Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 119


__ADS_3

Ke esokan harinya...


Hari ini Arsen masuk kantor seperti biasanya, wajahnya nampak begitu cerah dan berseri saat melintasi loby menuju ke lift.


"Pagi tuan muda." Sapa resepsionis.


"Emm pagi." Jawabnya sembari tersenyum tipis.


Begitu terlihat manis sekali.


"Ya tuhan, tidak diragukan lagi, pewaris keluarga Lim memang sungguh menawan." Bisik beberapa staff wanita yang saat itu berdiri tak jauh dari meja resepsionis.


Arsen pun terus melangkah menuju lift, lalu dengan tenang ia berjalan menuju ruangannya. Ia pun masuk dan langsung melirik ke arah ruangan calon istrinya, saat itu kursi Rachel terlihat masih kosong hingga membuat dahi Arsen mulai mengernyit.


"Kenapa jam segini dia belum tiba? Biasanya setiap ada rapat pagi, dia selalu datang paling awal." Gumam Arsen dalam hati sembari melangkah pelan menuju kursi kerjanya.


15 menit pun berlalu begitu saja, namun Rachel belum juga menampakkan batang hidungnya di kantor. Membuat Arsen mulai cemas dan langsung memutuskan untuk menghubungi Rachel. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Rachel, namun sama sekali tak ada jawaban.


"Astaga Bella, ada apa denganmu? Kenapa tidak menjawab telpon ku." Gumam Arsen seorang diri sembari terus berjalan mondar mandir di ruangannya sambil terus mencoba menghubungi Rachel.


Tak lama Arsen pun meminta Alex untuk memanggil supir kantor ke ruangannya.


"Anda memanggil saya tuan muda?" Tanya sang supir sembari membungkukkan badannya sejenak.


"Tolong jemput Bella sekarang juga, dan pastikan dia dalam keadaan baik-baik saja!" Perintah Arsen.


"Oh baik tuan muda." Supir itu pun membungkuk kembali lalu mulai beranjak pergi.


Namun saat ia ingin keluar pintu, tiba-tiba saja tubuhnya di tabrak oleh seseorang yang juga baru ingin masuk ke dalam ruangan Arsen. Orang itu tak lain ialah Rachel yang terlihat seperti sangat tergesa-gesa.


"Ma, maaf, maafkan aku, aku sedikit terburu-buru." Ucap Rachel pada si supir.


"Oh tidak apa-apa nona."

__ADS_1


Arsen yang mendengar suara Rachel pun seketika langsung melangkah menuju pintu.


"Tuan muda, nona Bella sudah disini." Ucap supir.


"Baiklah, kamu boleh pergi sekarang."


Sang supir pun mengangguk patuh dan langsung beranjak pergi meninggalkan Rachel dan Arsen.


"Ma, maafkan saya tuan muda, saya terlambat karena..."


"Masuk." Ucap Arsen yang langsung memotong penjelasan Rachel.


"Tolong jangan marah, rapat baru akan di mulai 10 menit lagi kan, aku yakin bisa menyiapkan segala yang di butuhkan meski dalam waktu singkat, Percaya padaku." Jelas Rachel sembari menyusul langkah Arsen.


Seolah tak ingin menunggu jawaban dari Arsen, Rachel pun langsung saja meraih beberapa berkas yang ada di rak arsip yang terletak di sisi kiri ruangan Arsen. Saat itu Arsen masih diam, namun ia kembali melangkah mendekati Rachel yang kala itu sedang sibuk menyiapk berkas-berkas.


Arsen dengan senyuman tipis, tanpa basa basi, tiba-tiba saja langsung memeluk hangat tubuh Rachel dari belakang. Hal itu pun sontak membuat Rachel terkejut dan langsung menoleh ke arah Arsen hingga lagi-lagi membuat jarak di antara wajah mereka jadi begitu dekat bahkan kedua hidung mereka nyaris menempel.


"Hei, ke, kenapa tiba-tiba memelukku begini? Bukankah aku harus segera menyiapkan seluruh berkas untuk rapat." Ucap Rachel yang mendadak jadi sedikit gugup dan canggung.


"Kenapa jadi begitu tergesa-gesa? Apa kamu sungguh berfikir aku marah padamu karena datang terlambat?" Bisik Arsen.


"Jadi, kamu sungguh tidak marah padaku?"


"Hanya ada dua hal yang akan membuatku sangat marah." Jawab Arsen dengan tenang.


"Dua hal? Apa itu?" Rachel pun langsung berbalik badan menghadap Arsen dengan dahinya yang mulai berkerut.


"Pertama, aku akan marah jika kamu mengkhianatiku. Dan kedua..."


"Kedua??" Tanya Rachel lagi yang nampaknya begitu tak sabar namun dengan perasaan yang mulai tak karuan.


"Aku akan sangat marah jika kamu membohongiku." Jawab Arsen dengan suara begitu pelan sembari mengelus sebelah pipi Rachel dengan begitu lembut.

__ADS_1


Mendengar hal itu, sontak membuat Rachel seketika harus menelan ludahnya sendiri, bahkan tubuhnya mendadak menjadi gemetaran karena ia kembali teringat tentang kebohongan yang telah ia simpan hingga saat itu. Bagaimana tidak, tanpa Arsen tau, dia sudah lebih dulu berbohong pada Arsen hingga membuatnya semakin merasa tak karuan.


"Kamu tidak akan melakukan dua hal itu kan? Karena jika tidak, bisa ku pastikan aku tidak akan pernah marah padamu." Ucap Arsen lagi dengan tatapan seolah penuh harapan pada Rachel.


Membuat Rachel semakin merasa bersalah, namun di sisi lain dia juga semakin takut untuk membuat pengakuan tentang kebohongannya selama ini.


"Hei, kenapa diam saja? Jawab aku." Arsen pun mengguncang pelan pundak Rachel yang seolah terlihat sedang melamun.


"Eh iya, emm jawab apa?"


"Kamu tidak akan pernah melakukan kedua hal itu kan?"


"Emm iya, eh maksudku tidak, ak, aku, aku tidak akan melakukan keduanya." Jawab Rachel yang sedikit terbata-bata.


Jawaban yang keluar dari mulut Rachel kembali membuat senyuman Arsen semakin melebar.


"Iya, aku tau, aku tau kamu tidak akan melakukannya. Aku sangat percaya padamu, aku percaya kamu tidak akan mengecewakan aku. Itulah yang membuatku semakin yakin, aku akan bahagia jika aku bersamamu." Jelas Arsen dengan lembut.


Harusnya itu menjadi kata-kata yang begitu manis dan menyejukkan, namun kali ini tidak bagi Rachel. Justru kata-kata lembut nan manis yang keluar dari mulut Arsen saat itu seolah menjadi sindiran keras baginya. Kini perasaan Rachel dibuat semakin kalut, nyalinya bahkan semakin menciut untuk mengutarakan kebenaran, ia jadi begitu takut, takut jika Arsen akan marah dan kecewa padanya.


"Astaga, bagaimana ini? Kurasa kali ini mentalku justru semakin down." Gumam Rachel dalam hati.


Kala itu Arsen yang begitu sumringah, terlihat semakin mendekatkan wajahnya ke arah Rachel seolah ingin menciumnya. Namun bagi Rachel yang tengah kalut hatinya, saat itu bukanlah saat yang tepat untuk bermesraan.


"Astaga, tersisa lima menit lagi, ak, aku harus bergegas." Elak Rachel yang langsung kembali membalikkan badannya membelakangi Arsen.


Ia memilih untuk kembali menyibukkan dirinya agar ia tak terlihat gemetaran di hadapan Arsen. Namun Arsen yang masih belum menyadari hal itu, kembali memeluk mesra tubuh calon istrinya dari belakang.


"Tidak perlu terburu-buru, ini hanya rapat dengan para staff kantor ini, mereka bisa menunggu." Bisik Arsen.


"Tidak, kita harus tetap profesional. Bukankah begitu yang kamu ucapkan saat pertama kali merekrutku di perusahaan ini." Jawab Rachel.


"Emm baiklah," jawab Arsen yang sedikit lesu sembari menyandarkan dagunya di pundak Rachel dengan begitu manjanya.

__ADS_1


"Saat sedang manja begini, kenapa kamu justru terlihat semakin menggemaskan. Jika sudah begini, apa aku akan sanggup jika kehilanganmu? Tidak, aku rasa aku tidak akan sanggup." Gumam Rachel dalam hati yang jadi terdiam sejenak.


...Bersambung......


__ADS_2