Pewaris Tahta

Pewaris Tahta
Eps 128


__ADS_3

Rachel seketika menelan ludahnya sendiri saat mendapati Laura yang kini sudah berada di tengah-tengah mereka. Tubuhnya terasa mulai keringat dingin dan gemetar, karena satu persatu orang lain lebih dulu mengetahui siapa dirinya di banding Arsen.


"Jadi kau adalah Rachel Chou sahabat kecil Arsen Lim?!" Mata Laura begitu membulat saat itu.


Dalam hatinya, ia sungguh masih tidak menyangka dengan apa yang di dengarnya. Bagaimana tidak, orang yang selama ini terus di caci maki olehnya, adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di kota itu.


"Jadi selama ini kau menipu kami? Apa maksud mu melakukan semua ini ha? Kenapa kau menyamar menjadi Bella dan bekerja sebagai sekretaris Arsen ha?" Laura yang kesal mulai mencercah Rachel dengan berbagai macam pertanyaan sembari mulai menolak kasar pundak Rachel.


Berbeda seperti biasanya, sikap Rachel hari itu


Menunjukkan jika dia benar-benar ketakutan bahkan dia hanya diam saja saat diperlakukan kasar oleh Laura.


"Heh, jangan kasar padanya!" Bentak Antony yang langsung menepis tangan Laura.


Laura pun menatap Antony dengan dahinya yang mengernyit.


"Jadi selama ini anda pun sudah tau jika dia adalah Rachel Chou dan mencoba menutupinya dari kami semua terutama Arsen Lim?!"


"Menjawab pertanyaan darimu bukanlah sebuah keharusan bagiku." Jawab Antony yang masih mencoba bersikap tenang.


"Emm baiklah, aku ingin tau bagaimana reaksi Arsen jika dia tau tentang ini saat ini juga." Laura pun tersenyum sinis dan seketika langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


"Aku sangat tau bagaimana sifat Arsen Lim, dia adalah manusia yang paling anti dengan kebohongan, apalagi kebohongan fatal seperti ini. Ini sama saja kau sedang mempermainkannya." Tambah Laura lagi sembari terus mencari kontak Arsen.


"Aku akan menelponnya sekarang juga!"


"Jangan!" Rachel seketika langsung menahan tangan Laura.


Seketika Laura terdiam dan menatap wajah Rachel yang mulai pucat.


"Kumohon jangan lakukan itu." Ucap Rachel lagi dengan pelan.


"Hah, apa kau kira aku sebaik itu mau menuruti permohonanmu ha?! Aku akan memberitahunya sekarang juga, agar dia tau jika calon istrinya ini tidak lebih dari seorang penipu."


"Tidak, tidak, aku mohon jangan sekarang."


"Apa kau sungguh mau aku tidak mengatakan apapun pada Arsen?!" Tanya Laura menatap serius ke wajah sendu Rachel.


Rachel pun mengangguk.


"Maka kau juga harus menuruti keinginanku."


"Apa itu? Apa kau mau uang? Atau belanja di butik keluargaku? Aku akan menyetujuinya."


"Itu cukup menggiurkan, namun untuk saat ini, kembali berada di sisi Arsen Lim jauh lebih menjanjikan dari itu semua." Laura kembali tersenyum sinis.


"Apa maksudmu?!" Rachel pun membulatkan matanya.


"Menghilanglah dari kehidupan Arsen Lim tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun padanya, jangan pernah datang ke acara pertunangan nanti malam maupun acara-acara selanjutnya. Lenyaplah dari kehidupan Arsen Lim."


"Apa?!" Mata Rachel dibuat semakin mendelik.


"Jika tidak, bukan hanya kebohonganmu yang ku bongkar pada Arsen hari ini juga, tapi keluarga besarmu pun akan ku buat malu di acara kalian." Bisik Laura menunjukkan raut wajah kepuasannya.


Rachel terdiam sejenak, ia terus mencerna ancaman yang diberikan oleh Laura, namun di sisi lain, otaknya pun terus memikirkan jalan keluar terbaik.


"Bagaimana?!" Tanya Laura lagi.


Rachel akhirnya menghela nafas.


"Baik."


"Ha, jadi kau setuju?"


Rachel pun mengangguk.


"Hahaha sungguh Arsen Lim yang malang. Tapi bagus lah, aku harap kau pegang omonganmu. Jika kau berani datang nanti malam, lihat saja apa yang bisa ku lakukan."


Laura pun pergi dengan membawa rasa puasnya, kali ini dia benar-benar merasa menang karena memegang kartu As Rachel.


"Arsen akan kembali terpuruk, di saat itu lah aku akan kembali masuk dalam kehidupannya dengan cara menjadi teman penghiburnya terlebih dahulu." Gumam Laura dalam hati.


"Laura oh Laura, kamu sungguh wanita yang cerdik." Tambahnya lagi sembari kembali tersenyum penuh kepuasan.


Saat itu hanya tersisa Antony dan Rachel yang masih berdiri di depan loby.


"Rachel, kenapa...."


"Stop!" Rachel seketika mengacungkan jari telunjuknya di hadapan Antony.


"Aku benci padamu." Rachel akhirnya meneteskan air matanya, lalu kemudian langsung masuk meninggalkan Antony begitu saja.


Antony pun terdiam memandangi kepergian Rachel.


"Seharusnya ini akan mudah jika kamu lebih memilihku Rachel Chou." Gumam Antony seorang diri dan kemudian melangkah pergi.

__ADS_1


Malam hari...


Malam ini adalah malam pertunangan Arsen dan Rachel, Arsen yang berdiri di depan cermin nampak begitu gagah dan pastinya begitu rupawan dengan balutan jas hitam yang di kenakannya.


Berkali-kali ia mencoba menelpon Rachel, untuk menanyakan kesiapannya untuk acara pertunangan mereka, namun tak ada satu pun panggilan itu di jawab olehnya.


"Nampaknya dia sangat sibuk mempersiapkan dirinya untuk acara nanti malam." Celetuk Arsen seorang diri sembari tersenyum tipis.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Arsen pun menoleh ke arah pintu dan langsung melangkah untuk membukanya.


"Bibi." Ucapnya saat mendapati Tere yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kau panggil aku apa?" Tere langsung melotot.


"Hehehe baiklah, karena ini malam bahagia, aku akan memanggil Aunty." Jawab Arsen tersenyum.


Membuat Tere seketika mendengus dan ikut tersenyum.


"Ini cincin yang kamu pesan." Tere pun langsung memberikan kotak berbahan beludru berwarna hitam.


Arsen meraihnya dan langsung membukanya.


"Bagaimana? Sesuai seleramu bukan?"


"Selera Bibi memang tidak pernah mengecewakan." Arsen pun semakin dibuat tersenyum sembari memandangi sepasang cincin berlian berwarna silver.


Mendengar kata bibi membuat Tere kembali melebarkan matanya.


"Emm Aunty, ya maksudku Aunty." Tambah Arsen lagi.


"Terserah kau saja!" Tere pun langsung berlalu.


"Jika sudah selesai, segera lah turun, papa dan mamamu sudah menunggumu." Ucap Tere lagi sembari terus melangkah pergi.


"Ya, aku segera turun." Jawab Arsen yang kembali memandangi cincin yang sekarang berada dalam genggamannya.


Semua keluarga nampaknya sudah siap, mereka pun langsung berangkat menuju Blue Light Hotel, tempat dimana akan di selenggarakannya acara pertunangan.


Namun berbeda halnya dengan Rachel, saat itu dia bahkan masih memakai baju biasa dengan keadaan wajahnya yang masih memucat. Ia duduk merenung di hadapan cermin, dengan air matanya yang sesekali menetes membasahi pipi.


Tak lama sebuah pesan baru masuk.


"Ingat, akan ada banyak tamu penting yang akan hadir. Jadi jangan sekali-sekali kau berani melanggar janjimu. Jika tidak, bukan hanya Arsen dan keluarganya yang akan ku buat malu, melainkan keluargamu juga." Isi pesan yang Rachel tau jika pesan itu dari Laura.


Rachel memandang lirih pesan itu sejenak, namun hatinya sungguh tidak rela jika harus melepaskan Arsen begitu saja mengingat perjuangan panjang yang telah ia lalui.


Ia pun menoleh ke arah long dress hitam yang tergantung di hanger, long dress pilihan Arsen yang harusnya ia pakai di acara pertunangannya dan Arsen. Akhirnya Rachel mulai menghela nafas panjang beberapa kali, ia kembali memandangi pantulan dirinya dari cermin yang saat itu masih terlihat begitu berantakan.


"Tidak, aku tidak boleh kalah sama perempuan jadi-jadian itu." Akhirnya Rachel mulai mengusap air matanya.


"Malam ini juga aku akan mengatakan semuanya pada Arsen, aku tidak peduli apapun responnya setelah itu, aku harus tetap memperjuangkan cintaku, biar bagaimana pun, memang aku yang salah dalam hal ini." Tambahnya lagi yang akhirnya mulai bergegas bersiap-siap.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 20:00 malam, tamu undangan semakin ramai memadati ballroom yang luas. Shea dan Martin pun nampak hadir, namun mereka hadir sebagai tamu undangan karena permintaan dari Rachel yang berjanji akan menyelesaikan masalahnya sendiri. Begitu pula dengan Mr. Liong dan istrinya yang juga tak mau ketinggalan ingin menyaksikan cucunya yang akan bertunangan. Namun meski semua sudah hadir, nampaknya belum ada tanda-tanda kemunculan Rachel hingga membuat Arsen mulai resah dan gelisah menunggunya.


"Tenang lah, papa sudah menyuruh orang untuk menjemputnya di apartement." Ucap Benzie yang menyadari jika anaknya itu dalam keadaan gelisah.


"Terima kasih banyak pa." Jawab Arsen tersenyum lirih.


"Lihat lah siapa yang datang." Ucap Benzie lagi sembari membawa Arsen ke tempat dimana Martin dan Shea berada.


"Uncle, Aunty... Astaga kalian sungguh hadir?" Arsen sejenak nampak berbinar.


"Bagaimana kami bisa tidak hadir jika seorang Benzie Lim yang mengundang kami secara pribadi." Celetuk Martin.


"Ah syukur lah, aku sangat terkesan." Jawab Arsen sembari matanya seperti sibuk melirik kesana kemari.


"Kamu mencari siapa Arsen Lim?!" Tanya Benzie.


"Rachel, aku mencari Rachel. Dimana dia? Apa dia tidak ikut bersama kalian?" Tanya Arsen polos.


Mendengar hal itu seketika membuat Shea, Martin, dan Benzie saling bertatapan satu sama lain. Mereka semua pun sontak jadi gelagapan hingga terkesan salah tingkah.


"Rachel, Rachel di..." Shea seolah begitu kesulitan untuk berbohong.


"Rachel sangat sibuk, iya, dia sangat sibuk hingga tidak bisa datang. Dia menitip salam padamu." Jawab Martin menimpali.


"Oh, begitu rupanya." Entah kenapa wajah Arsen berubah menjadi sendu, ada sedikit perasaan sedih saat menyadari jika Rachel tidak datang.


Antony menjadi salah satu tamu penting yang hadir mengingat kedua perusahaan raksasa yang mereka miliki saat ini sudah resmi menjadi partner bisnis.


Antony dengan tenang mulai mendekati Arsen.


"Selamat ya Arsen Lim, akhirnya kamu dan Bella sampai ke jenjang yang lebih serius." Antony mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, ku harap kau bisa berbesar hati dengan kenyataan ini." Jawab Arsen sembari membalas jabatan tangan Antony.

__ADS_1


"Bukankah kata-kata itu harusnya lebih cocok untukmu. Semoga setelah ini, kau bisa berbesar hati menerima semuanya."


"Apa maksudmu?!" Arsen mulai mengerutkan dahinya.


"Tidak ada, ada sebuah nasehat biasa saja." Jawab Antony sembari tersenyum tipis dan meminum segelas wine yang sejak tadi ia pegang.


Tak lama, Laura tiba-tiba saja menghampiri Arsen, sungguh hal yang cukup mengejutkan baginya.


"Ka, kau.." ucap Arsen yang langsung membulatkan matanya.


"Wah, wah, aku mencium adanya aroma-aroma cinta yang belum terselesaikan disini. Baiklah kalau begitu, aku tidak akan mengganggu kalian." Ucap Antony yang langsung beranjak pergi.


"Aku tidak mengundangmu, bagaimana caramu masuk ke sini?!"


"Arsen Lim, hal itu tidak penting sekarang." Laura pun mencoba memegang tangan Arsen.


"Jaga sikapmu! Tolong jauhkan tangan itu dariku." Ketus Arsen yang langsung menarik kasar tangannya.


"Arsen Lim, ini belum terlambat jika kamu mau berubah pikiran. Perempuan itu, tidak sebaik yang kamu pikir, kembali lah padaku. Aku bersedia melakukan apapun demi menebus kesalahanku padamu, aku masih belum bisa melupakanmu, kamu lelaki terbaik yang pernah hadir di hidupku." Ucap Laura lirih.


"Apa kau yakin mau melakukan apapun demi menebus semuanya?"


"Iya, aku yakin. Apapun yang kamu mau, katakan saja."


"Baiklah, hal satu-satunya yang bisa kau lakukan untuk menebus kesalahanmu padaku adalah, pergi dari sini, pergi jauh dari hidupku dan jangan pernah dengan sengaja menampakkan wujudmu lagi di hadapanku." Tegas Arsen yang memang sudah benar-benar tidak memiliki perasaan apapun lagi pada Laura.


"Ta, tapi aku...."


"Pergi dari hadapanku!"


"Arsen, kau akan menyesal. Pegang kata-kataku ini, kau, sungguh akan menyesal."


"Penyesalanku cuma satu, yaitu saat aku dengan bodohnya menyerahkan seluruh hatiku untuk wanita sepertimu. Sekarang pergi lah dari hadapanku."


"Lihat saja, ku yakin pernikahanmu akan batal, dan bukan hanya aku yang akan tertawa saat itu terjadi. Tapi lelaki itu,,," Ucap Laura sembari menunjuk ke arah Antony.


"Dia juga akan menjadi manusia yang paling bahagia dengan itu, dalam bisnis mungkin dia adalah partnermu, namun dalam urusan percintaan, bukankah dia menjadi rivalmu?"


"Berhenti berbicara omong kosong, pernikahanku dan Bella akan tetap berjalan apapun yang terjadi, jadi berhentilah berhalusinasi." Tegas Arsen yang kemudian langsung pergi meninggalkan Laura.


Tak lama MC pun naik ke panggung untuk mengumumkan bahwa sesi pertukaran cincin sebentar lagi di mulai. Arsen semakin tak karuan karena Rachel yang belum juga muncul.


"Bagaimana pa? Apa sudah ada kabar dari orang suruhan papa?" Bisik Arsen.


"Tenang lah, papa sudah suruh Alex menghubunginya.


Tak lama MC pun mempersilahkan untuk calon mempelai untuk naik ke atas panggung. Akhirnya Arsen pun naik ke panggung dengan ragu-ragu dan terus memandangi ke arah pintu masuk.


"Bella, dimana kamu? Kenapa masih belum datang juga?"


"Apa calon tunangan anda belum datang juga tuan muda?" Tanya MC.


"Belum." Jawab Arsen pelan.


"Tapi ini sudah melewati jadwal seharusnya tuan muda, kita sudah membuat tamu terlalu lama menunggu."


"Tunggu sebentar lagi."


"Baiklah tuan muda."


Laura yang menyaksikan hal itu dari kejauhan sontak kembali tersenyum sinis.


"Wanita itu tidak akan berani datang Arsen Lim, karena dia tidak lebih dari seorang penipu dan bahkan sangat pengecut." Ucap Laura dari dalam hati.


Benzie dan Yuna pun mulai nampak cemas, begitu pula dengan Shea dan Martin yang tidak tau kabar anak semata wayang mereka.


"Kemana dia? Kenapa belum datang?" Bisik Martin pada Shea.


"Entahlah, anakmu sudah cukup membuatku pusing dengan semua masalah yang dia buat." Jawab Shea yang juga berbisik.


Namun tak lama, yang di tunggu-tunggu akhirnya muncul, Rachel denga sudah berbalut long dress berwarna hitam dengan langkah tergesa-gesa muncul dari balik keramaian. Hal itu membuat Arsen seketika merasa lega namun sekaligus tercengang saat mendapati calon istrinya yang begitu terlihat cantik dan elegant.


Rachel mencoba bersikap tenang dan akhirnya naik ke panggung, ia berdiri di hadapan Arsen yang kala itu terus menatapnya. Tak ingin membuang banyak waktu lagi, sesi tukar cincin pun segera di lakukan, kini kedua jari manis antara Arsen dan Rachel telah melingkar sebuah cincin yang membuat mereka semakin terikat satu sama lain. hingga akhirnya kini mereka secara resmi mengumumkan jika dalam waktu dua hari lagi mereka akan menggelar acara pernikahan.


Menyadari kehadiran Rachel malam itu, membuat Laura jadi begitu marah dan tak terima. Ia pun melangkah cepat mendekati panggung, dan dengan berani ia langsung meneriaki Rachel.


"Dasar penipu kau Rachel Chou!" Teriak Laura di hadapan Arsen dan Rachel.


Hal itu seketika membuat suasana menjadi hening dan terasa begitu tegang.


"Rachel Chou??" Tanya Arsen yang terlihat bingung.


Tak ingin memperkeruh keadaan, Rachel pun langsung menarik tangan Arsen untuk membawanya ke belakang panggung.


"Ada yang harus ku bicarakan padamu." Bisik Rachel.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2