Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 114


__ADS_3

Arsen dengan penuh semangat pun mulai mempersiapkan segalanya hanya melalui ponselnya. Mulai dari memesan buket bunga mawar merah yang indah serta mewah, memesan sebuah cincin dari toko berlian kenamaan di kota itu, serta membooking meja di restoran bintang lima milik keluarganya.


"Aku mau kau mengatur semua yang ku perintahkan tadi, dan jangan sampai ada kesalahan walau setitik! Mengerti?" Ucap Arsen pada menejer Blue Light Restaurant.


"Sangat mengerti tuan muda."


"Bagus." Arsen pun tersenyum lalu langsung mengakhiri panggilan telponnya.


Kini giliran Arsen menghubungi Rachel, namun sayang, tiga kali melakukan panggilan ke nomor Rachel, sama sekali tak ada jawaban.


"Kemana dia? Kenapa tidak menjawab telponku?" Gumam Arsen seorang diri dengan dahinya yang mengkerut.


Akhirnya Arsen memutuskan untuk mengirimi Rachel sebuah pesan singkat.


"Aku ingin mengajakmu dinner nanti malam,"


Selang beberapa lama, ponsel Arsen pun berdering menandakan ada sebuah pesan baru masuk.


"Tidak perlu! Aku sedang malas." Balas Rachel yang terkesan ketus.


Membaca pesan singkat dari kekasihnya itu, sontak membuat dahi Arsen semakin mengkerut dan bingung.


"Ada apa dengannya? Kenapa sejak tadi dia mendadak jadi ketus padaku?" Tanya Arsen kebingungan.


Namun setelah beberapa saat berfikir dan bertanya-tanya seorang diri, akhirnya Arsen pun mulai menyadari apa yang sekiranya membuat Rachel jadi bersikap ketus padanya.


"Emm, apa ini ada hubungannya dengan ucapanku saat di mobil tadi? Apa dia berfikir seseorang yang ku maksud adalah wanita? Atau bahkan dia berfikir aku menemui Laura?" Tanya Arsen seorang diri.


"Haissh astaga, sepertinya dia sudah salah paham." Gumam Arsen lagi yang kembali membuka ponselnya dan siap mengirim pesan lagi pada Rachel.


"Bukan hanya dinner, tapi ada suatu hal yang perlu ku katakan padamu."


"Katakan disini saja!" Jawab Rachel yang nampaknya masih begitu kesal.


"Akan lebih baik jika di katakan secara langsung. Ku mohon jangan membantahku kali ini, jam 8 aku jemput." Balas Arsen sembari tersenyum tipis.


Sementara Rachel yang membaca pesan singkat itu, hanya bisa mendengus.


"Kenapa aku harus menuruti semua keinginanmu ha?! Sementara kau bisa berbuat sesuka hatimu tanpa memikirkan perasaanku, dasar pemaksa!!" Ketus Rachel yang terus menggeram seorang diri sembari melototi ponselnya seolah saat itu ia menganggap jika ponselnya itu adalah Arsen Lim."


Setelahnya, Rachel pun langsung menghempaskan ponselnya ke atas ranjang tanpa berminat untuk membalas pesan dari Arsen.

__ADS_1


Waktu terus bergulir, kini waktu telah menunjukkan pukul 19:45 menit, saat itu Rachel tengah terduduk di depan meja riasnya, ia bermaksud memoles wajahnya setidaknya dengan sedikit bedak dan lipstick agar tak terlalu nampak pucat.


Ting tong...


Suara bel di apartement Rachel tiba-tiba saja berbunyi, membuat Rachel seketika melirik ke arah jam dindingnya sembari mengernyitkan dahinya.


"Ini bahkan belum jam 8, kenapa cepat sekali." Gumam Rachel seorang diri sembari beranjak dari duduknya menuju pintu.


Rachel bersiap untuk membuka pintu, tak lupa ia pun bersiap untuk memasang wajah juteknya di hadapan Arsen.


"Kenapa cepat se......." Ucap Rachel sembari membuka pintu.


Namun ucapannya sontak saja terhenti saat mendapati seorang lelaki yang cukup asing baginya telah berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah kotak berwarna hitam dengan diikat sebuah pita berwarna merah di tengah-tengahnya.


"Selamat malam nona Bella." Ucap lelaki itu sembari membungkuk singkat.


Rachel dengan wajah kikuk beserta bingung pun hanya ikut mengangguk dan menjawab pelan.


"Ma, malam."


"Saya adalah salah satu supir dari keluarga Lim yang di perintahkan tuan muda Arsen untuk menjemput anda nona." Jelas sang lelaki yang berbadan tegap itu.


"Menjemputku?"


"Ta, tapi,,, bukankah dia yang akan menjemputku?"


"Justru saat ini tuan muda sudah menunggu di Blue Light Restaurant nona."


"Hah, apa-apaan ini?! Kenapa dia malah menyuruh supir untuk menjemputku? Apa aku sungguh tak sepenting itu baginya?!" Rachel terus bertanya-tanya dalam hati dengan perasaannya yang semakin dibuat kesal.


"Emm baiklah, aku ambil tasku dulu." Ucap Rachel akhirnya dengan lirih sembari ingin kembali masuk.


"Sebentar nona."


"Ya, ada apa?" Rachel pun kembali menoleh ke arah supir.


"Ini nona," supir itu pun memberikan kotak yang sejak tadi ia pegang pada Rachel.


"Apa ini?" Rachel meraih kotak itu dengan ekspresinya yang masih terlihat bingung sembari mulai memandangi kotak hitam itu.


"Tuan muda yang memberikannya, ia berharap agar nona memakainya saat menemuinya nanti."

__ADS_1


"Emm baiklah, aku akan membukanya di dalam saja." Rachel tersenyum tipis dan kemudian membawa kotaknya masuk.


"Baik nona, saya tunggu nona di lobby."


Rachel pun mengangguk sebelum akhirnya masuk.


Rachel meletakkan kotak itu di atas ranjangnya, lalu langsung membukanya, seketika mata Rachel dibuat membulat saat mendapati sebuah dress berwarna hitam yang terlihat begitu elegant. Rachel pun mengangkat dress itu, lalu menempelkannya di tubuhnya sembari terus memandangi pantulan dirinya di cermin.


Namun seketika Rachel kembali terdiam dan seolah berfikir kembali.


"Tunggu, dress ini terkesan begitu formal, kenapa dia menyuruhku memakai ini? Bukankah ini sangat berlebihan jika untuk makan malam biasa?" Tanya Rachel seorang diri.


Tak ingin membuat supir menunggunya terlalu lama, akhirnya Rachel pun menepis segala rasa penasarannya dan memilih untuk memakai dress itu tanpa banyak pertimbangan lagi.


Rachel kembali tersenyum tipis saat memandangi pantulan dirinya di cermin saat sudah mengenakan dress mahal pemberian Arsen.


"Jika sudah begini, aku bahkan terlihat jauh lebih cantik dari perempuan ular itu." Gumam Rachel seorang diri sembari memandang bangga pada dirinya sendiri.


Rachel pun akhirnya keluar dari kamarnya dan langsung menuju lobby, banyak mata yang di buat terpana saat Rachel berjalan melewati mereka.


"Ayo." Ucap Rachel tersenyum.


"Baik nona." Jawab sang supir yang langsung bergegas menuju tempat dimana mobil terparkir.


Memakan waktu 30 menit lamanya, kini mobil yang membawa Rachel pun akhirnya terhenti sempurna di depan lobby Blue Light Restaurant. Supir dengan cepat keluar dari mobil, ia pun berlari untuk membantu membukakan pintu untuk Rachel.


"Silahkan nona."


Rachel pun hanya tersenyum dan perlahan keluar dari mobil. Matanya terus menjelajah kesana kemari untuk mencari keberadaan kekasihnya.


"Dimana Arsen?" Tanya Rachel.


"Tuan muda sudah menunggu di dalam nona."


Rachel pun melangkah menuju pintu utama, kehadirannya pun langsung di sambut oleh seorang pelayan yang sudah menunggunya di pintu.


"Selamat malam nona Bell, mari saya antar."


Rachel kembali tersenyum dan hanya mengangguk patuh, ia pun terus berjalan mengikuti pelayan yang akan membawanya ke tempat dimana Arsen berada.


Namun langkah Rachel perlahan jadi melambat, saat kedua matanya akhirnya mendapati Arsen yang kala itu sudah berdiri tegak tak jauh darinya. Saat itu Arsen pun terlihat begitu gagah dan tampan dengan setelan jasnya yang terkesan formal. Ia terlihat tersenyum memandangi kehadiran Rachel dengan keadaan kedua tangannya yang ia sembunyikan di belakangnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2