun di rumahnya yang bisa di makan. Bukankah itu terdengar lebih menyeramkan dari cerita horor?!"
"Hehehe iya maaf paman, ini hari pertamaku disini, jadi harap di maklumi jika banyak kekurangan. Aku janji jika paman berkunjung lagi, aku akan menservice paman dengan banyak makanan enak."
__ADS_1
"Ah baiklah, kali ini kalian di maafkan." Alex pun kembali terkekeh dan meminum lagi kopinya.
Rachel pun ikut tersenyum manis dan mulai ikut duduk di sofa.
"Paman, boleh meminta bantuan mu?" Tanya Rachel sembari cengengesan.
"Tentu, apa itu?" Tanya Alex sembari meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja.
"Tasku yang berisikan ponsel dan dompet, beserta barang-barang bawaanku lainnya, tertinggal di kamar hotel tempat ku berias kemarin. Boleh bantu aku untuk menyuruh seseorang agar mengirimkan semua itu kesini?"
"Astaga, benar juga. Paman lupa, jika malam itu setelah pesta selesai, pegawai hotel ada menelpon paman memberitahukan jika tasmu sudah di titipkan di meja resepsionis. Baiklah, kau duduk manis saja disini, biarkan paman yang mengaturnya."
"Terima kasih banyak paman." Lagi-lagi senyuman Rachel semakin berkembang.
Alex pun langsung menelpon seseorang, hanya dengan sekali panggilan telepon, Alex sudah bisa mengatur segalanya dengan sangat mudah.
"Sudah beres, kamu hanya perlu menunggu saja." Ucap Alex saat baru saja mengakhiri panggilan teleponnya.
"Aaaaa tidak pernah salah jika keluarga Lim selalu mengandalkan paman." Rachel pun terlihat begitu sumringah.
"Haiish, kau begitu berlebihan memuji nak hahaha tapi... bukankah harusnya aku dibayar mahal dengan bakat alamiku ini hahaha."
"Tidak masalah paman, apa mobil keluaran terbaru cukup untuk membayar kebaikan paman selama ini?"
"Ha?! Ap,, apa aku tidak salah mendengarnya? Apa kau sungguh-sungguh ingin mengganti mobilku dengan keluaran terbaru saat ini?" Wajah Alex seketika nampak begitu sumringah.
"Tentu saja, apa paman meragukan ku?"
Rachel yang terus tersenyum pun mulai memicingkan matanya pada Alex.
"Wah tidak! Tentu tidak, aku percaya kau punya power untuk hal itu hehehe, tapi paman jadi malu,,,"
"Malu? Kenapa malu paman?" Dahi Rachel pun mulai mengernyit.
__ADS_1
...Bersambung......