
Arsen pun melajukan mobilnya untuk kembali ke kantor, hanya menempuh waktu sepuluh menit saja, kini mobil Arsen pun telaht terparkir sempurna di depan loby kantor utama.
"Oh astaga Arsen Lim, kemana saja kau? Tidak kah kau ingat hari ini ada jadwal meeting mingguan dengan seluruh staff kantor utama?" Tanya Alex yang langsung menyambut kedatangan Arsen di loby.
"Iya maafkan aku uncle tadi aku keluar sebentar."
"Astaga kau ini, ya sudah ayolah cepat, papamu dan yang lain sudah menuju ke ruang meeting sekarang."
Arsen pun mengangguk dan semakin melajukan langkahnya menuju ruangan meeting yang berada di lantai 10 gedung megah itu.
"Maaf semuanya aku terlambat." Ucap Arsen begitu memasuki ruangan meeting.
Saat itu di ruangan meeting sudah terduduk Benzie, Rachel, dan para staff penting lainnya. Benzie yang melihat kedatangan Arsen pun hanya menggelengkan kepalanya seolah merasa kesal dengan Arsen yang memilih keluyuran di jam kerja.
Arsen yang menyadari itu pun langsung terduduk di kursinya yang tepat berada di sisi Rachel selaku sekretarisnya.
"Kenapa kamu tidak mengingatkan aku tentang meeting mingguan ini?!" Ketus Arsen berbisik kepada Rachel.
"Saya sudah menelpon anda beberapa kali tapi tidak di angkat." Jawab Rachel dengan tenang.
Mendengar hal itu seketika Arsen langsung meraba saku jas hingga saku celananya untuk mencari ponselnya. Namun sayang, ponsel Arsen tidak ada di saku manapun hingga membuatnya sedikit bingung dan panik.
"Ponselku?" Ucap Arsen sembari terus meraba seluruh saku yang ada di setelan jasnya.
"Ada apa tuan muda?"
"Ponselku tidak ada." Jawab Arsen yang semakin terlihat panik.
"Ada masalah apa?!" Tanya Benzie yang sejak tadi memandangi Arsen.
"Oh tidak, hanya saja kurasa aku meninggalkan ponselku di suatu tempat." Jawab Arsen yang mencoba kembali bersikap tenang di hadapan sang ayah.
"Emm ya sudah jika hanya ponsel yang tertinggal, berarti kita tetap bisa melanjutkan meeting ini kan tuan muda Arsen Lim? Atau kami masih harus menunggu lagi?" Ucap Benzie sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu, meeting kita mulai sekarang." Jawab Arsen.
__ADS_1
Akhirnya meeting pun berjalan dengan lancar dengan di pimpin oleh Arsen sendiri sebagai CEO perusahaan. Arsen dengan tenang mulai mempresentasikan seluruh gagasannya untuk satu minggu ke depan dan nampaknya seluruh gagasan yang ia sampaikan bisa di terima dengan baik oleh seluruh staff.
2 jam telah berlalu kini jarum jam tepat menunjuk ke arah pukul 17:00 sore, meeting pun akhirnya selesai, kini seluruh staff berangsur-angsur keluar meninggalkan ruangan meeting yang luas sekaligus pula meninggalkan gedung utama karena jam kerja telah usai. Saat itu tersisa empat orang saja yang masih terduduk di ruangan itu, yaitu Benzie, Alex, Rachel, dan Arsen.
Rachel yang telah selesai menyusun kembali berkas-berkasnya pun memilih langsung bangkit dari duduknya.
"Saya permisi tuan." Ucap Rachel sembari tersenyum tipis dan membungkukkan badannya.
"Iya, hati-hati ya Bella yang cantik." Jawab Alex sembari tersenyum lebar.
"Astaga uncle, tidak ingat kah uncle pada bibi di rumah dan umur uncle saat ini?" Ketus Arsen yang langsung mendengus pelan.
"Wah wah wah, memangnya kenapa kalau aku mengatakan dia cantik? Bukankah dia memang cantik? Apa ada yang salah dengan ucapanku? Tidak kan?" Tanya Alex lagi.
Namun Arsen pun akhirnya terdiam, ia tak bisa menjawab pertanyaan itu karena menurutnya jika ia mengatakan bahwa Rachel cantik, itu akan menjatuhkan pamornya sebagai atasan.
"Emm sudah lah tidak usah di bahas." Jawab Arsen yang seketika menjadi kikuk.
"Ya sudah, kamu boleh pulang sekarang!" Ucao Arsen datar pada Rachel.
"Aaaghh." Teriak Rachel.
Hal itu sontak membuat mata orang-orang yang masih berada di ruangan itu menjadi membulat sempurna terutama Arsen. Dengan spontan ia pun beranjak dari duduknya dan langsung menghampiri Rachel.
"Hei kamu tidak apa-apa?" Tanya Arsen yang terlihat begitu cemas.
"Bagaimana mungkin kamu bertanya seperti itu lagi disaat dia sudah berteriak begitu?" Ucao Benzie yang ikut berdiri memandangi Rachel yang terus meringis kesakitan.
"Tidak, aku tidak apa-apa tuan muda." Jawab Rachel sembari kembali ingin berusaha untuk bangkit.
Namun ia kembali terjatuh, ia kembali meringis kesakitan sembari terus memegangi engkel kakinya.
"Astaga sakit sekali." Ucap Rachel begitu lirih.
"Kenapa? Apa kakimu sakit?" Tanya Arsen lagi sembari mulai menyentuh engkel kaki Rachel.
__ADS_1
Rachel pun akhirnya mengangguk pelan dengan wajahnya yang jadi begitu sendu.
"Sebaiknya kamu mengantarnya pulang Arsen Lim, karena nampaknya ia tak bisa berjalan sendiri." Ucap Benzie dengan tenang.
Arsen pun tak bisa menolak dan memilih mematuhi perintah sang ayah. Selain dia tak ingin membantah ucapan sang ayah, di sisi lain hatinya ia pun sungguh merasa cemas melihat Rachel yang terus kesakitan.
"Baiklah, ayo, ku antar kamu pulang." Ucap Arsen.
Arsen pun langsung meraih tangan Rachel dan mengalukan tangan itu ke lehernya. Ia pun mulai membantu Rachel untuk berdiri dan kemudian langsung memapahnya. Saat itu Alex berniat ingin membantu Arsen, namun dengan cepat Benzie langsung menahan pundak Alex sembari menggelengkan kepalanya.
"Biarkan putraku yang mengurus calon pendamping masa depannya." Ucap Benzie setengah berbisik.
Alex pun akhirnya kembali mengangguk patuh dan memilih hanya diam menyaksikan Arsen yang berusaha membawa Rachel untuk keluar dari ruangan itu.
"Apa itu tadi memang bagian dari rencana Rachel untuk mendapatkan perhatian putramu? Jika benar, maka dia memang sungguh berbakat jadi pemain film, cara dia menjatuhkan dirinya tadi benar-benar terlihat alami sekali." Celetuk Alex setengah berbisik dengan tatapan mata yang seolah tak lekang menatap Arsen dan Rachel yang mulai menjauh dari mereka.
"Tak peduli dia sedang akting atau sungguhan, yang jelas aku berharap mereka berjodoh." Jawab Benzie dengan tenang sembari tersenyum tipis.
"Aaaghh." Rachel kembali meringis kesakitan menahankan rasa sakit pada kakinya ketika ia mulai memaksakan untuk berjalan.
"Apakah sakit sekali?"
Rachel pun kembali mengangguk pelan sembari mulai meneteskan air mata.
"Sudah jangan menangis!" Arsen dengan tenang pun langsung menghapus air mata yang mengalir di pipi Rachel.
Lalu tanpa berkata apapun lagi, ia pun langsung menggendong Rachel begitu saja dan membawanya turun melalui lift khusus. Dengan pelan dan sangat hati-hati Arsen mendudukkan Rachel di dalam mobilnya, lalu dengan sigap ia pun langsung masuk dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Di tengah perjalanan, Arsen tiba-tiba menghentikan mobilnya di tepi jalan tepat di depan sebuah apotik.
"Tunggu lah sebentar." Ucapnya yang langsung keluar dari mobil.
Rachel pun hanya terdiam sembari terus memandangi kepergian Arsen. Di tengah rasa sakit yang ia rasakan, terselip rasa bahagia dan hatinya kembali berbunga-bunga mendapat perlakuan manis dari Arsen.
...Bersambung......
__ADS_1